Forim Iman Kristen

Diskusi Tanya Jawab => Diskusi Kristen => Topic started by: Phooey on December 18, 2013, 03:23:34 PM

Title: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 18, 2013, 03:23:34 PM
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
 (Mat 7:1-2 ITB)


@ teman2 semua.

Dalam forum diskusi ... kadang2 kalo sudah bersemangat ... sampai2 lupa batasan.
Supaya enggak kebablasan sehingga dianggap menghakimi, menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 18, 2013, 03:52:40 PM
menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)
IMO, untuk sementara "batasan"nya adalah berusaha yg berbau duniawi ---> yaitu : jangan dinyatakan, simpen didalam ati ajah "maki2"/penghakimannya :D.

Nah setelah itu, baru mulai belajar ngilangin apa yg disimpen didalam ati tsb (misal : cih, si mr.X goblog amat sih!) dgn power of mind.

Masih gak sanggup juga, baru minta tolong Tuhan agar Dia memberi "toleransi" dihati :D.

Jadi ya gak ada batasan : yang ini ini ini boleh dikeluarin penghakimannya, yang ono ono ono nggak boleh dikeluarin penghakimannya :giggle: ... KECUALI, jelas2 sso memang telah diketahui dgn sengaja merugikan pihak orang lain - maka kalo kayak gini, langsung aja dihakimin : eh lu dasar maling luh!  :lol:

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 18, 2013, 06:43:54 PM
Kl dr yg saya plajari, sso boleh mhakimi bila:

1. Dia diberi wewenang utk mhakimi
2. Dia bisa mhakimi dg adil (mlihat sbanyak mungkin fakta, keterangan saksi dan mmahami kondisi situasi nyata)
3. Dia telah mengembangkan hati gembala
4. Dia sendiri cukup saleh hidupnya dan terlebih jika dia sudah pernah bangkit dari problem serupa
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on December 18, 2013, 08:42:04 PM
Apakah menyatakan seseorang salah atau benar, termasuk menghakimi?

:D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on December 19, 2013, 05:51:13 AM
membeberkan fakta bukanlah menghakimi


 Tuhan Yesus memberkati

Han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 19, 2013, 06:24:37 AM
Apakah menyatakan seseorang salah atau benar, termasuk menghakimi?

:D

membeberkan fakta bukanlah menghakimi


 Tuhan Yesus memberkati

Han

Sebagai misal saja, perdebatan mengenai unitarian.
Dalam hal ini pihak Trinitarian sudah masuk kategori menghakimi ataukah menyatakan benar salah ?

 :think:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 19, 2013, 06:25:55 AM
Kl dr yg saya plajari, sso boleh mhakimi bila:

1. Dia diberi wewenang utk mhakimi
2. Dia bisa mhakimi dg adil (mlihat sbanyak mungkin fakta, keterangan saksi dan mmahami kondisi situasi nyata)
3. Dia telah mengembangkan hati gembala
4. Dia sendiri cukup saleh hidupnya dan terlebih jika dia sudah pernah bangkit dari problem serupa

Semisal dia tidak mempunyai wewenang untuk menghakimi, tetapi ia pernah bangkit dari problem serupa.
Nahhh kalo begini ... gimana hayooo

 :dance:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 19, 2013, 10:06:24 AM
Kl mnrt saya, dalam 'menghakimi' itu sudah tmasuk 'mnyatakan kesalahan' dan 'mjatuhkan sanksi'.

Kl saya bilang org lain 'salah' bdsk fakta yg saya terima, maka saya mengkoreksi, belum mhakimi.
Kl saya katakan 'kamu salah', lalu 'mjatuhkan sanksi' thd dia (oleh saya sndiri saja ato ngajak rame-rame), maka itu mhakimi.

Hakim itu tidak hanya menilai tp juga mjatuhkan ganjaran.

Itu mnrt saya...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on December 19, 2013, 11:37:12 AM
Sebagai misal saja, perdebatan mengenai unitarian.
Dalam hal ini pihak Trinitarian sudah masuk kategori menghakimi ataukah menyatakan benar salah ?

 :think:

Berdebat ssesama anggauta bukanlah menghakimi sejauh mereka bukanlah pemegang jabatan yang bisa memberikan sanksi

Tuhan Yesus memberkati


han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Lily on December 19, 2013, 03:21:40 PM
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
 (Mat 7:1-2 ITB)


@ teman2 semua.

Dalam forum diskusi ... kadang2 kalo sudah bersemangat ... sampai2 lupa batasan.
Supaya enggak kebablasan sehingga dianggap menghakimi, menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)

kalo masih berwujud manusia dan tidak akan mungkin menjadi Tuhan,
sebaiknya janganlah menghakimi  :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 19, 2013, 03:30:18 PM
kalo masih berwujud manusia dan tidak akan mungkin menjadi Tuhan,
sebaiknya janganlah menghakimi  :giggle:

Misal seperti ajaran Children Of God .....
Gimana Sis ?


 :whistle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Lily on December 19, 2013, 03:43:04 PM
Misal seperti ajaran Children Of God .....
Gimana Sis ?


 :whistle:

hmm, setelah googling singkat, sy sih nga sreg dng ajaran tsb
biarlah kalo hal itu bisa membuat mereka dekat kepada Tuhan dan bisa mencintai Tuhan dengan segenap jiwa raga,
namun bagi yang merasa ajaran tsb menjadi batu sandungan ya jangan diikuti  :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: budi on December 20, 2013, 12:44:12 AM
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
 (Mat 7:1-2 ITB)


@ teman2 semua.

Dalam forum diskusi ... kadang2 kalo sudah bersemangat ... sampai2 lupa batasan.
Supaya enggak kebablasan sehingga dianggap menghakimi, menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)

Imo, yg biru itu bisa dibaca sebagai "batasan" dari menghakimi yg dimaksud.

Selain itu, buat saya sendiri, saya selalu pakai "batasan" dari Hukum Kasih "Kasihilah Tuhan Allah...dan kasihilah sesamamu manusia...". Kalau saya melakukan sesuatu, apapun itu, namun saya tidak melakukannya atas dasar kasih kepada Tuhan dan sesama, maka saya salah.

Kita bisa saja melakukan suatu hal yg baik dan benar secara salah, sehingga akhirnya sesuatu tsb malah jadi nggak baik dan benar. Orang lain mungkin nggak bisa lihat itu. Tapi Tuhan melihatnya.

Cheers
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 20, 2013, 06:24:06 AM
Imo, yg biru itu bisa dibaca sebagai "batasan" dari menghakimi yg dimaksud.

Selain itu, buat saya sendiri, saya selalu pakai "batasan" dari Hukum Kasih "Kasihilah Tuhan Allah...dan kasihilah sesamamu manusia...". Kalau saya melakukan sesuatu, apapun itu, namun saya tidak melakukannya atas dasar kasih kepada Tuhan dan sesama, maka saya salah.

Kita bisa saja melakukan suatu hal yg baik dan benar secara salah, sehingga akhirnya sesuatu tsb malah jadi nggak baik dan benar. Orang lain mungkin nggak bisa lihat itu. Tapi Tuhan melihatnya.

Cheers

Maksud Bro Budi ...
Siap2lah dihakimi bilamana hendak menghakimi...

 :think:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 20, 2013, 08:45:13 AM
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu

apakah kalimat ayat diatas, ilustrasinya kayak begini ?

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi
Cuplis mengukur mr.X dari tingkah lakunya yg menurut Cuplis (pov Cuplis) tidak sesuai dengan hidup orang Kristen.
Lalu Cuplis mengeluarkan statement : mr.X itu orang Kristen palsu.

kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur
Unyil melihat/mendengar tingkah laku Cuplis diketika event Cuplis mengeluarkan statement ungu
Unyil mengukur Cuplis dari event ungu tsb (pov Unyil) tidak sesuai dengan hidup orang Kristen.
Lalu Unyil mengeluarkan statement : mr.X itu orang Kristen palsu.

akan diukurkan kepadamu
Demikianlah Cuplis mengalami bunyi ayat diatas dimana si pengukurnya adalah Unyil.

Pak Raden mendengar statement Unyil yg ungu ttg Cuplis, mengukur, dari hasil ukuran pak Raden, pak Raden menghakimi Unyil. Meilan mendengar statement pak Raden yg ungu ttg Unyil, dst dst gak kelar kelar :D

atau mungkin,
terlepas apakah Unyil mendengar/kagak statement ungu Cuplis - suatu hari entah kapan, Cuplis-pun akan bisa mengalami mengalami hal serupa seperti yg dia lakukan ke mr.X ... yaitu : mengukur, dari hasil ukuran Cuplis, Cuplis menghakimi.

dengan demikian, maksud dari kalimat di ayat adalah :
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, suatu hari entah kapan kamu akan bisa mengalami dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu

???  :what: :what: :what: ???

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: ond32lumut on December 20, 2013, 08:12:46 PM
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu

apakah kalimat ayat diatas, ilustrasinya kayak begini ?

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi
Cuplis mengukur mr.X dari tingkah lakunya yg menurut Cuplis (pov Cuplis) tidak sesuai dengan hidup orang Kristen.
Lalu Cuplis mengeluarkan statement : mr.X itu orang Kristen palsu.

kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur
Unyil melihat/mendengar tingkah laku Cuplis diketika event Cuplis mengeluarkan statement ungu
Unyil mengukur Cuplis dari event ungu tsb (pov Unyil) tidak sesuai dengan hidup orang Kristen.
Lalu Unyil mengeluarkan statement : mr.X itu orang Kristen palsu.

akan diukurkan kepadamu
Demikianlah Cuplis mengalami bunyi ayat diatas dimana si pengukurnya adalah Unyil.

Pak Raden mendengar statement Unyil yg ungu ttg Cuplis, mengukur, dari hasil ukuran pak Raden, pak Raden menghakimi Unyil. Meilan mendengar statement pak Raden yg ungu ttg Unyil, dst dst gak kelar kelar :D

atau mungkin,
terlepas apakah Unyil mendengar/kagak statement ungu Cuplis - suatu hari entah kapan, Cuplis-pun akan bisa mengalami mengalami hal serupa seperti yg dia lakukan ke mr.X ... yaitu : mengukur, dari hasil ukuran Cuplis, Cuplis menghakimi.

dengan demikian, maksud dari kalimat di ayat adalah :
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, suatu hari entah kapan kamu akan bisa mengalami dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu

???  :what: :what: :what: ???

:)
salam.
coba2 ikutan mikir..

kalau menurut saya.. kalimat "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu"

maksudnya, bahwa kalau mau menghakimi koruptor janganlah korupsi.. kalau masih korupsi, jangan sekali2 menghakimi koruptor.

karena sebelum kamu menghakimi, kamu terlebih dulu akan dihakimi seturut yang akan kamu hakimi..  :what: :D

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 20, 2013, 08:44:29 PM
coba2 ikutan mikir..

kalau menurut saya.. kalimat "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu"

maksudnya, bahwa kalau mau menghakimi koruptor janganlah korupsi.. kalau masih korupsi, jangan sekali2 menghakimi koruptor.

karena sebelum kamu menghakimi, kamu terlebih dulu akan dihakimi seturut yang akan kamu hakimi..  :what: :D


Intinya jangan meng"hakimi" kalo bukan jabatannya hakim


 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 20, 2013, 09:08:17 PM
karena sebelum kamu menghakimi, kamu terlebih dulu akan dihakimi seturut yang akan kamu hakimi..  :what: :D
:D  :giggle:  :lol:

Masih belum jelas nih ...
Dari kata "menghakimi" itu saja - maksudnya yg kayak begimana yah ?


Quote
kalau mau menghakimi koruptor janganlah korupsi.. kalau masih korupsi, jangan sekali2 menghakimi koruptor
Taroh kata yg menghakimi itu emang bener2 gak pernah korupsi .... lalu kalo si pesakitan tsb ternyata bukan koruptor, gimana donk :D ? ---> nah, utk sementara... kesimpulan saya sih yang point-B ---> kata "menghakimi" di ayat ybs = prasangka di hati yg dinyatakan  :whistle:

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 20, 2013, 09:14:19 PM

Intinya jangan meng"hakimi" kalo bukan jabatannya hakim


 :D
Pertanyaannya,
pak Ogah jabatannya hakim - dia menduga (lalu mencanangkan) bhw Cuplis tetangganya itu mencuri garpu di rumah dia = boleh dilakukan karena pak Ogah seorang hakim yg tidak pernah mencuri ?

Aku rasa ayat itu nggak sedang bermaksud menyatakan : kalo kamu hakim, kamu boleh menghakimi ... kalo bukan hakim, kamu jangan menghakimi, deh phooey :D.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: budi on December 22, 2013, 01:13:14 AM
Maksud Bro Budi ...
Siap2lah dihakimi bilamana hendak menghakimi...

 :think:

Bukan begitu.

Maksud saya: jangan menghakimi karena kita (yg menghakimi) tidak akan "lolos" juga dari penghakiman dng ukuran yg kita pakai untuk menghakimi itu.

Ukuran dalam konteks ayat tsb kan Hukum Allah. Nah kita sendiri juga nggak "lolos" dari Hukum Allah itu kok.

Gitu bro phooey.


Cheers
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on December 22, 2013, 02:01:22 PM
coba2 ikutan mikir..

kalau menurut saya.. kalimat "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu"

maksudnya, bahwa kalau mau menghakimi koruptor janganlah korupsi.. kalau masih korupsi, jangan sekali2 menghakimi koruptor.

karena sebelum kamu menghakimi, kamu terlebih dulu akan dihakimi seturut yang akan kamu hakimi..  :what: :D

Yup .
walaupun tidak korupsi ,kalu bukan Hakim janganlah menghakimi  koruptor,
apalagi jika sang koruptor punya pengacara handal yang pake batu cincin.

atau punya pengacara yang suka jalanin sumpah pocong .


Tuhan Yesus membwrkati


Han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: ond32lumut on December 22, 2013, 06:38:38 PM
:D  :giggle:  :lol:

Masih belum jelas nih ...
Dari kata "menghakimi" itu saja - maksudnya yg kayak begimana yah ?

  • A. Cuplis mencuri ketangkep becek, lalu "dihakimi" massa ?
    Disini artinya penilaian massa ke Cuplis = TRUE (Cuplis mencuri),
    Penggebugan jadinya = menghakimi.
  • B. Massa mendengar kata orang dan percaya begitu saja bhw Cuplis mencuri
    ---atau---
    Massa menduga bhw Cuplislah pencurinya.
    Terlepas apakah Cuplis mencuri = TRUE or not, ungu = menghakimi.
  • C. Seorang hakim berdasarkan penyelidikan intensif dan fakta2 yg dikumpulkan, memutuskan Cuplis bersalah dan lalu menjatuhi hukuman = menghakimi
Taroh kata yg menghakimi itu emang bener2 gak pernah korupsi .... lalu kalo si pesakitan tsb ternyata bukan koruptor, gimana donk :D ? ---> nah, utk sementara... kesimpulan saya sih yang point-B ---> kata "menghakimi" di ayat ybs = prasangka di hati yg dinyatakan  :whistle:

:)
salam.
sebenernya saya sendiri masih binun...  :D

tunggu disuksinya berkembang dulu deh.... hehehe...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Jenova on December 22, 2013, 09:59:14 PM
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
 (Mat 7:1-2 ITB)


@ teman2 semua.

Dalam forum diskusi ... kadang2 kalo sudah bersemangat ... sampai2 lupa batasan.
Supaya enggak kebablasan sehingga dianggap menghakimi, menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)

Ada jawaban bagus dari Summa Theologica, tulisan St. Thomas Aquinas, mengenai hal menghakimi:

Summa Theologica
Question 60 - Judgement
Article 2


Judgment is lawful in so far as it is an act of justice. Now it follows from what has been stated above (1, ad 1,3) that three conditions are requisite for a judgment to be an act of justice: first, that it proceed from the inclination of justice; secondly, that it come from one who is in authority; thirdly, that it be pronounced according to the right ruling of prudence. If any one of these be lacking, the judgment will be faulty and unlawful. First, when it is contrary to the rectitude of justice, and then it is called "perverted" or "unjust": secondly, when a man judges about matters wherein he has no authority, and this is called judgment "by usurpation": thirdly, when the reason lacks certainty, as when a man, without any solid motive, forms a judgment on some doubtful or hidden matter, and then it is called judgment by "suspicion" or "rash" judgment.
http://www.newadvent.org/summa/3060.htm

Terjemahan bebas
Penghakiman adalah sah selama hal tersebut adalah tindakan yang adil. Sekarang melanjutkan dari apa yang telah dituliskan di atas (artikel 1), bahwa tiga kondisi harus dipenuhi agar penghakiman dapat menjadi tindakan yang adil: pertama, bahwa penghakiman itu berasal dari kecenderungan akan keadilan; kedua, bahwa penghakiman itu berasal dari seseorang yang memiliki wewenang; ketiga, bahwa penghakiman itu dinyatakan sesuai dengan keputusan pengadilan yang bijaksana dan benar (sah). Jika salah satu dari syarat ini tidak dipenuhi, penghakiman itu adalah cacat dan tidak sah. Pertama, ketika penghakiman itu berlawanan dengan moral keadilan, maka penghakiman itu akan disebut sebagai "penyelewengan" atau "ketidak-adilan"; kedua, ketika seseorang menghakimi suatu kasus padahal dia tidak memiliki otoritas, maka hal ini disebut sebagai penghakiman "melalui pencurian kekuasaaan (untuk menghakimi)"; ketiga, ketika alasan utk menghakimi itu kurang pasti, yaitu ketika seseorang tanpa memiliki motivasi yang kukuh, melakukan penghakiman berdasar keragu2an atau hal2 yang tidak terungkap, maka hal itu disebut penghakimin berdasar "kecurigaaan" atau penghakiman yang "sembrono"

AFAIK, hanya Gereja yg apostolik yang memiliki uskup dan magisterium (seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Orthodox Timur, Gereja Orthodox Oriental, Gereja Anglikan, dsb) yang mengimani bahwa Gereja lah yang memiliki "lembaga" untuk "menghakimi" hal2 yang berkaitan dengan doktrin.
IMHO, dalam forum2 diskusi, yang sering kali dihakimi adalah doktrin / ajaran yang diungkapkan dalam diskusi tersebut. Jadi IMHO, mengikuti definisi dari Summa Theologica di atas, seharusnya dalam diskusi tidak dilakukan penghakiman akan ajaran2 yg disampaikan, misal: ajaran tersebut salah, ajaran tersebut tidak benar, atau lebih jauh lagi yang harus dihindari adalah penghakiman kepada orang yang menyampaikan ajaran tersebut (e.g. orang itu sesat, orang itu bodoh, dsb).
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 22, 2013, 10:26:58 PM
sebenernya saya sendiri masih binun...  :D

tunggu disuksinya berkembang dulu deh.... hehehe...
karena penasaran dan gak ada jawaban... barusan tak "lirik" ayat bhs inggrisnya, onde...
(entah pula kalo dlm bhs aslinya :D).

(1) DO NOT
1. judge and
2. criticize and
3. condemn others,
so that you may not be judged and criticized and condemned yourselves.

IMO, kata "and" disitu menuntun ke pengertian bukan salah satu - melainkan semua kondisi mesti terpenuhi (= TRUE).

Semisal Unyil menyatakan ke orang lain : "si Cuplis itu mencuri HP saya" ---ataupun--- berkata dalam hati : "hm... si Cuplis nyuri HP saya"

(3) Why do you stare from without at the very small particle that is in your brother's eye

Kalimat ayat 3, sepertinya maksud ayat 1 sikon-nya adalah : Cuplis mencuri HP = True.


Kalo diliat secara garisbesar,
ketiga point diatas yg dilakukan Cuplis = wajar, sah2 aja dan tidak bisa dikatakan salah.
Tapi sepertinya di pov Yesus, itu = salah.
Unyil menjadi "benar" - apabila syarat kalimat merah dibawah ini terpenuhi :

(5) You hypocrite, first get the beam of timber out of your own eye, and then you will see clearly to take the tiny particle out of your brother's eye.

So,
apabila Unyil memang tidak pernah mencuri - maka ketiga point diatas yg dilakukan Unyil = boleh.

Bener gak yah begitu ? :D

(2) For just as you judge and criticize and condemn others, you will be judged and criticized and condemned, and in accordance with the measure you deal out to others, it will be dealt out again to you.

Kalimat merah di ayat 2, buat saya juga masih rancu (belon jelas).... karena menuntun ke pertanyaan : "oleh siapa ?" ---> apakah maksud Yesus oleh Allah nanti di hari penghakiman ? ataukah maksud Yesus ini semacam instant-karma, oleh manusia lain dikurun ybs itu masih bernafas/hidup di bumi ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 22, 2013, 11:02:44 PM
Penghakiman adalah sah selama hal tersebut adalah tindakan yang adil. Sekarang melanjutkan dari apa yang telah dituliskan di atas (artikel 1), bahwa tiga kondisi harus dipenuhi agar penghakiman dapat menjadi tindakan yang adil:
  • pertama, bahwa penghakiman itu berasal dari kecenderungan akan keadilan;
  • kedua, bahwa penghakiman itu berasal dari seseorang yang memiliki wewenang;
  • ketiga, bahwa penghakiman itu dinyatakan sesuai dengan keputusan pengadilan yang bijaksana dan benar (sah)
Jika salah satu dari syarat ini tidak dipenuhi, penghakiman itu adalah cacat dan tidak sah.
Berdasarkan ilustrasi saya diatas antara Unyil dan Cuplis .... mengingat Unyil tidak memenuhi syarat kedua, yakni Unyil bukan bold ---> jadi apakah ketiga point yg Unyil lakukan itu memang tidak boleh dilakukan ?

Quote
ketiga, ketika alasan utk menghakimi itu kurang pasti, yaitu ketika seseorang tanpa memiliki motivasi yang kukuh, melakukan penghakiman berdasar keragu2an atau hal2 yang tidak terungkap, maka hal itu disebut penghakimin berdasar "kecurigaaan" atau penghakiman yang "sembrono"
Tadinya saya juga berpendapat perihal bold diatas... tapi ayat 3 menuntun saya berpendapat bhw sikon-nya : Cuplis mencuri HP = True. So, di pov Unyil - merah itu bukan sebagai dasarnya, melainkan suatu kenyataan yg Unyil lihat dgn mata kepala sendiri.

Quote
Jadi IMHO, mengikuti definisi dari Summa Theologica di atas, seharusnya dalam diskusi tidak dilakukan penghakiman akan ajaran2 yg disampaikan, misal: ajaran tersebut salah, ajaran tersebut tidak benar
Nah yang menjadi sulit apabila sikonnya : bagaimana kalau ajaran tsb memang salah ? (idem pada ilustrasi, dimana sikonnya Cuplis mencuri = True ---> so, perbuatannya = salah).

Quote
Gereja lah yang memiliki "lembaga" untuk "menghakimi" hal2 yang berkaitan dengan doktrin.
Maap Jeno... kok saya nggak bisa "nangkep" yah dengan kalimat diatas ? Karena pertanyaan dibenak saya timbul : "Nah kalo masing2 gereja mempunyai "lembaga" utk "menghakimi" doktrin yg dipedomani oleh gereja, pertanyaannya menjadi : bukankah yg dihakimi itu adalah orang2 yg dilingkungan gereja itu sendiri ?"

Sehingga menimbulkan pertanyaan selanjutnya :
Kalo suatu Gereja berdoktrin anu, dan ada Gereja lain yg berdoktrin una - apakah "lembaga" utk "menghakimi" dari masing2 gereja tsb memang sah/boleh utk menghakimi (ataupun saling menghakimi) dgn pernyataan bhw doktrin anu = salah (ataupun doktrin una = salah) ??

Mohon pencerahannya :D.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Jenova on December 23, 2013, 02:37:32 AM
Berdasarkan ilustrasi saya diatas antara Unyil dan Cuplis .... mengingat Unyil tidak memenuhi syarat kedua, yakni Unyil bukan bold ---> jadi apakah ketiga point yg Unyil lakukan itu memang tidak boleh dilakukan ?
 Tadinya saya juga berpendapat perihal bold diatas... tapi ayat 3 menuntun saya berpendapat bhw sikon-nya : Cuplis mencuri HP = True. So, di pov Unyil - merah itu bukan sebagai dasarnya, melainkan suatu kenyataan yg Unyil lihat dgn mata kepala sendiri.

Hmm.. IMHO, kembali dulu ke definisi menghakimi itu apa dulu? Menghakimi dan menyatakan fakta itu IMHO berbeda.
Kembali ke kasus Cuplis mencuri HP Unyil.
Kalo berawal dari asumsi dan kecurigaanm, meskipun disertai bukti2, lalu si Unyil menyatakan bahwa Cuplis mencuri HPnya --> Unyil sudah menghakimi
Kalo berawal dari asumsi dan kecurigaaan, melalui bukti2, lalu Unyil melaporkan ke pihak berwenang, dan oleh pihak berwenang dinyatakan bahwa Cuplis bersalah mencuri HP si Unyil. Kalo kemudian Unyil menyatakan bahwa Cuplis mencuri HPnya --> Unyil tidak menghakimi melainkan menyatakan fakta (atau setidaknya Unyil tidak bertanggung-jawab atas hasil penghakiman terhadap Cuplis).



Nah yang menjadi sulit apabila sikonnya : bagaimana kalau ajaran tsb memang salah ? (idem pada ilustrasi, dimana sikonnya Cuplis mencuri = True ---> so, perbuatannya = salah).

Jangan menghakimi! That simple. :)
Kalo misal aku membawa ajaran Gereja Katolik Roma mengenai "Immaculate Conception of Mary", lalu Anda lawan dengan ajaran / penghakiman dari Gereja Orthodox yang menolak / menyalahkan ajaran ini, maka Anda IMHO tidak sedang menghakimi melainkan sedang membawa fakta hasil pengadilan dari pihak yg memiliki wewenang menghakimi.

Maap Jeno... kok saya nggak bisa "nangkep" yah dengan kalimat diatas ? Karena pertanyaan dibenak saya timbul : "Nah kalo masing2 gereja mempunyai "lembaga" utk "menghakimi" doktrin yg dipedomani oleh gereja, pertanyaannya menjadi : bukankah yg dihakimi itu adalah orang2 yg dilingkungan gereja itu sendiri ?"

Sehingga menimbulkan pertanyaan selanjutnya :
Kalo suatu Gereja berdoktrin anu, dan ada Gereja lain yg berdoktrin una - apakah "lembaga" utk "menghakimi" dari masing2 gereja tsb memang sah/boleh utk menghakimi (ataupun saling menghakimi) dgn pernyataan bhw doktrin anu = salah (ataupun doktrin una = salah) ??

Mohon pencerahannya :D.

:)
salam.

Dalam Gereja Katolik Roma, ketuk palu untuk menghakimi apakah suatu ajaran itu benar atau salah, boleh diterima oleh umat atau harus ditolak, otoritas infallible itu ada di tangan Paus secara ex-cathedra atau dalam konsili ekumenis yang dalam persekutuan dengan Paus. Dalam hierarki di-bawahnya, seorang uskup memiliki otoritas utk membenarkan / menyalahkan doktrin (yg belum di-dogma-kan) dan berlaku bagi umat di dalam keuskupan tersebut.
AFAIK, dalam Gereja Orthodox, kuasa infallibility untuk ketuk palu ini ada di tangan konsili ekumenis (walau AFAIK mereka tidak pernah mengadakan konsili ekumenis lagi sejak skisma besar dengan GKR). Patriarchate memiliki otoritas yg mirip dengan otoritas seorang uskup dalam GKR (CMIIW).
Dalam Gereja Anglikan, mereka memiliki Anglican communion, di mana iman dalam communion ini dijadikan "ketuk palu" utk menghakimi Gereja yg memiliki doktrin yg "nyeleneh".

AFAIK, ya, jika suatu Gereja telah "menghakimi" mengenai kebenaran suatu ajaran, maka penghakiman itu hanya berlaku bagi umat yang bernaung dalam Gereja tersebut.
Gereja Katolik Roma misalnya, menghakimi bahwa ajaran ajaran Immaculate Conception of Mary itu adalah infallible, maka semua umat katolik harus menerimanya. Gereja Orthodox sebaliknya, dari magisterium masing2 patriarch, mereka menolak ajaran ini, jadi hanya umat orthodox di bawah patriarchate itu harus menolak ajaran Immaculate Conception. GKR tidak bisa memaksa umat GO utk menerima ajaran ini, dan sebaliknya GO tidak bisa memaksa umat GKR utk menolak ajaran ini.
Dalam kasus ini, aku sebagai seorang katolik, lebih memilih untuk mempertahankan dan membuktikan kebenaran ajaran GKR, dan bukan utk menyalahkan ajaran GO. IMHO, aku sedang menghindari hal yang ditabukan dalam Mat 7 : 1 dan sebisa mungkin tidak menghakimi ajaran di luar GKR yang menolak Immaculate Conception. :)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on December 23, 2013, 05:56:33 AM
Bukan begitu.

Maksud saya: jangan menghakimi karena kita (yg menghakimi) tidak akan "lolos" juga dari penghakiman dng ukuran yg kita pakai untuk menghakimi itu.

Ukuran dalam konteks ayat tsb kan Hukum Allah. Nah kita sendiri juga nggak "lolos" dari Hukum Allah itu kok.

Gitu bro phooey.


Cheers

Dalam case semisal menemukan saudara yang ikut Gereja Mormon...
Menurut Bro Budi .... dalam konteks menghakimi, apa yang harus kita lakukan ?

 :think:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 23, 2013, 11:06:07 AM
Jangan menghakimi! That simple. :)
hehehe... buat Jeno itu sudah simple... tapi belon buat odading, karena saya masih belum dapet definisi yg dimaksud ayat dari kata "menghakimi" itu sendiri ... seperti quote Jeno dibawah ini :

Quote
Hmm.. IMHO, kembali dulu ke definisi menghakimi itu apa dulu?
yg sempet saya tanyakan di post # 17 :).

Quote
Menghakimi dan menyatakan fakta itu IMHO berbeda.
Secara saya baca blok Matius 7:1-5 ttg penghakiman, yang saya tangkep adalah : terjadinya event keputusan ttg perihal "salah" yang terungkapkan entah itu di benak ataupun melalui pernyataan (menyatakan fakta) atas diri orang lain yg melakukan suatu perbuatan.

Quote
Kembali ke kasus Cuplis mencuri HP Unyil.
Oleh karena itu di ilustrasi ini, pada sikon Unyil melihat dgn kepala sendiri Cuplis menyuri HP ... di pov Unyil terjadi event tersirat dibenaknya bhw itu hal yg "salah" ---> disini Unyil telah menjadi "hakim". Point-1 terpenuhi, point-2 dan 3 belon terpenuhi (post #23).

Barusan saya baca lagi, baca lagi dan baca lagi blok ayat tsb (Matius 7:1-5).

Entah begimana, sekarang sepertinya saya nangkep maksud dari blok ayat tsb.
Ayat tsb (tebakan saya yah...) sedang berbicara hal "memaafkan" yg dibungkus dgn cara seperti yg disampaikan Matius 7:1-5 tsb.

Ilustrasi Unyil-Cuplis tsb jadinya spt sbb :

1. Cuplis mencuri HP = true.
2. Dibenak Unyil tercetus suatu "penghakiman" bhw perbuatan Cuplis = salah (judge = terpenuhi)
3. Unyil berbicara langsung ke Cuplis ttg perbuatan Cuplis tsb (criticize = terpenuhi)

Nah, sampai di point sini timbul "jeda" - sebelum berlanjut ke condemn.
Apabila Unyil melaporkan ke polisi - maka condemn = terpenuhi.

Namun blok ayat sepertinya sedang mencegah terjadinya condemn.
Di event "jeda", pada point-3 ungu diatas terjadi "pergumulan" apakah Unyil akan melanjutkan ke condemn (melaporkan polisi) ato kagak.

So, blok ayat tsb sepertinya sedang bermaksud menyatakan :

Quote
Kalo misal aku membawa ajaran Gereja Katolik Roma mengenai "Immaculate Conception of Mary", lalu Anda lawan dengan ajaran / penghakiman dari Gereja Orthodox yang menolak / menyalahkan ajaran ini, maka Anda IMHO tidak sedang menghakimi melainkan sedang membawa fakta hasil pengadilan dari pihak yg memiliki wewenang menghakimi.
Nah... pada bold, (imo) antara menolak dan menyalahkan itu sendiri bukankah berbeda, Jeno ?

Sesuatu (sebut saja AAA) yg ditolak, belon tentu "AAA" tsb = salah.
Apabila selama "AAA" itu sendiri belon diketahui = salah, maka sso tidak bisa menyalahkan dgn pernyataan "AAA" adalah suatu hal yg salah.. Orange disini artinya sudah bisa dikatakan nge-judge (point-1 terpenuhi : jugde).

Perdebatan yg terjadi di forum adalah terpenuhinya point-2 : criticize yang berupa usaha2 utk menunjukan/membuktikan bhw "AAA" = salah.

Dan apabila berlanjut sampai ke condemn, yakni menyatakan bhw yg salah itu mesti dilaporin polisi dan dipenjara - maka terpenuhilah makna sebenernya dari kata "judge" ---> yakni, judge-criticize-condemn

Tetapi (imo) blok ayat tsb tidak sedang bermaksud sedang menyatakan perihal "AAA" = salah yg berdasarkan kecurigaan ataupun dugaan --- melainkan sikonnya memang nyata2 "AAA" = hal yg salah. Cuplis mencuri HP = hal yg salah. There is indeed particle that is in our brother's eye ... tetapi kalo itu "small particle" maka maafkanlah, nggak usah ampe dibawa ke ati sehingga berlanjut ke kondemnisasi :D.

Dengan demikian, debat yg terjadi di forum sebenernya belumlah bisa dikatakan telah sempurna proses "judge"nya.... karena "AAA" itu sendiri belon/tidak diketahui = salah ato kagak (masih didalam rupa tuduhan/dugaan) ... dan ini tidak ada keterkaitannya dgn blok ayat Matius 7:1-5 ... karena  (imo) sikon di blok ayat tsb adalah : "AAA" memang suatu hal yg salah.

Semisal Usro menyatakan : "Immaculate Conception of Mary" = salah ---> maka di event ini Usro sedang melakukan tuduhan ... bukan sedang menghakimi :D.

Bener gak yah begitu ? :what:  :think1:  :shrug:
hehehe....   :giggle:

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on December 23, 2013, 11:24:33 AM
Ini mau membahas tentang KUHP atau UU?

Weleh weleh
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 23, 2013, 11:52:05 AM
@Oda...

Harus dpahami bhw konteks pengucapan firman itu menyangkut perubahan dari mentalitas Taurat ke mentalitas PB.

Di dalam konteks Taurat,
Ketika sso berbuat dosa/ksalahan krn tertangkap tangan atau atas dasar kesaksian minimal 2 atau 3 orang, maka si pelaku akan dihukum sesuai hukum agama (Taurat) yg berlaku dan akan menerima sanksi sosial.
Nah, sekali sso bsalah bersalah, maka sanksi sosialnya adalah stigma yg melekat selama-lamanya pd orang itu yg mbuatnya bisa terkucilkan utk sterusnya.
Dg bmodalkan Taurat, maka para pemuka agama juga bersikap sinis dan diskriminatif thd mreka yg bukan Yahudi (yg dsebut orang-orang tak bersunat), kpd orang-orang yg berpenyakit ttentu atau bprofesi ttentu.

Saya yakin itulah definisi 'menghakimi' yg diluruskan oleh Tuhan Yesus.

Kita lihat contoh dari Tuhan Yesus.
- Ia menjadikan dirinya approachable bagi para pelacur dan pemungut cukai bahkan makan bersama-sama mreka.
- Ia menyentuh perempuan yg pendarahan (yg statusnya najis) dan orang-orang kusta.
- Ia tidak melempar batu ke pelacur yg kedapatan berzinah

Bagaimana dg sikap para pemuka agama pd saat itu?
- Mreka tidak mau bgaul dg pelacur apalagi pmungut cukai bahkan mencela mreka stiap ada ksempatan.
- Mreka mngucilkan pnganut kusta.
- Mreka mencela dalam hati pd pelacur yg mencuci kaki Tuhan Yesus.
- Mreka mbawa seorang pelacur utk dihukum mati.

----------

Jd Oda perlu mlihat konteks 'jangan menghakimi' pd perbedaan antara Taurat dan mentalitas PB.
'Menghakimi' disini lebih pd sbuah 'sikap' atau 'mentalitas' yg memberikan stigmatisasi, hukuman sosial dan diskriminasi, BUKAN HANYA sekadar menyatakan kesalahan.
Mnyatakan ksalahan pun harus bdsk keterangan yg dapat dpertanggung-jawabkan.

Sikap 'jangan menghakimi' itu diikuti dg pembukaan ruang utk pertobatan, pemulihan dan rekonsiliasi.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Jenova on December 23, 2013, 10:59:20 PM
hehehe... buat Jeno itu sudah simple... tapi belon buat odading, karena saya masih belum dapet definisi yg dimaksud ayat dari kata "menghakimi" itu sendiri ... seperti quote Jeno dibawah ini :
 yg sempet saya tanyakan di post # 17 :).
 Secara saya baca blok Matius 7:1-5 ttg penghakiman, yang saya tangkep adalah : terjadinya event keputusan ttg perihal "salah" yang terungkapkan entah itu di benak ataupun melalui pernyataan (menyatakan fakta) atas diri orang lain yg melakukan suatu perbuatan.
 Oleh karena itu di ilustrasi ini, pada sikon Unyil melihat dgn kepala sendiri Cuplis menyuri HP ... di pov Unyil terjadi event tersirat dibenaknya bhw itu hal yg "salah" ---> disini Unyil telah menjadi "hakim". Point-1 terpenuhi, point-2 dan 3 belon terpenuhi (post #23).

Barusan saya baca lagi, baca lagi dan baca lagi blok ayat tsb (Matius 7:1-5).

Entah begimana, sekarang sepertinya saya nangkep maksud dari blok ayat tsb.
Ayat tsb (tebakan saya yah...) sedang berbicara hal "memaafkan" yg dibungkus dgn cara seperti yg disampaikan Matius 7:1-5 tsb.

Ilustrasi Unyil-Cuplis tsb jadinya spt sbb :

1. Cuplis mencuri HP = true.
2. Dibenak Unyil tercetus suatu "penghakiman" bhw perbuatan Cuplis = salah (judge = terpenuhi)
3. Unyil berbicara langsung ke Cuplis ttg perbuatan Cuplis tsb (criticize = terpenuhi)

Nah, sampai di point sini timbul "jeda" - sebelum berlanjut ke condemn.
Apabila Unyil melaporkan ke polisi - maka condemn = terpenuhi.

Namun blok ayat sepertinya sedang mencegah terjadinya condemn.
Di event "jeda", pada point-3 ungu diatas terjadi "pergumulan" apakah Unyil akan melanjutkan ke condemn (melaporkan polisi) ato kagak.

So, blok ayat tsb sepertinya sedang bermaksud menyatakan :
  • tidak ada seorangpun yg suatu saat tidak akan terluput dari kesalahan (Unyil mencuri HP = true .... small particle that is in your brother's eye = true).
  • Apabila memang bisa di consider = "small particle"
  • maafkanlah Cuplis
  • tidak perlu berlanjut sampe lapor ke polisi (condemn)

Hmm... sebentar, klo menurut bro oda, menghakimi itu boleh atau tidak boleh (dosa)?
Perikop ini tidak bermaksud mengatakan bahwa menghakimi itu berdosa lho, atau mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi..

Nah... pada bold, (imo) antara menolak dan menyalahkan itu sendiri bukankah berbeda, Jeno ?

Sesuatu (sebut saja AAA) yg ditolak, belon tentu "AAA" tsb = salah.
Apabila selama "AAA" itu sendiri belon diketahui = salah, maka sso tidak bisa menyalahkan dgn pernyataan "AAA" adalah suatu hal yg salah.. Orange disini artinya sudah bisa dikatakan nge-judge (point-1 terpenuhi : jugde).

Perdebatan yg terjadi di forum adalah terpenuhinya point-2 : criticize yang berupa usaha2 utk menunjukan/membuktikan bhw "AAA" = salah.

Dan apabila berlanjut sampai ke condemn, yakni menyatakan bhw yg salah itu mesti dilaporin polisi dan dipenjara - maka terpenuhilah makna sebenernya dari kata "judge" ---> yakni, judge-criticize-condemn

Tetapi (imo) blok ayat tsb tidak sedang bermaksud sedang menyatakan perihal "AAA" = salah yg berdasarkan kecurigaan ataupun dugaan --- melainkan sikonnya memang nyata2 "AAA" = hal yg salah. Cuplis mencuri HP = hal yg salah. There is indeed particle that is in our brother's eye ... tetapi kalo itu "small particle" maka maafkanlah, nggak usah ampe dibawa ke ati sehingga berlanjut ke kondemnisasi :D.

Dengan demikian, debat yg terjadi di forum sebenernya belumlah bisa dikatakan telah sempurna proses "judge"nya.... karena "AAA" itu sendiri belon/tidak diketahui = salah ato kagak (masih didalam rupa tuduhan/dugaan) ... dan ini tidak ada keterkaitannya dgn blok ayat Matius 7:1-5 ... karena  (imo) sikon di blok ayat tsb adalah : "AAA" memang suatu hal yg salah.

Semisal Usro menyatakan : "Immaculate Conception of Mary" = salah ---> maka di event ini Usro sedang melakukan tuduhan ... bukan sedang menghakimi :D.

Bener gak yah begitu ? :what:  :think1:  :shrug:
hehehe....   :giggle:

:)
salam.

Ya… aku paham maksud bro oda.
Kalo memang lawan diskusi berasal dari Gereja / denominasi lain, IMHO kita tidak memiliki hak / wewenang utk menegur apalagi menghakimi iman mereka.
Tapi kalo lawan diskusi itu berasal dari Gereja / denominasi yg sama seperti kita, dan kita tahu bahwa pihak yang memiliki otoritas telah mengeluarkan vonis penghakiman atas ajaran itu, maka IMHO kita berhak dan wajib mengingatkan dan meneruskan penghakiman itu kepada mereka.
Tapi IMHO, kasus seperti ini tidak relevant dengan perikop Mat 7 : 1 - 5.

Aku sependapat dengan bro siip, bahwa konteks perikop ini adalah ”mentalitas menghakimi karena merasa superior”.
Kalo diaplikasikan ke diskusi2 di forum2, IMHO, perikop ini mencerminkan diskusi di mana tidak ada ”judgement” dari pihak yg memiliki otoritas, tapi peserta diskusi memiliki mental superior dan merasa infallible, lalu meng-condem lawan diskusi sebagai salah / sesat, sementara argumennya sendiri belum tentu benar bahkan jika dilihat dari sudut pandang Gereja / denominasi orang tersebut.
IMHO, dalam diskusi sebaiknya dihindari meng-condemn lawan diskusi bahwa dia itu salah, sebaliknya kita justru seharusnya memposisikan diri bahwa kita belum tentu benar dan berdiskusi utk memahami argumen lawan diskusi, bukan utk menyalahkan argument lawan diskusi.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 24, 2013, 02:20:50 AM
@Oda...

Harus dpahami bhw konteks pengucapan firman itu menyangkut perubahan dari mentalitas Taurat ke mentalitas PB.

Di dalam konteks Taurat,
Ketika sso berbuat dosa/ksalahan krn tertangkap tangan atau atas dasar kesaksian minimal 2 atau 3 orang, maka si pelaku akan dihukum sesuai hukum agama (Taurat) yg berlaku dan akan menerima sanksi sosial.
Iya siip... yang saya bold, begitulah yg saya mengertikan konteks dari Matius 7:1-5 tsb :).

Quote
Kita lihat contoh dari Tuhan Yesus.
- Ia menjadikan dirinya approachable bagi para pelacur dan pemungut cukai bahkan makan bersama-sama mreka.
- Ia menyentuh perempuan yg pendarahan (yg statusnya najis) dan orang-orang kusta.
- Ia tidak melempar batu ke PELACUR yg kedapatan berzinah
IMO, dari ketiga contoh yg siip berikan, (imo) yang ungu yg sikon-nya kayaknya sesuai dgn Matius 7:1-5 ... tetapi, saya tidak bisa menemukan bhw wanita yg akan dilemparin batu itu profesinya adalah pelacur :).

Yang saya temukan, wanita itu adalah sso yg ketangkep basah berbuat sex dgn pria lain ---> dan hal ini, dibawah old LAW adalah perbuatan yang salah.

Quote
Bagaimana dg sikap para pemuka agama pd saat itu?
- Mreka tidak mau bgaul dg pelacur apalagi pmungut cukai bahkan mencela mreka stiap ada ksempatan.
- Mreka mngucilkan pnganut kusta.
- Mreka mencela dalam hati pd pelacur yg mencuci kaki Tuhan Yesus.
- Mreka mbawa seorang pelacur wanita ketangkep basah berbuat a-susila utk dihukum mati.
----------

Jd Oda perlu mlihat konteks 'jangan menghakimi' pd perbedaan antara Taurat dan mentalitas PB.
'Menghakimi' disini lebih pd sbuah 'sikap' atau 'mentalitas' yg memberikan stigmatisasi, hukuman sosial dan diskriminasi, BUKAN HANYA sekadar menyatakan kesalahan.
Iyah... terus terang saya akui bhw saya mengertikan kata "menghakimi" di Matius 7:1-5 tsb ya dalam pengertian keseluruhan proses penghakiman... dimana mencela/mengucilkan dipengertian saya tidak= menghakimi ... pemungut cukai ataupun pelacur kan profesi ... hehehe :).

Ya... saya nangkep maksud siip... yakni : mengucilkan/mencela sso itu bisa juga dikatakan menghakimi. Dimana aplikasi ke ayatnya yg di Matius, kalo kita mengucilkan/mencela sso (menghakimi) - maka nanti kita juga akan mengalami hal serupa yakni dikucilkan/dicela orang lain (dihakimi).

Namun entahlah, kok ya saya masih tetep berpendapat bhw konteks ayat Matius 7:1-5 itu sikon-nya ttg kesalahan, ya ? :). Pengertian yg saya dapet secara ilustrasi :
Kalo saya mendapatkan Cuplis melakukan suatu kesalahan "kecil" (dimana secara general-law itu memang diakui sebuah kesalahan) - maka saya tidak boleh sertamerta "menghakimi" (ada proses condemn).

Kisah nyata :
Saya dirumah bersama teman nonton TV.
Saya cuci tangan ke kamar mandi.
Tanpa sengaja, saya melihat teman  tsb mengambil uang dari dompet saya secara diam2.
Nah, yg ayat bilang "do not judge" adalah : saya tidak perlu sampe nglaporin ke polisi agar teman saya di penjara sekalipun itu sesuai hukum pidana yakni yg mencuri mesti di adili ... tetapi, maapin aja deh dia  :giggle:

Dengan kata lain, saya dilarang ayat utk "cerewet" dikit2 tiap kali ada orang berbuat salah selalu aja maen hantem kromo - kayak saya sendiri gak pernah berbuat salah aja :D.

Quote
'Menghakimi' disini lebih pd sbuah 'sikap' atau 'mentalitas' yg memberikan stigmatisasi, hukuman sosial dan diskriminasi, BUKAN HANYA sekadar menyatakan kesalahan.
oke... oke siip, saya mengerti :).

Makasih atas masukan2nya siip.

:)
salam.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 24, 2013, 03:28:43 AM
Hmm... sebentar, klo menurut bro oda, menghakimi itu boleh atau tidak boleh (dosa)?
IMO, menghakimi itu boleh - dan yg saya tangkep dari ayat tsb maksudnya adalah : jangan dikit2 kita maen hakim (ada proses condemn) ketika ada orang yg melakukan suatu kesalahan.

Quote
Perikop ini tidak bermaksud mengatakan bahwa menghakimi itu berdosa lho, atau mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi..
Ya... saya mengerti bhw ayat tsb ngajarin bhw kita tidak boleh menghakimi, Jeno :).

Tapi yg saya tangkep, kata "menghakimi" itu sendiri tidak sekedar menyatakan suatu hal yg salah - melainkan berlanjut ke proses condemn ...

Semisal saya sendiri tidak melihat dgn mata kepala sendiri Cuplis mencuri HP saya, lalu ketika saya mendapati HP saya hilang dan bilang ke Cuplis : "eh elu nyuri HP gue!" ---> maka event ini masih berupa tuduhan, bukan penghakiman :).

Ya... saya sadar dan mengerti bhw Cuplis bisa saja nge-respond "enak aja luh menghakimi gue sesuka elu" ... tidak jadi masalah apabila Cuplis menggunakan kata "menghakimi", saya juga nangkep/mengerti maksud kalimat Cuplis tsb.... Namun menurut benak saya, kata yg sesuai digunakan adalah "menuduh" :).

Terlepas apakah bener Cuplis yg nyuri ato kagak, diketika saya ngasih bogem mentah atopun nglapor polisi (condemn) - di event inilah saya sudah menghakimi - karena dgn adanya pernyataan aksi "condemn" tsb, berarti saya sudah memutuskan bhw Cuplis itu = salah (proses penghakimannya komplit).

Quote
Aku sependapat dengan bro siip, bahwa konteks perikop ini adalah ”mentalitas menghakimi karena merasa superior”.
Ya... saya sependapat. Jeno menggunakan kata "superior", odading menggunakan kata "bener" :D. Nglapor polisi / bogem mentah yg saya lakukan, itu dikarenakan saya merasa telah bener dlm memutuskan Cuplis = salah.


Quote
Kalo diaplikasikan ke diskusi2 di forum2, IMHO, perikop ini mencerminkan diskusi di mana tidak ada ”judgement” dari pihak yg memiliki otoritas, tapi peserta diskusi memiliki mental superior dan merasa infallible
Kalimat Jeno yg bold, kalimat odading : "merasa bener" dalam memutuskan bhw lawan diskusinya = salah :D.

Quote
lalu meng-condemn lawan diskusi sebagai salah / sesat
Kalimat Jeno yg bold, kalimat odading : Lalu meng-"condemn" lawan diskusi dengan pencetusan kata2 misal : bodoh, gak pake otak, dlsb :D.

Jadi disini terus terang saya memang mengertikannya secara "terpisah" :
1. Unyil menyatakan Cuplis salah = "menghakimi" (dgn tanda petik) karena masih part dari penghakiman.
2. terjadinya event lanjutan berdasarkan point-1 yang berupa condemn
3. proses penghakiman (tanpa tanda petik) komplit dilakukan oleh Unyil.

Sekarang saya berobah lagi (hehehe... :D) ---> Do not judge,
kata "judge" diayat tsb luas pengertiannya :
A. Point-1 diatas yg tidak didasari kenyataan (masih berupa tuduhan)
B. Apabila point-1 sudah didasari kenyataan (jelas2 Cuplis = salah, ketangkep basah nyuri HP) maka kata "judge" itu bergeser ke point-2 (condemn).
C. Dilakukan si pelaku secara "tuman" ---> hobby-nya dikit2 nge-judge (baik yg berupa point-A maupun B).

Cuma kok kenapa saya masih merasa dibalik semua itu, intinya adalah memaafkan ya ?  :what:  :shrug:

Makasih atas masukan2 jeno.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 24, 2013, 10:14:10 AM
Nah Oda,
Mari kita lanjutkan ya...

Sebelumnya saya menulis tentang:

Quote
Harus dpahami bhw konteks pengucapan firman itu menyangkut perubahan dari mentalitas Taurat ke mentalitas PB.

Coba kita gali apa itu mentalitas Taurat.

1. Taurat itu berisi ukuran yg diberlakukan massal.
Perintah Taurat itu berlaku massal tanpa memandang latar-belakang, kondisi atau situasi kecuali jika disebutkan pengecualiannya.

2. Perintah Taurat umumnya diikuti dengan sanksi.
Taurat itu penuh dg judgment. Lakukan ini jadi najis, lakukan itu jadi cemar. Kondisi 'najis' dan 'cemar' akan diikuti oleh sanksi, baik sosial maupun hukuman fisik.

3. Taurat adalah tulisan shg tinggal dijalankan saja.
Krn hukum Taurat sudah spesifik, maka para hakim (biasanya tua-tua) tinggal baca saja apa pelanggarannya, apa sanksinya dan apa hukumannya, lalu lakukan. Taurat tidak kenal 'hukuman maksimal atau minimal'.
Misalnya, kl tilang itu maksimal 250rb, tp hakim dapat menimbang alasan pelaku shg mbrikan hukuman tidak sampai angka maksimal. Nah, kondisi tsb tidak berlaku di Taurat.

Ketika Tuhan Yesus berkata: Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi,
Maka konteksnya adalah model Taurat.

Mengapa?
Krn disitu Ia berbicara kpd para pemegang dan pelaksana Taurat.

Injil harus dijalankan lepas dari model penghakiman Taurat.

Jika sso ingin hidup dalam Injil Kasih Karunia (Hukum Kristus) maka dia harus melepaskan diri dari gaya-gaya Taurat.
Itulah anggur baru dalam kantong kulit baru.

----------

Sampai disini saya sudah sukar menjelaskannya...krn sangat aplikatif.

Hukum Kristus itu sangat personal, tidak massal spt Taurat.

Maka saya pakai contoh saja:

Jika si A bisa baca Alkitab 5 pasal sehari, sdgkn si B hanya 1 pasal, maka mentalitas Taurat akan mhakimi B sbg 'kurang rohani'.
Dan ini salah.
Krn nanti Tuhan juga akan mhakimi kerohanian si A menurut ukuran baca Alkitab dan jika ada si C yg bisa baca 10 pasal sehari, maka A akan dihakimi Tuhan sbg 'tidak rohani'.
Padahal Hukum Kristus tidak mengukur kerohanian seseorang bdsk kemampuan baca Alkitab!

Jika si A melihat si B keluar dari tempat clubbing, maka mentalitas Taurat akan mengarahkan si A utk mhakimi si B sbg orang kurang rohani.
Dan belum tentu sbetulnya kerohanian B lebih rendah dari A hanya bdsk 1 kali pristiwa clubbing.
Bisa saja si B sedang khilaf utk sekali itu saja, tetapi krn si A kadung judgmental, maka dijauhilah/didiskreditkanlah si B.
Nantinya si A akan dihakimi menurut kemampuannya menjauhkan diri dari tempat-tempat yg dianggapnya 'kurang kudus'.
Ketika A suatu saat terpeleset kesana, maka A akan dihantui rasa bersalah yang besar.

Dll contohnya Bro.

Saya susah jelaskannya krn berlakunya personal.

Saya mngartikan 'jangan menghakimi supaya tidak dihakimi' sbg:
'Hindari menetapkan suatu standar/ukuran yg kita buat sendiri utk diukurkan kepada orang lain, padahal Tuhan tidak mengukurkan bagi orang tersebut'.

Di jaman PB ini, sebelum seseorang menghakimi (krn orang Kristen itu memang harusnya adil dan mampu mhakimi dg adil), sso harus tau dahulu ukuran Tuhan bagi orang yg dihakimi itu, kmudian mngetahui apa yg Tuhan mau perbuat thd orang itu, barulah mnyampaikannya.

Yoh 7:24
Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.

Tuhan Yesus mngajar kita mengenai 'menghakimi' dg mbrikan contoh.

Yoh 5:30
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

Yoh 8:16
dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.

Nah, sbelum sso tau ukuran-ukuran Tuhan utk orang lain, sebelum sso tau apa rencana dan maksud Tuhan bagi orang lain, mendingan 'jangan menghakimi' daripada nanti kita sendiri dihakimi dg ukuran yg sbetulnya kita buat sendiri.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 24, 2013, 01:01:10 PM
Nah Oda,
Mari kita lanjutkan ya...

Sebelumnya saya menulis tentang:

Coba kita gali apa itu mentalitas Taurat.

1. Taurat itu berisi ukuran yg diberlakukan massal.
Perintah Taurat itu berlaku massal tanpa memandang latar-belakang, kondisi atau situasi kecuali jika disebutkan pengecualiannya.

2. Perintah Taurat umumnya diikuti dengan sanksi.
Taurat itu penuh dg judgment. Lakukan ini jadi najis, lakukan itu jadi cemar. Kondisi 'najis' dan 'cemar' akan diikuti oleh sanksi, baik sosial maupun hukuman fisik.

3. Taurat adalah tulisan shg tinggal dijalankan saja.
Krn hukum Taurat sudah spesifik, maka para hakim (biasanya tua-tua) tinggal baca saja apa pelanggarannya, apa sanksinya dan apa hukumannya, lalu lakukan. Taurat tidak kenal 'hukuman maksimal atau minimal'.
Wow... penjelasan siip ketangkep saya sekarang :).

Benak saya bertanya tanya... apakah ucapan Yesus itu berlaku hanya untuk dijaman tsb yg dimana saat itu hukum yg berlaku adalah hukum lama (sekarang hukum yg baru) ?

ataukah :
hukum lama tsb diaplikasikan oleh orang2nya secara "salah" dimana kemudian Yesus menjabarkan maksud dari hukum lama ? Sehingga penjabaran Yesus tsb disebut hukum baru ?

Quote
Ketika Tuhan Yesus berkata: Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi,
Maka konteksnya adalah model Taurat.

Mengapa?
Krn disitu Ia berbicara kpd para pemegang dan pelaksana Taurat.
atau jangan2... tanpa disadari, sampe sekarangpun sekalipun bukan orang Yahudi - memang ada manusia yg masih menerapkan hukum penghakiman yg model lama (Taurat) ?

Quote
Injil harus dijalankan lepas dari model penghakiman Taurat.
Aku disini rada bingung, ini maksudnya hukum lama tsb memang begitulah aplikasi yg Allah yg inginkan ? ataukah orang2 pelaksana hukum lama tsb menjalankan aplikasinya tidak sesuai yg dimaksudkan Allah ?

LAW : wanita ketangkep basah berbuat asusila hukumnya dilempari batu.
A. Dari pov Allah maksudnya adalah jangan secara serampangan langsung dilempari batu, kalo memang itu kesalahan "kecil" yg mungkin karena wanita tsb alpa, maafkanlah.
B. Dari pov orang2 jaman tsb di aplikasikan : masa bodohlah, pokok jelas ketangkep basah ya mesti dilemparin batu ---> mereka kayak robot ... lampu merah brenti, lampu ijo jalan... pokok patuh, tanpa menimbang konsiderasi nurani di hati ataupun pertimbangan lebih jauh.
C. Model penghakiman hukum lama spt di point-B memang itulah yang Allah kehendaki.
D. Dengan demikian kepatuhan para pelaksana-nya bukan kayak robot, melainkan ya bener2 patuh.
E. Yesus mengganti model penghakiman hukum lama di point-C ?
F. ataukah Yesus menjelaskan bhw aplikasi point-B itu salah dan bukanlah yg kehendak Allah (dimaksudkan Allah), karena yg Allah maksudkan adalah point-A ?

Quote
Misalnya, kl tilang itu maksimal 250rb, tp hakim dapat menimbang alasan pelaku shg mbrikan hukuman tidak sampai angka maksimal. Nah, kondisi tsb tidak berlaku di Taurat.
Nah... berdasarkan quote siip diatas, jadi artinya ya bukan kesalahan si pelaku hukum... karena memang begitulah kehendak si pembuat hukum yakni spt point-B ... tidak dikehendaki terlibatnya suatu pertimbangan / nurani/logika olehNYA.

Quote
Maka saya pakai contoh saja:

Jika si A bisa baca Alkitab 5 pasal sehari, sdgkn si B hanya 1 pasal, maka mentalitas Taurat akan mhakimi B sbg 'kurang rohani'.
Dan ini salah.
Krn nanti Tuhan juga akan mhakimi kerohanian si A menurut ukuran baca Alkitab dan jika ada si C yg bisa baca 10 pasal sehari, maka A akan dihakimi Tuhan sbg 'tidak rohani'.
Padahal Hukum Kristus tidak mengukur kerohanian seseorang bdsk kemampuan baca Alkitab!

Jika si A melihat si B keluar dari tempat clubbing, maka mentalitas Taurat akan mengarahkan si A utk mhakimi si B sbg orang kurang rohani.
Dan belum tentu sbetulnya kerohanian B lebih rendah dari A hanya bdsk 1 kali pristiwa clubbing.
Bisa saja si B sedang khilaf utk sekali itu saja, tetapi krn si A kadung judgmental, maka dijauhilah/didiskreditkanlah si B.
Nantinya si A akan dihakimi menurut kemampuannya menjauhkan diri dari tempat-tempat yg dianggapnya 'kurang kudus'.
Ketika A suatu saat terpeleset kesana, maka A akan dihantui rasa bersalah yang besar.

Dll contohnya Bro.
Saya ngerti dan nangkep penjelasan siip diatas... dan ya... memang begitulah kira2 saya mengertikannya.

Membaca hanya 1 pasal dinilai hal yang salah oleh si A, krn si A membuat patokan "hukum" dirsen-nya, yakni dia membaca 5 pasal sehari .. si A meng-condemn : "si B tidak rohani".

Sama sekali tidak melakukan clubbing adalah patokan "hukum" dirsen si A, sehingga ketika dia melihat si B clubbing maka di pov si A, perbuatan clubbingnya si B = salah, lalu dia condemn : "si B kurang rohani".

Quote
Saya mngartikan 'jangan menghakimi supaya tidak dihakimi' sbg:
'Hindari menetapkan suatu standar/ukuran yg kita buat sendiri utk diukurkan kepada orang lain.
Ya... begitulah kalimat coklat yg saya maksudkan idem ama yg di bold oleh siip pada quote atas :).

Quote
Nah, sbelum sso tau ukuran-ukuran Tuhan utk orang lain, sebelum sso tau apa rencana dan maksud Tuhan bagi orang lain, mendingan 'jangan menghakimi' daripada nanti kita sendiri dihakimi dg ukuran yg sbetulnya kita buat sendiri.
Cuma ya itu dah ... seperti yg saya post buat Jenova, kenapa kok dibalik kata "jangan menghakimi" disitu saya menangkep sepertinya inti-nya adalah "maafkanlah", ya Siip ? :D. ("maafkanlah" = ya sudahlah... pertimbangan... konsiderasi... libatkan nurani dan logika, toleransi)

Selama patokan "hukum" dirsen sso itu bukan suatu hal yg buruk ... patokan si A membaca 5 pasal dan tidak melakukan clubbing sama sekali kan bukanlah hal yang buruk kan Siip ? maka diketika dia mengetahui si B berbuat yg tidak sesuai patokannya : ya sudahlaaahh...  :giggle:

Demikian pula patokan "hukum" dirsen Unyil bhw Cuplis mencuri HP-nya = salah, libatkan nurani dan logika - kalo memang bisa dimaafkan, maafkanlah ... gak perlu sampe ngatain "pencuri luh!" ataupun menyeret Cuplis ke pengadilan ataupun ngasih bogem mentah :D.

Entahlah, ini mungkin cara pandang saya aja yg berbeda kali yah ... hehehe :D.
Makasih atas masukan2 dan penjelasan2 Siip.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 24, 2013, 02:20:14 PM
atau jangan2... tanpa disadari, sampe sekarangpun sekalipun bukan orang Yahudi - memang ada manusia yg masih menerapkan hukum penghakiman yg model lama (Taurat) ?

Mentalitas menghakimi versi Taurat itu masih berlaku dimana-mana, bro.

Misalnya,
Ada agama ttentu yg mlarang pengucapan selamat hari raya pd pnganut agama lain.
Pdhl kl kita coba telaah, adakah Tuhan menilai krohanian sso bdsk ucapan selamat hari raya bagi agama lain?

Quote
Cuma ya itu dah ... seperti yg saya post buat Jenova, kenapa kok dibalik kata "jangan menghakimi" disitu saya menangkep sepertinya inti-nya adalah "maafkanlah", ya Siip ? :D. ("maafkanlah" = ya sudahlah... pertimbangan... konsiderasi... libatkan nurani dan logika, toleransi)

Demikian pula patokan "hukum" dirsen Unyil bhw Cuplis mencuri HP-nya = salah, libatkan nurani dan logika - kalo memang bisa dimaafkan, maafkanlah ... gak perlu sampe ngatain "pencuri luh!" ataupun menyeret Cuplis ke pengadilan ataupun ngasih bogem mentah :D.

Kl ini beda bro.
Kita punya hukum legal normatif.

Pelaku kejahatan harus diadili sesuai norma hukum utk mbri si pelaku itu suatu efek jera dan lebih lagi ditujukan utk mbrikan suatu peringatan bagi calon pelanggar hukum lainnya.

Tp sbg sso yg tidak lagi mmiliki mentalitas Taurat, maka kita memaafkan dan mbantu mreka utk pemulihannya (sambil dia menjalani ganjaran dari kesalahannya scr hukum normatif).

Disitulah beda mentalitasnya Bro.

Salah adalah salah. Hukum harus dilaksanakan. Tetapi kita ikut memaafkan dan mendukung dalam pemulihannya.

Quote
Aku disini rada bingung, ini maksudnya hukum lama tsb memang begitulah aplikasi yg Allah yg inginkan ? ataukah orang2 pelaksana hukum lama tsb menjalankan aplikasinya tidak sesuai yg dimaksudkan Allah ?

LAW : wanita ketangkep basah berbuat asusila hukumnya dilempari batu.
A. Dari pov Allah maksudnya adalah jangan secara serampangan langsung dilempari batu, kalo memang itu kesalahan "kecil" yg mungkin karena wanita tsb alpa, maafkanlah.
B. Dari pov orang2 jaman tsb di aplikasikan : masa bodohlah, pokok jelas ketangkep basah ya mesti dilemparin batu ---> mereka kayak robot ... lampu merah brenti, lampu ijo jalan... pokok patuh, tanpa menimbang konsiderasi nurani di hati ataupun pertimbangan lebih jauh.
C. Model penghakiman hukum lama spt di point-B memang itulah yang Allah kehendaki.
D. Dengan demikian kepatuhan para pelaksana-nya bukan kayak robot, melainkan ya bener2 patuh.
E. Yesus mengganti model penghakiman hukum lama di point-C ?
F. ataukah Yesus menjelaskan bhw aplikasi point-B itu salah dan bukanlah yg kehendak Allah (dimaksudkan Allah), karena yg Allah maksudkan adalah point-A ?
 Nah... berdasarkan quote siip diatas, jadi artinya ya bukan kesalahan si pelaku hukum... karena memang begitulah kehendak si pembuat hukum yakni spt point-B ... tidak dikehendaki terlibatnya suatu pertimbangan / nurani/logika olehNYA.

Kl mnrt saya, terjadi penyimpangan dalam mentalitas sso saat melakukan Hukum Taurat.

Memang betul bhw kesalahan itu harus mendapat ganjaran krn Tuhan itu adil.
Tetapi mreka yg memegang Taurat telah melangkah ekstrim menjadi sosok-sosok yg judgmental, yg meninggikan diri bdsk ukuran lahiriah dan cenderung mencari-cari kesalahan.

Taurat tidak ngajari orang utk jadi judgmental atau sombong dg ukuran lahiriah atau mencari-cari kesalahan.

Taurat harusnya dilakukan dg KASIH.

Sama spt sso punya anak.
Kl anaknya bbuat pelanggaran ya dihukum.
Tp kan si bapak ngga sharusnya mcari-cari ksalahan, selalu curiga, selalu nyalahin anak dan mrasa lebih benar dari anaknya donk.

Kisahnya spt saat Tuhan Yesus mnyembuhkan orang pd hari Sabat.
Itu para orang ber-agama malah mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus dg menunggu-nunggu siapa tau Tuhan Yesus mnyembuhkan orang pd hari Sabat.
Jd sikap dan mentalitas orang thd Taurat itu sudah terlalu ekstrim, bahkan jauh berlebihan ketimbang sikapnya Tuhan sendiri.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: budi on December 25, 2013, 04:27:44 AM
Setelah mengikuti thread ini sejauh ini, saya jadi mikir: "Apakah sesulit ini menjalankan perintah Tuhan "jangan menghakimi"? Apakah benar kita tidak mengerti arti "menghakimi" tanpa harus merumuskannya ala hukum positif (legalistik)? Hasrat apa sih yg sedang kita penuhi ketika kita mencari-cari batasan ini ?"

Saya jadi teringat kata pepatah "orang pandai akan jatuh oleh kepandaiannya, dan orang bodoh jatuh oleh kebodohannya"

Saya rasa kita semua telah menghakimi sesama kita. Perintah tsb pada akhirnya hanya menunjukan bahwa kita telah berada dalam kondisi bersalah karena kita tidak bisa hidup tanpa menghakimi. Menurut saya, ya sudahlah kita terima dan akui saja kondisi itu, dan kita memohon ampun pada Tuhan.

Menurut saya, kita nggak bisa nggak menghakimi orang. It is in our "nature". Kita hidup dalam hasrat primordial untuk memisahkan "aku/kami" dan "kamu/kalian" di mana "aku/kami" adalah yg benar atau yg menguasai kebenaran dan "kamu/kaian" adalah yg salah (prinsip oposisi biner). Ini adalah sistem yg sudah terlanjur bergulir dan mengkultur dalam kehiduan umat manusia. Ini sudah menjadi semacam sistem pertahanan hidup yg primordial.

Manusia bukan penguasa kebenaran. Naturally, manusia tidak bisa jadi hakim. Tapi, di sisi lain, manusia sudah keburu jadi mahluk yg menghakimi dan bahkan perlu menghakimi supaya bisa survive (apapun artinya itu). Kalau sudah begini, apa lagi yg lebih pentng selain dari pengampunan Tuhan yg tanpa syarat?

Jadi, kita akan terus menghakimi. Dan bila hendak menghakimi, mari kita bercermin dulu pada perintah Tuhan itu, memohon ampun, dan melakukan penghakiman dengan hati-hati sekali. Jangan sampai salah, jangan sampai menyakiti, jangan sampai memancing dosa. Utamakan Tuhan, sangkal diri, pikul "salib".


Cheers 
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 26, 2013, 02:29:33 AM
Tp sbg sso yg tidak lagi mmiliki mentalitas Taurat, maka kita memaafkan dan mbantu mreka utk pemulihannya

Disitulah beda mentalitasnya Bro.
Jujur saya masih gak nangkep, siip.

A. Siip bilang "jangan menghakimi" adl utk orang yg bermentalitas Taurat.
B. Dari quote siip di atas, kesimpulan lain yang saya tangkep adalah : "maafkanlah" bagi sso yg ungu.

Dan saya nggak/belon bisa menembukan perbedaannya antara A dan B, siip :).
Karena kalopun dibolak balik ya pengertiannya sama :
A. bagi yg bermentalitas Taurat : maafkanlah
B. bagi ungu : jangan menghakimi

Quote
Tetapi mreka yg memegang Taurat telah melangkah ekstrim menjadi sosok-sosok yg judgmental, yg meninggikan diri bdsk ukuran lahiriah dan cenderung mencari-cari kesalahan.
Kok kalo menurut saya, baik yg memegang Taurat, maupun yg tidak lagi memegang Taurat itu ... ya tetep aja ada sosok sosok yg judgmental ya siip ? (terlepas apakah ybs memegang Taurat ataupun tidak lagi memegang Taurat) :).

Quote
Taurat tidak ngajari orang utk jadi judgmental atau sombong dg ukuran lahiriah atau mencari-cari kesalahan.
Taurat harusnya dilakukan dg KASIH.
Apakah disini, pada kata "Taurat", maksudnya siip adalah Hukum Allah (baik yg lama maupun yang baru) = ijo ? Saya sependapat. Please CMIIW.

btw, saya memilih mengambil pengertian kalimat "jangan menghakimi" itu = "maafkanlah" - soalnya saya ngliat model ajaran Yesus itu cenderung "nyuruh" drpd "ngelarang" - sementara dilain sisi, yg dilarang itu Dia nyatakan dalam bentuk statement, misal "tetapi Aku berkata : ...".

Makasih atas masukan2 siip.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 26, 2013, 03:26:30 AM
Setelah mengikuti thread ini sejauh ini, saya jadi mikir: "Apakah sesulit ini menjalankan perintah Tuhan "jangan menghakimi"?
Buat budi, Jeno dan temen2 Kristen yg lain tentulah sudah tidak sulit, namun tidak demikian buat odading, bud :D.

Quote
Apakah benar kita tidak mengerti arti "menghakimi" tanpa harus merumuskannya ala hukum positif (legalistik)?
Secara general, tentu kita tau dan mengerti arti kata "menghakimi" ---> yang bukan hakim, ya janganlah menghakimi ... hehehe :D.

Quote
Hasrat apa sih yg sedang kita penuhi ketika kita mencari-cari batasan ini ?
Tidak ada hasrat apa apa sih... apalagi ada hasrat jahat ... :D. Saya cuma mencari kenapa bisa ada perbedaan, setelah saya berulang2 baca itu ayat - kok kesimpulan saya jadinya "maafkanlah" ...  :what:

Quote
Menurut saya, kita nggak bisa nggak menghakimi orang.
Betul. Tapi maksud saya adalah apakah kalimat "jangan menghakimi" itu ttg perbuatan audible/visible ? ataukah didalam hati ?

Karena kalo yg didalam hati itu, akan sangat sulit utk di"rem" (imo) bud...
sedangkan kalo yg perbuatan audible/visible masih bisa di "rem" :).

Pada ilustrasi saya Cuplis ketauan Unyil lagi nyuri HP, diketika hati Unyil menyatakan bhw perbuatan Cuplis = salah - maka itu kan bukankah artinya Unyil sudah menghakimi didalam hati ?

Dilain sisi, saya ambil contoh lain yg berdasarkan diskusi saya ama Jenova yaa... :

A. Kalo semisal "orang luar" menyatakan (baik audible ataupun visible/tulisan) : Immaculate Conception of Mary = salah ---> nah.... di event ini yg saya mau tau, "orang luar" ini emang bisa dikatakan menghakimi atau kagak ?

B. Kalo semisal "orang dalam" menyatakan (baik audible ataupun visible/tulisan) : Immaculate Conception of Mary = salah ---> nah.... di event ini yg saya mau tau, "orang dalam" ini emang bisa dikatakan menghakimi atau kagak ?

C. Point-A namun didalam hati - tidak dia nyatakan ---> "orang luar" ini emang bisa dikatakan menghakimi atau kagak ?

D. Point-B namun didalam hati - tidak dia nyatakan ---> "orang dalam" ini emang bisa dikatakan menghakimi atau kagak ?

Saya gak bisa ngejawab pertanyaan2 benak saya sendiri itu, makanya saya cenderung berpendapat dibalik kalimat "jangan menghakimi" itu - maknanya lebih ke : "maafkanlah / sudahlah... nau-in, dll", libatkan kata hati nurani dan logik  :).

Dimana (imo) dgn dasar ijo tsb, maka kalimat "jangan menghakimi" kan otomatis gak bisa berlaku ke orang yg berdasarkan ijo - orang yg bersikap spt ijo ya gak mungkin akan melakukan "penghakiman"  :D. (tentu ini dalam sikon : profesi ybs ini bukan sebagai hakim yg sedang menangani kasus pengadilan loh ya... ).

Kalo menurut budi gimana ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 27, 2013, 10:02:22 AM
A. Siip bilang "jangan menghakimi" adl utk orang yg bermentalitas Taurat.
B. Dari quote siip di atas, kesimpulan lain yang saya tangkep adalah : "maafkanlah" bagi sso yg ungu.

Dan saya nggak/belon bisa menembukan perbedaannya antara A dan B, siip :).
Karena kalopun dibolak balik ya pengertiannya sama :
A. bagi yg bermentalitas Taurat : maafkanlah
B. bagi ungu : jangan menghakimi

Tolong pahami ini dulu ya Oda:
Alkitab tidak mngatakan bhw orang Kristen sama skali tidak boleh menghakimi.
Alkitab tidak mngatakan bhw menghakimi itu dosa.

Phatikan pkataan Paulus di 1 Kor 6:1-11

Orang Kristen itu mengetahui kebenaran dan mengenal Dia yang benar, karena itu yg paling tepat utk mhakimi itu harusnya ya orang Kristen.

Namun bgitu,
Jika sso masih bermental Taurat,
Masih belum dapat bersikap adil (bicara fakta dan kesaksian tanpa memihak),
Masih belum mengenal Dia utk mengenal jalan-jalanNya,
Maka jangan menghakimi.

Lalu, ketika sso sudah:
Lepas dari mentalitas Taurat,
Cukup dapat bersikap adil,
Cukup mengenal Dia dan jalan-jalanNya
Maka ketika menghakimi, orang ini akan menghakimi dg gaya dan tujuan memulihkan.

Oda bingung gimana melaksanakannya?
Ini memang sukar Oda. Saya juga ngga bgitu paham.

--------

Sama spt ketika Tuhan Yesus mnerima Zakheus (yg manjat pohon utk mlihat Kristus).

Dg mnyambut dan makan bsama-sama Zakheus, maka Zakheus justru dg rela hati mnyerahkan sbagian hartanya utk orang miskin dan mngembalikan kerugian yg pernah ia sebabkan.

Luk 19:8
Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

Org Farisi dg mentalitas Taurat akan mhakimi Zakheus sbg orang berdosa, ia dikucilkan dan dihina para pemuka agama.
Hasilnya, Zakheus memang dikucilkan dan mgkn saja mrasa malu, tp ya sbatas itu saja.

Di sisi lain,
Tuhan Yesus mnerima Zakheus.
Hasilnya, stengah harta ia serahkan, ia berhenti memeras dan mngembalikan krugian 4 kali lipat.

Itulah bedanya MENGHAKIMI ala Taurat vs Injil.

Contoh lain adl Paulus.

Phatikan gaya Paulus:

1 Kor 5:5
orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

Phatikan bhw penghakiman Paulus itu 2 sisi mata pedang,
Sisi yg satu penghukuman, sisi yg lain penyelamatan.

Paulus punya wewenang mjatuhkan sanksi dan phakiman, tetapi Paulus punya motivasi utk mnyelamatkan yg menjadi dasar utama dari phakimannya.
Skalipun mhakimi dan mhukum, Paulus bukan mlakukan dg kekejaman tetapi dg belas kasihan utk mnyelamatkan.

Kl sso hanya punya mentalitas Taurat, itu terlalu berat di sisi penghukuman.

Ini sukar dipahami apalagi dlaksanakan.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on December 27, 2013, 11:29:28 AM
Mungkin yang dimaksud Alkitab dengan "janganlah menghakimi" yaitu janganlah "menghakimi secara tidak benar, tidak adil, apalagi secara tidak berdasar"?

Karena manusia pada dasarnya terlahir dengan sikap menghakimi (menilai), entah terucap ataupun sekedar dalam pikiran.  :shrug: Kalau manusia tidak pernah dihakimi sesamanya bagaimana manusia bisa berubah menjadi lebih baik?

Contoh 1: saya melihat seseorang membuang sampah sembarangan, lalu saya menilai (menghakimi) orang tersebut sebagai orang yang tidak disiplin (penghakiman pertama - di dalam hati), lalu saya menegur dia "saya melihat kamu membuang sampah sembarangan. Mengapa kamu tidak membuang sampah pada tempatnya. Kamu sudah melanggar aturan tentang larangan membuang sampah di tempat umum..." (penghakiman kedua, namun benar dan berdasar).

Contoh 2: saya langsung menegur orang itu "ternyata kamu itu orang yang jorok ya? Pasti kamu tidak pernah diajari kebersihan. Mungkin kamu juga jarang mandi" (ini penghakiman yang tanpa dasar sebagian besar hanya berdasar asumsi, berlebihan dan belum tentu benar atau adil). Saya pikir model penghakiman yang seperti ini yang dilarang oleh Alkitab. Sedangkan model yang pertama adalah sifat natural manusia.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 27, 2013, 04:18:20 PM
Tolong pahami ini dulu ya Oda:
Alkitab tidak mngatakan bhw orang Kristen sama skali tidak boleh menghakimi.
Alkitab tidak mngatakan bhw menghakimi itu dosa.
Makanya saya pingin "menyempitkan" pengertian dari arti kata "menghakimi" itu sendiri, siip :).

Alkitab memang tidak mengatakan bhw menghakimi itu = dosa.
Namun tidak bisa dipungkiri, perbuatan menghakimi itu sendiri ada yg berdasarkan accusation ataupun bahkan mungkin berupa false accusation.

Dengan begitu, kalimat "jangan menghakimi" (imo) pengrenderan-nya pada kata "menghakimi" disitu adalah in a negative sense. Ayat bisa juga bermaksud menyatakan : kalo kamu bukan hakim, janganlah menghakimi ---ataupun--- kalo kamu hakim, menghakimilah dgn benar :).

Diketika seorang hakim menghakimi berdasarkan false accusation - dan keputusan si hakim tsb adalah si tertuduh/terdakwa = FALSE padahal si hakim itu tau bhw terdakwa itu tidakFALSE, maka si hakim sudah masuk ke kategori "mengucapkan saksi dusta" ---> dan ini adalah dosa ---> dan kalimat "jangan menghakimi" ngerujuk ke dosa, apabila model penghakimannya seperti ungu. Bukankah begitu, siip ? :).

Quote
Phatikan pkataan Paulus di 1 Kor 6:1-11
Barusan tak baca ayat2nya, sulit banget :D.
Berkali kali saya mesti ulang bacanya.... dan kesimpulan saya (entah bener ato kagak) blok ayat tsb sedang menyatakan :
A. Kalo ada perselisihan antar orang dalem, selesaikanlah dgn orang dalem.
B. Terjadinya perselisihan itu sendiri = kekalahan bagi masing2 yang berselisih.
C. Paulus bilang : (8) Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu.

Dari situ pengertian saya menuntun ke :
perselisihan, tuduh-menuduh ataupun salah satu menuduh = melakukan ketidakadilan.

Dengan demikian, bukankah kalimat "jangan menghakimi" (menghakimi in negative sense) itu masuk aplikasinya, siip ? Terlepas apakah itu dosa/tidak dosa, Paulus bilang : orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah?

Quote
Orang Kristen itu mengetahui kebenaran dan mengenal Dia yang benar, karena itu yg paling tepat utk mhakimi itu harusnya ya orang Kristen.
Nah ini... yang saya gak ngerti itu, si Paulus itu fokusnya lagi "ngomel2" karena kedua pihak yg berselisih itu membawa perkaranya ke orang luar ? ataukah Paulus lagi "ngomel2" karena orang2 Kristen yg berselisih ? :D

Quote
Lalu, ketika sso sudah:
Lepas dari mentalitas Taurat,
Cukup dapat bersikap adil,
Cukup mengenal Dia dan jalan-jalanNya
Maka ketika menghakimi, orang ini akan menghakimi dg gaya dan tujuan memulihkan.
Konteks ayat yg siip ajukan, sikonnya masih gak jelas buat saya siip.

Itu ayat sikonnya begimana ?
Unyil menyatakan Cuplis berbuat suatu hal yg salah - Cuplis tidak terima sehingga timbul perselisihan ?
Dari sini sikonnya kan bisa :
A. Pernyataan Unyil = TRUE, karena jelas2 Cuplis memang berbuat suatu hal yg salah --- tapi Cuplis tidak terima
B. Pernyataan Unyil = FALSE (accusation) --- yang tentu saja Cuplis tidak terima.

Nah dari sikon tsb, kalo dilibatkan ke kata "menghakimi" :
1. maka di point-A, "penghakiman" Unyil itu = TRUE ---> Unyil BOLEH menyatakan Cuplis berbuat suatu hal yg salah.
2. di point-B, "penghakiman" Unyil itu = FALSE ---> Unyil terkena aplikasi ayat "jangan menghakimi" yg spt demikian.

Quote
Oda bingung gimana melaksanakannya?
Ini memang sukar Oda. Saya juga ngga bgitu paham.
Oleh karena itulah siip, saya cenderung mengertikan bhw dibalik kalimat "jangan menghakimi" disitu maknanya ke "maafkanlah, sudahlah, beresin dgn baik, dll" ---> DAN ini aplikasinya terkena bagi kedua belah pihak (Unyil dan Cuplis).

Apabila sikon-nya spt point-A, Unyil gak perlu ampe bawa2 ke pengadilan - gak perlu nurutin egonya, melainkan mencoba menyelesaikan dgn kekeluargaan, entah dgn mengalah - entah pula berkonsultasi dgn "tetua". Dilain sisi, bagi Cuplis yg tidak menerima pernyataan Unyil tsb .. tanpa nyadar, Cuplis telah "menghakimi" Unyil - karena Cuplis menyatakan bhw pernyataan Unyil ke dirinya tsb = SALAH (padahal bener). Dari sini keliatan kalimat "jangan menghakimi" itu berlaku bagi kedua belah pihak.

Apbila sikon-nya spt point-B, jelas2 Unyil telah melakukan false-accusation - Unyil terkena ayat "jangan menghakimi" (menghakimi secara salah, serampangan, nurutin ego, dll). Dilain sisi, di pov Cuplis - apabila Cuplis mengalah/menerima (sekalipun dia tau dia tidak salah) ---> maka Cuplis sedang menjalankan ayat "jangan menghakimi" (sudahlah... maafkanlah... terimalah).

Dan apabila Unyil /Cuplis memegang pedoman "sudahlah, maafkanlah, terimalah..." dibalik kalimat ayat "jangan menghakimi" ---> maka tidak akan timbul perselisihan kan siip ? :).

Paulus bilang begini :
Why not rather let yourselves suffer wrong and be deprived of what is your due? Why not rather be cheated ?

Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?

New International Version
Why not rather be wronged? Why not rather be cheated?

New Living Translation
Why not just accept the injustice and leave it at that? Why not let yourselves be cheated?

GOD'S WORD® Translation
Why don't you accept the fact that you have been wronged? Why don't you accept that you have been cheated?

Baik pada sikon seperti point-A ataupun point-B diatas, apabila kedua belah pihak ataupun salah satunya (baik para "Unyil" maupun para "Cuplis") berpedoman "jangan menghakimi" seperti kalimat2 Paulus diatas ---> dalam suatu (satu) lingkungan akan damai :D.

Quote
Phatikan bhw penghakiman Paulus itu 2 sisi mata pedang
Ya... saya mengerti siip.
Ayat "jangan menghakimi" itu tidak sedang saya simpulkan bhw ayat bermaksud menyatakan : "kamu tidak boleh menghakimi - menghakimi in a positive sense"

Pengertian saya : "jangan menghakimi" - menghakimi yg dijadikan hobby, judgmental, ada kesalahan ataupun suatu hal  dikit2 dicerewetin, diutarakan, diseret ke pengadilan ataupun di lemparin batu (dikeroyok massa).

Ada maling masuk rumah, menggondol hartabenda kita - kita tidak berprofesi sbg hakim negara.
Ketauan, maling kabur dan ketangkep massa - tidak digebugin, tapi massa akan bawa dia ke pengadilan.

Begaimana sikap kita ?
1. meminta massa utk tidak membawa si maling ke pengadilan ? ---ataukah---
2. memaafkan si maling didalam hati dan tetep membiarkan massa menyeret ke pengadilan ?

Sikon menentukan,
A. kalo maling tsb ternyata saudara kita sendiri - maka mungkin yg point-1
B. kalo maling tsb orang laen - mungkin yang point-2 :D

Pertanyaannya :
Apa yang Yesus minta ke diri kita as a person sebagai pemilik rumah utk bersikap ?
Point-1 ? ataukah Point-2 ? :D

Makasih atas masukan2 siip.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on December 27, 2013, 04:23:27 PM
Kl ada org buang sampah, lalu kita menegur dia, maka itu hal yg sangat baik.

Kl ada org buang sampah, lalu dalam hati kita cap dia sbg org jorok, lalu kita tegur dia, lalu kita jauhi dia dan sampai besok-besok kita tetap cap dia sbg org jorok dan itu mpengaruhi sikap kita thd dia, maka itulah mhakimi versi Taurat.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on December 27, 2013, 04:41:55 PM
Mungkin yang dimaksud Alkitab dengan "janganlah menghakimi" yaitu janganlah "menghakimi secara tidak benar, tidak adil, apalagi secara tidak berdasar"?
Ya... saya cenderung sependapat ama shakes :).

Namun, kembali lagi - kata "menghakimi" itu sendiri maksudnya apakah di satu event memutuskan benar/salah ? ataukah suatu proses yg melibatkan adanya "benar/salah" di hati - lalu berlanjut ke sebuah perbuatan yg bersifat "negatif" ?

Quote
Contoh 1: saya melihat seseorang membuang sampah sembarangan, lalu saya menilai (menghakimi) orang tersebut sebagai orang yang tidak disiplin (penghakiman pertama - di dalam hati)
dan "penghakiman" ini = TRUE. jadi tentu ini tidak sedang didalam aplikasi "jangan menghakimi" ---> karena "penghakiman" shakes = true.

Quote
lalu saya menegur dia "saya melihat kamu membuang sampah sembarangan. Mengapa kamu tidak membuang sampah pada tempatnya. Kamu sudah melanggar aturan tentang larangan membuang sampah di tempat umum..." (penghakiman kedua, namun benar dan berdasar).
Nah disini terjadi ungu... dimana pernyataan shakes in positive sense.

Quote
Contoh 2: saya langsung menegur orang itu "ternyata kamu itu orang yang jorok ya? Pasti kamu tidak pernah diajari kebersihan. Mungkin kamu juga jarang mandi" (ini penghakiman yang tanpa dasar sebagian besar hanya berdasar asumsi, berlebihan dan belum tentu benar atau adil). Saya pikir model penghakiman yang seperti ini yang dilarang oleh Alkitab. Sedangkan model yang pertama adalah sifat natural manusia.
negative sense ... Sependapat  ama shakes :deal: :D.

Pada kedua model diatas - (imo) bisa dilanjutkan lagi ...
apabila tercanang sudah bhw : hukum membuang sampah pada tidak tempatnya = dibawa ke pengadilan dgn denda uang ----> pertanyaanya : apakah shakes akan melakukannya setelah melakukan teguran ijo ataupun pernyataan orange ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on December 30, 2013, 09:02:17 AM

Pada kedua model diatas - (imo) bisa dilanjutkan lagi ...
apabila tercanang sudah bhw : hukum membuang sampah pada tidak tempatnya = dibawa ke pengadilan dgn denda uang ----> pertanyaanya : apakah shakes akan melakukannya setelah melakukan teguran ijo ataupun pernyataan orange ?

:)
salam.


Saya cenderung untuk menyerahkan penghakiman (dlm arti pemberian keputusan dan hukuman) kepada mereka yg diberi wewenang untuk itu
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 01, 2014, 12:06:53 PM

Saya cenderung untuk menyerahkan penghakiman (dlm arti pemberian keputusan dan hukuman) kepada mereka yg diberi wewenang untuk itu
ehm... maksud saya, setelah shakes mengeluarkan statement either yg pertama or kedua, apakah shakes akan : "hayo, sekarang kamu ikut saya - tak bawa ke pengadilan !" atau juga misalnya nglapor ke otoritas : "pak..pak... tuh orang yg disitu buang sampah sembarangan pak..." :D

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 03, 2014, 06:52:58 AM
Contoh soal saja ...

Di Alkitab enggak ada larangan merokok.
Trus ada yang merokok ... kemudian kita melarang ...
Nahhh gimana ... apa termasuk menghakimi ?

Yang lebih sulit .... ehhehe
Trus ada yang hobi pake menthol inhaler, walau enggak sesak napas enggak sakit...
Di Alkitab enggak ada larangan spesifik untuk hal diatas ..
Kalo kita melarang, apakah sudah masuk kategori menghakimi ?

 :)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on January 03, 2014, 08:11:12 AM
Contoh soal saja ...

Di Alkitab enggak ada larangan merokok.
Trus ada yang merokok ... kemudian kita melarang ...
Nahhh gimana ... apa termasuk menghakimi ?

Yang lebih sulit .... ehhehe
Trus ada yang hobi pake menthol inhaler, walau enggak sesak napas enggak sakit...
Di Alkitab enggak ada larangan spesifik untuk hal diatas ..
Kalo kita melarang, apakah sudah masuk kategori menghakimi ?

 :)

Bukannya udah jelas ya Bro kl menyatakan kesalahan dan larangan bukanlah penghakiman jika ssuatu itu memang salah atau merugikan?

Kl org yg mrokok atau isep inhaler itu kita anggap warga kelas 2, dikucilkan dan dijelek-jelekkan, itu baru mhakimi dech sptnya.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 03, 2014, 01:09:43 PM
Bukannya udah jelas ya Bro kl menyatakan kesalahan dan larangan bukanlah penghakiman jika ssuatu itu memang salah atau merugikan?

Kl org yg mrokok atau isep inhaler itu kita anggap warga kelas 2, dikucilkan dan dijelek-jelekkan, itu baru mhakimi dech sptnya.

Ambil contoh yang abu2

Inhaler.
Jelek bagi orang lain, tapi baik bagi diri seseorang.

Nahhh gimana nih ??

 :whistle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on January 03, 2014, 02:41:01 PM
Ngga masalah bro.
Kl kita mrasa ssuatu itu baik buat org lain, kita silakan mbritahukannya.
Sama jg kl kita mrasa ssuatu itu mrugikan buat org lain, kita pun bebas mbritahukannya.

Kl dia ngga mau trima, maka sikap kita stelahnya yg mnentukan apakah kita punya mentalitas phakiman versi Taurat atau kita bijak mnyikapinya.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 03, 2014, 03:32:19 PM
Ngga masalah bro.
Kl kita mrasa ssuatu itu baik buat org lain, kita silakan mbritahukannya.
Sama jg kl kita mrasa ssuatu itu mrugikan buat org lain, kita pun bebas mbritahukannya.

Kl dia ngga mau trima, maka sikap kita stelahnya yg mnentukan apakah kita punya mentalitas phakiman versi Taurat atau kita bijak mnyikapinya.


Setuju Bro   :afro:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 03, 2014, 05:04:21 PM
Kl org yg mrokok atau isep inhaler itu kita anggap warga kelas 2, dikucilkan dan dijelek-jelekkan, itu baru mhakimi dech sptnya.
Saya sependapat ama siip :).

Kl dia ngga mau trima, maka sikap kita stelahnya yg mnentukan apakah kita punya mentalitas phakiman versi Taurat atau kita bijak mnyikapinya.
Sependapat juga  :afro:

Pada quote yang kedua, kembali saya ajukan sikon yg seperti saya post-kan buat shakes.
Semisal di suatu ruangan ada sign "dilarang merokok - yang merokok dihukum denda", nah Unyil yang merokok lalu diperingati oleh Cuplis = masih gak papa, masih okelah Cuplis melakukan aksi peringatan ke Unyil.

Namun dilain sisi, terlepas apakah adanya "peringatan Cuplis ke Unyil" / kagak ... terlepas apakah kalo semisal Cuplis memperingati Unyil dan Unyil tidak menggubrisnya DAN terlepas pula apakah adanya ungu ato kagak dari Cuplis -----> bagaimana kalau Cuplis membawa Unyil ke si pembuat sign tsb ? (ataupun melaporkan ke yang berwenang bhw Unyil merokok).

IMO, disinilah makna sedalamdalamnya (seluas-luasnya) dari kata "jangan menghakimi" :)
Dengan kata lain, Cuplis sebagai pihak yang bukan berwenang - sebisabisanya berpedoman "sudahlah, maafkanlah, ngerti-in, nau-in, gak usah dipanjang2in, dll". DAN "jangan menghakimi" ternyata berlaku juga bagi Unyil pada saat yang bersamaan. Apabila baik Cuplis maupun Unyil berpedoman demikan, maka tidak ada "rame" :D.

Laen perkara kalo Cuplis adalah petugas yang berwenang (ataupun si pembuat sign itu sendiri) dalam menjaga bunyi "dilarang merokok" itu teraplikasi dgn baik... disini jadi "serba salah", karena kalo dia berpedoman ijo, maka artinya dia tidak konsisten sbg si pembuat sign - ataupun dia tidak menjalankan pekerjaannya sbg petugas yg menjaga ketertiban dgn baik. Apakah "jangan menghakimi" teraplikasi juga buat si pembuat sign atopun si petugas dalam sikon spt ini ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on January 03, 2014, 05:17:15 PM
Kita coba buat contoh kasus dlm 1 konteks yg sama yach...

Misalkan di Gereja ada tulisan 'dilarang merokok'.
Si Cuplis adalah pihak berwenang di gereja tersebut, si Ucrit adalah jemaat biasa.
Nah, si Usro merokok sdgkn si Parto ngisep inhaler berlebihan.

Maka Ucrit menegur Usro bhw tempat itu tidak boleh merokok.
Ktika Usro ngga mhiraukan, maka Ucrit melapor ke Cuplis.
Maka Cuplis menegur dan membawa Usro ke luar gereja supaya bisa mrokok sepuasnya.
Stelah Usro selesai mrokok, dia masuk lagi ke gereja dan maka keadaan berlangsung normal antara Cuplis, Ucrit dan Usro.
Konteks di atas adalah penghakiman yang benar.
Mngapa?
Krn aturannya jelas, pelanggarannya jelas, motivasinya baik dan penyelesaiannya baik.

Ucrit lalu melihat Parto ngisep inhaler blebihan, maka Ucrit menegur Parto agar tidak lagi mlakukannya utk alasan ksehatan.
Ktika Parto ngga mhiraukan, maka Ucrit melapor ke Cuplis.
Maka Cuplis menegur dan mhimbau Parto utk tidak lagi mlakukannya.
Ktika Parto bsikeras, maka Cuplis dan Ucrit mdoakan Parto sambil keadaan berlangsung tetap normal.
Konteks di atas adalah penghakiman yang benar.
Mngapa?
Krn motivasinya baik dan penyelesaiannya baik.
Jika critanya beda, yaitu Cuplis dan Ucrit mngejek dan mjauhi Parto, maka itulah sikap mhakimi yg salah.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 03, 2014, 05:40:29 PM
Kita coba buat contoh kasus dlm 1 konteks yg sama yach...

Misalkan di Gereja ada tulisan 'dilarang merokok'.
Si Cuplis adalah pihak berwenang di gereja tersebut, si Ucrit adalah jemaat biasa.
Nah, si Usro merokok sdgkn si Parto ngisep inhaler berlebihan.

Maka Ucrit menegur Usro bhw tempat itu tidak boleh merokok.
Ktika Usro ngga mhiraukan, maka Ucrit melapor ke Cuplis.
Tidakkah tindakan Ucrit melaporkan Usro ke Cuplis disitu dicegat oleh ayat "jangan menghakimi", siip ? Kalo sikonnya Ucrit dan Usro adalah saudara kandung, gimana ?

Quote
Jika critanya beda, yaitu Cuplis dan Ucrit mngejek dan mjauhi Parto, maka itulah sikap mhakimi yg salah.
Betul... saya sependapat disini. Tindakan Cuplis dan Ucrit itu dicegat oleh ayat "jangan menghakimi" ..... Namun kok saya ngrasanya bhw cegatan ayat "jangan menghakimi" tsb nggak berhenti (selesai) sampe situ aja yah ? :D.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on January 06, 2014, 01:44:20 PM
Tidakkah tindakan Ucrit melaporkan Usro ke Cuplis disitu dicegat oleh ayat "jangan menghakimi", siip ? Kalo sikonnya Ucrit dan Usro adalah saudara kandung, gimana ?

 Betul... saya sependapat disini. Tindakan Cuplis dan Ucrit itu dicegat oleh ayat "jangan menghakimi" ..... Namun kok saya ngrasanya bhw cegatan ayat "jangan menghakimi" tsb nggak berhenti (selesai) sampe situ aja yah ? :D.

:)
salam.

Lagi-lagi saya mlihat sptnya Oda dan beberapa rekan disini jatuh pd pandangan utk 'sama sekali tidak boleh mhakimi' atau 'mhakimi itu dosa' atau 'mhakimi itu haram sama skali'.

Skali lagi bro,
Mhakimi itu sangat baik dan harus dilakukan dalam kondisi yg tepat.

Jika sso jelas-jelas kedapatan melanggar peraturan yg sudah jelas, maka jelas-jelas sudah terhakimi scr otomatis bahwa dia itu salah.

Kl sso mlihat orang lain jelas-jelas berbuat salah dan mlanggar praturan yg sudah jelas tapi tidak berbuat apa-apa thd pelanggaran itu, ini malah keliru besar.

Mksd ayat itu adalah, sebelum sso mhakimi:
1. Lihat dulu apakah aturannya jelas
2. Lihat dulu apakah kesalahannya jelas (bdsk fakta dan ksaksian)
3. Lihat dulu siapa yg berwenang mjatuhkan sanksi
4. Lihat dulu kondisi diri sendiri
5. Jika 1, 2, 3, 4 sudah jelas, maka treatment kpd si pelanggar dpt dilakukan dg mentalitas PB (bukan Taurat)

Ketika 1,2,3,4 tidak jelas, maka jangan sembarang mhakimi krn kasusnya ngga ada.
Ini ibarat kasus dibawa detektif dan jaksa ke pengadilan tp lalu mental karena tidak ada dasar kasus yg kuat. Malah si detektif dan jaksa yg akan dikritik hakim.

Phatikan kata-kata Tuhan:

Luk 17:3-4
Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Nyambung dg ini:

Mat 18:15
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Tuhan yg berkata jangan menghakimi juga meminta kita menegor orang saat berbuat dosa, jika eskalasi sampai level jemaat sudah mentok, maka ada sanksi sosialnya; tetapi ktika sso btobat, maka ia diterima kembali.

Jadi ayat 'jangan mhakimi' hindari melihatnya scr agamawi (kaku) seolah spt perintah Taurat.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 06, 2014, 01:50:05 PM
Lagi-lagi saya mlihat sptnya Oda dan beberapa rekan disini jatuh pd pandangan utk 'sama sekali tidak boleh mhakimi' atau 'mhakimi itu dosa' atau 'mhakimi itu haram sama skali'.

Skali lagi bro,
Mhakimi itu sangat baik dan harus dilakukan dalam kondisi yg tepat.

Jika sso jelas-jelas kedapatan melanggar peraturan yg sudah jelas, maka jelas-jelas sudah terhakimi scr otomatis bahwa dia itu salah.

Kl sso mlihat orang lain jelas-jelas berbuat salah dan mlanggar praturan yg sudah jelas tapi tidak berbuat apa-apa thd pelanggaran itu, ini malah keliru besar.

Mksd ayat itu adalah, sebelum sso mhakimi:
1. Lihat dulu apakah aturannya jelas
2. Lihat dulu apakah kesalahannya jelas (bdsk fakta dan ksaksian)
3. Lihat dulu siapa yg berwenang mjatuhkan sanksi
4. Lihat dulu kondisi diri sendiri
5. Jika 1, 2, 3, 4 sudah jelas, maka treatment kpd si pelanggar dpt dilakukan dg mentalitas PB (bukan Taurat)

Ketika 1,2,3,4 tidak jelas, maka jangan sembarang mhakimi krn kasusnya ngga ada.
Ini ibarat kasus dibawa detektif dan jaksa ke pengadilan tp lalu mental karena tidak ada dasar kasus yg kuat. Malah si detektif dan jaksa yg akan dikritik hakim.

Phatikan kata-kata Tuhan:

Luk 17:3-4
Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Nyambung dg ini:

Mat 18:15
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Tuhan yg berkata jangan menghakimi juga meminta kita menegor orang saat berbuat dosa, jika eskalasi sampai level jemaat sudah mentok, maka ada sanksi sosialnya; tetapi ktika sso btobat, maka ia diterima kembali.

Jadi ayat 'jangan mhakimi' hindari melihatnya scr agamawi (kaku) seolah spt perintah Taurat.

Bentar ya ... saya carikan contoh .... biar seru  ehhh biar jelas

 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on January 06, 2014, 02:08:16 PM
ehm... maksud saya, setelah shakes mengeluarkan statement either yg pertama or kedua, apakah shakes akan : "hayo, sekarang kamu ikut saya - tak bawa ke pengadilan !" atau juga misalnya nglapor ke otoritas : "pak..pak... tuh orang yg disitu buang sampah sembarangan pak..." :D

:)
salam.

Soal apakah dia mau melapor atau membiarkan, kita serahkan saja kepada hati nurani masing2.
Tetapi jika dia memutuskan untuk melapor, dia tidak bisa disebut menghakimi katena posisinya adalah sebagai saksi/pelapor, bukan sebagai hakim. Jadi tindakannya bukanlah tindakan menghakimi melainkan membeti kesaksian atas fakta (bukan tuduhan kosong) yang benar2 disaksikannya.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 08, 2014, 08:06:50 AM
http://www.reocities.com/thisisreformedfaith/artikel/seminarreformedgka01.pdf

Nahhh, kalo seperti di link diatas, apakah termasuk menghakimi ?
Memandang teologi lain dengan dasar teologi yang diyakini.


 :)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on January 08, 2014, 10:08:22 AM
Kl mnrt saya sikap spt yg dikotbahkan itu sudah judgmental.

Coba saya saring ya dari bbrp indikator:

1. Lihat dulu apakah aturannya jelas
----> ybs mlakukan pukul rata dg memutlakkan bbrp hal yg tidak mutlak. Phakiman dapat dilakukan utk aturan-aturan yg sudah pasti mutlak.

Quote
Jikalau Billy Graham tidak kritik orang lain, saya pikir ini lain dengan Alkitab yang saya baca.

Apakah mkritik di atas mimbar adalah aturan yg mutlak benar shg jika tidak mkritik maka sso salah?

Quote
Calvin mengutip Kitab Suci lebih dari 6.000 tempat. Tidak sama dengan Pendeta-Pendeta sekarang ini cuma kutip ayat itu-itu saja,

Apakah ini mrpk standar mutlak Alkitabiah dari pengkhotbah berkualitas, yaitu dg menegakkan standar versi Calvin?

2. Lihat dulu apakah kesalahannya jelas (bdsk fakta dan ksaksian)

Quote
Saya melihat dunia sedang berkembang dan saya melihat banyak orang mau cepat sukses, supaya kelihatan pelayanannya berbuah banyak lalu mulai kompromi tanpa sadar.

Cara Billy Graham, kumpulkan semua pemimpin tidak peduli ajarannya apa. Semakin banyak Pendeta mendukung kebaktian, maka semakin besar. Yang bertobat boleh datang ke gereja apa saja. Akhirnya ke gereja yang ajarannya salah tidak apa-apa.

-----> apakah tuduhan ini dapat dibuktikan dg kesaksian dan evidence nyata selain asumsi?
Lagipula, bukankah Tuhan Yesus mngajar di Bait Allah dan sinagog dg didengar oleh ahli Taurat, org farisi dan mahkamah agama juga tanpa membeda-bedakan pendengar?

Nah, di atas adalah contoh bhw jika sso mhakimi, maka ia akan balas dihakimi mnurut ukuran yg ia buat sendiri. Nanti ybs akan dhakimi mnrt standar pola kotbah Kristus.

Dari 2 indikator, maka sikap judgmental dapat kita simpulkan.
Ktika sso mulai judging, maka ia akan mbawa dirinya pd judgment juga. Ini alamiah skali.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on January 08, 2014, 05:42:29 PM
ikutan yah...

kalo menurut sayah....


menghakimi itu acceptable bila dilakukan oleh pihak yang memang kompeten atau berotoritas untuk itu..

misal:
a. contoh merokok itu tadi..
- walaupun kita udah baca Undang-undang kalo merokok di denda 5 juta..
- kalo kita ini bukan polisi atau hakim, maka jelas kita tidak berhak bilang: "Kamu bersalah & oleh karenanya akan didenda 5 juta" --> emang siape elo? ehehe..
- tapi kalo kita bilang: bro.. eh.. kalo elo merokok entar bisa-bisa didenda 5 juta oleh pak polisi / pak hakim loh... --> kalo imho, ini sih engga menghakimi..
- tentu kalau kita ini Polisi --> maka kita BERHAK dan malah WAJIB untuk ngomong spt diatas: "Kamu bersalah & oleh karenanya akan didenda 5 juta"

b. contoh soal masuk surga / neraka atau sesat/benar atau sesuai/tidak dgn kehendak Tuhan:
saya copas point di atas & tinggal ganti-ganti aja yah... sama kok prinsip nya:
- walaupun kita udah baca Alkitab bahwa kalau gini gitu itu adalah yang benar dan persis dengan kutipan firman Tuhan...
- kalo kita ini bukan Tuhan, maka jelas kita tidak berhak bilang: "Kamu bersalah & oleh karenanya kamu sesat & masuk neraka" --> emang siape elo? ehehe..
- tapi kalo kita bilang: bro.. eh.. kalo elo gini gitu entar bisa-bisa dianggap sesat dan dimasukin neraka oleh Tuhan loh... --> kalo imho, ini sih engga menghakimi..
- tentu kalau kita ini Tuhan --> maka kita BERHAK dan malah WAJIB (eh.. yg ini gue gak berani me-Wajib-kan.. hehe..) untuk ngomong spt diatas: "Kamu bersalah & oleh karenanya kamu sesat dan langsung masuk neraka"

demikian imho masbro...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 09, 2014, 08:02:28 AM
Kl mnrt saya sikap spt yg dikotbahkan itu sudah judgmental.

Coba saya saring ya dari bbrp indikator:

1. Lihat dulu apakah aturannya jelas
----> ybs mlakukan pukul rata dg memutlakkan bbrp hal yg tidak mutlak. Phakiman dapat dilakukan utk aturan-aturan yg sudah pasti mutlak.

Apakah mkritik di atas mimbar adalah aturan yg mutlak benar shg jika tidak mkritik maka sso salah?

Apakah ini mrpk standar mutlak Alkitabiah dari pengkhotbah berkualitas, yaitu dg menegakkan standar versi Calvin?

2. Lihat dulu apakah kesalahannya jelas (bdsk fakta dan ksaksian)

-----> apakah tuduhan ini dapat dibuktikan dg kesaksian dan evidence nyata selain asumsi?
Lagipula, bukankah Tuhan Yesus mngajar di Bait Allah dan sinagog dg didengar oleh ahli Taurat, org farisi dan mahkamah agama juga tanpa membeda-bedakan pendengar?

Nah, di atas adalah contoh bhw jika sso mhakimi, maka ia akan balas dihakimi mnurut ukuran yg ia buat sendiri. Nanti ybs akan dhakimi mnrt standar pola kotbah Kristus.

Dari 2 indikator, maka sikap judgmental dapat kita simpulkan.
Ktika sso mulai judging, maka ia akan mbawa dirinya pd judgment juga. Ini alamiah skali.

Saya juga menyimpulkan seperti itu.

Supaya enggak menghakimi, ditambahi kata ajaib sebagai berikut :

"kita menafsir seperti ini, sedangkan pihak lain menafsir berbeda yaitu ............"


 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 09, 2014, 08:06:41 AM
ikutan yah...

kalo menurut sayah....


menghakimi itu acceptable bila dilakukan oleh pihak yang memang kompeten atau berotoritas untuk itu..

misal:
a. contoh merokok itu tadi..
- walaupun kita udah baca Undang-undang kalo merokok di denda 5 juta..
- kalo kita ini bukan polisi atau hakim, maka jelas kita tidak berhak bilang: "Kamu bersalah & oleh karenanya akan didenda 5 juta" --> emang siape elo? ehehe..
- tapi kalo kita bilang: bro.. eh.. kalo elo merokok entar bisa-bisa didenda 5 juta oleh pak polisi / pak hakim loh... --> kalo imho, ini sih engga menghakimi..
- tentu kalau kita ini Polisi --> maka kita BERHAK dan malah WAJIB untuk ngomong spt diatas: "Kamu bersalah & oleh karenanya akan didenda 5 juta"

b. contoh soal masuk surga / neraka atau sesat/benar atau sesuai/tidak dgn kehendak Tuhan:
saya copas point di atas & tinggal ganti-ganti aja yah... sama kok prinsip nya:
- walaupun kita udah baca Alkitab bahwa kalau gini gitu itu adalah yang benar dan persis dengan kutipan firman Tuhan...
- kalo kita ini bukan Tuhan, maka jelas kita tidak berhak bilang: "Kamu bersalah & oleh karenanya kamu sesat & masuk neraka" --> emang siape elo? ehehe..
- tapi kalo kita bilang: bro.. eh.. kalo elo gini gitu entar bisa-bisa dianggap sesat dan dimasukin neraka oleh Tuhan loh... --> kalo imho, ini sih engga menghakimi..
- tentu kalau kita ini Tuhan --> maka kita BERHAK dan malah WAJIB (eh.. yg ini gue gak berani me-Wajib-kan.. hehe..) untuk ngomong spt diatas: "Kamu bersalah & oleh karenanya kamu sesat dan langsung masuk neraka"

demikian imho masbro...

Pada akhirnya ..... dapat disimpulkan :  kalo ga punya otoritas, ga boleh menghakimi.

Jadi karena bersumber dari Alkitab, maka tidak boleh si A, B dll.
Hanya Alkitab sendiri yang boleh menghakimi.


 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on January 09, 2014, 08:30:32 AM
Pada akhirnya ..... dapat disimpulkan :  kalo ga punya otoritas, ga boleh menghakimi.

Jadi karena bersumber dari Alkitab, maka tidak boleh si A, B dll.
Hanya Alkitab sendiri yang boleh menghakimi.


 :D

Jadi ingat dulu waktu kuliah, ada mata kuliah Etika Kristen, diminta untuk presentasi tentang isu "transgender". Waktu itu saya menyampaikan argumen: "kita janganlah menghakimi, dst..dst...dst...."
Lalu Dosen saya berkomentar telak: "Kita memang tidak boleh menghakimi, tetapi Alkitab yang menghakimi."
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 09, 2014, 10:31:37 AM
Jadi ingat dulu waktu kuliah, ada mata kuliah Etika Kristen, diminta untuk presentasi tentang isu "transgender". Waktu itu saya menyampaikan argumen: "kita janganlah menghakimi, dst..dst...dst...."
Lalu Dosen saya berkomentar telak: "Kita memang tidak boleh menghakimi, tetapi Alkitab yang menghakimi."

Waahhhh Momod STh. ya ...............


 :afro:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on January 09, 2014, 02:42:35 PM
Waahhhh Momod STh. ya ...............


 :afro:

Saya sempat kuliah di PT Kristen Kung, makanya dapat kuliah etika kristen
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on January 09, 2014, 02:51:46 PM
Saya sempat kuliah di PT Kristen Kung, makanya dapat kuliah etika kristen

Dengar dengar dari bisikan, om mod malah udah M.Th

 :afro:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 09, 2014, 03:29:51 PM
Dengar dengar dari bisikan, om mod malah udah M.Th

 :afro:

Moderator Theologi  :afro: :afro: :afro:


 :giggle: :lol:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on January 09, 2014, 05:13:59 PM
Pada akhirnya ..... dapat disimpulkan :  kalo ga punya otoritas, ga boleh menghakimi.

Jadi karena bersumber dari Alkitab, maka tidak boleh si A, B dll.
Hanya Alkitab sendiri yang boleh menghakimi.


 :D

wah...

ini saya kurang setuju mas...
karena Alkitab adalah BENDA MATI...

sehingga kalimat sakti tsb "Alkitab SENDIRI yang MENGHAKIMI" amat rentan dan rawan di jadikan SENJATA LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN..
ketika orang itu MENYATAKAN PENGHAKIMAN VERSI-nya SENDIRI, tapi malah Buang Bodi & mengatakan bahwa "Alkitab yg BERKATA atau Alkitab yg MENGHAKIMI, dsb..dsb..."

kalo imho..
HANYA Tuhan SENDIRI-lah yang BERHAK MENGHAKIMI..
which is very obvious bahwa Outcome Penghakiman itu baru akan kita ketahui setelah kita modar... ehehe....

demikian mas...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 10, 2014, 06:33:47 AM
wah...

ini saya kurang setuju mas...
karena Alkitab adalah BENDA MATI...

sehingga kalimat sakti tsb "Alkitab SENDIRI yang MENGHAKIMI" amat rentan dan rawan di jadikan SENJATA LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN..
ketika orang itu MENYATAKAN PENGHAKIMAN VERSI-nya SENDIRI, tapi malah Buang Bodi & mengatakan bahwa "Alkitab yg BERKATA atau Alkitab yg MENGHAKIMI, dsb..dsb..."

kalo imho..
HANYA Tuhan SENDIRI-lah yang BERHAK MENGHAKIMI..
which is very obvious bahwa Outcome Penghakiman itu baru akan kita ketahui setelah kita modar... ehehe....

demikian mas...

Kalo gitu sebaliknya, bagaimana pandangan Bro Cadang terhadap pihak2 yang sebagai contoh, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Apakah ga boleh ditegur dan diserahkan kepada Tuhan saja yang menghakimi ?

 :think:

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on January 10, 2014, 07:35:13 AM
Dengar dengar dari bisikan, om mod malah udah M.Th

 :afro:
Engga ah, kalo yg ini gak bener..  :)  sy bidangnya di pendidikan kok

Moderator Theologi  :afro: :afro: :afro:


 :giggle: :lol:

yg ini ada benernya, tp moderator biasa, hehe..
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on January 10, 2014, 11:26:31 AM
Moderator Theology, berarti boleh menghakimi.

Ada amen?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on January 10, 2014, 05:20:13 PM
Kalo gitu sebaliknya, bagaimana pandangan Bro Cadang terhadap pihak2 yang sebagai contoh, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Apakah ga boleh ditegur dan diserahkan kepada Tuhan saja yang menghakimi ?

 :think:

hmmm.....

gimana ya jawabnya... agak malu nih saya jawabnya...

sekali lagi.. imho.. dan pendapat pribadi saya nih ya...

Pihak-pihak yang Tidak mengakui SIMBOL Yesus sebagai Tuhan itu BELUM TENTU BERTENTANGAN dengan esensi dasar kekristenan yang dibawa oleh Yesus sih mas...

sehingga Sikap Iman Pribadi orang itu tentu BUKAN KOMPETENSI SAYA sebagai manusia untuk memberitahu BETUL / SALAHnya..


saya lebih memilih pada konteks PERBUATAN alias KELAKUAN alias MANIFESTASI IMAN orang itu..
regardless apapun SIKAP IMAN dan SIMBOL IMAN-nya...

Bila ada perbuatan yang, dlm pandangan saya pribadi, memiliki dampak negatif baik bagi dirinya, lingkungannya atau siapapun, maka saya pun berusaha untuk memberikan masukan, tetapi sekali lagi tentu TIDAK MAMPU menghakimi-nya...

demikian masbro...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Shakespeare on January 11, 2014, 11:59:31 AM
Kalau menegur dan mengingatkan dianggap sebagai menghakimi, maka semua orang Kristen diberi wewenang oleh Tuhan untuk melakukan itu kok..

Kolose 3:16
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

1 Tesalonika 5:11   
Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

2 Timotius 4:2   
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

 :afro:

Syaratnya: menghakimi secara adil dan benar, memiliki dasar yang benar, tidak berlebihan dan mengada-ada ndalam membuat penilaian.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on January 11, 2014, 12:47:04 PM
Terdapat beda yang sebenarnya cukup jelas dari 'menghakimi' dan 'menegur'. Itu kalau tidak dengan sengaja mengaburkan artinya dengan berbagai otak-atik aneh di diskusi di atas sana.

Syalom aja deh.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 12, 2014, 01:56:51 AM
Lagi-lagi saya mlihat sptnya Oda dan beberapa rekan disini jatuh pd pandangan utk 'sama sekali tidak boleh mhakimi' atau 'mhakimi itu dosa' atau 'mhakimi itu haram sama skali'.
oalaaah... nggak begitu siip ... :).

Quote
Skali lagi bro,
Mhakimi itu sangat baik dan harus dilakukan dalam kondisi yg tepat.
Bold inilah yang saya maksudkan. Dan bukan hanya kondisi aja, (imo) termasuk situasi, jenis besar/kecil kesalahan, relasi, dlsb.

Dan saya sangat sependapat dari masukan siip pada kata "judgmental" dimana yg saya tarik pengertian dari ayat "jangan menghakimi", itu bisa termasuk "jangan judgmental", gunakan hati nurani, sudahlah, maafkanlah, mengalah, dlsb.

Kata "menghakimi" dari kalimat "jangan menghakimi" ---> di pov saya, tentu ini dalam ranah "menghakimi" in a negative sense dan tidak ditujukan buat sso yang profesinya hakim dan sedang menjalankan tugasnya. Menjadi janggal kalo ayat melarang sso utk menghakimi dimana maksud ayat adalah menghakimi yg positive sense.

Quote
Kl sso mlihat orang lain jelas-jelas berbuat salah dan mlanggar praturan yg sudah jelas tapi tidak berbuat apa-apa thd pelanggaran itu, ini malah keliru besar.
IMO - nggak selalu bhw itu keliru besar  kalo Cuplis tidak melaporkan ke yg berwenang bhw adiknya si Unyil merokok didalam ruangan yg bertanda jangan merokok, siip (dimana saat itu mereka cuma berdua didalam ruangan).

Dan sekalipun Unyil bukan siapa2nya Cuplis, nggak selalu pasti bhw itu keliru besar kalo Cuplis tidak melaporkan ke yg berwenang.

Ayat menggunakan kata "selumbar" - (di pov saya) sikon Unyil merokok bisa selumbar di pov Cuplis.
Terlepas apakah ada balok dimata Cuplis, dia dicegat ayat "jangan menghakimi" sebelum dia bertindak melapor ke yang berwenang. Oleh karena itulah saya libatkan sikon, relasi, tingkat toleransi kesalahannya, besar/kecil kesalahan, dll.

Quote
Mksd ayat itu adalah, sebelum sso mhakimi:
1. Lihat dulu apakah aturannya jelas
2. Lihat dulu apakah kesalahannya jelas (bdsk fakta dan ksaksian)
3. Lihat dulu siapa yg berwenang mjatuhkan sanksi
4. Lihat dulu kondisi diri sendiri
5. Jika 1, 2, 3, 4 sudah jelas, maka treatment kpd si pelanggar dpt dilakukan dg mentalitas PB (bukan Taurat)


Kalo saya : (pada event ybs memang jelas2 salah)
- lihat dulu besar/kecilnya kesalahan
- lihat dulu tingkat yg masih ditoleransi thdp suatu hal
- mencoba cari tau/sebisabisanya/berusaha ngerti-in latar belakang (motif) ybs berbuat salah
- jangan buru2 memaki ataupun menjelekan sso (judmental)
- jangan buru2 melapor ke pihak yg berwenang (judmental)

Quote
Ketika 1,2,3,4 tidak jelas, maka jangan sembarang mhakimi krn kasusnya ngga ada.
Ayat tsb saya mengertikan dalam ranah kejadian/peristiwa sehari hari .... bukan sesuatu yg special case, siip.

So, sekalipun kasus-nya ada :
mr.X maling roti, orang laen gak ada yg liat cuma Cuplis aja yg kebetulan ngliat .... di pengertian saya : Cuplis dicegat ama ayat tsb. Secara pribadi, saya merasa dicegat ayat itu - shg saya tidak akan melaporkan ke security disekitar situ :). Apakah kalo blakangan ternyata dari kamera cctv mr.X itu ketauan orang laen dan digebukin ataupun dibawa ke kantor polisi - saya telah keliru besar dan bertindak sebagai kaki tangan ? Saya serahkan itu keputusannya ama Tuhan, yang pasti BUKAN karena saya masa-bodoh diemin itu mr.X mencuri atopun mendukung perbuatan si mr.X - namun gak tega kalo mr.X itu sampe ketangkep yg mungkin bisa digebugin karena saya berteriak : "hei... tu orang mencuri ROTI !"  :D

Pada sikon spt ilustrasi diatas, saya gak percaya siip tidak melakukan spt saya ... bahkan mungkin siip melakukan lebih - mencari mr.X dan lalu menasehatinya... :D.


Quote
Phatikan kata-kata Tuhan:

Luk 17:3-4
Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Nyambung dg ini:

Mat 18:15
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Ayat diatas (imo) adalah "pendahulu" sebelum "jangan menghakimi" :).

Sekarang berdasarkan ayat tsb, saya kembangin : berbuat dosanya adalah mencuri.
Kita tahu peraturan pemerintah bagi pencuri adalah mendapat hukuman dari pihak yg berwenang.

Apabila saudaramu berbuat dosa (mencuri ayam tetangga)
tegorlah dia di bawah empat mata : "kamu jangan nyuri ayam tetangga donk, gak baek... kesian kan tetangganya..."
Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. : "oh iya... maapin saya ya kak... saya khilaf - karena sebel ama tetangga waktu itu saya liat dia nyuri sendal saya"

Bereskah ? ataukah keliru besar karena tidak dilaporan ke yg berwajib ? :).

Jika ia tidak mendengarkan engkau : alah biarin aja ... toh dulu saya liat dia juga nyuri sendal saya

bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. : ayah ibu dipanggil : benar nak... kamu gak boleh mencuri, itu perbuatan gak baek...

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka : pak, bu ... masalahnya dia dulu juga pernah nyuri sendal saya... ya gapapalah kalo sekarang saya nyuri ayamnya... lagian kan cuma ayam bu, bukan nyuri keperawanan anak perempuannya ..

sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Pendeta : nak... mencuri itu dosa nak ... nanti Tuhan marah ... besok2 HP kamu di curi orang laen loh ... kan kamu gak mau ampe HPmu ilang kan ? Hayuk, kita bertobat bareng2 ...

Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat : jangan kuatir pak Pendeta ... HP saya akan saya kalungin di leher terus... gak bakal ilang deh...

pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai
Ayat tidak menyatakan : laporkanlah ke yang berwajib :D

Ilustrasi diatas menjadi gak bisa "masuk" - apabila dosanya adalah membunuh ataupun merampok bank ---> shg menimbulkan pertanyaan : Apakah tindakannya cukup s/d pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai ?

Kesimpulan saya, ayat2 diatas juga termasuk kasus2 "ringan" - terjadi didalam hidup keseharian.

Mudah2an sampe sini, siip nggak ngirain saya spt ungu paling atas lagi ... hehehe :D

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 12, 2014, 02:50:36 AM
Soal apakah dia mau melapor atau membiarkan, kita serahkan saja kepada hati nurani masing2.
Ya... begitulah kira2 maksud saya, shakes :).

Quote
Tetapi jika dia memutuskan untuk melapor, dia tidak bisa disebut menghakimi karena posisinya adalah sebagai saksi/pelapor, bukan sebagai hakim. Jadi tindakannya bukanlah tindakan menghakimi melainkan membeti kesaksian atas fakta (bukan tuduhan kosong) yang benar2 disaksikannya.
Seperti yang saya post buat siip... terus terang saya nggak mengertikan kalimat "jangan menghakimi" adalah sebuah larangan kepada sso yg berprofesi hakim dan sedang menjalankan tugasnya - ataupun sso yang bukan hakim tapi bertindak sebagai hakim, shakes.

Saya ngerti, pada ilustrasi mr.X mencuri roti - saya memang tidak bisa dikatakan menghakimi apabila saya melaporkan mr.X ke yang berwajib ataupun berteriak "pencuriii...!"

Didalam pengertian saya, kalimat "jangan menghakimi" adalah event keseharian di dalam hidup, dimana kata "menghakimi" itu ibarat kata "memvonis"---> menjatuhkan tindakan yang mungkin masih dalam kategori tidak perlu atopun belon perlu utk dilakukan berdasarkan nurani kita :).

Entah mungkin karena kebetulan saya nonK, makanya saya bilang ama siip - pada sikon ilustrasi mr.X mencuri roti, sekalipun saya tau bhw kalo saya berteriak "pencuriii...!" ataupun melaporkan ke yang berwajib saya hanyalah sebagai pelapor (bukan sedang menghakimi) - namun entah mengapa kalo semisal saya teringat ayat tsb - saya merasa dicegat ayat "jangan menghakimi" tsb - sehingga saya tidak melapor ataupun berteriak ketika melihat kejadian sso mencuri roti :D.

Apakah saya akan diem aja ketika HP saya dijambret sso ? Secara reflek, tentu tidak - saya akan berusaha kejar org tsb sambil tereak : "jambreeeeet !" :D  :giggle:  :lol:

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on January 14, 2014, 06:50:54 AM
Bro Oda,

"jangan menghakimi" itu maksudnya gini loh..

Misalnya ada seseorang, (sebut saja namanya si jajang) yg ngeliat si neneng, istri mang japri, lagi bobo siang di kantor bersama bosnya (taulah maksudnya).

Nah, bro oda dikasihtau sama si jajang,....

terus bro oda ngasih tau istri bro oda....

terus istri bro oda, menghardik : "Jangan suka menghakimin".


GHiitu artinya.... emang susah ngejelasinnya,.. tapi intinya kita kagak boleh berkata seseorang itu salah. Karena itu tugas sang empunya alias Tuhan.
Itu intinya demi kebaikan diri kita sendiri.

Soalnya semuanya ane kembaliin lagi ke masalah pohon terlarang.

Semuanya ada sangkut pautnya ame itu kalo bahasa inggrisnya namanya KNOWLEDGE.

gituloh.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 16, 2014, 03:09:52 PM
Bro Oda,
 intinya kita kagak boleh berkata seseorang itu salah.
Sependapat ama gavin. Saya tambahin sedikit : sebisa-bisanya kita jangan sembarang/gampang berkata ke sso in negative sense. (disuatu ketika jangan easily say or do - without a second thought).

Makasih gavin.

:)
salam.


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on January 16, 2014, 04:05:58 PM


Konteks "menghakimi" bisa jadi mengikuti keadaan jaman.

Cara pandang manusia mengenai menghakimi di tahun 500 akan berbeda dengan menghakimi di tahun 2014 ini.

 :think:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on January 16, 2014, 05:40:29 PM

Konteks "menghakimi" bisa jadi mengikuti keadaan jaman.
Kalo menurut saya, konteks "jangan menghakimi" tsb bukan ttg : kalo mau jadi hakim, jadilah hakim yang adil dan bijaksana sesuai dgn sistem hukum yg sedang berlaku di jaman itu.

melainkan :
jangan berucap/beraksi dalam suatu "perkara" secara terburu-buru (dan imo, ini berlaku sepanjang jaman)  :ballspin:

Namun ya entahlah juga phooey.... :D

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on March 18, 2014, 03:09:18 PM
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
 (Mat 7:1-2 ITB)


@ teman2 semua.

Dalam forum diskusi ... kadang2 kalo sudah bersemangat ... sampai2 lupa batasan.
Supaya enggak kebablasan sehingga dianggap menghakimi, menurut teman2 semua batas2 "menghakimi" sampai dimana ??

 :)


APAKAH KITA BOLEH MENGHAKIMI SELAIN Tuhan ?

Ada dua macam jawaban Alkitab.

AFIRMASI – Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

NEGASI – Jangan menghakimi

•   Mat. 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
•   Roma 14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu…..
•   Roma 14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!.....
•   1 Kor. 4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya


BAGAIMANAKAH   MENJELASKAN PARADOX   INI ?


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: siip on March 18, 2014, 03:24:32 PM
Kl dr yg saya plajari, sso cocok utk mhakimi bila:

1. Dia diberi wewenang utk mhakimi
2. Dia bisa sdapatnya mhakimi dg adil (mlihat sbanyak mungkin fakta, keterangan saksi dan mmahami kondisi situasi nyata)
3. Dia telah keluar dari mentalitas PL ke mentalitas PB
4. Dia sendiri cukup saleh hidupnya, terlebih jika dia sudah pernah bangkit dari problem serupa
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on March 19, 2014, 03:58:41 PM

APAKAH KITA BOLEH MENGHAKIMI SELAIN Tuhan ?

Ada dua macam jawaban Alkitab.

AFIRMASI – Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

NEGASI – Jangan menghakimi

•   Mat. 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
•   Roma 14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu…..
•   Roma 14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!.....
•   1 Kor. 4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya


BAGAIMANAKAH   MENJELASKAN PARADOX   INI ?

Barangkali Bro Soli hendak menjelaskan ...........

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on March 19, 2014, 05:51:08 PM
Coba baca lagi kalimat ini

Quote
APAKAH KITA BOLEH MENGHAKIMI SELAIN Tuhan ?

Dan berikan apa maknanya...

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on March 19, 2014, 10:35:41 PM
Barangkali Bro Soli hendak menjelaskan ...........


Kebenaran Alkitabiah sering bersifat paradox,semakin tinggi nilai kebenarannya sering semakin paradox sifatnya.

Paradox ialah dua proposisi yang kelihatan berkontradiksi tetapi sebenarnya saling melengkapi. Seolah olah bertentangan tetapi saling menguatkan.

Menghadapi masalah yang paradox diatas kita harus bertanya dalam hal apa menghakimi tersebut dilarang dan dalam hal apa ia diperbolehkan. Kita selalu harus mengetahui lebih dahulu latar belakang dari ayat tersebut.

Mungkin ada banyak kesimpulan,tetapi saya mencoba mengambil kesimpulan sbb:


MENGHAKIMI SECARA SALAH

•   Menghakimi orang lain dengan tidak berdasarkan kepada kebenaran Firman (Yoh. 12:47-48 ).

•   Menghakimi secara munafik ( Mat.7:1,2,3)

•   Menghakimi tidak pada waktunya (1 Kor.4:5). Misalnya kita jangan mengatakan bahwa
      seseorang masuk neraka selama dia masih berkesempatan bertobat.

•   Menghakimi hal hal yang tidak prinsipil misalnya soal makanan-minuman atau soal hari ( Rom.14;Kol.2:16)

•   Menghakimi dengan fitnah (Yak.4:11)


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: sakarep on March 20, 2014, 05:52:32 AM
menghakimi yg benar :

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.   Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

jika tdk cocok teologinya, pandanglah sbg orang kafir.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on March 22, 2014, 06:05:25 PM
menghakimi yg benar :

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.   Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

jika tdk cocok teologinya, pandanglah sbg orang kafir.

Nah ini dia.

Teologi siapa ?

Kalau pake teologi si soli, bisa semua orang dipandang kafir.

Lhawong teologi seenak udelnya (bukan berdasarkan Alkitab)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on March 22, 2014, 08:29:33 PM
Nah ini dia.

Teologi siapa ?

Kalau pake teologi si soli, bisa semua orang dipandang kafir.

Lhawong teologi seenak udelnya (bukan berdasarkan Alkitab)

Karena memang ajaran 'mereka' lebih alkitabiah dibanding Alkitab itu sendiri.

 :idiot: :idiot: :idiot:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on March 23, 2014, 07:04:57 AM

Kebenaran Alkitabiah sering bersifat paradox,semakin tinggi nilai kebenarannya sering semakin paradox sifatnya.

Paradox ialah dua proposisi yang kelihatan berkontradiksi tetapi sebenarnya saling melengkapi. Seolah olah bertentangan tetapi saling menguatkan.

Menghadapi masalah yang paradox diatas kita harus bertanya dalam hal apa menghakimi tersebut dilarang dan dalam hal apa ia diperbolehkan. Kita selalu harus mengetahui lebih dahulu latar belakang dari ayat tersebut.

Mungkin ada banyak kesimpulan,tetapi saya mencoba mengambil kesimpulan sbb:


MENGHAKIMI SECARA SALAH

•   Menghakimi orang lain dengan tidak berdasarkan kepada kebenaran Firman (Yoh. 12:47-48 ).

•   Menghakimi secara munafik ( Mat.7:1,2,3)

•   Menghakimi tidak pada waktunya (1 Kor.4:5). Misalnya kita jangan mengatakan bahwa
      seseorang masuk neraka selama dia masih berkesempatan bertobat.

•   Menghakimi hal hal yang tidak prinsipil misalnya soal makanan-minuman atau soal hari ( Rom.14;Kol.2:16)

•   Menghakimi dengan fitnah (Yak.4:11)

Menurut saya, tidak ada seorang pun dapat menyelami dalamnya pemikiran Tuhan.
Sebaiknya jangan menghakimi saja ya ...

 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on April 04, 2014, 01:41:02 AM
MENGHAKIMI SECARA SALAH

•   Menghakimi orang lain dengan tidak berdasarkan kepada kebenaran

•   Menghakimi secara munafik

•   Menghakimi tidak pada waktunya

•   Menghakimi hal hal yang tidak prinsipil misalnya soal makanan-minuman atau soal hari

•   Menghakimi dengan fitnah (Yak.4:11)
IMO, selain ungu, point2 diatas itu cocoknya kalo ditujukan ke seseorang yang memang berprofesi sebagai hakim.

Kalo saya mengertikannya lebih jauh lagi, kata "menghakimi" di kalimat "jangan menghakimi" itu bukan sekedar ttg event menghakimi secara salah (yg cocoknya ditujukan ke sso yg berprofesi hakim).  Di pov saya, kata "menghakimi" tsb juga mengandung pengertian lain, yakni "memutuskan utk berbuat/berucap sesuatu berkaitan dgn orang lain tanpa pikir panjang ataupun tanpa melibatkan kasih" dan ini berlaku universal, terlepas apakah dia seorang hakim ataupun bukan.

Jadi bukan seperti sbb :
kalo kamu bukan hakim, janganlah kamu bertindak sebagai hakim --- yakni menghakimi orang lain

bukan pula sekedar :
kalo kamu mau menghakimi sso (walaupun kamu bukan seorang hakim), hakimilah dengan benar - jangan menghakimi secara salah.

melainkan juga :
baik kamu seorang hakim atopun bukan, janganlah terburu memutuskan utk berbuat/berucap sesuatu berkaitan dgn orang lain tanpa pikir panjang ataupun tanpa melibatkan kasih.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 04, 2014, 05:53:03 AM
Nah yang bukan Kristen aja tahu apa itu menghakimi.
Menghakimi secara pengertiannya sendiri jelas tidak diperkenan oleh Tuhan,
celakanya itu yang senang dilakukan oleh sang Pendeta hebat luar biasa beserta murid-muridnya.

Waras? Orang waras sih bilang nggak.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 04, 2014, 06:08:50 AM
Nah yang bukan Kristen aja tahu apa itu menghakimi.
Menghakimi secara pengertiannya sendiri jelas tidak diperkenan oleh Tuhan,
celakanya itu yang senang dilakukan oleh sang Pendeta hebat luar biasa beserta murid-muridnya.

Waras? Orang waras sih bilang nggak.

 :D

Menghakimi secara pengertiannya sendiri jelas tidak diperkenankan oleh Tuhan.   :nod:
Kalo ada yang melakukannya ya mbok jangan diberi gelar "hebat luar biasa"

 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 04, 2014, 07:31:35 AM
Lhoh, kalau 'beliau' gemar menghakimi dan seluruh jemaatnya menjadi tukang menghakimi, apa 'beliau' tidak layak disebut Pendeta yang 'hebat luar biasa', om?

 :idiot: :doh: :lol:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 04, 2014, 02:31:41 PM
Menurut saya, tidak ada seorang pun dapat menyelami dalamnya pemikiran Tuhan.
Sebaiknya jangan menghakimi saja ya ...

 :D


Perintah Tuhan jelas sekali harus ada penghakiman atau teguran,jadi harus dipatuhi.!

Kalau tidak mau taat akan ada resikonya kelak !

Yeh.33:8 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! -- dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
33:9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 04, 2014, 02:34:18 PM
Pake ngancam mengatasnamakan Tuhan pula?
Wk wkw kwkwk wk wkw, makin hebat murid si tong ting tong ini.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 04, 2014, 02:38:49 PM
IMO, selain ungu, point2 diatas itu cocoknya kalo ditujukan ke seseorang yang memang berprofesi sebagai hakim.

Kalo saya mengertikannya lebih jauh lagi, kata "menghakimi" di kalimat "jangan menghakimi" itu bukan sekedar ttg event menghakimi secara salah (yg cocoknya ditujukan ke sso yg berprofesi hakim).  Di pov saya, kata "menghakimi" tsb juga mengandung pengertian lain, yakni "memutuskan utk berbuat/berucap sesuatu berkaitan dgn orang lain tanpa pikir panjang ataupun tanpa melibatkan kasih" dan ini berlaku universal, terlepas apakah dia seorang hakim ataupun bukan.

Jadi bukan seperti sbb :
kalo kamu bukan hakim, janganlah kamu bertindak sebagai hakim --- yakni menghakimi orang lain

bukan pula sekedar :
kalo kamu mau menghakimi sso (walaupun kamu bukan seorang hakim), hakimilah dengan benar - jangan menghakimi secara salah.

melainkan juga :
baik kamu seorang hakim atopun bukan, janganlah terburu memutuskan utk berbuat/berucap sesuatu berkaitan dgn orang lain tanpa pikir panjang ataupun tanpa melibatkan kasih.

:)
salam.


Ketentuan menegur / menghakimi berlaku bagi setiap orang kristen karena mereka memang penyandang imamat yang rajani berdasarkan perintah Tuhan sendiri.

Orang kristen wajib melakukan apologetika kalau ajaran kebenaran Kitab Suci dimanipulasi secara keliru.

1 Petrus 3:15   Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

Inilah worldview yang membedakan antara orang kristen yang sejati dengan yang bukan kristen yang biasanya  mengutamakan persatuan diatas kebenaran Tuhan secara kompromistis.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 04, 2014, 02:42:48 PM
Saya heran kok ada member yang kerjanya cuman cuap cuap ad-hominem tidak karuan hanya untuk menambah postingan diforum ini dibiarkan berkeliaran ????

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 04, 2014, 02:45:16 PM
Saya heran ada member yang cuma mencaci maki dan menghujat tidak karuan hanya untuk menambah postingan diforum ini dibiarkan berkeliaran ????

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on April 04, 2014, 03:45:24 PM

Ketentuan menegur / menghakimi berlaku bagi setiap orang kristen karena mereka memang penyandang imamat yang rajani berdasarkan perintah Tuhan sendiri.
IMO, Yesus nggak lagi ngomongin itu.

Yesus nggak lagi ngomongin ttg para individu yang berhak menghakimi.
Ayat2nya tidak sedang ngerujuk ke para individu yg dibawah ketentuan menegur/menghakimi.

DO NOT
1. judge and
2. criticize and
3. condemn others,
so that you may not be judged and criticized and condemned yourselves.

Judge not
and you will not be judged

do not condemn and pronounce guilty,
and you will not be condemned and pronounced guilty

1. acquit and
2. forgive and
3. release,

and you will be acquitted and forgiven and released.

Semua kalimat2 ayat tsb gak ada sangkut pautnya dgn statement soli bahwa para individu Kristen itu dibawah ketentuan/diharuskan menegur/menghakimi karena mereka memang penyandang imamat yang rajani berdasarkan perintah Tuhan sendiri. Tidak juga ....

Quote
Orang kristen wajib melakukan apologetika kalau ajaran kebenaran Kitab Suci dimanipulasi secara keliru.
tidak juga ayat2 diatas sedang membicarakan bhw orang Kristen wajib melakukan apologetika dengan model penghakiman.

Coba deh pelan2 soli renungkan yang saya bold dari ayat tsb.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 04, 2014, 04:32:15 PM
Quote
Coba deh pelan2 soli renungkan yang saya bold dari ayat tsb.

Murid sang Pendeta hebat luar biasa koq anda ajari untuk merenungkan pendapat orang?
Gak pernah terjadi, bro.
Paling juga anda akan dihadiahi setumpuk ayat ayat (yang tidak ada hubungannya).
Coba buktiin ya.

He he he he
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 06, 2014, 02:34:56 PM
Murid sang Pendeta hebat luar biasa koq anda ajari untuk merenungkan pendapat orang?
Gak pernah terjadi, bro.
Paling juga anda akan dihadiahi setumpuk ayat ayat (yang tidak ada hubungannya).
Coba buktiin ya.

He he he he


Saya kutip lagi Firman Tuhan :

AFIRMASI – Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)


Mosok kamu mau membatalkan Firman Tuhan yang jelas jelas mengatakan ada tugas penghakiman ?

Kamu mungkin tidak suka kata penghakiman karena memang tidak suka diuji ajaran gerejamu yang jelas jelas tidak akan tahan uji kalau dihakimi oleh Firman Tuhan yang tertulis !

Kalau kita menguji setiap ajaran gereja berdasarkan kebenaran Kitab Suci sesuai dengan perintah Tuhan sendiri (1 Tes.5:21) maka sebenarnya kita sudah melakukan tindakan penghakiman didunia ini,dan itu bisa dibenarkan sebab taat kepada perintah Tuhan sendiri.




Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 06, 2014, 02:47:18 PM
Betul betul betul
Hafal ayat tanpa mengerti konteks kalimatnya.
Khas tong ting tong

Parragggh
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 06, 2014, 02:49:55 PM
Betul betul betul
Hafal ayat tanpa mengerti konteks kalimatnya.
Khas tong ting tong

Parragggh


Kalau hanya mau nambah jumlah postingan sekalian saja bikin 1000 postingan sekaligus jangan cuman satu satu doang !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 06, 2014, 02:53:23 PM
Gak usah komen yang gak perlu tong, BTT saja
Paham tong?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 07, 2014, 06:10:13 AM
Menurut saya, tidak ada seorang pun dapat menyelami dalamnya pemikiran Tuhan.
Sebaiknya jangan menghakimi saja ya ...

 :D


Perintah Tuhan jelas sekali harus ada penghakiman atau teguran,jadi harus dipatuhi.!

Kalau tidak mau taat akan ada resikonya kelak !

Yeh.33:8 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! -- dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
33:9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu



Menghakimi dan memperingatkan itu beda ya Om
Salah ayat ya.....   :D

 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 07, 2014, 02:43:48 PM
Menghakimi dan memperingatkan itu beda ya Om
Salah ayat ya.....   :D

 :D


Menghakimi sudah mencakup menghukum,menegur dan memperingatkan dan itu penuh ayatnya didalam Alkitab !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 07, 2014, 02:53:58 PM

Menghakimi sudah mencakup menghukum,menegur dan memperingatkan dan itu penuh ayatnya didalam Alkitab !

Menghakimi dan memperingatkan itu beda ya Om
Salah ayat ya.....   :D

 :D

Tuh bener saya khan .... memperingatkan tidak sama dengan menghakimi

 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 07, 2014, 03:43:31 PM
Mantabh, lulusan kursus singkat Pendeta maha hebat sudah bisa jadi hakim terhadap umat.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on April 09, 2014, 12:06:15 PM
post saya ini tidak saya tujukan sebagai respond ke siapa siapa.

Saya cuma ingin mengutarakan hal menarik (tentunya "menarik" di pov saya) secara kebetulan baca ayat yg terdapat di thread ini :

Yeh.33:8 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! -- dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
33:9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu

(9) But if you warn the wicked to turn from his evil way and he does not turn from his evil way, he shall die in his iniquity, but you will have saved your life

dilain sisi :
1. acquit and
2. forgive and
3. release,
and you will BE acquitted and forgiven and released.

yang satu,
Cuplis : "$#!%&*!!"
---> akan ME-nyelamatkan nyawa diri Cuplis

yang satu lagi,
Unyil : "sudahlaaah...."
---> Unyil akan DI "sudahlaaahh..." kan

Secara garis besar, maknanya idem.
Tapi kalo diliatliat lagi, (imo) ada pengertian yang lebih jauh.

yang satu : ME-nyelamatkan
menuntun ke pengertian usaha diri Cuplis sendiri yg sebagai subjek yakni dengan melakukan "$#!%&*!!"

yang satu lagi : DI-"sudahlaaahh..."kan
menuntun ke pengertian sekalipun Unyil sudah "sudahlaaaah..." - dirinya masih tetep sebagai objek yang akan DI-"sudahlaaah..."kan.

ini cuma imajinasi saya :D.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 11, 2014, 01:38:33 PM
Tuh bener saya khan .... memperingatkan tidak sama dengan menghakimi

 :D


Apa kamu kira praktek gereja anda yang sering melakukan "eks-komunikasi" didalam sejarah bukan merupakan / bersifat tindakan penghukuman / penghakiman ????

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 11, 2014, 02:45:44 PM
Karena hanya Gereja Katolik yang punya otoritas.

:D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 11, 2014, 03:59:36 PM
Karena hanya Gereja Katolik yang punya otoritas.

:D

18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:18-19 ITB)

 :afro:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 11, 2014, 07:10:21 PM
18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:18-19 ITB)

 :afro:

Ayat itu oleh Pendeta maha hebat dan murid2nya sudah dicabut dan diselewengkan artinya, bro.

 :idiot: :idiot: :idiot:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 12, 2014, 05:25:29 PM

Saya kutip lagi Firman Tuhan :

AFIRMASI – Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)


Mosok kamu mau membatalkan Firman Tuhan yang jelas jelas mengatakan ada tugas penghakiman ?

Kamu mungkin tidak suka kata penghakiman karena memang tidak suka diuji ajaran gerejamu yang jelas jelas tidak akan tahan uji kalau dihakimi oleh Firman Tuhan yang tertulis !

Kalau kita menguji setiap ajaran gereja berdasarkan kebenaran Kitab Suci sesuai dengan perintah Tuhan sendiri (1 Tes.5:21) maka sebenarnya kita sudah melakukan tindakan penghakiman didunia ini,dan itu bisa dibenarkan sebab taat kepada perintah Tuhan sendiri.

dilarang sih engga bro...
cuma perlu TAHU DIRI dan SADAR DIRI kemampuan si manusia yang pengen sok-sok menghakimi itu..

Coba mas...
ada engga di Alkitab ayatnya... apa minimum competency dari orang yg pengen sok ikutan menghakimi,
agar output "penghakiman" nya itu layak..

misal mas soli sendiri..

- Sungguh mengagumkan semangat mas soli untuk melaksanakan hasil mas soli baca-baca kutipan, shg soli MERASA SEOLAH-OLAH berhak menghakimi..

- Tapi siapa sih soli? dan kualifikasi apa sih yang dipunyai si soli, sehingga kita semua ini bisa menganggap hasil kicauan soli (eh... hasil "penghakiman" soli) ini tidak perlu dianggap angin lalu..

mohon kiranya sudi berkenan menjelaskan mengapa mas soli merasa dirinya MAMPU, KOMPETEN dan LAYAK menghakimi, SAMA LAYAK dan SAMA KOMPETENNYA dengan Tuhan?
mohon di-elaborasi ke kami-kami ini..

siapa tahu saya malah besok pindah, jadi "berdoa kepada soli"
karena begitu luarbiasanya soli, bahkan Yesus-pun sudah soli koreksi agar kembali ke jalan yg benar...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 16, 2014, 11:37:21 AM
dilarang sih engga bro...
cuma perlu TAHU DIRI dan SADAR DIRI kemampuan si manusia yang pengen sok-sok menghakimi itu..

Coba mas...
ada engga di Alkitab ayatnya... apa minimum competency dari orang yg pengen sok ikutan menghakimi,
agar output "penghakiman" nya itu layak..

misal mas soli sendiri..

- Sungguh mengagumkan semangat mas soli untuk melaksanakan hasil mas soli baca-baca kutipan, shg soli MERASA SEOLAH-OLAH berhak menghakimi..

- Tapi siapa sih soli? dan kualifikasi apa sih yang dipunyai si soli, sehingga kita semua ini bisa menganggap hasil kicauan soli (eh... hasil "penghakiman" soli) ini tidak perlu dianggap angin lalu..

mohon kiranya sudi berkenan menjelaskan mengapa mas soli merasa dirinya MAMPU, KOMPETEN dan LAYAK menghakimi, SAMA LAYAK dan SAMA KOMPETENNYA dengan Tuhan?
mohon di-elaborasi ke kami-kami ini..

siapa tahu saya malah besok pindah, jadi "berdoa kepada soli"
karena begitu luarbiasanya soli, bahkan Yesus-pun sudah soli koreksi agar kembali ke jalan yg benar...


Suara sumbang seorang non kristen yang kerjanya hanya provokasi memang akan dihakimi secara fatal kelak !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 16, 2014, 01:44:46 PM
Bukan hanya menghakimi, tetapi mulai mengutuk dan menyumpah nyumpah pula?
Makin hebat murid si tong ini.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 17, 2014, 04:36:22 PM

Suara sumbang seorang non kristen yang kerjanya hanya provokasi memang akan dihakimi secara fatal kelak !

ooo...
begini toh kredensial dan kualifikasi yang dibutuhkan agar seseorang LAYAK untuk MENGHAKIMI...

pantesan mas...
NYARING BUNYINYA,  lha wong.... TONG MELOMPONG...

hehehe.....

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on April 18, 2014, 06:50:17 AM
Tuh bener saya khan .... memperingatkan tidak sama dengan menghakimi

 :D

menghakimi juga tidak sama dengan Men- Jaksai

Tuhan Yesus memberkati


Han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 19, 2014, 06:06:52 AM
menghakimi juga tidak sama dengan Men- Jaksai

Tuhan Yesus memberkati


Han

Betul sekali Om.
Itulah pentingnya "berhikmat"

 :nod: :afro:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 07:40:51 AM
18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:18-19 ITB)

 :afro:

Baca pula tanggapan saya mengenai ayat ini di :

http://forumimankristen.com/index.php/topic,1819.270.html

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 19, 2014, 08:14:25 AM
Baca pula tanggapan saya mengenai ayat ini di :

http://forumimankristen.com/index.php/topic,1819.270.html

Betul sekali Om.
Itulah pentingnya "berhikmat"

 :nod: :afro:

Maka nya ...
Penting sekali berhikmat.

Enggak asal Ting Tong  :P
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 02:43:22 PM
Maka nya ...
Penting sekali berhikmat.

Enggak asal Ting Tong  :P


Yang ting tong itu kan kamu sendiri bukan saya karena memang kamu yang menyebutnya.

Jadi jangan maling teriak maling lah bung !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 02:52:12 PM
Makin sakit nih otong.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 02:55:19 PM
Makin sakit nih otong.

Yang sakit itu adalah yang suka menyembah patung,kok barang mati disembahi !

Ck..ck..ck !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 03:00:11 PM
Patung lagi patung lagi, coba ente lihat judul topic nya ape tong?
Ngelantur terus, emang Pendeta maha hebat ente ngajarin gitu yah?
Susah deh, otong... otong...

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:06:36 PM
Patung lagi patung lagi, coba ente lihat judul topic nya ape tong?
Ngelantur terus, emang Pendeta maha hebat ente ngajarin gitu yah?
Susah deh, otong... otong...

Siapa yang pertama mempersoalkan patung telanjang disini tong ?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 03:10:59 PM
Yang demen patung telanjang siapa tong?
Golongan ente kan, tong?
Coba tanya Pendeta maha hebat ente, tong, bener gak doe demen tuh patung bugil?

Tongky...oh... tongky

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:12:27 PM
Yang demen patung telanjang siapa tong?
Golongan ente kan, tong?
Coba tanya Pendeta maha hebat ente, tong, bener gak doe demen tuh patung bugil?

Tongky...oh... tongky


Patung telanjang itu seni tetapi menyembah patung maria model katolik itu berhala namanya tong !

Bukti sudah ada diberikan !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:17:27 PM

Patung telanjang itu seni tetapi menyembah patung maria model katolik itu berhala namanya tong !

Bukti sudah ada diberikan !

Bukti sudah banyak diberikan !

cuma orang **** yang menyembah podium, microphone apalagi Pendeta, sambil main kenTONGan !!
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:21:43 PM
Bukti sudah banyak diberikan !

cuma orang **** yang menyembah podium, microphone apalagi Pendeta, sambil main kenTONGan !!

Kalau pendidikan hanya main comedy maka pengetahuanmu hanya nol besar tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 03:22:10 PM
Bukti sudah banyak diberikan !

cuma orang **** yang menyembah podium, microphone apalagi Pendeta, sambil main kenTONGan !!

Memang sudah parah kelakuan mereka, bro, semakin tidak terkendali, ada kemungkinan otaknya sudah mulai tak berfungsi normal lagi.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:23:28 PM
Memang sudah parah kelakuan mereka, bro, semakin tidak terkendali, ada kemungkinan otaknya sudah mulai tak berfungsi normal lagi.

Mana yang lebih parah mengkoleksi barang seni atau menyembah patung,tong ???



Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:25:08 PM
Kalau pendidikan hanya main comedy maka pengetahuanmu hanya nol besar tong !

coba..
pendidikan elo Theologi kan?

coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:34:41 PM
coba..
pendidikan elo Theologi kan?

coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....


Kalau hanya melawak tidak perlu sekolah tinggi tinggi tong !

Apalagi teologi ????? jauh sekali dari lawakan tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:36:56 PM

Kalau hanya melawak tidak perlu sekolah tinggi tinggi tong !

Apalagi teologi ????? jauh sekali dari lawakan tong !

coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:38:50 PM
coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....


Pelawak cadangan mau belajar theology ?????

Bisa pingsan para pendengar !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:40:37 PM

Pelawak cadangan mau belajar theology ?????

Bisa pingsan para pendengar !
coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:41:56 PM
coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....

Pelawak cadangan mau belajar theology ?????

Bisa pingsan para pendengar !

Ibarat memberikan mutiara kepada Babi kata Alkitab !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:44:36 PM
Pelawak cadangan mau belajar theology ?????

Bisa pingsan para pendengar !

Ibarat memberikan mutiara kepada Babi kata Alkitab !

terima kasih atas konfirmasinya bahwa soli ternyata TIDAK TAHU kenapa Theologi ternyata bukan ilmu...

nyesel deh..
udah bayar "sekolah abal-abal" eh... ternyata yg di pelajari juga "ilmu-ilmu-an"
rugi deh..

cepetan tong.. bikin gereja baru..
elo me-reformasi si mbayaris causa aja tong...

dengan kemampuan dan kompetensi elo yang setara Tuhan dalam "menghakimi" si mbayaris causa..
elo pasti bisa bikin cabang baru yang PALING PERSIS dgn Alkitab..

jadi bisa cepet balik modal tong....
kapan elo mau beli alphard...
kapan elo bisa naik business class....
eh salah.. Yesus... tapi elo yg mewakili kan?
hehe.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:48:12 PM
terima kasih atas konfirmasinya bahwa soli ternyata TIDAK TAHU kenapa Theologi ternyata bukan ilmu...

nyesel deh..
udah bayar "sekolah abal-abal" eh... ternyata yg di pelajari juga "ilmu-ilmu-an"
rugi deh..

cepetan tong.. bikin gereja baru..
elo me-reformasi si mbayaris causa aja tong...

dengan kemampuan dan kompetensi elo yang setara Tuhan dalam "menghakimi" si mbayaris causa..
elo pasti bisa bikin cabang baru yang PALING PERSIS dgn Alkitab..

jadi bisa cepet balik modal tong....
kapan elo mau beli alphard...
kapan elo bisa naik business class....
eh salah.. Yesus... tapi elo yg mewakili kan?
hehe.....

Terima kasih kembali kalau sudah sadar bahwa seorang pelawak cadangan sok tau Alkitab !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:50:37 PM
Terima kasih kembali kalau sudah sadar bahwa seorang pelawak cadangan sok tau Alkitab !

sama-sama tong...

akhirnya elo sadar..
kerja keras elo menahan diri selama sekian bulan ngedengerin b*llsh*t berkoar-koar tapi pake buku yg udah dikorting itu ternyata sia-sia...

yg sabar ya nak...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:52:06 PM
sama-sama tong...

akhirnya elo sadar..
kerja keras elo menahan diri selama sekian bulan ngedengerin b*llsh*t berkoar-koar tapi pake buku yg udah dikorting itu ternyata sia-sia...

yg sabar ya nak...


Sama pelawak yang sok tau Alkkitab memang saya sudah sadar bagaimana konyolnya pemikirannya !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 03:54:12 PM
Sudah merasa berhak menjadi hakim yang mahabenar, tong?
Hasil didikan Pendeta maha hebat ente?
Kursus kilat, tong?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:54:28 PM

Sama pelawak yang sok tau Alkkitab memang saya sudah sadar bagaimana konyolnya pemikirannya !

sabar ya tong...

entar masih nyaring kok bunyi elo.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:55:16 PM
sabar ya tong...

entar masih nyaring kok bunyi elo.....

Sudah habis bahan lawakan yah ???

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 03:56:03 PM
Sudah habis bahan lawakan yah ???
coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 03:58:06 PM
coba buktikan bahwa Theologi itu LAYAK disebut ILMU PENGETAHUAN...
hayo.......

Nol Besar... Ting.....

Buktikan dimana seorang pelawak sok bisa tahu isi Alkitab ???

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:00:21 PM
Buktikan dimana seorang pelawak sok bisa tahu isi Alkitab ???

eh.. si tong tong ini kan yg dulu bilang bahwa Alkitab sudah menuliskan bahwa bumi itu bulat kan?
ehehehehe....

udah gitu yang merasa penerjemah LAI itu Infalibel kan?

ya pantesan.....

coba buktikan dimana "di-atas BULATAN bumi itu tepatnya"
ehehehehehe.......
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:01:22 PM
eh.. si tong tong ini kan yg dulu bilang bahwa Alkitab sudah menuliskan bahwa bumi itu bulat kan?
ehehehehe....

udah gitu yang merasa penerjemah LAI itu Infalibel kan?

ya pantesan.....

coba buktikan dimana "di-atas BULATAN bumi itu tepatnya"
ehehehehehe.......

Bulatannya diatas kepalamu yang bulat itu tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:03:17 PM
Bulatannya diatas kepalamu yang bulat itu tong !

mana bukti ayat-nya kalau kepala saya bulat tong!

jangan cuma pokrol bambu kerjamu ting!
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:05:09 PM
mana bukti ayat-nya kalau kepala saya bulat tong!

jangan cuma pokrol bambu kerjamu ting!

Kalau bukan bulat ya sudah pasti gepenglah !

Patut kalau begitu !!!!

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:07:00 PM
Kalau bukan bulat ya sudah pasti gepenglah !

Patut kalau begitu !!!!

ayatnya mana bahwa "kalau bukan bulat ya sudah pasti gepenglah!" tong?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:08:38 PM
ayatnya mana bahwa "kalau bukan bulat ya sudah pasti gepenglah!" tong?

Kalau nggak bulat dan tidak pula gepeng tentulah penyet seperti kaleng kelindas traktor yah ???

Patut kalau begitu !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:10:45 PM
Kalau nggak bulat dan tidak pula gepeng tentulah penyet seperti kaleng kelindas traktor yah ???

Patut kalau begitu !

wah.. ciri-ciri pengikut Doktor Mbayaris Causa abal-abal....

sangat in-telek sekali....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:14:47 PM
wah.. ciri-ciri pengikut Doktor Mbayaris Causa abal-abal....

sangat in-telek sekali....

Kepala gepeng,penyok atau penyet memang biasanya pelawak yang sok tau Alkitab tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:28:20 PM
Kepala gepeng,penyok atau penyet memang biasanya pelawak yang sok tau Alkitab tong !
ayatnya tong?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 04:28:51 PM
Ente melantur di semua thread, tong.
Masa sih gak punya rasa malu sama sekali?
BTT tong....

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:29:55 PM
Ente melantur di semua thread, tong.
Masa sih gak punya rasa malu sama sekali?
BTT tong....

Siapa yang dari dulu melantur terus dan ad-hominem mentang mentang saya diam terus tong ?

Sekarang buktikan apakah kepalamu bulat,gepeng atau penyok tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:33:53 PM
Ente melantur di semua thread, tong.
Masa sih gak punya rasa malu sama sekali?
BTT tong....

yuk BTT mas...

jadi dari sekian post terakhir yang sangat "bermutu" dan "alkitabiah" ini...

tentu sudah lebih dari cukup untuk memberikan indikasi seberapa kompeten dan kualitas individu dari mas soli...

nah..
sekarang ketika mas soli MERASA DIRI-nya KOMPETEN, BERHAK, dan MAMPU untuk menghakimi orang lain..
yang di-dasarkan pada KEMAMPUAN SOLI dalam MENG-INTPERPRETASI-kan Alkitab..
maka sudah dapat kita bayangkan Kualitas OUTPUT / YIELD-nya...

demikian imo...

Last but not least,
terima kasih kepada mas soli yang telah berkenan me-reveal tingkat in-telek-tualitas dan kejujuran kualitas individu-nya kepada kita semua...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:35:53 PM
yuk BTT mas...

jadi dari sekian post terakhir yang sangat "bermutu" dan "alkitabiah" ini...

tentu sudah lebih dari cukup untuk memberikan indikasi seberapa kompeten dan kualitas individu dari mas soli...

nah..
sekarang ketika mas soli MERASA DIRI-nya KOMPETEN, BERHAK, dan MAMPU untuk menghakimi orang lain..
yang di-dasarkan pada KEMAMPUAN SOLI dalam MENG-INTPERPRETASI-kan Alkitab..
maka sudah dapat kita bayangkan Kualitas OUTPUT / YIELD-nya...

demikian imo...

Last but not least,
terima kasih kepada mas soli yang telah berkenan me-reveal tingkat in-telek-tualitas dan kejujuran kualitas individu-nya kepada kita semua...

Bagaimana seorang pelawak yang kepalanya tidak bulat,tidak gepeng atau penyok mau berdiskusi soal Alkitab ???

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:37:32 PM
Bagaimana seorang pelawak yang kepalanya tidak bulat,tidak gepeng atau penyok mau berdiskusi soal Alkitab ???

tuh kan..
emang engga nyampe...
hehe...

udah ya mas soli yg imyuttt....
saya mau nonton bokep dulu...
mau ikutan?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:40:25 PM
tuh kan..
emang engga nyampe...
hehe...

udah ya mas soli yg imyuttt....
saya mau nonton bokep dulu...
mau ikutan?

Tolong itu kepala diperbaiki dulu baru membahas Alkitab !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:44:04 PM
Tolong itu kepala diperbaiki dulu baru membahas Alkitab !

hah??

elo hungover ya mas??

gw tadi ngomong mau nonton bokep, malah elo bilang mau membahas Alkitab??

jangan-jangan... Alkitab versi soli adalah.............. eng ing eng.....


oooo pantesan...
eheheheheheheehe......
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:49:16 PM
hah??

elo hungover ya mas??

gw tadi ngomong mau nonton bokep, malah elo bilang mau membahas Alkitab??

jangan-jangan... Alkitab versi soli adalah.............. eng ing eng.....


oooo pantesan...
eheheheheheheehe......

Itu kepalamu yang tidak jelas bagaimana bentuknya sudah diperbaiki blon ?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 04:55:22 PM
hah??

elo hungover ya mas??

gw tadi ngomong mau nonton bokep, malah elo bilang mau membahas Alkitab??

jangan-jangan... Alkitab versi soli adalah.............. eng ing eng.....


oooo pantesan...
eheheheheheheehe......

Dari buahnya, kita bisa tahu kualitas pohonnya.
Dari contoh di forum ini, kita bisa baangkan, seperti apa pegajarannya kan?
Memang mantab pengajaran Dr(HC) Tong itu.

 :idiot: :lol:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 04:57:43 PM
Dari buahnya, kita bisa tahu kualitas pohonnya.
Dari contoh di forum ini, kita bisa baangkan, seperti apa pegajarannya kan?
Memang mantab pengajaran Dr(HC) Tong itu.

 :idiot: :lol:

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !

Kalau buahnya tukang bohong dan pengecut tidak mau jujur menjawab pertanyaan sudah pasti dari pohon yang busuk asalnya !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 04:59:50 PM
Dari buahnya, kita bisa tahu kualitas pohonnya.
Dari contoh di forum ini, kita bisa baangkan, seperti apa pegajarannya kan?
Memang mantab pengajaran Dr(HC) Tong itu.

 :idiot: :lol:

Kr... mas....
Kr....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:01:07 PM
Kr... mas....
Kr....

Duuuh .... itu kepala....modelnya ..... ?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 05:05:49 PM
Kr... mas....
Kr....

Kr apa sih bro?
Kursus rempong, Kroco, Kroto ?

 :rofl:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:06:48 PM
Kr apa sih bro?
Kursus rempong, Kroco, Kroto ?

 :rofl:

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !



Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 05:13:20 PM
Kr apa sih bro?
Kursus rempong, Kroco, Kroto ?

 :rofl:

Kenthir, mas...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:15:18 PM
Kenthir, mas...

Gepeng tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 19, 2014, 05:20:27 PM
Gepeng tong !

thanks mas..
you ve done your fair share of the pie..

now..
let the adults talk, ya mas...

meanwhile you can talk to the hand...hehe..
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:22:13 PM
thanks mas..
you ve done your fair share of the pie..

now..
let the adults talk, ya mas...

meanwhile you can talk to the hand...hehe..


Talking christianity to comedian is nothing sir !

Tapi itu kepala tolong diberesin dulu dong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 05:23:35 PM
Kenthir, mas...

Oooo kenthir...

 :rofl:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:24:37 PM
Oooo kenthir...

 :rofl:


Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 05:30:31 PM
Kenthir, mas...

Lantas yang punya gelar kehormatan itu, sang Pendeta hebat itu atau muridnya, bro?

:D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:31:30 PM
Lantas yang punya gelar kehormatan itu, sang Pendeta hebat itu atau muridnya, bro?

:D


Semoga Moderator menyelidiki siapa yang maling teriak maling dan pengecut tidak berani mengaku yg mulai OOT dengan patung telanjang disini !

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 05:43:03 PM
(https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8GU0_qcGlBxqKgNLOH4Eygtede8YKQkGyBVq96n06G_idRP58)

IDIOT

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 19, 2014, 05:44:38 PM
(https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8GU0_qcGlBxqKgNLOH4Eygtede8YKQkGyBVq96n06G_idRP58)

IDIOT


Wajahmu yg ini makin kelihatan munafiknya !!!

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 19, 2014, 06:45:28 PM
Memang sudah parah otaknya.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 20, 2014, 06:09:58 AM
Memang sudah parah otaknya.

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Kok pengecut tidak berani mengakui perbuatan sendiri ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!

Yang nggak tau malu yang munafik tidak berani jujur mengaku !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 20, 2014, 07:47:45 AM
Memang sudah parah otaknya.


Kepengecutan-mu yang sudah kronis bung !

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Kok pengecut tidak berani mengakui perbuatan sendiri ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 20, 2014, 09:40:18 AM
Masih miring juga otaknya.
Parrragh
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 20, 2014, 11:47:41 AM
iya mas soli...
iya mas...

kita semua, para readers & members forum ini sudah menyaksikan semua kok...
tingkat kualitas individu mas soli.....
yang mungkin salah satu penyebabnya juga adalah kualitas "kakak rohani & penggembala domba" nya mas soli juga...

rasanya sih udah cukup demonstrasi kadar in-telek-tualitas nya itu mas...

thanks ya....

btt yuks....

tentu dengan demikian,
kita pun sudah dapat "MEMAKLUMI" bahwa yield argumentasi dan "your so-called pembuktian" itu memang ya cuma segitu doang itu..
engga bisa dipaksa untuk naik kelas lagi kok mas...

engga papa mas...
jangan dipaksa...
entar ngebul lho...
udah sana... balik baca Alkitab lagi gih mas....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 21, 2014, 09:18:17 AM
BTT.

Setelah membaca postingan2 terdahulu ....
Saya kog berkesimpulan bahwa menghakimi hanya berlaku untuk orang2 yang termasuk dilingkungannya sendiri.

Misal Om Soli yang merupakan group (misal GRII).
Bilamana ada orang yang merupakan pengikut GRII maka Om Soli boleh menghakimi orang tersebut dengan aturan tafsir yang dianut GRII. Jadi Om Soli boleh menentukan benar salah.

Kalau untuk member diluar GRII, maka Om Soli tidak boleh menentukan benar salah.

 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on April 21, 2014, 11:46:48 AM
BTT.

Setelah membaca postingan2 terdahulu ....
Saya kog berkesimpulan bahwa menghakimi hanya berlaku untuk orang2 yang termasuk dilingkungannya sendiri.

Misal Om Soli yang merupakan group (misal GRII).
Bilamana ada orang yang merupakan pengikut GRII maka Om Soli boleh menghakimi orang tersebut dengan aturan tafsir yang dianut GRII. Jadi Om Soli boleh menentukan benar salah.

Kalau untuk member diluar GRII, maka Om Soli tidak boleh menentukan benar salah.

 :D

hmmm...
jadi curious...

apakah standar kompetensi para "penghakim" di kelompoknya mas soli di GRII ini segini semua?

wah...
kalo iya..
berarti Bapak Pdt. Kr. Xxxx sukses dalam mempertahankan kacamata-kuda permanen lho..
itu suatu achievement organisatoris yang cukup keren lho.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 25, 2014, 06:13:16 AM
BTT.

Setelah membaca postingan2 terdahulu ....
Saya kog berkesimpulan bahwa menghakimi hanya berlaku untuk orang2 yang termasuk dilingkungannya sendiri.

Misal Om Soli yang merupakan group (misal GRII).
Bilamana ada orang yang merupakan pengikut GRII maka Om Soli boleh menghakimi orang tersebut dengan aturan tafsir yang dianut GRII. Jadi Om Soli boleh menentukan benar salah.

Kalau untuk member diluar GRII, maka Om Soli tidak boleh menentukan benar salah.

 :D


(http://i62.tinypic.com/2drtai9.jpg)


Ada tipe orang Kristen yang seolah olah berada didalam lemari (christian in the box),mereka  berdoa secara rahasia,membaca  Alkitab pada waktu sedang sendirian dan secara sembunyi sembunyi,mereka menghindar dari percakapan  percakapan tentang iman,seksualitas, homoseksualitas,nabi palsu,evolusi dll  karena takut mengutarakan pendapat nya secara Kekristenan atau alkitabiah. Mereka takut dicap tidak toleran,membosankan, ketinggalan jaman,exklusif serta suka menghakimi.Kalau mereka memakai kaos bergambar Michael Jackson dianggap sebagai penggemarnya tetapi kalau bergambar Yesus lalu dicap sebagai fanatik agama.

Orang Kristen yang terbelenggu seperti  ini sangat memerlukan pembebasan . Orang yang menyembunyikan kebenaran Tuhan adalah sikap yang tidak bertanggungjawab.

Banyak orang Kristen seolah olah terbelenggu oleh semacam ketakutan sehingga tidak berani bersaksi bagi kebenaran Tuhan,mereka telah membungkam kesaksian mereka sendiri. Mereka lebih suka mengkompromikan iman ketimbang mempertahankan kebenaran, lebih suka berdamai dengan masyarakat yang tidak bermoral ketimbang berdiri teguh didalam kebenaran dan integritas iman .

Mereka tidak bisa melepaskan diri dari  belenggu gaya hidup modern masyarakat sekitarnya,dan enggan untuk melakukan tugas tugas Kristen yang bersifat misalnya apologetika. Toleransi sudah menjadi kebaikan terakhir  dari masyarakat modern model begini,dan ini sama sekali berbeda total dengan praktek para Rasul dan martir diawal gereja perdana yang tetap memegang teguh kebehnaran ajaran Kitab Suci.

Semogalah mereka bertobat !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 25, 2014, 06:22:52 AM
iya mas soli...
iya mas...

kita semua, para readers & members forum ini sudah menyaksikan semua kok...
tingkat kualitas individu mas soli.....
yang mungkin salah satu penyebabnya juga adalah kualitas "kakak rohani & penggembala domba" nya mas soli juga...

rasanya sih udah cukup demonstrasi kadar in-telek-tualitas nya itu mas...

thanks ya....

btt yuks....

tentu dengan demikian,
kita pun sudah dapat "MEMAKLUMI" bahwa yield argumentasi dan "your so-called pembuktian" itu memang ya cuma segitu doang itu..
engga bisa dipaksa untuk naik kelas lagi kok mas...

engga papa mas...
jangan dipaksa...
entar ngebul lho...
udah sana... balik baca Alkitab lagi gih mas....


Masih ada unfinished business ente bung yaitu sebelum membahas bulatan bumi maka ”clear” kan dulu masalah bentuk kepala anda itu apakah bulat,gepeng,penyot atau penyet ???


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 25, 2014, 06:24:02 AM
Masih miring juga otaknya.
Parrragh


Yang parah itu yang munafik !

Dimana kejujuran intelektualmu tong ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini ?

Kok penuh kemunafikan melulu kerjamu tong !

Sampai sekarang ngibul terus kerjamu tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong....!


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 25, 2014, 08:51:45 AM

(http://i62.tinypic.com/2drtai9.jpg)


Ada tipe orang Kristen yang seolah olah berada didalam lemari (christian in the box),mereka  berdoa secara rahasia,membaca  Alkitab pada waktu sedang sendirian dan secara sembunyi sembunyi,mereka menghindar dari percakapan  percakapan tentang iman,seksualitas, homoseksualitas,nabi palsu,evolusi dll  karena takut mengutarakan pendapat nya secara Kekristenan atau alkitabiah. Mereka takut dicap tidak toleran,membosankan, ketinggalan jaman,exklusif serta suka menghakimi.Kalau mereka memakai kaos bergambar Michael Jackson dianggap sebagai penggemarnya tetapi kalau bergambar Yesus lalu dicap sebagai fanatik agama.

Orang Kristen yang terbelenggu seperti  ini sangat memerlukan pembebasan . Orang yang menyembunyikan kebenaran Tuhan adalah sikap yang tidak bertanggungjawab.

Banyak orang Kristen seolah olah terbelenggu oleh semacam ketakutan sehingga tidak berani bersaksi bagi kebenaran Tuhan,mereka telah membungkam kesaksian mereka sendiri. Mereka lebih suka mengkompromikan iman ketimbang mempertahankan kebenaran, lebih suka berdamai dengan masyarakat yang tidak bermoral ketimbang berdiri teguh didalam kebenaran dan integritas iman .

Mereka tidak bisa melepaskan diri dari  belenggu gaya hidup modern masyarakat sekitarnya,dan enggan untuk melakukan tugas tugas Kristen yang bersifat misalnya apologetika. Toleransi sudah menjadi kebaikan terakhir  dari masyarakat modern model begini,dan ini sama sekali berbeda total dengan praktek para Rasul dan martir diawal gereja perdana yang tetap memegang teguh kebehnaran ajaran Kitab Suci.

Semogalah mereka bertobat !

Quote
J : Memang demikian sebab pemberian kunci tsb bersifat “declarative” bukan
“ jurisdictional” sebab hanya Yesus Kristus saja satu satunya Hakim Agung kita kelak.

Hohohoho  enggak seperti itu loo
Tuh ... saya quote kan teori anda

Memangnya anda mau menjadi hakim dan mencuri kemuliaan Kristus (berdasarkan teori anda sendiri lho)

 :giggle: :lol:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 25, 2014, 08:53:58 AM
Tong... Ting.... Tong
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 25, 2014, 05:45:06 PM
Hohohoho  enggak seperti itu loo
Tuh ... saya quote kan teori anda

Memangnya anda mau menjadi hakim dan mencuri kemuliaan Kristus (berdasarkan teori anda sendiri lho)

 :giggle: :lol:


Ternyata pemahaman ente mengenai istilah penghakiman di Alkitab masih naif.
Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Apa kamu masih mau memanipulasi apa yang sudah terang benderang dikatakan Alkitab bahwa manusia boleh menghakimi ?

Kalau ia maka anda persis gerejamu sepanjang abad yang selalu memanipulasi pemahaman Alkitab demi tradisi palsu yang berbau berhala itu ?

Mosok penghakiman akhir jaman kamu pukul rata saja maknanya dengan penghakiman didalam jaman ?????

PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat

PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir,masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat

Yang sama dari kedua jenis penghakiman itu adalah standar kebenaran Alkitab Firman Tuhan sebagai dasar penghakiman!

Silahkan dicamkan apa perbedaan kedua jenis penghakiman tsb !



Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 25, 2014, 05:45:51 PM
Tong... Ting.... Tong


Hipokrit tong ting tong !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 25, 2014, 08:02:43 PM
Tong... Ting.... Tong
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on April 26, 2014, 12:57:56 AM
PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan  selamat
Di pov soli, apa maksud dari kata "selamat" disitu setelah sso bertobat ?

Quote
PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir, masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat
Apakah idem dengan kalimat merah yg di quote atas ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 26, 2014, 06:33:21 AM

Ternyata pemahaman ente mengenai istilah penghakiman di Alkitab masih naif.
Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Apa kamu masih mau memanipulasi apa yang sudah terang benderang dikatakan Alkitab bahwa manusia boleh menghakimi ?

Kalau ia maka anda persis gerejamu sepanjang abad yang selalu memanipulasi pemahaman Alkitab demi tradisi palsu yang berbau berhala itu ?

Mosok penghakiman akhir jaman kamu pukul rata saja maknanya dengan penghakiman didalam jaman ?????

PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat

PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir,masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat

Yang sama dari kedua jenis penghakiman itu adalah standar kebenaran Alkitab Firman Tuhan sebagai dasar penghakiman!

Silahkan dicamkan apa perbedaan kedua jenis penghakiman tsb !

Bagaimana dapat memahami Alkitab dengan benar bila tidak mengenal ajaran Apostolik.
Ini kan koar2 anda sendiri saja yang membaca Alkitab dengan konteks anda sendiri termasuk guru anda.

maka dari itu sejak semula saya katakan ... hasilnya error.
contohnya : musik harus musik klasik ....   :rofl:

Kebenaran sejati adalah pemahaman Alkitab dengan dasar ajaran Apostolik.
Karena itu orang seperti anda berlaku Matius 7
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 29, 2014, 09:48:06 AM
Tong... Ting.... Tong


Sampai sekarang munafik terus !

Sekali munafik tetap munafik !

 Kamu selalu munafik dan lupa apa yg sudah dikatakannya :

Tidak percaya,lihat buktinya ?

Siapa yg mulai OOT membawa persoalan patung telanjang disini tong ?

Sampai sekarang tidak berani ngaku tong !

Aku tunggu terus jawabanmu tong !

Jawab toooong...jawab toooong kalau ngaku masih waras ....!


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 29, 2014, 09:59:02 AM
OOT lagi OOT lagi
Kapan warasnya anak miring ini?
Ada yang bisa bantu ?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 29, 2014, 10:59:27 AM
Di pov soli, apa maksud dari kata "selamat" disitu setelah sso bertobat ?
 Apakah idem dengan kalimat merah yg di quote atas ?

:)
salam.

Keselamatan itu dimulai didalam waktu / jaman dan disempurnakan setelah waktu / jaman !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 29, 2014, 11:05:25 AM
Bagaimana dapat memahami Alkitab dengan benar bila tidak mengenal ajaran Apostolik.
Ini kan koar2 anda sendiri saja yang membaca Alkitab dengan konteks anda sendiri termasuk guru anda.

maka dari itu sejak semula saya katakan ... hasilnya error.
contohnya : musik harus musik klasik ....   :rofl:

Kebenaran sejati adalah pemahaman Alkitab dengan dasar ajaran Apostolik.
Karena itu orang seperti anda berlaku Matius 7


Kok mandeg diskusinya dan cari cari alasan untuk kabur ???

Apanya yang error bung,tolong dijelaskan dong..jangan omong kosong belaka ?

Yang mana komentar saya yang tidak apostolik itu ?

Kalau tradisi gerejamu memang sudah terbukti anti apostolik sampai sekarang tidak ada yg becus menyanggahnya kecuali kabur dengan berbagai alasan yg dibuat buat..

Camkan lagi apa perbedaan antara kedua jenis penghakiman tsb dan tunjukkan apa yang tidak menurut ajaran rasuliah :


PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural)
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada



PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir,masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Hanya dilakukan oleh Tuhan Yesus saja (singular)
7.   Dilakukan sekali untuk selamanya diakhir jaman dimana waktu sudah tidak ada lagi (didalam kekekalan)



Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 29, 2014, 12:01:25 PM
OOT lagi OOT lagi
Parrraagggh

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 29, 2014, 02:16:25 PM

Kok mandeg diskusinya dan cari cari alasan untuk kabur ???

Apanya yang error bung,tolong dijelaskan dong..jangan omong kosong belaka ?

Yang mana komentar saya yang tidak apostolik itu ?

Kalau tradisi gerejamu memang sudah terbukti anti apostolik sampai sekarang tidak ada yg becus menyanggahnya kecuali kabur dengan berbagai alasan yg dibuat buat..

Camkan lagi apa perbedaan antara kedua jenis penghakiman tsb dan tunjukkan apa yang tidak menurut ajaran rasuliah :


PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural)
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada



PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir,masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Hanya dilakukan oleh Tuhan Yesus saja (singular)
7.   Dilakukan sekali untuk selamanya diakhir jaman dimana waktu sudah tidak ada lagi (didalam kekekalan)

Anda boleh2 saja pake ketentuan anda sendiri .... tapi silahkan menghakimi temen2 yang berpaham dan dalam ruang lingkup saa seperti anda (GRII.... ya)
hehehehe

Tuh sudah dipesan Tuhan Yesus :
"Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi oleh Allah. Janganlah menghukum orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihukum Allah. Ampunilah orang lain, supaya Allah juga mengampuni kalian. (Luk 6:37 BIS)

 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on April 29, 2014, 03:48:04 PM
Tong... Ting.... Tong

Apa engga menghakimi tong
Bahamian ini?
Acara Bible Study:
+ Pembahasan Khusus +

      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”
 
 
Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya:
memang penyesatan harus ada,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Mat 18:7
 
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Luk 17:1
 
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa,
karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah
atas orang-orang durhaka.
Eph 5:6
 
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu
murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, 2Th 2:3
 
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya
yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia,
tetapi tidak menurut Kristus. Col 2:8
 
Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya,
dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan, Pro 6:23
 
 
Contact Persons :
Cahaya : 081934618248
Ibu Doorje : 081703959078
Bp. Rizal : 03188278966                                   
Chandra : 081 332588000
 

e-mail address  : golgotha_ministry0@yahoo.com

Base URL: http://golgothaministry.org

                 

Tuhan Memberkati

 
  Han



.
 
__,_._,___
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 29, 2014, 04:23:46 PM
Apa engga menghakimi tong
Bahamian ini?
Acara Bible Study:
+ Pembahasan Khusus +

      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”
 
 
Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya:
memang penyesatan harus ada,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Mat 18:7
 
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Luk 17:1
 
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa,
karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah
atas orang-orang durhaka.
Eph 5:6
 
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu
murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, 2Th 2:3
 
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya
yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia,
tetapi tidak menurut Kristus. Col 2:8
 
Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya,
dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan, Pro 6:23
 
 
Contact Persons :
Cahaya : 081934618248
Ibu Doorje : 081703959078
Bp. Rizal : 03188278966                                   
Chandra : 081 332588000
 

e-mail address  : golgotha_ministry0@yahoo.com

Base URL: http://golgothaministry.org

                 

Tuhan Memberkati

 
  Han



.
 
__,_._,___



Waduhh...
Kog statement nya keras sekali ............   :oO
Kalo menurut saya ....  enggak etis ya


Kok mandeg diskusinya dan cari cari alasan untuk kabur ???

Apanya yang error bung,tolong dijelaskan dong..jangan omong kosong belaka ?

Yang mana komentar saya yang tidak apostolik itu ?

Kalau tradisi gerejamu memang sudah terbukti anti apostolik sampai sekarang tidak ada yg becus menyanggahnya kecuali kabur dengan berbagai alasan yg dibuat buat..

Camkan lagi apa perbedaan antara kedua jenis penghakiman tsb dan tunjukkan apa yang tidak menurut ajaran rasuliah :


PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat
3.   Yang dihakimi masih hidup
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural)
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada



PENGHAKIMAN AKHIR JAMAN

1.   Dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri
2.   Yang menghakimi Tuhan dan yg dihakimi adalah manusia (tidak sederajat)
3.   Yang dihakimi sudah mati secara fisik
4.   Tujuannya untuk menentukan nasib terakhir,masuk Surga atau Neraka
5.   Yang dihakimi masuk Neraka tidak ada kesempatan bertobat dan selamat
6.   Hanya dilakukan oleh Tuhan Yesus saja (singular)
7.   Dilakukan sekali untuk selamanya diakhir jaman dimana waktu sudah tidak ada lagi (didalam kekekalan)





Nahhh ini perlu ditanyakan ke Om Soli.
Nunggu komentarnya
Apa sudah termasuk penghakiman didalam jaman.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on April 29, 2014, 05:38:59 PM
Anda boleh2 saja pake ketentuan anda sendiri .... tapi silahkan menghakimi temen2 yang berpaham dan dalam ruang lingkup saa seperti anda (GRII.... ya)
hehehehe

Tuh sudah dipesan Tuhan Yesus :
"Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi oleh Allah. Janganlah menghukum orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihukum Allah. Ampunilah orang lain, supaya Allah juga mengampuni kalian. (Luk 6:37 BIS)

 :giggle:


Silahkan dibaca dan dicamkan lagi postingan saya sebelumnya kapan manusia harus menghakimi dan penghakiman bagaimana yang boleh dilakukan.

Ayat ayat manusia juga menghakimi sudah banyak saya kutip sebelumnya tetapi kamu yang memang tidak pernah becus menyanggahnya kecuali hanya cuap cuap kosong tidak bermakna dan tidak bisa membantah ayat ayat Firman Tuhan yang tegas dan jelas mengajarkan penghakiman oleh manusia tsb.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 30, 2014, 10:12:28 AM

Silahkan dibaca dan dicamkan lagi postingan saya sebelumnya kapan manusia harus menghakimi dan penghakiman bagaimana yang boleh dilakukan.

Ayat ayat manusia juga menghakimi sudah banyak saya kutip sebelumnya tetapi kamu yang memang tidak pernah becus menyanggahnya kecuali hanya cuap cuap kosong tidak bermakna dan tidak bisa membantah ayat ayat Firman Tuhan yang tegas dan jelas mengajarkan penghakiman oleh manusia tsb.

Anda boleh2 saja pake ketentuan anda sendiri .... tapi silahkan menghakimi temen2 yang berpaham dan dalam ruang lingkup saa seperti anda (GRII.... ya)
hehehehe

Tuh sudah dipesan Tuhan Yesus :
"Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi oleh Allah. Janganlah menghukum orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihukum Allah. Ampunilah orang lain, supaya Allah juga mengampuni kalian. (Luk 6:37 BIS
)

 :giggle:

Ngapain saya kog ngikuti omongan anda yang tidak berdasar............   :giggle:
Saya pilih ikut pesan Tuhan Yesus diatas.

Maka nya ...
Ikuti ajaran Apostolik. Ajaran para Rasul.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 30, 2014, 10:17:08 AM
Apa engga menghakimi tong
Bahamian ini?
Acara Bible Study:
+ Pembahasan Khusus +

      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”

 
 
Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya:
memang penyesatan harus ada,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Mat 18:7
 
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Luk 17:1
 
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa,
karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah
atas orang-orang durhaka.
Eph 5:6
 
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu
murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, 2Th 2:3
 
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya
yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia,
tetapi tidak menurut Kristus. Col 2:8
 
Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya,
dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan, Pro 6:23
 
 
Contact Persons :
Cahaya : 081934618248
Ibu Doorje : 081703959078
Bp. Rizal : 03188278966                                   
Chandra : 081 332588000
 

e-mail address  : golgotha_ministry0@yahoo.com

Base URL: http://golgothaministry.org

                 

Tuhan Memberkati

 
  Han



.
 
__,_._,___



Waduhh...
Kog statement nya keras sekali ............   :oO
Kalo menurut saya ....  enggak etis ya

Nahhh ini perlu ditanyakan ke Om Soli.
Nunggu komentarnya
Apa sudah termasuk penghakiman didalam jaman.



Ajaran Guru mu (Mr. Tong) lagi dibahas tuh ....
Nah kira2 yang dilakukan Pak Budi Asali termasuk yang mana ?

PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN ?

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah ?
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat ?
3.   Yang dihakimi masih hidup ?
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya ?
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat ?
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural) ?
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada ?


 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 30, 2014, 10:29:48 AM
Sesama reformed saling tunjuk hidung 'SESAT'
Mantab kaleee ajarannya ya?


Tanda tanda apa ini....
Tong ..... Ting..... Tong....

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 30, 2014, 10:46:40 AM
Sesama reformed saling tunjuk hidung 'SESAT'
Mantab kaleee ajarannya ya?


Tanda tanda apa ini....
Tong ..... Ting..... Tong....

Saya kadang2 heran ... apa sudah merupakan kurikulum wajib di reformed?
Enggak nyalahkan akan semakin banyak timbul denom2 baru.

Kog enggak mau mencontoh ajaran Apostolik, diselesaikan dengan Konsili

Ketauan kan mana ajaran Apostolik mana yang enggak Apostolik     :rofl:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 30, 2014, 10:52:12 AM
Saya kadang2 heran ... apa sudah merupakan kurikulum wajib di reformed?
Enggak nyalahkan akan semakin banyak timbul denom2 baru.

Kog enggak mau mencontoh ajaran Apostolik, diselesaikan dengan Konsili

Ketauan kan mana ajaran Apostolik mana yang enggak Apostolik     :rofl:


Membaca kasus pemecatan Budi Asali, membaca kaus perceraian Budi Asali, mendengar kasus KDRT Pendeta Tong (info dari kalangan internal), maka bisa disimpulkan memang tidak ada damai dalam pribadi mereka, tidak ada kasih.

Saya heran kalau mereka bisa menjadi gembala gereja, bagaimana bisa menggembalakan jemaat kalau tidak ada damai dan kasih di hati mereka?

 :idiot: :idiot:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on April 30, 2014, 10:57:07 AM

Membaca kasus pemecatan Budi Asali, membaca kaus perceraian Budi Asali, mendengar kasus KDRT Pendeta Tong (info dari kalangan internal), maka bisa disimpulkan memang tidak ada damai dalam pribadi mereka, tidak ada kasih.

Saya heran kalau mereka bisa menjadi gembala gereja, bagaimana bisa menggembalakan jemaat kalau tidak ada damai dan kasih di hati mereka?

 :idiot: :idiot:

Hushhh........
Tulisan bro Salt sudah termasuk :

PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN ?

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah ?
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat ?
3.   Yang dihakimi masih hidup ?
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya ?
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat ?
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural) ?
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada ?


 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on April 30, 2014, 12:12:38 PM
Apa yang saya sampaikan adalah fakta koq, apa mau ke pengadilan untuk dibuktikan mana yang benar?

:D :D :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 01, 2014, 06:49:43 AM
Apa engga menghakimi tong
Bahamian ini?
Acara Bible Study:
+ Pembahasan Khusus +

      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”
 
 
Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya:
memang penyesatan harus ada,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Mat 18:7
 
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Luk 17:1
 
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa,
karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah
atas orang-orang durhaka.
Eph 5:6
 
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu
murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, 2Th 2:3
 
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya
yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia,
tetapi tidak menurut Kristus. Col 2:8
 
Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya,
dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan, Pro 6:23
 
 
Contact Persons :
Cahaya : 081934618248
Ibu Doorje : 081703959078
Bp. Rizal : 03188278966                                   
Chandra : 081 332588000
 

e-mail address  : golgotha_ministry0@yahoo.com

Base URL: http://golgothaministry.org

                 

Tuhan Memberkati

 
  Han



.
 
__,_._,___

Sesi pertama "penghakiman" sudah berlalu.
Mudah2an ada video youtube nya

hehehehe
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 01, 2014, 10:16:32 AM
Kalau sampai dua Pendeta itu 'gelut', mungkin menarik juga untuk dijadikan tontonan, om.

Yang menang mana terserah..

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on May 02, 2014, 06:35:02 PM
Kalau sampai dua Pendeta itu 'gelut', mungkin menarik juga untuk dijadikan tontonan, om.

Yang menang mana terserah..

yah... namanya juga urusan dapur ngebul bro...

maklum...

tapi feeling saya sih...

1. kalo masing-masing dikasih jaminan masuk surga dua-duanya...
mnrt saya masih tetep ngotot masing-masing..

tapi kalo..

2. masing-masing dikasih duit 50 milyard..
gue rasa perdebatan bakal berakhir, karena Roh Kudus sudah mencurahkan rahmat-nya...
ya.. mencurahkan 50 milyar itu..
ehehe.....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 02, 2014, 07:02:26 PM
Kalo disuruh milih satu yang masuk surga, dan satu masuk neraka, pasti urusannya makin seru ya?
He he he he
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on May 03, 2014, 09:00:35 PM
Sesi pertama "penghakiman" sudah berlalu.
Mudah2an ada video youtube nya

hehehehe
Sebenernya oom pengen denger bahasan tentang kesesatan, tapi karena jauh di Surabaya
Maka oom wakilkan Aja ke NIf phooey yAng berdomisili disana
Nah hasilnya boleh di share disini
Biar sesi pertama sudah lewat

Tuhan Yesus memberkati

Han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 04, 2014, 06:04:31 AM
Sebenernya oom pengen denger bahasan tentang kesesatan, tapi karena jauh di Surabaya
Maka oom wakilkan Aja ke NIf phooey yAng berdomisili disana
Nah hasilnya boleh di share disini
Biar sesi pertama sudah lewat

Tuhan Yesus memberkati

Han

Serius Om ...
Tolong di PM alamat Om ...
Nanti kalo dvd nya sudah keluar, ntar saya kirim ke tempat Om

 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 04, 2014, 11:45:40 AM
Pada intinya kalau orang punya kegemaran menusuk nusuk orang lain, pada waktu berikutnya orang itu akan jadi sasaran tusuk orang orang lain.

Itu sangat jelas terlihat dari google, dimana antara Pdt. Tong, adalah sasaran tembak dari aliran yang biasa ditunjuk tunjuk oleh 'beliau'

Itukah 'manfaat' dari menegur sesama saudara? 'Menghakimi' yang sesuai Alkitab?
Atau sebenarnya justru menjadi bibit perpecahan dalam Kekristenan?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on May 04, 2014, 08:36:35 PM
Serius Om ...
Tolong di PM alamat Om ...
Nanti kalo dvd nya sudah keluar, ntar saya kirim ke tempat Om

 :giggle:

Isi/file nya taruh aja di fik, biar  user yang lainnya bisa ikut menikmati kese.satannya

Tuhan Yesus memberkati


Han
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 05, 2014, 05:50:25 AM
Isi/file nya taruh aja di fik, biar  user yang lainnya bisa ikut menikmati kese.satannya

Tuhan Yesus memberkati


Han

hahahaa...
kan nanti saya kena pasal undang2 hak cipta

 :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 05, 2014, 05:53:44 AM
Pada intinya kalau orang punya kegemaran menusuk nusuk orang lain, pada waktu berikutnya orang itu akan jadi sasaran tusuk orang orang lain.

Itu sangat jelas terlihat dari google, dimana antara Pdt. Tong, adalah sasaran tembak dari aliran yang biasa ditunjuk tunjuk oleh 'beliau'

Itukah 'manfaat' dari menegur sesama saudara? 'Menghakimi' yang sesuai Alkitab?
Atau sebenarnya justru menjadi bibit perpecahan dalam Kekristenan?

Semoga cepat sadar  :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 05, 2014, 09:56:07 AM
Kalau saat sudah menjelang, masih gak sadar juga, lantas mau tunggu kapan, om?

:D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 06, 2014, 06:23:41 AM
Ngapain saya kog ngikuti omongan anda yang tidak berdasar............   :giggle:
Saya pilih ikut pesan Tuhan Yesus diatas.


Apanya yang tidak berdasar bung,tunjukkan dong yang mana dan mengapa ?

Kalau tidak berarti kamu hanya ngecap doang !


 
Quote
Saya pilih ikut pesan Tuhan Yesus diatas.

Baca lagi apa kata Kitab Suci :

Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Kebiasaanmu memang selalu memanipulasi apa yang sudah diajarkan oleh Kitab Suci,buktinya jelas diatas tetapi kamu hanya ngecap kosong tidak ada dasar sama sekali kecuali hanya tradisi palsu gerejamu !

Quote
Maka nya ...
Ikuti ajaran Apostolik. Ajaran para Rasul.

Justru semua komentar saya sudah berdasarkan ajaraan Rasul dan kamu hanya cuap cuap tidak bisa menunjukkan mana yang tidak berdasar bung !

Hanya gerejamu yang sama sekali membuat segala macam ajaran anti rasuliah karena hanya tunduk kepada manusia bukan Tuhan.

Tetapi kalau gereja sudah menggantikan :

1.   Allah Bapa yang Kudus digantikan Bapa Suci dunia
2.   Gereja yang Rasuliah digantikan dengan sistim Papalisme ala Romawi
3.   Otoritas Roh Kudus didalam menginterpretasikan dan mengajar Alkitab digantikan oleh magisterium
4.   Otoritas Kristus didalam penebusan dan kepengantaraan keselamatan digantikan oleh Mariology (Co-redemptrix,Mediatrix dll)
5.   Otoritas Kitab Suci digantikan dengan tradisi dusta ajaran manusia
6.   Otoritas Allah yang satu satunya Infallible sudah digantikan oleh Paus yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan infallible
7.   Sola Scriptura sudah digantikan oleh Sola Pope/Magisterium

Maka tepatlah apa yang dikatakan Kitab Suci :

Mazmur 11:3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?

SECARA DOKTRINAL GEREJA ROMA KATOLIK SUDAH MENGKHIANATI AJARAN PARA RASUL DENGAN SEGALA MACAM TRADISI DUSTA ISAPAN JEMPOLNYA,SEHINGGA LEBIH TEPAT DISEBUT SEBAGAI “APOSTATE CHURCH” KETIMBANG  “APOSTOLIC CHURCH.”

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 06, 2014, 06:23:54 AM
Ajaran Guru mu (Mr. Tong) lagi dibahas tuh ....
Nah kira2 yang dilakukan Pak Budi Asali termasuk yang mana ?

PENGHAKIMAN DIDALAM JAMAN ?

1.   Dilakukan oleh manusia atas perintah / petunjuk Allah ?
2.   Yang menghakimi dengan yg dihakimi sama sama manusia yg sederajat ?
3.   Yang dihakimi masih hidup ?
4.   Tujuannya untuk menunjukkan kesalahannya ?
5.   Yang Dihakimi masih ada kesempatan bertobat dan selamat ?
6.   Kewajiban bagi semua orang percaya tidak terkecuali (plural) ?
7.   Dilakukan setiap saat,setiap jam,setiap hari selama waktu masih ada ?


 :giggle:


Ajaran yang mana yang tidak sesuai Kitab Suci bung,jangan cuman bisanya cuap cuap kosong tidak ada isinya persis si salt itu !

---(OOT deleted, by Jenova)---
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 06, 2014, 06:24:09 AM
Sesi pertama "penghakiman" sudah berlalu.
Mudah2an ada video youtube nya

hehehehe

---(OOT deleted, by Jenova)---
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 06, 2014, 06:59:37 AM
Semoga cepat sadar  :D

Demikian juga mereka yang sudah ditipu oleh gereja selama ribuan tahun juga semoga cepat sadar sebelum terlambat !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 06, 2014, 10:09:43 AM

Apanya yang tidak berdasar bung,tunjukkan dong yang mana dan mengapa ?

Kalau tidak berarti kamu hanya ngecap doang !


 
Baca lagi apa kata Kitab Suci :

Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Kebiasaanmu memang selalu memanipulasi apa yang sudah diajarkan oleh Kitab Suci,buktinya jelas diatas tetapi kamu hanya ngecap kosong tidak ada dasar sama sekali kecuali hanya tradisi palsu gerejamu !

Justru semua komentar saya sudah berdasarkan ajaraan Rasul dan kamu hanya cuap cuap tidak bisa menunjukkan mana yang tidak berdasar bung !

Hanya gerejamu yang sama sekali membuat segala macam ajaran anti rasuliah karena hanya tunduk kepada manusia bukan Tuhan.

Tetapi kalau gereja sudah menggantikan :

1.   Allah Bapa yang Kudus digantikan Bapa Suci dunia
2.   Gereja yang Rasuliah digantikan dengan sistim Papalisme ala Romawi
3.   Otoritas Roh Kudus didalam menginterpretasikan dan mengajar Alkitab digantikan oleh magisterium
4.   Otoritas Kristus didalam penebusan dan kepengantaraan keselamatan digantikan oleh Mariology (Co-redemptrix,Mediatrix dll)
5.   Otoritas Kitab Suci digantikan dengan tradisi dusta ajaran manusia
6.   Otoritas Allah yang satu satunya Infallible sudah digantikan oleh Paus yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan infallible
7.   Sola Scriptura sudah digantikan oleh Sola Pope/Magisterium

Maka tepatlah apa yang dikatakan Kitab Suci :

Mazmur 11:3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?

SECARA DOKTRINAL GEREJA ROMA KATOLIK SUDAH MENGKHIANATI AJARAN PARA RASUL DENGAN SEGALA MACAM TRADISI DUSTA ISAPAN JEMPOLNYA,SEHINGGA LEBIH TEPAT DISEBUT SEBAGAI “APOSTATE CHURCH” KETIMBANG  “APOSTOLIC CHURCH.”

37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37 ITB)

Tuh .... Ajaran Tuhan Yesus. Ditelaah baik2. Enggak usah ruwet2.

Justru ajaran "Guru anda" yang enggak bener dan keblinger.
Sampai diadili oleh sesama Reformed.

Beresin dulu deh rumah anda yang kacau balau itu.
Kalo tempat saya jelas2 ajaran Apostolik .... enggak kacau balau kayak tempat anda.   :ballspin:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 06, 2014, 10:50:44 AM

Ajaran yang mana yang tidak sesuai Kitab Suci bung,jangan cuman bisanya cuap cuap kosong tidak ada isinya persis si salt itu !

Kalau ajaran gerejamu sudah berjibun saya bongkar kepalsuannya di forum ini.

Tetapi kalau gereja sudah menggantikan :

1.   Allah Bapa yang Kudus digantikan Bapa Suci dunia
2.   Gereja yang Rasuliah digantikan dengan sistim Papalisme ala Romawi
3.   Otoritas Roh Kudus didalam menginterpretasikan dan mengajar Alkitab digantikan oleh magisterium
4.   Otoritas Kristus didalam penebusan dan kepengantaraan keselamatan digantikan oleh Mariology (Co-redemptrix,Mediatrix dll)
5.   Otoritas Kitab Suci digantikan dengan tradisi dusta ajaran manusia
6.   Otoritas Allah yang satu satunya Infallible sudah digantikan oleh Paus yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan infallible
7.   Sola Scriptura sudah digantikan oleh Sola Pope/Magisterium

Maka tepatlah apa yang dikatakan Kitab Suci :

Mazmur 11:3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?

37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37 ITB)

Tuh .... Ajaran Tuhan Yesus. Ditelaah baik2. Enggak usah ruwet2.


Nekad bener.
Mosok perintah Tuhan Yesus enggak boleh menghakimi dikatakan cuap2    :doh:
 :D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 06, 2014, 10:54:23 AM

Ajaran yang mana yang tidak sesuai Kitab Suci bung,jangan cuman bisanya cuap cuap kosong tidak ada isinya persis si salt itu !

Kalau ajaran gerejamu sudah berjibun saya bongkar kepalsuannya di forum ini.

Tetapi kalau gereja sudah menggantikan :

1.   Allah Bapa yang Kudus digantikan Bapa Suci dunia
2.   Gereja yang Rasuliah digantikan dengan sistim Papalisme ala Romawi
3.   Otoritas Roh Kudus didalam menginterpretasikan dan mengajar Alkitab digantikan oleh magisterium
4.   Otoritas Kristus didalam penebusan dan kepengantaraan keselamatan digantikan oleh Mariology (Co-redemptrix,Mediatrix dll)
5.   Otoritas Kitab Suci digantikan dengan tradisi dusta ajaran manusia
6.   Otoritas Allah yang satu satunya Infallible sudah digantikan oleh Paus yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan infallible
7.   Sola Scriptura sudah digantikan oleh Sola Pope/Magisterium

Maka tepatlah apa yang dikatakan Kitab Suci :

Mazmur 11:3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?

Ajaran Apostolik yang bertahan sampai akhir jaman dan alam maut tidak dapat menguasainya.
Inilah ajaran yang benar.

Bukan pemegang kunci palsu yang enggak sampai 500 tahun sudah berantakan enggak karuan.   :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 06, 2014, 10:58:13 AM

(http://i59.tinypic.com/ra0sch.jpg)


SIDANG JENASAH PAUS  Formusus

Paus Stefanus VII menyelenggarakan sebuah pertunjukan yang sangat dramatis dalam sidang pengadilan terhadap Paus Formosus yang sudah wafat,dengan menggali jenasah yang membusuk dari liang lahatnya untuk memainkan peran yang menyeramkan dalam sidang jenasah pada tahun 897 Masehi.
Paus yg sudah wafat itu disidangkan dengan kehadirannya,walau sudah menjadi mayat yang membusuk diruang sidang pengadilan.

Sumber :  “Sejarah Gelap Para Paus”
Penulis : Brenda Ralph Lewis
Penerbit : Kompas Gramedia tahun 2009.

Sumber lain:

The Bizarre Trial of Pope Formosus

The Cadaver Synod was Arguably One of the Lowest Points in Church History

http://voices.yahoo.com/the-bizarre-trial-pope-formosus-3910294.html?cat=37


Komentar:

Kalau jenazah yang sudah membusuk tetapi dibongkar lagi untuk dihakimi oleh Paus yang penuh dengan perasaan dendam kesumat walaupun kepada orang yang sudah menjadi mayat,maka penghakiman model apa namanya itu bung ???

Apakah ini bukan tindakan yang biadab tidak pakai akal sehat ?

Ini adalah fakta sejarah bukan cuman modal cuap cuap seperti komentarmu !

Sungguh keterlaluan !!!

Yang ini dipastikan tidak ada video youtube nya.   :giggle:

Kalo yang dikupas Pak Budi Asali tentang guru anda pasti ada video nya   :whistle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: hanhalim2 on May 06, 2014, 03:52:51 PM
Yang ini dipastikan tidak ada video youtube nya.   :giggle:

Kalo yang dikupas Pak Budi Asali tentang guru anda pasti ada video nya   :whistle:

Nah maka dari itu  buat mengetahui kesesatan si guru  hadirilah pembahasannya

Sesi ke dua belum dimulai  DVD sesi pertama sudah bisa dibeli

Oom kasih bocoran  tentang kesesatan yang akan dibahas di sesi ke dua
+ Pembahasan Khusus +
 
      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”
 
Sesi ke 2

 
Membahas Ajaran Pdt Stephen Tong yang Tidak Reformed:
 
1.     Hanya kematian Yesus yg ditentukan Tuhan, kematian orang lain
Tidak ditetapkan oleh Tuhan
2.     Tuhan tidak menentukan / menetapkan / merencanakan segala
Sesuatu, khususnya dosa
3.     Adanya Tempat Penantian
4.     Ajaran bahwa manusia Yesus tidak dicipta.
5.     Dll.
 

Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 

Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 



Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Selamat menikmati

Tuhan Yesus memberkati
 

Han


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 07, 2014, 07:49:46 AM


Nah maka dari itu  buat mengetahui kesesatan si guru  hadirilah pembahasannya

Sesi ke dua belum dimulai  DVD sesi pertama sudah bisa dibeli

Oom kasih bocoran  tentang kesesatan yang akan dibahas di sesi ke dua
+ Pembahasan Khusus +
 
      “Membahas kesalahan
Dan kesesatan Pdt Stephen Tong”
 
Sesi ke 2

 
Membahas Ajaran Pdt Stephen Tong yang Tidak Reformed:
 
1.     Hanya kematian Yesus yg ditentukan Tuhan, kematian orang lain
Tidak ditetapkan oleh Tuhan
2.     Tuhan tidak menentukan / menetapkan / merencanakan segala
Sesuatu, khususnya dosa
3.     Adanya Tempat Penantian
4.     Ajaran bahwa manusia Yesus tidak dicipta.
5.     Dll.
 

Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 

Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 



Pembicara   : Pdt. Budi Asali Mdiv.
Reformed Theological Seminary (RTS), USA.
 
Hari Rabu:
Tgl. 30 April 2014,
Tgl. 07 Mei 2014 dan
Tgl. 14 Mei 2014
 
Pk. 19.00 malam
Tempat :
Pertokoan Rungkut Megah Raya D - 16
Jl. Raya Kali Rungkut 5
 
S U R A B A Y A
 
Apa saja kesalahan dan kesesatan dari ajaran
Pdt Stephen Tong?
 
Datang dan temukan jawabannya..
 
Selamat menikmati

Tuhan Yesus memberkati
 

Han




Semoga murid nya berkenan hadir mendengarkan kupasan Mr. Budi Asali

Kayak jeruk saja, pake dikupas   :giggle:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 07, 2014, 10:41:25 AM
Mengupas kekacauan doktrin reformed?
He he he he he

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 10, 2014, 01:32:52 PM
37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37 ITB)

Tuh .... Ajaran Tuhan Yesus. Ditelaah baik2. Enggak usah ruwet2.

Justru ajaran "Guru anda" yang enggak bener dan keblinger.
Sampai diadili oleh sesama Reformed.

Beresin dulu deh rumah anda yang kacau balau itu.
Kalo tempat saya jelas2 ajaran Apostolik .... enggak kacau balau kayak tempat anda.   :ballspin:


Baca lagi apa kata Tuhan jangan memanipulasi istilah menghakimi kalau memang ada ayatnya :
Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Yang perlu kamu camkan adalah menghakimi bagaimana yang dimasud oleh Yesus itu.... bukan sama sekali tidak boleh menghakimi !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 10, 2014, 01:33:05 PM
Nekad bener.
Mosok perintah Tuhan Yesus enggak boleh menghakimi dikatakan cuap2    :doh:
 :D


Baca lagi apa kata Tuhan jangan memanipulasi istilah menghakimi kalau memang ada ayatnya :
Manusia tidak dilarang untuk menghakimi

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Yang perlu kamu camkan adalah menghakimi bagaimana yang dimasud oleh Yesus itu bukan sama sekali tidak boleh menghakimi !

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa “menghakimi” adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim” dimana berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim maka tak seorangpun yang memiliki wewenang untuk menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Jika demikian, maka hidup manusia itu akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya masing-masing, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25).
 
TUGAS SEORANG HAMBA Tuhan

Ada dua penjelasan penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan hal ini.

Yang pertama, orang Kristen atau gereja takut dilabel sebagai “menghakimi orang lain.” Jika rasa takut ini dibiarkan dengan tanpa memiliki dasar yang benar, akan berdampak buruk pada gereja karena gereja tidak bisa memberitahukan atau menjelaskan mana yang benar dan salah.

Jika demikian, siapa yang patut diikuti dan diteladani?

Sebagai akibat ketakutan ini akan sangat besar terhadap gereaj karena secara tidak langsung hal ini memberitahukan bahwa gereja tidak perlu memiliki pengajar atau hamba-hamba Tuhan karena tugas utama mereka adalah memberitahukan mana yang benar dan salah melalui pengajaran, khotbah dan penggembalaan jemaat agar mereka mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah. Jika para hamba Tuhan yang mengajar dan berkhotbah dianggap menghakimi ketika mengatakan hal yang benar, lalu siapakah yang pantas jadi pengajar dan pengkhotbah?

Kedua, jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, Pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain. Seorang hamba Tuhan harus mengajarkan yang benar dan memperingatkan hal-hal yang buruk.


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 10, 2014, 01:33:20 PM
Ajaran Apostolik yang bertahan sampai akhir jaman dan alam maut tidak dapat menguasainya.
Inilah ajaran yang benar.

Bukan pemegang kunci palsu yang enggak sampai 500 tahun sudah berantakan enggak karuan.   :giggle:


Gereja Protestan adalah “apostolic church” karena setia kepada ajaran para Rasul didalam Kitab Suci tetapi gerejamu adalah “apostate church” karena kerjanya memanipulasi ajaran para Rasul dengan segala macam tradisi palsu penuh dongengan dan isapan jempol belaka.

Kunci yang dipegang oleh gerejamu malah menuju Neraka karena ajarannya penuh berhala yang sangat dibenci oleh Tuhan.

Saya selalu berkomentar pakai bukti yang tidak terbantahkan !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 10, 2014, 01:33:33 PM
Yang ini dipastikan tidak ada video youtube nya.   :giggle:

Kalo yang dikupas Pak Budi Asali tentang guru anda pasti ada video nya   :whistle:


O..oo..oo  jadi ukuranmu adalah youtube,maka saya berikan juga bukti youtube-nya supaya kamu tidak bisa berdalih atas bukti sejarah penghakiman gerejamu yang penuh kesadisan dan  brutal itu !

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=cjTsGS2jEvM[/youtube]

Silahkan cermati bagaimana gawatnya dan bobroknya mereka yang mengaku Vicar Of Christs dan Tuhan didunia itu !

Mengerikan,Mengaku Holy Father tetapi perbuatannya sama sekali tidak holly !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on May 10, 2014, 01:35:33 PM

Semoga murid nya berkenan hadir mendengarkan kupasan Mr. Budi Asali

Kayak jeruk saja, pake dikupas   :giggle:


---(OOT deleted, by Jenova)---

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on May 10, 2014, 02:04:39 PM
Gambar gambar hail rekayasa golongan sendiri dipercaya?
---(OOT deleted, by Jenova)---
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Phooey on May 11, 2014, 06:11:34 AM
37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37 ITB)

Hahahaha...
Belum sadar2 juga si Bro Soli.
Diresapi dulu ayat diatas.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 17, 2014, 07:23:08 AM
37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37 ITB)

Hahahaha...
Belum sadar2 juga si Bro Soli.
Diresapi dulu ayat diatas.


Yohanes 7:24   Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil."

1 Korintus 6:2   Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?

Sadarlah bahwa menghakimi boleh dilakukan asal dengan adil !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on August 17, 2014, 01:28:27 PM

Yohanes 7:24   Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil."
Soli, (imo) kata "menghakimi" pada ayat yg phooey kasih itu ama ayat Yohanes diatas BERBEDA pengertiannya.

Yesus bilang :  Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?

Kalo dilanjutin kalimat selanjutnya : Mengapa kamu berusaha membunuh Aku ? menurut apa yang nampak ?

IMO, itu didalam konteks, yang ceritanya yang dihakimin itu tidak bersalah.

Sedangkan ayat yg dari phoey :
(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

diayat ini, "selumbar" itu eksis.
So (imo), ini didalam konteks yang ceritanya yg dihakimin itu memang ada kesalahan, dimana si "hakim"nya itu sendiri bukan orang yang layak sebagai hakim, si "hakim" ini orang2 secara umum/general ... kayak model yang begimana orang yang layak sebagai hakim, ya gak tau juga ... namun secara general ungu tentu jauh lebih sedikit drpd orang2 umum. Dan ini setidaknya keliatan dari ayat yang soli sendiri ajukan :

1 Korintus 6:2   Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang KUDUS akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?

Quote
Sadarlah bahwa menghakimi boleh dilakukan asal dengan adil !
So, (imo) ada baiknya kita bedakan dulu pengertian kata "menghakimi". Kata "menghakimi" yang ayat dr phooey - samasekali nggak lagi ngomongin : boleh dilakukan asal dengan adil!.

Bedakan juga antara "keputusan akhir" dengan "pendakwaan".
Dari kronologi keputusan layak di dakwa menuju ke keputusan akhir bhw yg didakwa benar / salah dimana selanjutnya disertai sangsi ---> disinilah proses keadilan.

Sepertinya secara general, kita kadang mengalami kerancuan ... dimana event ijo itu sendiri kadang sering kita anggep itu = menghakimi.

eh... tapi nggak tau juga dink... itu cuma pendapat secara logik saya aja :D.
yang bener2 tau - tentu orang2 lulusan perhukuman...hehehe...

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 18, 2014, 04:55:47 AM
Soli, (imo) kata "menghakimi" pada ayat yg phooey kasih itu ama ayat Yohanes diatas BERBEDA pengertiannya.

Yesus bilang :  Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?

Kalo dilanjutin kalimat selanjutnya : Mengapa kamu berusaha membunuh Aku ? menurut apa yang nampak ?

IMO, itu didalam konteks, yang ceritanya yang dihakimin itu tidak bersalah.

Sedangkan ayat yg dari phoey :
(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

diayat ini, "selumbar" itu eksis.
So (imo), ini didalam konteks yang ceritanya yg dihakimin itu memang ada kesalahan, dimana si "hakim"nya itu sendiri bukan orang yang layak sebagai hakim, si "hakim" ini orang2 secara umum/general ... kayak model yang begimana orang yang layak sebagai hakim, ya gak tau juga ... namun secara general ungu tentu jauh lebih sedikit drpd orang2 umum. Dan ini setidaknya keliatan dari ayat yang soli sendiri ajukan :

1 Korintus 6:2   Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang KUDUS akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?


Manusia tidak dilarang untuk menghakimi :

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Jadi menghakimi itu tidak salah kalau caranya benar.



Quote
Quote
Sadarlah bahwa menghakimi boleh dilakukan asal dengan adil !
So, (imo) ada baiknya kita bedakan dulu pengertian kata "menghakimi". Kata "menghakimi" yang ayat dr phooey - samasekali nggak lagi ngomongin : boleh dilakukan asal dengan adil!.

Bedakan juga antara "keputusan akhir" dengan "pendakwaan".
Dari kronologi keputusan layak di dakwa menuju ke keputusan akhir bhw yg didakwa benar / salah dimana selanjutnya disertai sangsi ---> disinilah proses keadilan.

Sepertinya secara general, kita kadang mengalami kerancuan ... dimana event ijo itu sendiri kadang sering kita anggep itu = menghakimi.

eh... tapi nggak tau juga dink... itu cuma pendapat secara logik saya aja .
yang bener2 tau - tentu orang2 lulusan perhukuman...hehehe...


Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal,ampunilah dia  - Luk.17:3)

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran  - 2 Tim.4:2

Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman - Titus 1 : 13)

Kalau kita menghakimi berdasarkan kebenaran Alkitab maka bukan kita tetapi Kitab Suci itu sendirilah yang menjadi hakimnya (Yoh.12:48).

Yang dilarang oleh Mat.7:5 adalah menghakimi secara munafik bukan tidak boleh menghakimi.



Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on August 28, 2014, 01:20:11 PM

Manusia tidak dilarang untuk menghakimi :

•   Allah menyuruh Yehezkiel menghakimi orang Israel (Yeh.20:4)
•   Orang benar dan saleh menghakimi ( Yeh.23:45)
•   Menghakimi menurut Hukum Tuhan ( Yeh.44:24)
•   Menghakimi oleh orang yang tidak bersunat ( Roma 2:27)
•   Menghakimi didalam jemaat (1 Kor.5:12)
•   Orang kudus menghakimi dunia (1 Kor.6:2)
•   Kita menghakimi Malaikat ( 1 Kor.6:3)
•   Menghakimi harus secara adil ( Yoh.7:24)

Jadi menghakimi itu tidak salah kalau caranya benar.

oke mas..
andaikata memang bener, bahwa semua orang boleh menghakimi...

tentu kan ada golongan orang-orang yang TIDAK LAYAK / KURANG PANTAS untuk menghakimi olrang lain kan?

menurut mas soli...
mengapa mas soli merasa dirinya sudah layak / kompeten untuk menghakimi?

thanks bro..
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 29, 2014, 07:30:04 PM
oke mas..
andaikata memang bener, bahwa semua orang boleh menghakimi...

tentu kan ada golongan orang-orang yang TIDAK LAYAK / KURANG PANTAS untuk menghakimi olrang lain kan?

menurut mas soli...
mengapa mas soli merasa dirinya sudah layak / kompeten untuk menghakimi?

thanks bro..


Sejak kapan pula saya mengaku bahwa saya menghakimi ?

Kalau menunjukkan adanya kesalahan doktrin gereja kristen lain itu adalah kewajiban saya sesuai dengan ajaran Kitab Suci:

2 Timotius 4:2
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlahdan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Anda yang sudah menghakimi saya dengan tuduhan palsu !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on August 29, 2014, 09:59:36 PM

Sejak kapan pula saya mengaku bahwa saya menghakimi ?

Kalau menunjukkan adanya kesalahan doktrin gereja kristen lain itu adalah kewajiban saya sesuai dengan ajaran Kitab Suci:

2 Timotius 4:2
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlahdan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Anda yang sudah menghakimi saya dengan tuduhan palsu !

lha itu barusan apa mas...

mas soli kan baru saja memberikan contoh..
bahwa soli menghakimi gereja kristen lain doktrinnya salah..

salah-nya itu adalah berdasarkan Penilaian Soli setelah soli baca-baca Alkitab..
kemudian soli merasa dirinya sudah mampu menginterpretasi-kan Alkitab persis seperti Tuhan sendiri..
dan Soli juga menginterpretasikan kutipan, sehingga seolah-olah sedang membayangkan dirinya lagi menjalankan perintah Tuhan..
maka soli menghakimi alias memvonis: gereja kristen itu doktrin-nya salah...

nah..
balik lagi ke pertanyaan saya mas
mengapa mas soli merasa dirinya sudah layak / kompeten untuk menghakimi?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 29, 2014, 10:59:53 PM
lha itu barusan apa mas...

mas soli kan baru saja memberikan contoh..
bahwa soli menghakimi gereja kristen lain doktrinnya salah..

salah-nya itu adalah berdasarkan Penilaian Soli setelah soli baca-baca Alkitab..
kemudian soli merasa dirinya sudah mampu menginterpretasi-kan Alkitab persis seperti Tuhan sendiri..
dan Soli juga menginterpretasikan kutipan, sehingga seolah-olah sedang membayangkan dirinya lagi menjalankan perintah Tuhan..
maka soli menghakimi alias memvonis: gereja kristen itu doktrin-nya salah...

nah..
balik lagi ke pertanyaan saya mas
mengapa mas soli merasa dirinya sudah layak / kompeten untuk menghakimi?



Peraturan Umum ForumImanKristen

Board Diskusi dikategorikan menjadi 3 kategori berdasar kategori partisipan diskusi:.

•   Diskusi Trinitarian: HANYA untuk mendiskusikan ajaran2 Kristen Trinitarian, HANYA dikhususkan bagi member Kristen Trinitarian


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on August 30, 2014, 06:20:51 AM
Beginilah akibatnya jika setiap orang diberikan kebebasan menafsir Alkitab sendiri.
Akibatnya kebablasan seperti si soli ini.
Semua ayat dibaca lalu disangkut-sangkutkan.

Kayak orang muslim mencoba menafsir Alkitab.

Gara-gara kamu luther...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on August 30, 2014, 08:02:22 AM

Peraturan Umum ForumImanKristen

Board Diskusi dikategorikan menjadi 3 kategori berdasar kategori partisipan diskusi:.

•   Diskusi Trinitarian: HANYA untuk mendiskusikan ajaran2 Kristen Trinitarian, HANYA dikhususkan bagi member Kristen Trinitarian

itu penyakit jaka sembung kok gak sembuh-sembuh juga sih?

btw..
yang soli HAKIMI dengan Vonis: Doktrin Gereja-nya Salah itu Trinitarian kan??
berarti SOLI adalah non-Trinitatrian yah?

lah situ kok masih disini??

Kalo saya dari dulu ENGGA BERUBAH sama sekali kok..
coba cek history saya..

Saya mengakui Trinitas BUKAN KARENA ada / tidak ada ayatnya kok...

yang HOBI menghakimi orang lain pakai alasan ada/tidak ada ayat itu SOLI lho.... BUKAN saya..
oleh karenanya..
Soli sangat HIPOKRIT kalau Soli TIDAK BERANI untuk MENGHAKIMI DIRINYA SENDIRI dengan menggunakan alat ukur yg sama yg dipakai untuk menghakimi orang lain...

cuma segitu doang beraninya?
buat orang lain doang?
kalo buat pendetong nya sendiri gak berani yah??

coba..
Soli sudah pernah berapa kali MENUNJUKKAN dan MENGKOREKSI KEKELIRUAN PEMAHAMAN pendetong-nya?
berani engga?
paling cuma manggut-manggut doang...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 30, 2014, 08:19:35 AM
itu penyakit jaka sembung kok gak sembuh-sembuh juga sih?

btw..
yang soli HAKIMI dengan Vonis: Doktrin Gereja-nya Salah itu Trinitarian kan??
berarti SOLI adalah non-Trinitatrian yah?

lah situ kok masih disini??

Kalo saya dari dulu ENGGA BERUBAH sama sekali kok..
coba cek history saya..

Saya mengakui Trinitas BUKAN KARENA ada / tidak ada ayatnya kok...

yang HOBI menghakimi orang lain pakai alasan ada/tidak ada ayat itu SOLI lho.... BUKAN saya..
oleh karenanya..
Soli sangat HIPOKRIT kalau Soli TIDAK BERANI untuk MENGHAKIMI DIRINYA SENDIRI dengan menggunakan alat ukur yg sama yg dipakai untuk menghakimi orang lain...

cuma segitu doang beraninya?
buat orang lain doang?
kalo buat pendetong nya sendiri gak berani yah??

coba..
Soli sudah pernah berapa kali MENUNJUKKAN dan MENGKOREKSI KEKELIRUAN PEMAHAMAN pendetong-nya?
berani engga?
paling cuma manggut-manggut doang...


Peraturan Umum Forum ImanKristen

Board Diskusi dikategorikan menjadi 3 kategori berdasar kategori partisipan diskusi:.

•   Diskusi Trinitarian: HANYA untuk mendiskusikan ajaran2 Kristen Trinitarian, HANYA dikhususkan bagi member Kristen Trinitarian


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 30, 2014, 08:20:19 AM
Beginilah akibatnya jika setiap orang diberikan kebebasan menafsir Alkitab sendiri.
Akibatnya kebablasan seperti si soli ini.
Semua ayat dibaca lalu disangkut-sangkutkan.

Kayak orang muslim mencoba menafsir Alkitab.

Gara-gara kamu luther...


Alkitab mengajarkan Roh Kudus adalah pengajar yang sejati :

1 Yohanes 2:27   Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Itu kata Alkitab,tetapi gereja yang pakai tradisi bikinan manusia hanya bisanya bersandar kepada manusia padahal cara itu sudah dikutuk oleh Tuhan.

Yeremia 17:5   Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!

Silahkan saja kalau mau menjadi terkutuk !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on August 30, 2014, 08:22:04 AM

Alkitab mengajarkan Roh Kudus adalah pengajar yang sejati :

1 Yohanes 2:27   Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Itu kata Alkitab,tetapi gereja yang pakai tradisi bikinan manusia hanya bisanya bersandar kepada manusia padahal cara itu sudah dikutuk oleh Tuhan.

Yeremia 17:5   Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!

Silahkan saja kalau mau menjadi terkutuk !

jadi kalo mengandalkan kekuatan pendetong-nya boleh ya?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on August 30, 2014, 08:25:07 AM
jadi kalo mengandalkan kekuatan pendetong-nya boleh ya?


Peraturan Umum Forum ImanKristen

Board Diskusi dikategorikan menjadi 3 kategori berdasar kategori partisipan diskusi:.

•   Diskusi Trinitarian: HANYA untuk mendiskusikan ajaran2 Kristen Trinitarian, HANYA dikhususkan bagi member Kristen Trinitarian


Anggota non kristen yang provokator pengadu domba silahkan tahu diri dimana lapak diskusinya !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on August 30, 2014, 10:17:39 AM

Peraturan Umum Forum ImanKristen

Board Diskusi dikategorikan menjadi 3 kategori berdasar kategori partisipan diskusi:.

•   Diskusi Trinitarian: HANYA untuk mendiskusikan ajaran2 Kristen Trinitarian, HANYA dikhususkan bagi member Kristen Trinitarian


Anggota non kristen yang provokator pengadu domba silahkan tahu diri dimana lapak diskusinya !

eheueheueheuheu.....

soli...soli.....

bokap nyokap elo engga malu punya anak kaya elo bro??


1. Habis baca Alkitab --> merasa udah paham --> belagak sok kompeten menjadi Tuhan --> memvonis-vonis orang lain...

2. habis baca Forum Rules --> merasa udah paham --> belagak sok kompeten menjadi Admin --> memvonis-vonis orang lain....


Sayangnya bro...
1. Elo bukan Tuhan & Tuhan pun engga segitu-gitu-nya main menghakim-hakimi gitu
2. Elo bukan Admin & Admin pun engga segitu-gitu-nya main menghakim-hakimi gitu..


 :lol:

kasian banget sih elo bro...
in real life.. kayanya elo pasti one hell of a asocial person yah?
i can imagine how miserable the life you must have been living, yah?
tyring to get acknowledged by others..... but... in the online world....

hehe....
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on August 30, 2014, 11:48:11 AM

Alkitab mengajarkan Roh Kudus adalah pengajar yang sejati :

1 Yohanes 2:27   Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Itu kata Alkitab,tetapi gereja yang pakai tradisi bikinan manusia hanya bisanya bersandar kepada manusia padahal cara itu sudah dikutuk oleh Tuhan.

Yeremia 17:5   Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!

Silahkan saja kalau mau menjadi terkutuk !

Berarti saya tidak perlu mengindahkan perkataan tololmu ini soli.
Sebab Alkitab bilang begitu : "tidak perlu kamu diajari orang lain"

Itu artinya semua omonganmu ini salah, kata Alkitab loh..
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on August 30, 2014, 04:28:23 PM
eheueheueheuheu.....

soli...soli.....

bokap nyokap elo engga malu punya anak kaya elo bro??


1. Habis baca Alkitab --> merasa udah paham --> belagak sok kompeten menjadi Tuhan --> memvonis-vonis orang lain...

2. habis baca Forum Rules --> merasa udah paham --> belagak sok kompeten menjadi Admin --> memvonis-vonis orang lain....


Sayangnya bro...
1. Elo bukan Tuhan & Tuhan pun engga segitu-gitu-nya main menghakim-hakimi gitu
2. Elo bukan Admin & Admin pun engga segitu-gitu-nya main menghakim-hakimi gitu..


 :lol:

kasian banget sih elo bro...
in real life.. kayanya elo pasti one hell of a asocial person yah?
i can imagine how miserable the life you must have been living, yah?
tyring to get acknowledged by others..... but... in the online world....

hehe....


Hati hati bro, nanti anda di banned oleh admin Solitong, lhoh

Hua ha ha ha ha ha ha ha ha

 :rofl: :rofl: :rofl: :rofl:
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on August 31, 2014, 11:45:14 AM
Jika para hamba Tuhan yang mengajar dan berkhotbah dianggap menghakimi ketika mengatakan hal yang benar, lalu siapakah yang pantas jadi pengajar dan pengkhotbah?
soli,

saya sependapat dgn kalimat soli diatas.
Namun (imo) kita harus teliti lebih jauh lagi, standard "yang benar" itu mengacu dari mana ?

secara didalam keKristenan, saya simpulkan bisa ada dua ukuran :
1. dari peraturan + ajaran (doktrin/dogma) aliran TIAP gereja ybs UNTUK para member gereja itu sendiri.
2. dari peraturan + ajaran (doktrin/dogma) SEMUA gereja Kristen UNTUK semua orang yang bilang dirinya atopun dibilang oleh orang lain sbg orang Kristen.

Quote
jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, Pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain.
Nah, disini artinya Pendeta ini "nyebrang". Dia mengacu standard "yg benar" yg berasal dari kelompoknya lalu dibandingkan ke standard "yg benar" yg ada pada kelompok lain.

IMO, ini adalah perbuatan sia sia .... KECUALI, dari perwakilan tiap2 gereja yg masing2 mempunyai standard "yg benar" itu berkumpul dan mengadakan sidang. Dimana nanti atas kesepakatan bersama, ditentukan satu standard yg berlaku bagi SEMUA gereja seperti di point-2.


Selama gak ada "sidang bersama", ampe botak conge-an pun kalo tereak2nya standard "yang benar" adalah Alkitab gak akan bisa "ketemu", karena masing2 pihak juga tereak hal yg sama.


Namun dilain sisi, melakukan "sidang bersama" bisa juga = konyol APABILA di jaman baheula itu sendiri sudah pernah disepakati bhw masing2 pihak "di-layak-kan" mempunyai standard "yang benar"-nya sendiri2.


gak usah jauh2, ilustrasi secara analog-nya adalah perihal sunat.
DULU, pernah kejadian "rame", yg satu tereak "harus sunat berdasarkan perintah Allah" - yg satu lagi tereak "gak harus sunat berdasarkan perintah RK". Setelah itu sidang, lalu disepakati bhw masing2 pihak "di-layak-kan" mempunyai standard "yang benar".

SEKARANG, eh tau tau misalnya ada satu pihak yg tereak2 bhw sunat = standard "yang benar" --- atopun viceversa, satu pihak tereak2 bhw tidak harus sunat = standard "yang benar". Maka dengan mengadakan sidang lagi di jaman sekarang mengenai hal ini, ya = konyol :D ... karena ungu.


anyway, diadakan sidang ato kagak mengenai perihal ini - mengingat masing2 mempunyai standard "yang benar" - maka (imo) masing2 pihak pantesnya itu ya berada tetep di point-1.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on August 31, 2014, 12:41:17 PM
IMO, kalimat "jangan menghakimi" yang keluar dari mulut Yesus adalah didalam kondisi bahwa mr.X memang melakukan kesalahan dalam kehidupan sehari hari berdasarkan acuan dari standard "yang bener" secara general (bukan per kelompok) terhadap mr.Y DIMANA mr.Y pun sebenernya pernah melakukan kesalahan thdp orang lain (dalam kehidupan sehari hari).

Mengalami perlakuan mr.X ini, tindakan mr.Y possible sbb :
1. mengajukan kasusnya ke pengadilan
2. melakukan aksi punishment
3. berkoar2 bhw mr.X itu melakukan kesalahan
4. memaafkan

IMO, point ajaran-nya adalah no.4 bukan no.1 - 2 - 3.
Point-4 itu possible berangkat dari "menimbang"nya mr.Y thdp diri mr.Y sendiri : "apakah kesalahan mr.X ampe sebegitu perlunya di no-1/2/3 kan ? apakah saya sendiri tidak pernah melakukan kesalahan yg dimana kesalahan saya ini sendiri saya pikir tidak perlu sampe di no.1/2/3kan ?"

(37) Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 01, 2014, 10:57:13 AM
soli,

saya sependapat dgn kalimat soli diatas.
Namun (imo) kita harus teliti lebih jauh lagi, standard "yang benar" itu mengacu dari mana ?

secara didalam keKristenan, saya simpulkan bisa ada dua ukuran :
1. dari peraturan + ajaran (doktrin/dogma) aliran TIAP gereja ybs UNTUK para member gereja itu sendiri.
2. dari peraturan + ajaran (doktrin/dogma) SEMUA gereja Kristen UNTUK semua orang yang bilang dirinya atopun dibilang oleh orang lain sbg orang Kristen.


Setiap ajaran gereja harus diuji oleh satu satunya dasar atau pilar gereja yaitu Kitab Suci wahyu Allah.

Diluar itu hanya plangnya saja gereja diluar  tetapi isinya hanya organisasi keagamaan belaka karena dia bukan tubuh Kristus yang sebenarnya.


Quote
Quote
jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, Pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain.
Nah, disini artinya Pendeta ini "nyebrang". Dia mengacu standard "yg benar" yg berasal dari kelompoknya lalu dibandingkan ke standard "yg benar" yg ada pada kelompok lain.

IMO, ini adalah perbuatan sia sia .... KECUALI, dari perwakilan tiap2 gereja yg masing2 mempunyai standard "yg benar" ituberkumpul dan mengadakan sidang. Dimana nanti atas kesepakatan bersama, ditentukan satu standard yg berlaku bagi SEMUA gereja seperti di point-2.

Selama gak ada "sidang bersama", ampe botak conge-an pun kalo tereak2nya standard "yang benar" adalah Alkitab gak akan bisa "ketemu", karena masing2 pihak juga tereak hal yg sama.


Namun dilain sisi, melakukan "sidang bersama" bisa juga = konyol APABILA di jaman baheula itu sendiri sudah pernah disepakati bhw masing2 pihak "di-layak-kan" mempunyai standard "yang benar"-nya sendiri2.


gak usah jauh2, ilustrasi secara analog-nya adalah perihal sunat.
DULU, pernah kejadian "rame", yg satu tereak "harus sunat berdasarkan perintah Allah" - yg satu lagi tereak "gak harus sunat berdasarkan perintah RK". Setelah itu sidang, lalu disepakati bhw masing2 pihak "di-layak-kan" mempunyai standard "yang benar".

SEKARANG, eh tau tau misalnya ada satu pihak yg tereak2 bhw sunat = standard "yang benar" --- atopun viceversa, satu pihak tereak2 bhw tidak harus sunat = standard "yang benar". Maka dengan mengadakan sidang lagi di jaman sekarang mengenai hal ini, ya = konyol  ... karena ungu.


anyway, diadakan sidang ato kagak mengenai perihal ini - mengingat masing2 mempunyai standard "yang benar" - maka (imo) masing2 pihak pantesnya itu ya berada tetep di point-1.


Satu satunya standard dimana gereja harus berdiri bukan peraturan atau tradisi intern bikinan gereja tsb melainkan semua wahyu Tuhan yang harus menjadi fondasi dan pilar gereja kalau dia masih mengaku dirinya sebagai gereja kristen.

Semua tradisi dan ajaran gereja harus diuji oleh Kitab Suci karena itu adalah perintah Tuhan sendiri yang harus dipatuhi oleh semua gereja kristen.

1 Tesalonika 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

Nabi juga adalah orang biasa yang berdosa malah Petrus saja yang Rasul masih sering melakukan kesalahan dan pernah ditegur oleh Yesus dan Paulus.

Tugas menyadarkan kekeliruan adalah tugas semua orang Kristen yang bertanggungjawab.

Tidak perlu ijin khusus dari Tuhan untuk seseorang menegor atau menyatakan kesalahan karena sekarang tidak ada lagi wahyu langsung dari Allah tetapi tugas tugas mereka berada dipundak semua orang percaya yang bertanggungjawab atas imannya,karena Kitab Suci sudah lengkap dan sempurna tersedia bagi semua orang percaya sebagai pedoman hidup beriman.

Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus jadi tanpa dasar Hukum Kristus dia bukanlah gereja kristen.

Kalau gereja tidak mengaku Kitab Suci sebagai fondasinya maka dia bukanlah gereja yang terhisap didalam tubuh Kristus.

Efesus 2:19,20 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Kebenaran Kitab Suci tidak relatif tetapi absolut sehingga bukan seperti karet yang bisa ditarik molor kesana kemari menurut keinginan orang.

Ada metode penafsiran (hermeneutika) yang baku dan obyektif bagaimana Kitab Suci harus dipahami bukan bisa seenaknya diputar-belit mengikuti kemauan mereka.

Disamping itu juga ada Roh Kudus didalam setiap diri orang kristen yang memberikan pencerahan bagaimana memahami Kitab Suci yang di-inspirasikan sendiri oleh-Nya untuk ditulis oleh para Nabi dan Rasul.

Kalau kita menegor atau pakai bahasa Kitab Suci “menghakimi” berdasarkan kebenaran Kitab Suci maka bukan kita hakimnya tetapi Kitab Suci itu sendiri yang akan menjadi hakimnya :

Yohanes 12:48
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

Tidak ada toleransi didalam kebenaran kristen sebab kita harus lebih takut kepada murka Tuhan ketimbang manusia.

Persatuan harus didalam kebenaran Firman Tuhan,inilah persatuan yang sejati karena persatuan tidak boleh dengan mengorbankan kebenaran Tuhan.

Roma 1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.

Ibrani 12:29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Kompromi ajaran Kitab Suci hanya akan menghancurkan gereja itu sendiri karena semua anggota gereja kelak akan berdiri dimuka Hakim Agung Tuhan Yesus untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidupnya,pada saat itu tidak akan ada kesempatan untuk memperbaiki diri lagi.

Kompromi kebenaran Kitab Suci adalah tragedi bagi gereja.

Kata Yunani Perjanjian Baru yang paling sering diterjemahkan "hakim" atau "penghakiman" adalah "krino". Di satu sisi, itu berarti “membedakan, memutuskan, menentukan, menyimpulkan, menguji, memikirkan, dan mempertanyakan”. Itulah yang Tuhan ingin anak-anakNya lakukan kepada setiap pengkhotbah, guru, dan ajaran mereka apakah benar atau salah sesuai dengan FirmanNya.

The New Testament Greek Lexicon

KJV (114) - call in question 2; condemn, 5; determine, 7; esteem, 2; go to law, 2; judge, 88; misc, 8;

Note:

Angka menunjukkan banyaknya ayat yg menggunakan istilah tsb didalam Alkitab.

Banyak orang Kristen seolah olah terbelenggu oleh semacam ketakutan sehingga tidak berani bersaksi bagi kebenaran Tuhan,mereka telah membungkam kesaksian mereka sendiri. Mereka lebih suka mengkompromikan iman ketimbang mempertahankan kebenaran, lebih suka berdamai dengan masyarakat yang tidak bermoral ketimbang berdiri teguh didalam kebenaran dan integritas iman .

Mereka tidak bisa melepaskan diri dari  belenggu gaya hidup modern masyarakat sekitarnya,dan enggan untuk melakukan tugas tugas Kristen yang bersifat kenabian atau kerasulan misalnya apologetika.

Toleransi sudah menjadi kebaikan terakhir  dari masyarakat modern model begini.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 01, 2014, 11:17:16 AM
IMO, kalimat "jangan menghakimi" yang keluar dari mulut Yesus adalah didalam kondisi bahwa mr.X memang melakukan kesalahan dalam kehidupan sehari hari berdasarkan acuan dari standard "yang bener" secara general (bukan per kelompok) terhadap mr.Y DIMANA mr.Y pun sebenernya pernah melakukan kesalahan thdp orang lain (dalam kehidupan sehari hari).

Mengalami perlakuan mr.X ini, tindakan mr.Y possible sbb :
1. mengajukan kasusnya ke pengadilan
2. melakukan aksi punishment
3. berkoar2 bhw mr.X itu melakukan kesalahan
4. memaafkan

IMO, point ajaran-nya adalah no.4 bukan no.1 - 2 - 3.
Point-4 itu possible berangkat dari "menimbang"nya mr.Y thdp diri mr.Y sendiri : "apakah kesalahan mr.X ampe sebegitu perlunya di no-1/2/3 kan ? apakah saya sendiri tidak pernah melakukan kesalahan yg dimana kesalahan saya ini sendiri saya pikir tidak perlu sampe di no.1/2/3kan ?"

(37) Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

:)
salam.


MENGHAKIMI/MENEGOR YANG BENAR

1.Jangan menghakimi menurut apa yang tampak tetapi dengan adil (Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil – Yoh.7:24)

2.Memberikan pengampunan  (Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal,ampunilah dia  - Luk.17:3)

3.Tegur sebagai seorang saudara (Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu – 1Tim.5:1)

4.Dengan kesabaran dan penuh pengajaran  (Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran  - 2 Tim.4:2)

5.Dengan sikap yang tegas Kesaksian itu benar. (Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman - Titus 1 : 13)

6.Hakimi dulu diri sendiri sebelum menghakimi orang lain : ("Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu - Mat.7:5 )

Kalau kita menghakimi berdasarkan kebenaran Alkitab maka bukan kita tetapi Kitab Suci itu sendirilah yang menjadi hakimnya (Yoh.12:48).

Yang dilarang oleh Mat.7:5 adalah menghakimi secara munafik bukan tidak boleh menghakimi.

Matius 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Sebagai orang Kristen kita harus menjadi terang dunia bukan '',jadi dimanapun kita berada kita harus bisa menyatakan kebenaran Allah menjadi terang benderang tidak dimanipulasi karena kebenaran Allah bersifat mutlak atau absolut bukan relatif.

apakah maksudnya terang disini ?

1.   MAKSUD DARI TERANG ADALAH UNTUK DILIHAT

Kekristenan adalah sesuatu yang untuk dapat dilihat secara nyata,didalam  Kekristenan tidak ada istilah mengikut Yesus secara sembunyi sembunyi.Ketersembunyian itu hanya akan menghancurkan  Kekristenan,membuatnya menjadi kerdil tidak berkembang.Kekristenan harus menghancurkan ketersembunyian,kalau seseorang menjadi Kristen,maka kekristenannya haruslah dapat dilihat secara nyata didalam kehidupannya.Kekristenan tidak boleh hanya terlihat didalam gereja belaka karena Tuhan Yesus  tidak mengatakan kamu adalah “terang gereja” melainkan menjadi terang dunia.

2.   TERANG ADALAH PEMBIMBING ATAU PENUNJUK JALAN

Terang adalah sesuatu yang menerangi jalan atau ruangan,terang menjadi pembimbing pada jalan yang aman dan baik. Orang Kristen haruslah dapat menjadi jalan dan terang bagi orang lain dalam arti menjadi contoh tauladan bagaimana seharusnya hidup didunia yang fana ini. Sebagai terang yang bersumber dari terangnya Yesus maka kita harus membuka kedok semua kegelapan yang sudah mereduksi kebenaran Kitab Suci.

3.   TERANG YANG MEMBERI PERINGATAN

Setiap orang Kristen mempunyai tugas untuk memberikan peringatan dini kepada sesamanya akan bahayanya atas penyimpangan dari Firman Tuhan.

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali - Mat.18:15)

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran  - 2 Tim.4:2

Jadi sebagai kesimpulan,orang Kristen harus menjadi terang yang dapat dilihat,terang yang memberi petunjuk serta pengarahan dan terang yang dapat memberikan peringatan akan adanya bahaya.

(http://i61.tinypic.com/or7z0j.jpg)

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 04, 2014, 02:15:00 AM


Jadi sebagai kesimpulan,orang Kristen harus menjadi terang yang dapat dilihat,terang yang memberi petunjuk serta pengarahan dan terang yang dapat memberikan peringatan akan adanya bahaya.

(http://i61.tinypic.com/or7z0j.jpg)

Ahh.. itu kan kata kamu saja,.. soli....

Mending ikut Alkitab aja daripada ikutin kata-katamu..
Manatau salah tuh
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 05, 2014, 06:40:38 PM
Ahh.. itu kan kata kamu saja,.. soli....

Mending ikut Alkitab aja daripada ikutin kata-katamu..
Manatau salah tuh

Kalau ikut Alkitab kok berdoa dan menyembah Maria dan roh roh orang mati sih ?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: salt on September 05, 2014, 07:22:59 PM
Mustinya ikut apa kata cak LonTong? Jadi solitong?

;D ;D ;D
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: odading on September 05, 2014, 11:50:23 PM

Setiap ajaran gereja harus diuji oleh satu satunya dasar atau pilar gereja yaitu Kitab Suci wahyu Allah.
dan ajaran gereja tsb, ada yang fundamental - ada yang nggak fundamental secara bagi keseluruhan keKristenan. Bener gak saya ?


Quote
Satu satunya standard dimana gereja harus berdiri bukan peraturan atau tradisi intern bikinan gereja tsb
bukankah saat ini sekalipun bukan yg gereja Katolik, ada diantara gereja Protestan yang mempunyai "tradisi intern" bikinan gereja tsb ?

Quote
Semua tradisi dan ajaran gereja harus diuji oleh Kitab Suci karena itu adalah perintah Tuhan sendiri yang harus dipatuhi oleh semua gereja kristen.

1 Tesalonika 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
Ayat yg soli ajukan tidak menyatakan bold.

IMO, in reality - masing2 gereja-LAH yg menentukan/memutuskan bentuk2 yang kayak begimanakah yg dipegang.


Quote
Tugas menyadarkan kekeliruan adalah tugas semua orang Kristen yang bertanggungjawab.
begimana dinyatakan itu "kekeliruan" sementara hal yang "keliru" itu tidak bisa di acu berlaku secara global ?

Selain itu,
begimana mr.X menyatakan ke mr.Y : "kamu itu keliru !" sementara mr.X itu sendiri juga sedang keliru di pov mr.Y ?


Quote
Tidak perlu ijin khusus dari Tuhan untuk seseorang menegor atau menyatakan kesalahan karena sekarang tidak ada lagi wahyu langsung dari Allah
bold, begitukah ? IMO, "problem"nya.... mengenai perihal ini kan cakupannya tidak secara global-instant, soli.

contoh misal secara global-instant :
Cuplis merampok lalu membunuh yg dirampok ---> ini tentu tidak perlu ijin ke Tuhan utk menyatakan bhw Cuplis bersalah.

tidak secara global-instant :
"kasus"nya sirkular.
- state A bilang XXX
- dari state A, muncul state B yg bilang YYY
- dari state B, muncul state C yg bilang ZZZ
- dari state C, possible muncul state D yang bilang XXX
- dari state D, possible mucul state E yang bilang YYY
- dst
Nah, dari sini menjadi tidak jelas - yang mana yang keliru ? XXX ? YYY ? ZZZ ? dst dst.

Quote
Tidak perlu ijin khusus dari Tuhan untuk seseorang menegor atau menyatakan kesalahan karena sekarang tidak ada lagi wahyu langsung dari Allah
bold, oh ya ? sepanjang pengetahuan saya ... (dan saya percaya), s/d jaman sekarangpun it's still possible sso mendapat wahyu langsung dari Allah (RK).

Q : kenapa odading berpendapat dan percaya secara demikian ?
A : karena saya, kita, manusia tidak bisa tau secara absolut rancangan Allah. So, If God desires to communicate His message to a person, He can use whatever means He finds necessary—a missionary, an angel, a vision, or a dream.

Q : dengan demikian, orang silahkan kayak kebo dicocok idung pabila mr.X bilang dapet visi dan menyatakan isi visi tsb ?
A : in some cases, ya possible ungu... namun in some other cases tidaklah demikian, karena possible ada orang lain lagi yg diberi visi oleh Allah utk meng-konfirmasi visi mr.X


Quote
tetapi tugas tugas mereka berada dipundak semua orang percaya yang bertanggungjawab atas imannya,karena Kitab Suci sudah lengkap dan sempurna tersedia bagi semua orang percaya sebagai pedoman hidup beriman.
silahkan soli bilang Kitab Suci sudah lengkap dan sempurna. Karena pada kenyataannya, interpretasinya berbeda-beda dimana masing2 pihak nge-claim pake RK.

Quote
Kalau gereja tidak mengaku Kitab Suci sebagai fondasinya maka dia bukanlah gereja yang terhisap didalam tubuh Kristus.
saya belum menemukan (atopun belon tahu) mengenai bold. Sepanjang pengetahuan saya, "badan" yang berpedoman Kitab Suci sebagai fondasinya ---> inilah yang disebut Gereja.

Quote
Kebenaran Kitab Suci tidak relatif tetapi absolut sehingga bukan seperti karet yang bisa ditarik molor kesana kemari menurut keinginan orang.
silahkan soli berpendapat bold. Pada kenyataannya, interpretasi manusia bisa berbeda-beda sekalipun sama2 berpendapat bold.

Quote
Ada metode penafsiran (hermeneutika) yang baku dan obyektif bagaimana Kitab Suci harus dipahami bukan bisa seenaknya diputar-belit mengikuti kemauan mereka.
sejak kapan bold eksis ? yg dimana diakui segala macem denom keKristenan itu = baku ?


Quote
Kalau kita menegor atau pakai bahasa Kitab Suci “menghakimi” berdasarkan kebenaran Kitab Suci maka bukan kita hakimnya tetapi Kitab Suci itu sendiri yang akan menjadi hakimnya :
Kitab Suci itu tidaklah literal suci, dan benda mati tidak bisa menjadi hakim. Hakim-nya tetap manusia berdasarkan acuan Kitab Suci dan thinking-ratio si manusia ybs.

Quote
Yohanes 12:48
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Yesus adalah Firman. So, Firman yang dikatakan Yesus ya logical menjadi hakimnya, karena Firman itu ya Yesus sendiri.

Quote
Tidak ada toleransi didalam kebenaran kristen sebab kita harus lebih takut kepada murka Tuhan ketimbang manusia.
takutlah atas murka Tuhan dengan apa yang ada pada diri sendiri dulu ketimbang buru2 ngurusin menuduh/menunjuk pihak lain itu bersalah.

Quote
Kompromi ajaran Kitab Suci hanya akan menghancurkan gereja itu sendiri karena semua anggota gereja kelak akan berdiri dimuka Hakim Agung Tuhan Yesus untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidupnya,pada saat itu tidak akan ada kesempatan untuk memperbaiki diri lagi.
masing2 pihak gereja tau mengenai hal ini.

Quote
Kompromi kebenaran Kitab Suci adalah tragedi bagi gereja.
siapa yang berkompromi ? A ? B ? C ? D ? E ?
Pabila tidak ada kompromi, maka tidak akan menimbulkan B C D E, dst.

Quote
Kata Yunani Perjanjian Baru yang paling sering diterjemahkan "hakim" atau "penghakiman" adalah "krino". Di satu sisi, itu berarti “membedakan, memutuskan, menentukan, menyimpulkan, menguji, memikirkan, dan mempertanyakan”. Itulah yang Tuhan ingin anak-anakNya lakukan kepada setiap pengkhotbah, guru, dan ajaran mereka apakah benar atau salah sesuai dengan FirmanNya.

The New Testament Greek Lexicon

KJV (114) - call in question 2; condemn, 5; determine, 7; esteem, 2; go to law, 2; judge, 88; misc, 8;
dan dari sini saja sudah tersirat adanya kompromi kan soli ?

Quote
Banyak orang Kristen seolah olah terbelenggu oleh semacam ketakutan sehingga tidak berani bersaksi bagi kebenaran Tuhan,mereka telah membungkam kesaksian mereka sendiri. Mereka lebih suka mengkompromikan iman ketimbang mempertahankan kebenaran, lebih suka berdamai dengan masyarakat yang tidak bermoral ketimbang berdiri teguh didalam kebenaran dan integritas iman .
bold adalah KASIH. Berdiri teguh didalam Kasih mempunyai degree yg "lebih tinggi" ketimbang underlined.

Quote
Mereka tidak bisa melepaskan diri dari  belenggu gaya hidup modern masyarakat sekitarnya,dan enggan untuk melakukan tugas tugas Kristen yang bersifat kenabian atau kerasulan misalnya apologetika.
sepanjang pengetahuan saya, tugas Kristen fokusnya ada di Kasih - tidak harus berupa yg bersifat kenabian/kerasulan ?

:)
salam.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 06, 2014, 03:15:47 AM
Kalau ikut Alkitab kok berdoa dan menyembah Maria dan roh roh orang mati sih ?

Ahh.. itu katamu saja , soli,..  (katamu kami berdoa menyembah maria)
Daripada ikut katamu, mending ikutin Alkitab saja.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 08, 2014, 11:22:14 AM
dan ajaran gereja tsb, ada yang fundamental - ada yang nggak fundamental secara bagi keseluruhan keKristenan. Bener gak saya ?


Yang tidak dijelaskan secara rinci misalnya seperti cara baptisan adalah tidak fundamental.

Ada hal hal yang secara prinsipil ditegaskan dan ini tidak boleh dikompromikan misalnya yang menyangkut karya keselamatan oleh Yesus Kristus.


Quote
Quote
Satu satunya standard dimana gereja harus berdiri bukan peraturan atau tradisi intern bikinan gereja tsb
bukankah saat ini sekalipun bukan yg gereja Katolik, ada diantara gereja Protestan yang mempunyai "tradisi intern" bikinan gereja tsb ?

Tradisi Gereja yang benar hanya berasal dari Kitab Suci

"The Bible is the mother of Tradition"


Quote
Quote
Semua tradisi dan ajaran gereja harus diuji oleh Kitab Suci karena itu adalah perintah Tuhan sendiri yang harus dipatuhi oleh semua gereja kristen.

1 Tesalonika 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
Ayat yg soli ajukan tidak menyatakan bold.

IMO, in reality - masing2 gereja-LAH yg menentukan/memutuskan bentuk2 yang kayak begimanakah yg dipegang.


Otoritas Kitab Suci firman Tuhan adalah tertinggi dan final serta absolut bagi ajaran gereja kristen,dan tidak boleh dimanipulasi oleh gereja / manusia.

Mazmur 11:3   Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?


Quote
Quote
Tugas menyadarkan kekeliruan adalah tugas semua orang Kristen yang bertanggungjawab.
begimana dinyatakan itu "kekeliruan" sementara hal yang "keliru" itu tidak bisa di acu berlaku secara global ?

Selain itu,
begimana mr.X menyatakan ke mr.Y : "kamu itu keliru !" sementara mr.X itu sendiri juga sedang keliru di pov mr.Y ?

Makanya jangan munafik / hipokrit kalau mengkritik atau menghakimi ajaran gereja.

Quote
Quote
Tidak perlu ijin khusus dari Tuhan untuk seseorang menegor atau menyatakan kesalahan karena sekarang tidak ada lagi wahyu langsung dari Allah
bold, begitukah ? IMO, "problem"nya.... mengenai perihal ini kan cakupannya tidak secara global-instant, soli.

contoh misal secara global-instant :
Cuplis merampok lalu membunuh yg dirampok ---> ini tentu tidak perlu ijin ke Tuhan utk menyatakan bhw Cuplis bersalah.

tidak secara global-instant :
"kasus"nya sirkular.
- state A bilang XXX
- dari state A, muncul state B yg bilang YYY
- dari state B, muncul state C yg bilang ZZZ
- dari state C, possible muncul state D yang bilang XXX
- dari state D, possible mucul state E yang bilang YYY
- dst
Nah, dari sini menjadi tidak jelas - yang mana yang keliru ? XXX ? YYY ? ZZZ ? dst dst.


Hanya satu kebenaran yang mutlak yaitu Hukum Tuhan yang melarang manusia membunuh sesamanya.


Quote
Quote
Tidak perlu ijin khusus dari Tuhan untuk seseorang menegor atau menyatakan kesalahan karena sekarang tidak ada lagi wahyu langsung dari Allah
bold, oh ya ? sepanjang pengetahuan saya ... (dan saya percaya), s/d jaman sekarangpun it's still possible sso mendapat wahyu langsung dari Allah (RK).

Q : kenapa odading berpendapat dan percaya secara demikian ?
A : karena saya, kita, manusia tidak bisa tau secara absolut rancangan Allah. So, If God desires to communicate His message to a person, He can use whatever means He finds necessary—a missionary, an angel, a vision, or a dream.

Q : dengan demikian, orang silahkan kayak kebo dicocok idung pabila mr.X bilang dapet visi dan menyatakan isi visi tsb ?
A : in some cases, ya possible ungu... namun in some other cases tidaklah demikian, karena possible ada orang lain lagi yg diberi visi oleh Allah utk meng-konfirmasi visi mr.X

Allah sudah melarang adanya wahyu baru :

Amsal 30:6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.

Mau taat kepada Tuhan atau manusia yang terbatas dan rentan dosa ?


Quote
Quote
tetapi tugas tugas mereka berada dipundak semua orang percaya yang bertanggungjawab atas imannya,karena Kitab Suci sudah lengkap dan sempurna tersedia bagi semua orang percaya sebagai pedoman hidup beriman.
silahkan soli bilang Kitab Suci sudah lengkap dan sempurna. Karena pada kenyataannya, interpretasinya berbeda-beda dimana masing2 pihak nge-claim pake RK.


Kitab Suci sudah sempurna penafsiran bisa berbeda karena tidak semua orang mendapat pencerahan dari Roh Kudus.

Demikian juga banyak orang yang hanya boleh pasif membaca Kitab Suci karena larangan keras dari gereja untuk boleh memahaminya sendiri.

Ada hal hal yang terang benderang tidak boleh dilanggar didalam Kitab Suci sehingga tidak boleh dimanipulasi penafsirannya,misalnya hanya Yesus satu satunya Juruselamat,Penebus,Pengantara manusia dgn Tuhan,Kepala Gereja dll.


Quote
Quote
Kalau gereja tidak mengaku Kitab Suci sebagai fondasinya maka dia bukanlah gereja yang terhisap didalam tubuh Kristus.
saya belum menemukan (atopun belon tahu) mengenai bold. Sepanjang pengetahuan saya, "badan" yang berpedoman Kitab Suci sebagai fondasinya ---> inilah yang disebut Gereja.


Kalau mengakunya demikian tetapi ajarannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus maka kelak dia akan ditolak oleh Yesus sebagai anggota Kerajaan-Nya di Sorga.

Matius 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!



Quote
Quote
Kebenaran Kitab Suci tidak relatif tetapi absolut sehingga bukan seperti karet yang bisa ditarik molor kesana kemari menurut keinginan orang.
silahkan soli berpendapat bold. Pada kenyataannya, interpretasi manusia bisa berbeda-beda sekalipun sama2 berpendapat bold.


Memang demikian karena tidak semua orang yang mengaku kristen akan masuk Surga sebab kelak Yesus mengatakan Dia tidak kenal !

Matius 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!


Quote
Quote
Ada metode penafsiran (hermeneutika) yang baku dan obyektif bagaimana Kitab Suci harus dipahami bukan bisa seenaknya diputar-belit mengikuti kemauan mereka.
sejak kapan bold eksis ? yg dimana diakui segala macem denom keKristenan itu = baku ?

Sepanjang sejarah selalu ada benang merah bagaimana menafsirkan secara benar berdasarkan pengalaman manusia yang mau belajar dengan baik dan benar.

Tetapi kalau umat diwajibkan hanya boleh membeo dan menelan mentah mentah ajaran gerejanya  maka jelas resikonya akan besar sekali kelak kalau gerejanya ternyata keliru.

Amsal 14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.


Quote
Quote
Kalau kita menegor atau pakai bahasa Kitab Suci “menghakimi” berdasarkan kebenaran Kitab Suci maka bukan kita hakimnya tetapi Kitab Suci itu sendiri yang akan menjadi hakimnya :
Kitab Suci itu tidaklah literal suci, dan benda mati tidak bisa menjadi hakim. Hakim-nya tetap manusia berdasarkan acuan Kitab Suci dan thinking-ratio si manusia ybs.


Yesus akan menggunakan Kitab Suci seperti misalnya hakim menggunakan KUHP didalam menghakimi manusia kelak,sehingga manusia tidak dapat menyangkal segala dosa dosanya selama hidupnya dibumi.


Bersambung

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 08, 2014, 11:22:55 AM
Sambungan

Quote
Quote
Yohanes 12:48
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Yesus adalah Firman. So, Firman yang dikatakan Yesus ya logical menjadi hakimnya, karena Firman itu ya Yesus sendiri.

Semua firman Kristus atau wahyu Kristus sudah ditulis kedalam Kitab Suci !

Diluar itu hanya tradisi bikinan manusia yang terbatas dan rentan dosa.


Quote
Quote
Tidak ada toleransi didalam kebenaran kristen sebab kita harus lebih takut kepada murka Tuhan ketimbang manusia.
takutlah atas murka Tuhan dengan apa yang ada pada diri sendiri dulu ketimbang buru2 ngurusin menuduh/menunjuk pihak lain itu bersalah.

Adalah kewajiban orang kristen untuk memperingatkan kalau ada kesalahan,silahkan baca lagi semua postingan saya sebelumnya.

Sory,ukuran anda tidak bisa dipakai didalam kekristenan.


Quote
Quote
Kompromi ajaran Kitab Suci hanya akan menghancurkan gereja itu sendiri karena semua anggota gereja kelak akan berdiri dimuka Hakim Agung Tuhan Yesus untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidupnya,pada saat itu tidak akan ada kesempatan untuk memperbaiki diri lagi.
masing2 pihak gereja tau mengenai hal ini.


Banyak yang tidak sadar akibat arogansi kekuasaan !


Quote
Quote
Kompromi kebenaran Kitab Suci adalah tragedi bagi gereja.
siapa yang berkompromi ? A ? B ? C ? D ? E ?
Pabila tidak ada kompromi, maka tidak akan menimbulkan B C D E, dst.


Hanya satu kebenaran yaitu apa yang diajarkan oleh Kitab Suci !


Quote
Quote
Kata Yunani Perjanjian Baru yang paling sering diterjemahkan "hakim" atau "penghakiman" adalah "krino". Di satu sisi, itu berarti “membedakan, memutuskan, menentukan, menyimpulkan, menguji, memikirkan, dan mempertanyakan”. Itulah yang Tuhan ingin anak-anakNya lakukan kepada setiap pengkhotbah, guru, dan ajaran mereka apakah benar atau salah sesuai dengan FirmanNya.

The New Testament Greek Lexicon

KJV (114) - call in question 2; condemn, 5; determine, 7; esteem, 2; go to law, 2; judge, 88; misc, 8;
dan dari sini saja sudah tersirat adanya kompromi kan soli ?


Itu bukan kompromi tetapi bagaimana seharusnya menafsirkan sesuai konteksnya didalam kalimat.

Makanya salah satu metode hermeneutika yg benar adalah melihat konteknya bukan sembarangan ditafsirkan diluar konteks.


Quote
Quote
Banyak orang Kristen seolah olah terbelenggu oleh semacam ketakutan sehingga tidak berani bersaksi bagi kebenaran Tuhan,mereka telah membungkam kesaksian mereka sendiri. Mereka lebih suka mengkompromikan iman ketimbang mempertahankan kebenaran, lebih suka berdamai dengan masyarakat yang tidak bermoral ketimbang berdiri teguh didalam kebenaran dan integritas iman .
bold adalah KASIH. Berdiri teguh didalam Kasih mempunyai degree yg "lebih tinggi" ketimbang underlined.

Kasih tidak boleh dengan mengorbankan kebenaran karena Tuhan selain kasih juga adalah kebenaran,termasuk firman-Nya.

Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yohanes 17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.


Quote
Quote
Mereka tidak bisa melepaskan diri dari  belenggu gaya hidup modern masyarakat sekitarnya,dan enggan untuk melakukan tugas tugas Kristen yang bersifat kenabian atau kerasulan misalnya apologetika.
sepanjang pengetahuan saya, tugas Kristen fokusnya ada di Kasih - tidak harus berupa yg bersifat kenabian/kerasulan ?

salam.

Itukan menurut anda tetapi firman Tuhan mengatakan :

2 Timotius 4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlahdan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Itulah tugas Nabi/Rasul yang harus diemban oleh orang percaya.

Salam !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 08, 2014, 11:25:46 AM
Ahh.. itu katamu saja , soli,..  (katamu kami berdoa menyembah maria)
Daripada ikut katamu, mending ikutin Alkitab saja.


Di Alkitab tidak ada ajaran seperti doa Rosario pakai tasbih dan scapular kepada roh orang yang sudah mati.

Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia infallible seperti gereja anda.

Ada banyak lagi ajaran Alkitab yang bertentangan dengan tradisi ajaran yang kamu praktekkan !

Jadi statement mu itu hanyalah isapan jempol belaka.


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on September 09, 2014, 08:15:02 AM

Di Alkitab tidak ada ajaran seperti doa Rosario pakai tasbih dan scapular kepada roh orang yang sudah mati.

Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia infallible seperti gereja anda.

Ada banyak lagi ajaran Alkitab yang bertentangan dengan tradisi ajaran yang kamu praktekkan !

Jadi statement mu itu hanyalah isapan jempol belaka.

maap mas soli...

saya udah beratus-ratus kali nanya ke mas soli...
tapi mas soli belum sempat atau belum berkenan menjawab-nya...

saya berdoa kepada Yesus Kristus, semoga Roh Kudus memberanikan hati mas soli untuk menjawab-nya kali ini..

Pertanyaan saya:
"Apakah Tafsiran Alkitab menurut solideo itu TIDAK MUNGKIN SALAH (atau dalam bahasa enggres: infallible)?"

semoga mas soli benar-benar bisa mendengarkan Roh Kudus, dan berani menjawab-nya..
kalau engga jawab juga.. berarti rasa-nya Roh Kudus yang selama ini disebut-sebut mas soli kayanya PALSU deh...

salam...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 04:36:48 AM
maap mas soli...

saya udah beratus-ratus kali nanya ke mas soli...
tapi mas soli belum sempat atau belum berkenan menjawab-nya...

saya berdoa kepada Yesus Kristus, semoga Roh Kudus memberanikan hati mas soli untuk menjawab-nya kali ini..

Pertanyaan saya:
"Apakah Tafsiran Alkitab menurut solideo itu TIDAK MUNGKIN SALAH (atau dalam bahasa enggres: infallible)?"

semoga mas soli benar-benar bisa mendengarkan Roh Kudus, dan berani menjawab-nya..
kalau engga jawab juga.. berarti rasa-nya Roh Kudus yang selama ini disebut-sebut mas soli kayanya PALSU deh...

salam...

Tafsiran soli yang menyalahkan tafsiran Gereja itu tidak mungkin salah.

Sehingga soli ini boleh dikata infalibel.

Paus dia...
(Cuma sayang, paus seperti ini tidak ada yg mengakui - kecuali dirinya sendiri)
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 04:38:55 AM

Di Alkitab tidak ada ajaran seperti doa Rosario pakai tasbih dan scapular kepada roh orang yang sudah mati.

Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia infallible seperti gereja anda.

Ada banyak lagi ajaran Alkitab yang bertentangan dengan tradisi ajaran yang kamu praktekkan !

Jadi statement mu itu hanyalah isapan jempol belaka.

Katamu bahwa kami berdoa kepada roh orang mati itu hanyalah ajaran palsu berasal dari otak kosongmu, soli.


Kamu tidak perlu mengajari kami tentang berdoa.

Sebab kami adalah pengikut Alkitab.

Di Alkitab tertulis: "Kita tidak perlu diajari".

1 Yohanes 2:27   Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 09:39:55 AM
Katamu bahwa kami berdoa kepada roh orang mati itu hanyalah ajaran palsu berasal dari otak kosongmu, soli.


Kamu tidak perlu mengajari kami tentang berdoa.

Sebab kami adalah pengikut Alkitab.

Di Alkitab tertulis: "Kita tidak perlu diajari".

1 Yohanes 2:27   Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.


Kamu diajari oleh magisteriumnya menyembah roh roh orang mati pakai doa bertele-tele dan menggunakan tasbih persis agama peganisme !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 09:42:41 AM

Kamu diajari oleh magisteriumnya menyembah roh roh orang mati pakai doa bertele-tele dan menggunakan tasbih persis agama peganisme !

Itu kan katamu. (yang tidak mengerti ajaran Alkitab sesungguhnya).

Orang tolol matematikan mengatakan bahwa dalil kalkulus profesor matematika salah.
Yah namanya juga buta matematika. mana ngerti.

Itulah kamu, soli.

Makanya kamu tidak perlu mengajari kami, soli.

Sebab ada tertulis: "Kita tidak perlu diajari"

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 09:47:46 AM
Itu kan katamu. (yang tidak mengerti ajaran Alkitab sesungguhnya).

Orang tolol matematikan mengatakan bahwa dalil kalkulus profesor matematika salah.
Yah namanya juga buta matematika. mana ngerti.

Itulah kamu, soli.

Makanya kamu tidak perlu mengajari kami, soli.

Sebab ada tertulis: "Kita tidak perlu diajari"

Camkan lagi doa rosariomu itu yang bertele tele memuja Maria berpuluh kali persis orang kafir merapalkan doa !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 09:50:16 AM
Camkan lagi doa rosariomu itu yang bertele tele memuja Maria berpuluh kali persis orang kafir merapalkan doa !

Camkan apanya?
Orang itu doa kamu tidak ngerti kok bisa-bisanya kamu protest.

Kalo mau protest harus mengerti dulu.

Sudah diberitahu  kamu itu mirip anak kecil ingin mendebat matematikawan lulusan S2.

Ya diketawain lah.. soliiii...soli...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 09:52:10 AM
Camkan apanya?
Orang itu doa kamu tidak ngerti kok bisa-bisanya kamu protest.

Kalo mau protest harus mengerti dulu.

Sudah diberitahu  kamu itu mirip anak kecil ingin mendebat matematikawan lulusan S2.

Ya diketawain lah.. soliiii...soli...


Doa rosario pakai tasbih itu adalah praktek gerejamu setiap hari anak kecilpun tahu,dan itu semua hanyalah model berdoa ala agama kafir yang penuh mantera dan tidak sama dgn ajaran Yesus didalam Alkitab bagaimana harus berdoa.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 09:54:39 AM

Doa rosario pakai tasbih itu adalah praktek gerejamu setiap hari anak kecilpun tahu,dan itu semua hanyalah model berdoa ala agama kafir yang penuh mantera dan tidak sama dgn ajaran Yesus didalam Alkitab bagaimana harus berdoa.

Ah.. itu kan anggapan dan tafsiran mu tentang Alkitab.

Mana tahu tafsiran mu itu salah.

Kalau membandingkan ajaran kami dengan tafsiran salah, yaaaaaaaaaaaa... tentu saja hasilnya akan salah juga. hahahah

Logika mu itu soli.


clearly your mouth is a step ahead of your brain, soli...
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 09:55:55 AM
Ah.. itu kan anggapan dan tafsiran mu tentang Alkitab.

Mana tahu tafsiran mu itu salah.

Kalau membandingkan ajaran kami dengan tafsiran salah, yaaaaaaaaaaaa... tentu saja hasilnya akan salah juga. hahahah

Logika mu itu soli.


clearly your mouth is a step ahead of your brain, soli...

Mana ada  ajaran dan praktek para Rasul berdoa pakai tasbih dan ditujukan kepada roh orang mati ??????

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 09:57:37 AM
Mana ada  ajaran dan praktek para Rasul berdoa pakai tasbih dan ditujukan kepada roh orang mati ??????

Nah itulah kebodohan mu dalam mempelajari ajaran kami itu, soli.

Reading comprehension is utterly required dalam membaca ajaran kami, soalnya dalam bahasa inggris sih, soli.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:00:18 AM
Nah itulah kebodohan mu dalam mempelajari ajaran kami itu, soli.

Reading comprehension is utterly required dalam membaca ajaran kami, soalnya dalam bahasa inggris sih, soli.

Seluruh gerejamu didunia diwajibkan berdoa rosario kepada roh orang orang yang sudah mati dan diangkat oleh Pausnya menjadi kudus itu dan itu sama sekali tidak ada ajaran Alkitabnya kecuali hanya tradisi palsu bikinan manusia berdosa doang gavin !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:03:23 AM
Seluruh gerejamu didunia diwajibkan berdoa rosario kepada roh orang orang yang sudah mati dan diangkat oleh Pausnya menjadi kudus itu dan itu sama sekali tidak ada ajaran Alkitabnya kecuali hanya tradisi palsu bikinan manusia berdosa doang gavin !

Lah ini dia contoh ketololan kamu soli.

Malaikat gabriel aja berkata  : "SALAM, HAI BUNDA YANG DIKARUNIAI Tuhan"

Nah kamu yg sok tau otak kecil mau menafsirkan lain mengenai ayat Alkitab ini?

Hahaha.. malu sama bibir sol.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:06:00 AM
Lah ini dia contoh ketololan kamu soli.

Malaikat gabriel aja berkata  : "SALAM, HAI BUNDA YANG DIKARUNIAI Tuhan"

Nah kamu yg sok tau otak kecil mau menafsirkan lain mengenai ayat Alkitab ini?

Hahaha.. malu sama bibir sol.

Ucapan salam tidak harus kamu jadikan alasan untuk menyembahnya karena Malaikat hanya menegur dengan  salam sebagaimana orang biasa juga bertemu mengucapkan hal yang sama.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:07:34 AM
Ucapan salam tidak harus kamu jadikan alasan untuk menyembahnya karena Malaikat hanya menegur dengan  salam sebagaimana orang biasa juga bertemu mengucapkan hal yang sama.

Lah itu kan menurut interpretasi kamu soli.

Beda lah insinyur sama anak TK dalam hal melihat persoalan.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:19:35 AM
Lah itu kan menurut interpretasi kamu soli.

Beda lah insinyur sama anak TK dalam hal melihat persoalan.


Salam dan berdoa itu kalau kamu becus bahasa Indonesia maka keduanya tidak sama artinya gavin !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:21:39 AM

Salam dan berdoa itu kalau kamu becus bahasa Indonesia maka keduanya tidak sama artinya gavin !

Dalam doa ada salam.
Soli..

Yang encer otaknya.

Nyantai kalau mikir, jangan dipaksa.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:23:25 AM
Dalam doa ada salam.
Soli..

Yang encer otaknya.

Nyantai kalau mikir, jangan dipaksa.


Buktikan ayatnya bahwa doa sama dengan salam ???

Dimana ajaran Malaikat berdoa kepada Maria ????

Kelihatan sekali keberhalaanmu !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:24:59 AM

Buktikan ayatnya bahwa doa sama dengan salam ???

Dimana ajaran Malaikat berdoa kepada Maria ????

Kelihatan sekali keberhalaanmu !

Dih...?hahahha

Siapa yg bilang doa sama dengan salam.
Kau soli...!

hahaha


emang nya engga boleh kalau dalam doa ada salam nya ?

hiihihihi
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:26:03 AM
Dih...?hahahha

Siapa yg bilang doa sama dengan salam.
Kau soli...!

hahaha


emang nya engga boleh kalau dalam doa ada salam nya ?

hiihihihi


Buktikan ayatnya bahwa doa sama dengan salam ???

Dimana ajaran Malaikat berdoa kepada Maria ????

Kelihatan sekali keberhalaanmu !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:27:40 AM

Buktikan ayatnya bahwa doa sama dengan salam ???

Dimana ajaran Malaikat berdoa kepada Maria ????

Kelihatan sekali keberhalaanmu !

Saya berdoa dan di dalam doa saya terdapat kata salam.

Masih nggak jelas ?hehe
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:28:27 AM
Saya berdoa dan di dalam doa saya terdapat kata salam.

Masih nggak jelas ?hehe

Malaikat tidak berdoa kepada maria hanya kamu yang berdoa kepada roh orang mati !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:30:20 AM
Malaikat tidak berdoa kepada maria hanya kamu yang berdoa kepada roh orang mati !

Ah itu kan penafsiran mu soli.

Jangan ngajarin kite deh...

Mana tau tafsiran mu yg salah.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:31:04 AM
Ah itu kan penafsiran mu soli.

Jangan ngajarin kite deh...

Mana tau tafsiran mu yg salah.

Bukan..itu praktek doamu sepanjang hari !


Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:31:48 AM
Bukan..itu praktek doamu sepanjang hari !

Yang mana tuh..?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:32:57 AM
Yang mana tuh..?

Doa Rosario pakai tasbih dan scapular persis mantera agama kafir !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:33:54 AM
Doa Rosario pakai tasbih dan scapular persis mantera agama kafir !

Doa rosari itu bukan berdoa KEPADA MARIA, soli.
Malaikat aja memberi salam pada maria, masak kita tak boleh sih.
Jangan geblek  terus ah.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:35:00 AM
Doa rosari itu bukan berdoa KEPADA MARIA, soli.
Malaikat aja memberi salam pada maria, masak kita tak boleh sih.
Jangan geblek  terus ah.

malaikat tidak berdoa kepadanya tetapi kamu berdoa rosario kepada maria gavin !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:36:00 AM
malaikat tidak berdoa kepadanya tetapi kamu berdoa rosario kepada maria gavin !

Lha berdoa kepada maria ? gimana , soli?

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:37:06 AM
Lha berdoa kepada maria ? gimana , soli?

Coba kutip isi dia rosariomu disini kalau becus !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:40:54 AM
Coba kutip isi dia rosariomu disini kalau becus !

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu
Terpujilah engkau di atara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus.

Mana yg salah , soli.?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:41:49 AM
Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu
Terpujilah engkau di atara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus.

Mana yg salah , soli.?

Berapa kali salam maria disebutkan secara berturut turut ???

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:44:14 AM
Berapa kali salam maria disebutkan secara berturut turut ???

10 kali diselingi bapa kami, kemuliaan, lalu 10 kali diselingi lagi, lalu sepuluh kalli, diselingi lagi, lalu 10 kali lagi...

total 50 kali.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:45:19 AM
10 kali diselingi bapa kami, kemuliaan, lalu 10 kali diselingi lagi, lalu sepuluh kalli, diselingi lagi, lalu 10 kali lagi...

total 50 kali.

Dimana ada ajaran Rasuliah berdoa menyebut Maria sampai 50 kali didalam satu doa ????

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:48:10 AM
Dimana ada ajaran Rasuliah berdoa menyebut Maria sampai 50 kali didalam satu doa ????

Emang ada larangan tertulis dalam Alkitab : "Dilarang menyebut maria 50 kali"?

coba tunjukin dong.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:51:00 AM
Emang ada larangan tertulis dalam Alkitab : "Dilarang menyebut maria 50 kali"?

coba tunjukin dong.

Tidak ada doa seperti itu didalam Alkitab !

Berarti kamu mengarang ngarang doa palsu !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:52:32 AM
Tidak ada doa seperti itu didalam Alkitab !

Berarti kamu mengarang ngarang doa palsu !

Ya namanya doa terserah orang yg mau berdoa.

Kamu tiap hari berdoa ada tertulis di Alkitab ?
Enggak kan..?
Lalu apa itu berarti kau ngarang-ngarang doa palsu ?

Bodoh benar.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 10:56:44 AM
Ya namanya doa terserah orang yg mau berdoa.

Kamu tiap hari berdoa ada tertulis di Alkitab ?
Enggak kan..?
Lalu apa itu berarti kau ngarang-ngarang doa palsu ?

Bodoh benar.


Kalau mengaku memang doamu itu tidak ada ajaran dan contohnya di Alkitab yang monggo !

Tapi jangan sok alkitabiah kalau isinya anti Alkitab.

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 10:59:22 AM

Kalau mengaku memang doamu itu tidak ada ajaran dan contohnya di Alkitab yang monggo !

Tapi jangan sok alkitabiah kalau isinya anti Alkitab.

Ya berarti doa salam maria tidak melanggar Alkitab.

Begitu dong mikirnya, soli.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 11:04:13 AM
Ya berarti doa salam maria tidak melanggar Alkitab.

Begitu dong mikirnya, soli.

Tentu saja melanggar Alkitab karena bertentangan dengan ajaran Yesus bagaimana harusnya berdoa !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 11:04:50 AM
Tentu saja melanggar Alkitab karena bertentangan dengan ajaran Yesus bagaimana harusnya berdoa !

melanggarnya dimana ?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 11:06:19 AM
melanggarnya dimana ?

Doa Bapa Kami !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 11:10:49 AM
Doa Bapa Kami !

Di bagian mana yang melanggar doa bapa kami.
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: solideogloria on September 10, 2014, 11:15:22 AM
Di bagian mana yang melanggar doa bapa kami.

Dia Bapa Kami tidak pakai model doa rosario yang bertele tele dan kepada Maria itu !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: Gavin Tuturuga on September 10, 2014, 11:19:24 AM
Dia Bapa Kami tidak pakai model doa rosario yang bertele tele dan kepada Maria itu !

APakah tertulis di dalam doa bapa kami bahwa kita tidak boleh berdoa maria ?
Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: OSAS on September 10, 2014, 03:06:17 PM
PARA MODERATOR YTH

SAYA MENDAPAT MESSAGE DARI BRO SOLI SBB :

Benar perkataan anda bahwa forum ini sama sekali tidak fair karena saya sekarang dihold tidak bisa merespon sedangkan katolikers yang lain bebas.padahal mereka yang ad-hominem terus secara keroyokan kepada saya seperti bisa anda saksikan sendiri.

Kelihatan sekali mereka kewalahan dengan argumentasi saya sehingga komentar saya pada di hold semua.

Demikian agar anda maklum saja bahwa sinyalemen anda dulu memang terbukti para moderator forum ini sama sekali tidak fair dan terbuka.

Salam


Kalau itu benar maka jelas sekali ketidakfairan forum ini karena hanya memihak Katolik belaka.

Kalau karena ini saya di band ya silahkan saja karena saya juga muak melihat moderator yg tidak fair dan berat sebelah !

Title: Re: Batasan "menghakimi"
Post by: cadangdata on September 10, 2014, 03:37:48 PM
PARA MODERATOR YTH

SAYA MENDAPAT MESSAGE DARI BRO SOLI SBB :

Benar perkataan anda bahwa forum ini sama sekali tidak fair karena saya sekarang dihold tidak bisa merespon sedangkan katolikers yang lain bebas.padahal mereka yang ad-hominem terus secara keroyokan kepada saya seperti bisa anda saksikan sendiri.

Kelihatan sekali mereka kewalahan dengan argumentasi saya sehingga komentar saya pada di hold semua.

Demikian agar anda maklum saja bahwa sinyalemen anda dulu memang terbukti para moderator forum ini sama sekali tidak fair dan terbuka.

Salam


Kalau itu benar maka jelas sekali ketidakfairan forum ini karena hanya memihak Katolik belaka.

Kalau karena ini saya di band ya silahkan saja karena saya juga muak melihat moderator yg tidak fair dan berat sebelah !

heheueheueheuhehehhehehheheheuu...

sana berdua bikin forum sendiri...
bisa bebas kan.. mau ngomong apa aja..
coba.. ada yg ikut engga...

lagian si soli ngapain pake cengeng-cengeng gitu??

bikin id baru aja, kan beres?
kenapa??? takut itungan jumlah post-nya mulai nol lagi?
pengen juara post terbanyak? biar dapet piring cantik, ya?

btw... tanggapan elo terhadap topik ini apa?