Forim Iman Kristen

Ajaran-Ajaran Kristen => Katolik => Topic started by: Jenova on July 22, 2014, 09:47:20 PM

Title: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:47:20 PM
Sering kali non-katolik mengira bahwa Gereja Katolik adalah sesat, tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, atau telah menyimpang dari ajaran dan praktek Gereja Perdana.
Thread ini dibuka untuk menjawab dan mengklarifikasi kesalah-pahaman2 non-katolik yang umum ditemui, seperti yang ditulis dalam website berikut ini:
http://www.jesus-is-savior.com/False%20Religions/Roman%20Catholicism/catholic_heresies-a_list.htm

1. The most ancient are the prayers for the dead and the sign of the Cross. Both began 300 years after Christ. (310 AD)
Tanggapan:

2. Wax Candles introduced in church (320 AD)
Tanggapan:

3. Veneration of angels and dead saints (375 AD)
Tanggapan:

4. The Mass, as a daily celebration, adopted (394  AD)
Tanggapan:

5. The worship of Mary, the mother of Jesus, and the use of the term, "Mother of God", as applied to her, originated in the Council of Ephesus (431  AD)
Tanggapan:

6. Priests began to dress differently from the laity (500  AD)
Tanggapan:

7. Extreme Unction (526  AD)
Tanggapan:

8. The doctrine of Purgatory was first established by Gregory the Great (593  AD)
Tanggapan:

9. The Latin language, as the language of prayer and worship in churches, was also imposed by Pope Gregory I. 600 years after Christ (600  AD)
Tanggapan:

10. The Bible teaches that we pray to God alone. In the primitive church never were prayers directed to Mary, or to dead saints. This practice began in the Roman Church. (600 AD)
Tanggapan:

11. The Papacy is of pagan origin. (610 AD)
Tanggapan:

12. The kissing of the Pope's feet (709 AD)
Tanggapan:

13. The Temporal power of the Popes (750 AD)
Tanggapan:

14. Worship of the cross, images and relics was authorized. (788 AD)
Tanggapan:

15. Holy Water, mixed with a pinch of salt and blessed by the priest, was authorized (850 AD)
Tanggapan:

16. The veneration of St. Joseph began (890 AD)
Tanggapan:

17. The baptism of bells was instituted by Pope John XIV (965 AD)
Tanggapan:

18. Canonization of dead saints, first by Pope John XV. (998 AD)
Tanggapan:

19. Fasting on Fridays and during Lent were imposed (998 AD)
Tanggapan:

20. The Mass was developed gradually as a sacrifice; attendance made obligatory in the 11th century.
Tanggapan:

(bersambung...)
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:47:57 PM
(...sambungan)

21. The celibacy of the priesthood was decreed by Pope Hildebrand, Boniface VII. (1079 AD)
Tanggapan:

22. The Rosary, or prayer beads was introduced by Peter the Hermit, in the year 1090. (1090 AD)
Tanggapan:

23. The Inquisition of heretics was instituted by the Council of Verona in the year 1184. (1184 AD)
Tanggapan:

24. The sale of Indulgences, commonly regarded as a purchase of forgiveness and a permit to indulge in sin. (1190 AD)
Tanggapan:

25. The dogma of Transubstantiation was decreed by Pope Innocent III, in the year 1215. (1215 AD)
Tanggapan:

26. Confession of sin to the priest at least once a year was instituted by Pope Innocent III., in the Lateran Council 1215. (1215 AD)
Tanggapan:

27. The adoration of the wafer (Host), was decreed by Pope Honorius (1220 AD)
Tanggapan:

28. The Bible forbidden to laymen and placed in the Index of forbidden books by the Council of Valencia. (1229 AD)
Tanggapan:

29. The Scapular was invented by Simon Stock, and English monk. (1287 AD)
Tanggapan:

30. The Roman Church forbade the cup to the laity, by instituting the communion of one kind in the Council of Constance. )1414 AD)
Tanggapan:

31. The doctrine of Purgatory was proclaimed as a dogma of faith by Council of Florence. (1439 AD)
Tanggapan:

32. The doctrine of 7 Sacraments affirmed. (1439 AD))
Tanggapan:

33. The Ave Maria, part of the last. (1508 AD)
Tanggapan:

34. The Council of Trent, held in the year 1545, declared that Tradition is of equal authority with the Bible. (1545 AD)
Tanggapan:

35. The apocryphal books were added to the Bible also by the Council of Trent. (1546 AD)
Tanggapan:

36. The Creed of Pope Pius IV was imposed as the official creed 1560 years after Christ and the apostles. (1560 AD)
Tanggapan:

37. The Immaculate Conception of the Virgin Mary was proclaimed by Pope Pius IX. (1834 AD)
Tanggapan:

38. In the year 1870 after Christ, Pope Pius IX proclaimed the dogma of Papal Infallibility. (1870 AD)
Tanggapan:

39. Pope Plus X, in the year 1907, condemned together with ""Modernism"", all the discoveries of modern science which are not approved by the Church. (1907 AD)
Tanggapan:

40. In the year 1930 Pius XI, condemned the Public Schools (1930 AD)
Tanggapan:

41. In the year 1931 the same pope Pius XI, reaffirmed the doctrine that Mary is ""the Mother of God"". (1931 AD)
Tanggapan:

42. In the year 1950 the last dogma was proclaimed by Pope Pius XII, the Assumption of the Virgin Mary (1950 AD)
Tanggapan:
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:50:09 PM
Pendahuluan

Sebelum menanggapi satu per satu tuduhan / kesalah-pahaman2 tersebut, ada baiknya jika kita lihat terlebih dahulu penyebab kesalah-pahaman ini. Secara garis besar, kesalah-pahaman ini bersumber dari ketidak-tahuan akan fakta sejarah, dan juga ketidak-tahuan mengenai struktur pengajaran dalam Gereja Katolik.

Dalam thread ini akan disajikan fakta2 sejarah untuk mengklarifikasi kesalah-pahaman yang ada, dan secara khusus diperuntukkan untuk menanggapi tulisan dalam website di atas. Selain itu, untuk meluruskan kesalah-pahaman ini, perlu dipahami bahwa struktur pengajaran dalam Gereja Katolik membedakan 5 jenis pengajaran yang dikenal sebagai 5D:

1-2. ajaran iman dan moral yang  diperlukan untuk memperoleh keselamatan (i.e. ajaran infallible) yang terdiri dari Deposit Iman dan Dogma)

3.  ajaran iman dan moral yang diperlukan utk memahami misteri karya keselamatan Allah yang disebut Doktrin (i.e. ajaran yang TIDAK infallible)

4-5. dan praktek Disiplin dan Devosi yang diterapkan utk menuju kesempurnaan spiritualitas.

Untuk mengetahui lebih detail mengenai struktur pengajaran 5D ini, dapat dilihat dalam thread berikut ini:
http://forumimankristen.com/index.php/topic,12.0.html
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:50:49 PM
Deposit Iman

Deposit Iman adalah ajaran2 iman dan moral yang diterima oleh para rasul dari Tuhan Yesus, yang diteruskan kepada  dan dipelihara oleh penerus2 rasul sampai saat ini. Deposit Iman memuat keseluruhan ajaran yang membentuk iman katolik yang utuh, yang dapat ditemukan dalam Tradisi Suci dan Kitab Suci.

Perlu digaris bawahi, Deposit Iman adalah inti dari pengajaran iman dan moral. Deposit Iman dapat dituliskan dalam berbagai macam rumusan Doktrin, dalam Dogma, dalam pengajaran2 lisan, ataupun dalam ajaran2 tertulis termasuk tulisan2 yang dikumpulkan dalam kanon Kitab Suci; dan juga dapat memiliki keragaman penyampaian. Tetapi Deposit Iman tetap sama dalam semua bentuk penyampaian tersebut, infallible, tidak dapat berubah, tidak dapat dikurangi atau ditambahkan.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:51:58 PM
Dogma

Dogma adalah rumusan ajaran iman dan moral yang definitif, infallible, dan mutlak harus diterima oleh semua umat beriman.
Mengenai Dogma, tidak dapat dipungkiri, bahwa Dogma memang berkembang seiring dengan perkembangan jaman.
Tapi hal ini BUKAN berarti bahwa Dogma telah menyimpang dari ajaran apostolik dari Gereja Perdana, tapi sebaliknya justru mengukuhkan ajaran2 apostolik yang terdapat dalam Deposit Iman.

Sebagai contoh: Dogma Tritunggal baru dirumuskan untuk pertama kalinya di abad ketiga dalam konsili Nisea. Hal ini bukan berarti bahwa Deposit Iman tentang Tritunggal belum ada sebelumnya, tetapi sebaliknya ajaran ini dirumuskan utk menegaskan Iman Gereja yang sebenarnya sehingga ajaran2 bidaah seperti ajaran Arianism dan Sabeianism dapat dilawan dengan tegas.

Contoh lain adalah Dogma Dwinatur Yesus yang dirumuskan utk pertama kalinya di abad keempat dalam Konsili Kalsedon. Deposit Iman tentang Yesus sebagai 100% Allah dan 100% manusia, satu Pribadi yang memiliki dua kodrat: ilahi dan manusiawi, adalah iman yang sudah ada sejak semula.

Dogma ""baru"" ini dirumuskan utk menjaga kemurnian ajaran melawan bidaah nestorianism dan Monophysitism.
Begitu pula Dogma-Dogma Gereja yang dirumuskan di kemudian hari seperti ""Purgatory"", ""Maria dikandung tanpa noda"", ""Maria diangkat ke surga"", ""Infalibilitas Paus"", dst, meskipun rumusannya baru ada di kemudian hari utk melawan bidaah di waktu itu yang menyerang iman Gereja Katolik, tetapi iman ini sudah ada sejak semula seperti yang terkandung dalam Deposit Iman yang infallible.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:52:21 PM
Doktrin

Doktrin adalah rumusan pengajaran yang dimaksudkan untuk membantu dan membimbing umat dalam memahami karya keselamatan ilahi. Doktrin adalah ajaran yang TIDAK infallible, tetapi selama tidak bertentangan dengan ajaran infallible dalam Deposit Iman dan Dogma, umat katolik boleh menerima dan memegang doktrin2 yang ada untuk memahami misteri iman katolik.

Dari pemahaman di atas, tentu saja Doktrin itu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pada umumnya doktrin berkembang pada waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan di saat itu. Jika dalam perkembangannya di kemudian hari suatu doktrin ditemukan bertentangan dengan ajaran2 infallible dalam Deposit Iman dan Dogma, maka doktrin tersebut dapat dihapus atau dianatema oleh Gereja, dan semua umat beriman harus meninggalkan doktrin tersebut.

Contoh dari perkembangan doktrin yang berakhir pada anatema ini dapat dilihat dalam  perumusan Dogma2 Gereja. Dogma Gereja yang mutlak dan infallible dirumuskan karena berkembangnya doktrin2 yang bertentangan dengan ajaran infallible, misalnya ajaran (doktrin) Arianism dan Sabelianism di abad ke3, dan ajaran ini dihapus / dinyatakan anatema (dinyatakan sbg bidaah) setelah Dogma Tritunggal ditegaskan dalam konsili Nisea."   
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:53:04 PM
Disiplin

Disiplin adalah aturan dan pedoman dalam hidup beriman. Disiplin dibuat dan diterapkan oleh komunitas tertentu, dibuat dalam waktu dan keadaan tertentu, dan mengikat bagi mereka yang menerima Disiplin tersebut.

Penting untuk digaris-bawahi, Disiplin BUKAN merupakan ajaran iman dan moral. Oleh karenanya, tidak ada satu pun Disiplin yang infallible. Semua Disiplin pasti mengalami perkembangan, mengalami perubahan, dapat dibuat dan dihilangkan sesuai kebutuhan.
Selama Disiplin itu dapat dipertanggung-jawabkan dan dapat mendatangkan buah2 Roh, tidak ada salahnya jika komunitas2 tertentu dalam Gereja, atau Gereja itu sendiri secara baik lokal maupun universal, mengembangkan dan menerapkan Disiplin2 tertentu.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:53:32 PM
Devosi

Devosi adalah praktek berdoa, meditasi, dan disiplin rohani. Sama seperti Disiplin, Devosi BUKAN merupakan ajaran iman dan moral, oleh karenanya tidak ada Devosi yang bersifat infallible. Devosi pada umumnya adalah merupakan salah satu bentuk doa, dan oleh karena doa Gereja tidak pernah terputus dan tidak akan pernah berhenti sampai akhir jaman, maka tentu saja Devosi terus berkembang dan akan terus berkesinambungan sampai akhir jaman nanti, sama seperti doa Gereja yang tidak akan pernah berhenti sampai akhir jaman.

Banyak kesalah-pahaman non katolik yang mengatakan bahwa Disiplin dan Devosi dalam Gereja Katolik adalah merupakan bentuk kesesatan. Tapi dengan mengacu pada definisi di atas, adalah suatu kesalahan jika mengatakan sesuatu yg bukan merupakan ajaran iman dan moral sebagai kesesatan. Umat katolik bebas untuk menolak dan tidak menerapkan Disiplin / Devosi tertentu tanpa menjadikan dirinya berdosa, begitu juga sebaliknya umat beriman yang menerima dan menerapkan Disiplin atau Devosi tertentu tidak menjadinya berdosa selama hal tersebut dilakukan dengan setulus hati untuk mencari Tuhan.

Menyatakan disiplin dan devosi yang berkembang di kemudian hari sebagai suatu hal yang sesat hal ini sama saja mengatakan bahwa segala perkembangan disiplin dalam komunitas2 gerejawi di luar Gereja Katolik (misal dalam denominasi protestant) adalah sesat juga. Perkembangan tata ibadah dalam komunitas protestant, hierarki dalam komunitas protestant, adalah contoh analogi Disiplin non-katolik. Perkembangan praktek berdoa dalam komunitas protestant juga merupakan contoh analogi Devosi  non-katolik. Jika Disiplin dan Devosi dalam Gereja Katolik (yang tidak ditemui dalam Gereja Perdana tapi berkembang di kemudian hari) dijadikan patokan kesesatan Gereja Katolik, maka menurut logika ini tidak ada lagi Gereja di muka bumi ini yang tidak sesat, karena saat ini tidak ada Gereja yg sama persis seperti Gereja Perdana dalam hal berDisiplin dan berDevosi."   
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:54:52 PM
310
OF ALL THE HUMAN TRADITIONS taught and practiced by the Roman Catholic Church, which are contrary to the Bible, the most ancient are the prayers for the dead and the sign of the Cross. Both began 300 years after Christ.


Disiplin mendoakan orang mati, adalah praktek Disiplin kristiani yg sudah ada sejak jaman Gereja Perdana, berdasar pada iman katolik kuno yang orthodox dan apostolik sejakawal mula Gereja, yaitu iman mengenai persekutuan dengan para kudus yang telah paripurna. Banyak dokumen di abad pertama dan di masa para rasul generasi pertama masih hidup dan mengajar, yang mencatat bahwa mendoakan orang mati adalah praktek kristiani yang diajarkan oleh para rasul. Contoh2 dokumen tersebut adalah Liturgi Santo Yakobus (ditulis oleh rasul Yakobus Kecil), Liturgi Santo Markus (ditulis oleh rasul Markus). Dan juga dokument2 yg ditulis oleh bapa2 Gereja sebelum abad ke3, seperti ""Canons of Hippolytus"" dan ""De Monogam"" yang ditulis oleh Tertullian, Surat St. Cyprian kepada Cornelius, orasi St. Ambrose pada pemakaman saudaranya (De Excessu Satyri fr.""), ""Adv. Haer., III, lxxx, P.G., XLII, 504 sq."" yang ditulis oleh St. Epiphanius, dsb.

Praktek membuat tanda salib juga bukanlah Disiplin yang baru muncul di abad ketiga. Tertulian dalam tulisannya ""De Corona"" yang dituliskan pada 211 M, mencatat bahwa umat beriman membuat tanda salib di dahi. Hal ini membuktikan bahwa praktek Disiplin ini bukanlah hal baru, melainkan sudah lama dilakukan oleh umat kristen sampai jaman Tertullian.

Mendoakan orang mati adalah suatu bentuk Disiplin sekaligus Devosi.
Membuat tanda salib adalah suatu bentuk Disiplin.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik.

Mengenai Deposit Iman yg menjadi dasar Devosi ini, yaitu imang mengenai ""persekutuan dengan para kudus"", silakan dibaca di thread terpisah."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:56:24 PM
320
Wax Candles introduced in church


"Penggunaan lilin mulai dilakukan di Gereja pada abad ke3 adalah simply karena mulai abad ketiga lah umat kristen, terutama umat Gereja Barat seperti di Roma, mengenal lilin. Gereja di abad ke3 mulai menggunakan lilin adalah sama halnya dengan Gereja di abad ke16 mulai menggunakan lampu.
Sama seperti Gereja modern yang tidak terjatuh dalam kesesatan karena menggunakan lampu, maka demikian pula Gereja di abad ke3 tidak terjatuh dalam kesesatan ketika mulai menggunakan lilin."

"Menggunakan lilin adalah suatu bentuk Disiplin, yang sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:57:44 PM
375
Veneration of angels and dead saints


"Penghormatan kepada malaikat dan para kudus yang telah paripurna adalah Devosi umat beriman sejak Gereja Purba, jauh sebelum 375 M. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan2 bapa2 Gereja, seperti:
- Surat dari Gereja Smyrna pada 155 M (History of the Christian Church Vol. II  §27 )
""Him indeed we adore (προσκυνουμεν) as the Son of God; but the martyrs we love as they deserve (αγαπωμεν αξιως), for their surpassing love to their King and Master, as we wish also to be their companions and fellow-disciples (pp. 82-83).  ""
- tulisan St. Hippolytuc (170-235 AD) mengenai doa yg ditujukan pada 3 pemuda dalam kitab Daniel:
""O Ananias, Azarias, and Misael, bless ye the Lord; O ye apostles, prophets, and martyrs of the Lord, Bless ye the Lord: praise Him, and exalt Him above all, forever (Ante-Nicene Fathers Vol. V p. 190)"" "

"Penghormatan kepada malaikat dan para kudus adalah suatu bentuk Devosi, BUKAN merupakan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik.

Mengenai Deposit Iman yg menjadi dasar Devosi ini, yaitu imang mengenai ""persekutuan dengan para kudus"", silakan dibaca di thread terpisah."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:58:25 PM
394
The Mass, as a daily celebration, adopted


"Misa kudus sejatinya adalah perayaan Ekaristi, yaitu umat beriman berkumpul untuk memecah roti dan minum anggur, menjalankan amanat Tuhan Yesus untuk melakukan Perjamuan Kudus.
Bahkan Kitab Suci sendiri mencatat bahwa praktek ini telah dilakukan sejak Pentakosta (Kis 2 : 46), jadi sebenarnya Gereja Katolik mengadakan misa setiap hari bukanlah hal baru yang diciptakan sejak 394 M."

Jika Kitab Suci sendiri yang mencatat bahwa Ekaristi diselenggarakan setiap hari oleh para rasul, maka jelas lah bahwa Gereja Katolik mengadakan Misa Kudus setiap hari bukanlah merupakan suatu kesesatan.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:59:14 PM
431
The worship of Mary, the mother of Jesus, and the use of the term, "Mother of God", as applied to her, originated in the Council of Ephesus


"Dalam sejarah Gereja Katolik, Gereja tidak pernah menyembah Maria, sekalipun tidak pernah!
Gereja Katolik memberikan penghormatan yg selayaknya kepada Maria sebagai ibu dari Tuhan Yesus, sebagai ibu dari seorang Raja Kerajaan Daud Surgawi, sebagai seorang Ibu Suri. Sebagaimana penghormatan yg selayaknya diberikan kepada raja dan ratu dalam kisah2 Perjanjian Lama, maka sejatinya penghormatan (hyper dulia) kepada Maria tidaklah berbeda dengan penghormatan demikian.
Jika non-katolik dapat membedakan penghormatan kepada raja dalam Perjanjian Lama berbeda dengan penyembahan kepada Allah, sama halnya dengan Gereja Katolik tidak memiliki kesulitan sama sekali untuk membedakan penyembahan kepada Allah dengan penghormatan kepada Maria.

Penghormatan kepada Maria bukanlah hal yang baru diciptakan di konsili Efesus, melainkan sudah ada sejak jaman Gereja Perdana. Bukti dokumen2 purba yang mencatat penghormatan kepada Maria misalnya adalah ""Protoevangelium of James"" (150 M), ""Against Heresies"" yg ditulis oleh Irenaeus pada 180 AD, ""Ryland Papyrus P 470"" (naskah tulisan  yg ditemukan di Mesir dari jaman 250 M).

Mengenai gelar ""Bunda Allah"" (theotokos), meskipun Dogma ini baru ditegaskan di abad ke 4 dalam konsili Efesus, tetapi iman Gereja sejak semula adalah bahwa Yesus 100% Allah yang dilahirkan oleh Maria, bahwa Bayi yang lahir dari rahim Maria itu adalah 100% Allah, dan tidak pernah sedetikpun keilahian itu hilang dari diri Yesus, sehingga iman kristen sejati yang sesuai dengan Deposit Iman ini ditegaskan dalam konsili Efesus bahwa Maria adalah Bunda Allah Putra. "

"Penghormatan (hyper dulia) kepada Maria sejatinya adalah bentuk Devosi.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik.

Maria sebagai ""Bunda Allah"" adalah Dogma yang infallible.
Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai ajaran infallible ini, silakan dilihat pada thread terpisah."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 09:59:48 PM
500
Priests began to dress differently from the laity


"Pastor mengenakan pakaian yg berbeda dari awam adalah suatu praktek Disiplin yang sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral. Di kalangan non-katolik sendiri juga banyak ditemukan praktek demikian, seperti Pendeta yg mengenakan jubah ketika memimpin ibadah, petugas paduan suara menggunakan seragam yg berbeda dengan jemaat, dsb.
Hal ini tentu saja dilakukan pada waktu2 tertentu, dalam situasi tertentu, dengan tujuan2 tertentu.
Tentu saja akal sehat tidak akan mengatakan bahwa mengenakan pakaian yg berbeda dari jemaat yg lain menjadikan praktek ini sebagai kesesatan bukan?"

"Pastor mengenakan pakaian  yg berbeda dari umat adalah suatu bentuk Disiplin yang sama sekali TIDAK berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:00:38 PM
526
Extreme Unction


"Extreme Unction, atau pengurapan orang sakit, adalah suatu ajaran yg bahkan tercatat dalam Kitab Suci, yaitu dalam Yak 5 : 14 - 15.
Kitab Suci sendiri mengajarkan tentang Extreme Unction secara explicit, jadi sangatlah jelas bahwa pengurapan orang sakit ini adalah praktek yang telah dijalankan oleh Gereja Katolik dari awal Gereja Purba, dan jelas lah bahwa hal ini adalah kebenaran sejati yang bukan merupakan kesesatan."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:01:29 PM
593
The doctrine of Purgatory was first established by Gregory the Great


"Doktrin mengenai tempat pemurnian terakhir sudah diajarkan oleh Gereja dari semula, jauh sebelum jaman Gregorius Agung, bahkan Kitab Suci pun menyatakan hal ini, misalnya 1 Kor 3 : 11 - 15; Mat 5 : 25 - 26, 12 : 31 - 32.
Tulisan2 bapa2 Gereja pun banyak yg mencatat ajaran ini, seperti ""The Acts of Paul and Thecla"" (160 M), ""Epitaph of Abercius"" (190 M), ""The martyrdom of Perpetua and Felicity"" (202 M), ""De Corona"" (Tertullian, 211 M), ""Monogamy"" (Tertullian, 216 M), ""Epistle 51 of Cyprian of Carthage"" (253 M), ""Catechetical Lectures"" (Cyril of Jerusalem, 350M), ""Sermon of the Dead"" (382 M), ""Homilies on First Corinthians"" (John Chrysostom, 392 M), ""Homilies on Philipians"" (John Chrysostom, 402 M), ""Sermons 159"" (Augustine, 411 M), ""Handbook on Faith, Hope, and Charity"" (Augustine, 421 M), dsb."

"Purgatory adalah ajaran yg telah ditegaskan sebagai Dogma yang mutlak dan infallible.

Penjelasan lebih lanjut mengenai Purgatory dapat dilihat pada thread terpisah."

Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:02:22 PM
600
The Latin language, as the language of prayer and worship in churches, was also imposed by Pope Gregory I. 600 years after Christ
The Word of God forbids praying and teaching in an unknown tongue. (1st Corinthians 14:9).


"Pada tahun 600 M, bahasa Latin adalah bahasa resmi yang digunakan di Roma, maka tentu saja doa dan ibadah dalam Gereja menggunakan bahasa Latin.
Dalam perjalanan Gereja yang tumbuh di seluruh penjuru bumi, tentu saja perubahan bahasa yg digunakan dalam tubuh Gereja tidak dapat dihindari. Para rasul menggunakan bahasa Yunani dalam pengajaran dan ibadah mereka, menggantikan bahasa Aram yg mereka gunakan ketika Yesus mengajar mereka. Rasul Thomas yg menyebarkan injil sampai ke India pun tentunya menggunakan bahasa India, menggantikan bahasa Aram / Yunani.
Maka sebetulnya tidak ada kesesatan sama sekali ketika Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resmi doa dan ibadah Gereja.

Ayat 1 Kor 14 : 9 juga telah disalah-artikan untuk memperkeruh kesalah-pahaman ini.
Yang diwanti2 oleh Paulus adalah berkata2 dalam bahasa yg tidak dimengerti manusia. Bahasa Latin adalah bahasa percakapan sehari2 di Gereja Barat di abad ke-6, kiranya sangatlah tidak tepat menggunakan ayat ini untuk menyatakan kesesatan Gereja Katolik hanya karena Gereja menggunakan bahasa Latin."

"Penggunaan bahasa tertentu dapat dikategorikan sebagai praktek Disiplin dalam Gereja, sama sekali TIDAK berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."





Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:03:46 PM
600
The Bible teaches that we pray to God alone. In the primitive church never were prayers directed to Mary, or to dead saints. This practice began in the Roman Church.
(Matthew 11:28; Luke 1:46; Acts 10:25-26; 14:14-18)


"Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya, bahwa Gereja Purba telah mengenal dan mengajarkan berdoa dengan perantara para kudus  yang telah paripurna. Banyak dokumen2 purba dan tulisan2 para bapa Gereja yg mengajarkan demikian, seperti: ""The Shepherd"" (Hermas, 80 M), ""Miscellanies"" (Clement of Alexandria, 208 M), ""Prayer"" (Origen, 233 M), ""Epistle 56 of Cyprian Carthage"" (253 AD), ""Funerary inscription near St. Sabina's in Rome"" (300 M), ""Ryland Papyrus 3"" (naskah tulisan  yg ditemukan di Mesir dari jaman 350 M), ""Oration on Simeon and Anna 14"" (Methodius, 350 M), ""Catechetical Lectures"" (Cyril of Jerusalem, 350 M), ""Commentary on the Psalms"" (Hilary of Poitiers, 365 M), ""Commentary on Mark"" (Ephraim the Syrian, 370 M), ""Liturgy of St. Basil"" (373 M), ""Orations"" (John Chrysostom, 396 M), ""The Six Days Work"" (Ambrose of Milan, 393 M), ""Against Vigilantius"" (Jerome, 406 M), ""Homilies on John"" (Augustine, 416 M), dsb.

Mengenai ayat2 Kitab Suci yg digunakan utk menyalahkan Deposit Iman mengenai ""intercession of saints"", ayat tersebut sama sekali tidak melarang atau bertentangan dengan iman ""communion of saints"" dan ""intercession of saints"".
Sebaliknya, dalam Mzm 103 justru dituliskan bahwa kita memanggil para malaikat untuk berdoa bersama kita. Bukan hanya berdoa bersama, tetapi mereka juga berdoa untuk (menjadi perantara) kita: Why 5 : 8, 8 : 3-4.
Bahkan Yesus sendiri yang menjamin bahwa ada malaikat yg selalu menjadi perantara kita kepada Bapa (Mat 18 : 10).
Benar bahwa hanya Yesus lah satu2nya Perantara (mediator) Perjanjian Baru antara manusia dengan Bapa (1 Tim 2 :5), tetapi hal ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh bersekutu dalam doa dan minta didoakan oleh saudara2 kita (1 Tim 2 : 1 - 4), dan justru kita harus minta didoakan oleh saudara2 yg telah berada di surga, karena ""doa orang benar sangat besar kuasanya"" (Yak 5 : 16)."

"Berdoa dengan perantaraan (intercession) para kudus di surga adalah Deposit Iman infallible dan diajarkan sejak semula dalam Gereja.

Penjelasan lebih lanjut mengenai ""communion of saints"" dan ""intercession of saints"" dapat dilihat pada thread terpisah."




Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:05:23 PM
610
The Papacy is of pagan origin. The title of pope or universal bishop, was first given to the bishop of Rome by the wicked emperor Phocas.
This he did to spite Bishop Ciriacus of Constantinople, who had justly excommunicated him for his having caused the assassination of his predecessor emperor Mauritius. Gregory 1, then bishop of Rome, refused the title, but his successor, Boniface III, first assumed title "pope."
Jesus did not appoint Peter to the headship of the apostles and forbade any such notion. (Luke 22:24-26; Ephesians 1:22-23; Colossians 1:18; 1st Corinthians 3:11).
Note: Nor is there any mention in Scripture, nor in history, that Peter ever was in Rome, much less that he was pope there for 25 years; Clement, 3rd bishop of Rome, remarks that "there is no real 1st century evidence that Peter ever was in Rome."


"Ada 3 kerancuan dalam kesalah-pahaman ini. Pertama adalah ketidak-tahuan sejarah digunakannya istilah ""paus"" atau ""pope"" dalam Gereja Katolik, kedua adalah ketidak-tahuan mengenai sejarah keberadaan Petrus di Roma, dan ketiga adalah kesalah-pahaman mengenai jabatan pemimpin yang dimiliki oleh Petrus (dan penerus2nya) di atas rasul2 lainnya.

Kata ""paus"" atau ""pope"" berasal dari bahasa Yunani: ""pappas"", yang berarti ""bapa"".
Pada awal perkembangan Gereja abad2 pertama yg menggunakan bahasa Yunani, semua uskup (penerus jabatan rasul) disebut sebagai ""pappas"" atau ""paus"". Bahkan Gereja Timur yg menggunakan bahasa Yunani, seperti Gereja Orthodox Yunani, mereka juga menyebut uskup dan patriakh mereka sebagai paus, bahkan sampai saat ini. Dalam perkembangannya di Gereja berbahasa Yunani, hanya patriakh Gereja yang disebut sebagai paus, dan karena uskup roma adalah patriakh Gereja Barat, maka wajar sekali jika gelar ""paus"" akhirnya hanya digunakan untuk pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Tentunya penggunaan bahasa tertentu dalam Gereja tidak pernah menjadi kesesatan.

Mengenai keberadaan Petrus di Roma, bukti2 sejarah tidak dapat dibantah bahwa Petrus memang mendirikan Gereja di Roma dan menjadi martir di sana.
Dalam surat pertamanya, Petrus mengindikasikan bahwa dia berada di Roma ketika dia berkata dia berada di Babilon (1 Pet 5 : 13). Babilon adalah kode rahasia yg digunakan di jaman tersebut utk mengacu pada Roma, hal ini dapat dilihat dalam dokumen2 seperti ""Sibylline Oracles"", ""Apocalypse of Baruch"", ""4 Esdras"" yang semuanya dituliskan pada sekitar abad ke2. Juga tulisan Eusebius Pamphilius dalam ""The Chronicle"" yg ditulis pada 303 M menyatakan bahwa Babilon yg diacu adalah kota Roma.
Jika dokumen2 tersebut masih dirasa kurang meyakinkan, tulisan2 bapa2 Gereja juga mencatat bahwa memang Petrus memang mendirikan Gereja di Roma dan wafat sebagai martir di sana, misalnya: ""Letter to Soter of Rome"" (Dionysius of Corinth, 174 M), ""Against Heresies"" (Irenaeus, 189 M), ""Against Marcion"" (Tertullian, 212 M), ""The Chronicle"" (Eusebius, 303 M), ""Ecclesiatical History"" (Eusebius, 325 M), ""Canonical Letter"" (Peter of Alexandria, 306 M), ""The Deaths of the Persecutors"" (Lactantius, 320 M), ""Catechetical Lectures"" (Cyril of Jerusalem, 350 M), ""The Decree of Damasus"" (Damasus, 382 M).

Mengenai jabatan ""paus"" itu sendiri sebagai pemimpin dari para rasul, sekaligus pemegang kunci jabatan surga, bukti2 yang tidak terbantahkan juga dapat dilihat dalam Kitab Suci dan juga tulisan2 bapa2 Gereja.
Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca di thread berikut ini:
http://forumimankristen.com/index.php/topic,1719.0.html
"


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:06:09 PM
709
The kissing of the Pope's feet
It had been a pagan custom to kiss the feet of emperors. The Word of God forbids such practices. (Read Acts 10:25-26; Revelation 19:10; 22:9).


"Mencium kaki paus sebagai bentuk penghormatan adalah suatu praktek Disiplin yang berkembang karena pengaruh budaya setempat di waktu itu, dan sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral. Di kalangan non-katolik di Indonesia khususnya di Jawa, banyak anak2 muda yg setelah bersalaman dengan seorang Pendeta akan menyentuhkan punggung tangan Pendeta ke keningnya sebagai bentuk penghormatan. Kiranya perkembangan praktek Disiplin mencium kaki paus ini tidak ada bedanya dengan praktek tersebut di Jawa, dan tentunya hal ini tidak dapat dikatakan sebagai kesesatan.

"


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:07:05 PM
750
The Temporal power of the Popes
When Pepin, the usurper of the throne of France, descended into Italy, called by Pope Stephen II, to war against the Italian Lombards, he defeated them and gave the city of Rome and surrounding territory to the pope. Jesus expressly forbade such a thing, and He himself refused worldly kingship. (Read Matthew 4:8-9; 20:25-26; John 18:38).


"Sejarah memang mencatat bahwa Gereja di abad pertengahan memang memiliki pengaruh penting dalam politik kenegaraan. Tetapi hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Ya, Praktek Disiplin dalam Gereja di abad pertengahan memang banyak yang salah, dan Gereja Katolik dengan berbesar hati mengakui dan memperbaiki kesalahan ini.
Tetapi yang harus digaris bawahi, komunitas gerejawi yang terdiri dari manusia2 yg menciptakan praktek2 Disiplin memang dapat sesat, tetapi Gereja Katolik sebagai Tubuh Kristus adalah infallible dan tidak dapat sesat dalam hal ajaran iman dan moral."


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:07:58 PM
788
Worship of the cross, images and relics was authorized
This was by order of Dowager Empress Irene of Constantinople, who first caused to pluck the eyes of her own son, Constantine VI, and then called a church council at the request of Hadrian I, pope of Rome at that time.
Such practice is called simply IDOLATRY in the Bible, and is severely condemned. (Read Exodus 20:4; 3:17; Deuteronomy 27:15; Psalm 115).


"Penghormatan kepada salib, gambar, dan benda peninggalan (relic) para kudus BUKAN hal yang baru muncul di abad ke7, melainkan sudah ada sejak jaman Gereja Perdana. Lukas Penulis Injil dikenal sebagai seorang seniman, dan dia melukiskan gambar tentang Maria dan bayi Yesus, juga lukisan tentang Paulus (referensi: http://douglawrence.wordpress.com/2009/11/17/icon-of-the-madonna-painted-by-st-luke-accurately-depicts-face-of-blessed-virgin-mary/).
Tulisan bapa2 Gereja juga banyak yg mencatat penghormatan kepada salib, gambar, dan relic para kudus yang dilakukan oleh Gereja Perdana, misal ""Surat St. Ambrose"" (397 M), ""Reply to Faustus"" (St. Augustine, 430 M), ""In Ionam"" (St. Jerome, 430 M). Selain itu, di jaman Gereja awal juga banyak ditemui lukisan2 dan mosaik2 para kudus di bangunan gereja dan makam orang kristen, dan semua ini tidak pernah menjadi masalah dalam Gereja sampai munculnya ajaran sesat ""Iconoclastic"" di kerajaan Bizantine.
Bidaah ""Iconoclastic"" ini lah yang dilawan dalam Konsili Nisea II pada abad ke7, sama seperti Dogma2 lainnya yg ditegaskan di kemudian hari bukanlah merupakan ajaran baru, melainkan menegaskan ajaran rasuliah dan untuk melawan dengan tegas bidaah yg menyerang Gereja di waktu itu.
Dari Konsili Nisea II ini ditegaskan bahwa Gambar Kristus, gambar perawan Maria, dan gambar para kudus lainnya tetap ditempatkan dan dijaga secara khusus dalam gereja, demi penghormatan yang diberikan kepada mereka, bukan karena keilahian atau kekuatan yang dikira ada dalam diri mereka sehingga mereka disembah, atau karena kita dapat meminta sesuatu dari mereka, atau karena iman yang diletakkan pada gambar itu seperti yang dilakukan oleh orang kafir yang mengimani berhala, tetapi karena penghormatan yang ditujukan kepada para kudus yang diwakili oleh gambar tersebut; sehingga dengan mencium, membuka diri kepada, berlutut di depan gambar2 tersebut kita memuja Kristus dan menghormati para kudus yang diwakili oleh gambar2 tersebut (Denzinger, no. 986)

"Penjelasan lebih jauh mengenai penghormatan kepada gambar dan relic dapat dilihat pada thread terpisah.

Penghormatan kepada gambar orang kudus adalah suatu bentuk Devosi, BUKAN merupakan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai ""penghormatan kepada gambar kudus"" silakan dilihat pada thread terpisah."









Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:09:36 PM
850
Holy Water, mixed with a pinch of salt and blessed by the priest, was authorized


"Penggunaan air suci sudah digunakan dalam Gereja sejak jaman Gereja Perdana, bukan dimulai pada tahun 850 M.
Penggunaan air suci pada awal kekristenan dapat dibuktikan dengan dokumen2 di kurun waktu belakangan. ""Apostolic Constitutions"" yang dituliskan sekitar tahun 400 M, menuliskan bahwa St. Matius mengajarkan untuk menggunakan air suci. Surat dari Paus Alexander I (hidup pada abad kedua), meskipun apokripa, menuliskan bahwa pada awal masa2 kekristenan, air telah banyak digunakan utk tujuan membersihkan dan menyucikan.
Surat gembala Serapion dari Thumis (uskup dari abad keempat), juga dokumen ""Testamentum Domini"" dari abad keenam, menuliskan tentang pemberkatan mintak dan air dalam misa kudus.
Inti dari fakta yang disajikan di atas, penggunaan air suci sebagai sarana untuk pembersihan dan penyucian adalah merupakan praktek Disiplin yang otentik dan sudah ada sejak jaman Gereja Perdana, dan tidak bertentangan dengan Deposit Iman, sehingga hal ini tidak bisa dikatakan sebagai kesesatan Gereja Katolik."

"Menggunakan air suci adalah bagian dari tata liturgy dan merupakan suatu bentuk Disiplin, yang sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:10:21 PM
890
The veneration of St. Joseph began


"Penghormatan (Devosi) kepada para kudus, termasuk penghormatan kepada St. Yusuf, sudah dilakukan oleh Gereja sejak awal mula.
Benar bahwa penghormatan (Devosi) secara istimewa kepada St. Yusuf, dan juga kepada santo/santa lainnya tidak umum ditemui di masa2 awal kekristen. Alasannya sederhana, karena pada abad2 awal keberadaaan Gereja, Gereja berada di bawah tekanan dan penganiayaan, sehingga para martir lah yg menjadi pusat devosi dan teladan Gereja pada waktu itu. Namun para kudus lainnya tidak pernah dilupakan / diabaikan oleh Gereja. Ketika masa sulit dan penganiayaan mereda, catatan Gereja Timur seperti Gereja Koptik menuliskan bahwa penghormatan secara khusus kepada St. Yusuf telah dilakukan sejak awal abad keempat. Bahkan di basilika yang didirikan oleh St. Helena (wafat pada 303M) di Betlehem, juga sudah disediakan tempat khusus untuk berdevosi kepada St. Yusuf.

Penghormatan kepada St. Yusuf adalah suatu bentuk Devosi, yang tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut "
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:12:18 PM
965
The baptism of bells was instituted by Pope John XIV


"Non-katolik HARUS menerima fakta sejarah, bahwa Gereja Katolik tidak pernah membaptis benda mati. Sekalipun tidak pernah! Jika ada gereja yang membaptis benda mati, maka hal ini adalah merupakan penghujatan terhadap martabat Sakramen Baptis itu sendiri.

Perlu dicatat bahwa Gereja memang memberkati sarana2 ibadah seperti bangunan gereja, meja yang dipakai sebagai altar, salib, gambar para kudus, dan lain sebagainya, termasuk juga lonceng yg dipasang di bangunan gereja itu. Istilah ""pembaptisan lonceng"" memang banyak digunakan oleh awam, dan Gereja hanya mentolerir penggunaan istilah ini selama umat tetap memahami bahwa pembaptisan adalah Sakramen yang kudus  yang sama sekali berbeda dengan pemberkatan utk menyucikan benda2 mati."

"Terlepas dari kontroversi istilah ""pembaptisan lonceng"", pemberkatan lonceng dan benda2  yang disucikan ini adalah bagian dari tata liturgy dan merupakan suatu bentuk Disiplin, yang sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:13:50 PM
995
Canonization of dead saints, first by Pope John XV
Every believer and follower of Christ is called saint in the Bible. (Read Romans 1:7; 1st Colossians 1:2).


"Sejarah Gereja dari awal mulanya mencatat, bahwa Gereja menghormati orang2 kudus yang telah meninggal sebagai santo/santa.
Di awal perjalanan Gereja, yang waktu itu penuh dengan tekanan dan penganiayaan, wafatnya seorang martir dikonfirmasi oleh uskup setempat, dan diberitakan kepada Gereja-Gereja di tempat lain, dan atas restu uskup Gereja-Gereja lain itu penghormatan dan devosi kepada martir tersebut diberikan agar umat tetap menjaga persekutuan dengen para martir Kristus, memperoleh kekuatan dan meneladani sang martir tersebut. Bukti dari kronologi pemberian devosi kepada martir di masa awal Gereja dapat dilihat dalam catatan St. Ignatius (35-98 M), yaitu: ""The Martyrdom of Ignatius"".

Di abad keempat juga ditemukan jejak sejarah bahwa para pahlawan iman secara resmi juga  diberikan penghormatan yg sama seperti para martir, seperti yang ditemukan dalam deklarasi St. Cyprian (De Zelo et Livore, col. 509; cf. Innoc. III, De Myst. Miss., III, x; Benedict XIV, op. cit., I, v, no 3 sqq; Bellarmine, De Missâ, II, xx, no 5).

Benar bahwa Paus Yohanes XV dikenal sebagai paus pertama yang secara resmi mengkanonisasi seorang santo dalam Gereja Katolik. Tetapi dengan melihat sejarah di atas, Paus Yohanes XV menggunakan wewenang yang sejatinya dimiliki oleh seorang uskup utk mengkonfirmasi kesucian ""sainthood"" dari orang kudus yang telah paripurna.

Mengenai ayat yang diajukan, memang benar semua orang beriman dipanggil dan dikuduskan, TETAPI hanya mereka yang setia sampai kesudahannya lah yang pada akhirnya benar2 menjadi orang kudus Allah (Rom 6 : 22, 1 Kor 1 : 8, Why 2 : 26).
Gereja Katolik dengan wibawaNya sebagai Tubuh Kristus, mengkonfirmasi para kudus yang telah paripurna ini, sehingga umat dapat memanggil dan berdevosi kepada mereka tanpa ragu2, untuk meneladan kesempurnaan iman mereka sehingga umat pun menjadi sempurna seperti para kudus pendahulu mereka."

Terlepas dari iman katolik akan "persekutuan para kudus" dan "devosi kepada para kudus", proses kanonisasi yang dilakukan oleh paus adalah semata2 bagian dari tata liturgi dan praktek Disiplin Gereja, dan BUKAN merupakan ajaran iman dan moral, sehingga hal ini sangat tidak tepat dikatakan sebagai kesesatan Gereja Katolik.


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:15:36 PM
998
Fasting on Fridays and during Lent were imposed
Imposed by popes said to be interested in the commerce of fish. (Bull, or permit to eat meat), some authorities say, began in the year 700. This is against the plain teaching of the Bible. (Read Matthew 15:10; 1st Corinthians 10:25; 1st Timothy 4:1-3).


"Berpuasa adalah praktek Disiplin kuno yang sudah ada sejak awal Gereja, bahkan jauh sebelum Gereja didirikan oleh Kristus, umat pilihan dalam Perjanjian Lama sudah melakukan pantang dan puasa.
Ajaran2 Gereja Awal pun menekankan pentingnya puasa dalam banyak hal: sebagai pertobatan, sebagai doa, sebagai persiapan utk pembaptisan (""Didache"", abad pertama), fasting for visions and righteous conduct (""The Shepherd of Hermas"", abad pertama), untuk mengenangkan dan meneladan Kristus (""Injil aprokripa Petrus"", ""Protoevangelium of James""), dan maksud2 baik lainnya.
Kiranya akal sehat tidak akan menyalahkan jika umat beriman berpuasa pada hari Jumat dan pada masa prapaskah untuk mengenangkan penderitaan Kristus, sebagai pertobatan, dan untuk mengalahkan kedagingan mengikuti ajaran Kristus."

"Puasa adalah suatu bentuk Disiplin, BUKAN merupakan ajaran iman dan moral, dan Disiplin berpuasa bahkan mendatangkan buah rohani yang berlimpah.

Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan praktek Disiplin yang mendatangkan buah rohani berlimpah disebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."



Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:17:27 PM
11th century
The Mass was developed gradually as a sacrifice; attendance made obligatory in the 11th century.
The Bible teaches that the sacrifice of Christ was offered once and for all, and is not to be repeated, but only commemorated in the Lord's Supper. (Read Hebrews 7:27; 9:26-28; 10:10-14).


"Ritual dan tata ibadah dalam perayaan misa Gereja Katolik memang mengalami perkembangan dari awal berdirinya Gereja. TETAPI, inti dan makna dari perayaan misa ini tidak pernah berubah.
Misa kudus dalam Gereja Katolik adalah ""perjamuan Tuhan"", ""kurban"", ""persekutuan"", ""misteri"".
Dokumen2 Gereja Perdana mengkonfirmasi bahwa makna dan inti dari misa kudus yang dipersembahkan oleh Gereja Katolik adalah sama seperti yg dilakukan dalam Gereja Perdana, misalnya: ""The Didache"", ""Leter to the Corinthians"" (Clement I, 80 M), ""Letter to the Philadelphians"" (Ignatius of Antioch, 110 M), ""Dialogue with Trypho the Jews"" (Justin Martyr, 155 M), ""Against Heresies"" (189 M), ""Letters 63"" (Cyprian of Carthage, 253 M), ""Prayer of the Eucharistic Sacrifice"" (Serapion, 350 M), ""Catechetical Lectures"" (Cyril of Jerusalem, 350 M), ""The City of God"" (Augustine, 419 M), ""The Rule of Faith"" (Fulgentius of Ruspe, 524 M).

Benar bahwa Kristus mempersembahkan diriNya sebagai kurban di kayu salib hanya sekali dan untuk selamanya. Dan argumen non-katolik yang menolak kurban berulang2 di dalam Misa Kudus seolah-olah adalah argumen yang valid, PADAHAL tidak demikian sebenarnya. Paskah Yahudi dalam Perjanjian Lama adalah kunci jawabannya. Dalam Paskah PL, terdapat 3 peristiwa penting:
1. menyembelih kurban domba (Kel 12 : 5 - 6)
2. menandai pintu dengan darah domba kurban (Kel 12 : 7)
3. makan daging domba kurban (Kel 12 : 8-10)

"Hal yang sama juga terjadi dalam Kurban Kristus. Anak Domba Allah disembelih hanya sekali untuk selamanya, yaitu ketika Yesus disalib. Darah Anak Domba dimeteraikan dalam diri umat Kristen melalui pembaptisan. Dan Daging dan Darah Kristus itu juga harus dimakan oleh umat tertebus, dan oleh karena ini lah Kristus mendirikan Sakramen Ekaristi. Kristus sendiri bersabda: ""Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman"" (Yoh 6 : 54). Jadi kita harus benar2 makan dan minum Daging dan Darah Tuhan, bukan sekedar makan dan minum lambang Daging dan Darah Tuhan. Di mana kita bisa memperolehnya? Tidak lain dan tidak bukan, dalam Misa Kudus. Sama seperti domba kurban disembelih hanya sekali, tetapi daging kurban dapat dimakan berulang2 tanpa harus menyembelih domba itu lagi. Analogi yg sama ini lah yg TIDAK menjadikan Gereja menyalibkan Kristus lagi dalam kurban Misa Kudus. Itulah sebabnya kurban Ekaristi juga disebut sebagai ""Kurban tidak berdarah"", karena pencurahan darah terjadi hanya sekali ketika kurban disembelih, bukan ketika memakan daging kurban.

Katekismus Gereja Katolik 1367
Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanya satu kurban: ""karena bahan persembahan adalah satu dan sama; yang sama, yang dulu mengurbankan diri di salib, sekarang membawakan kurban oleh pelayanan imam; hanya cara berkurban yang berbeda"". ""Dalam kurban ilahi ini, yang dilaksanakan di dalam misa, Kristus yang sama itu hadir dan dikurbankan secara tidak berdarah yang mengurbankan diri sendiri di kayu salib secara berdarah satu kali untuk selama-lamanya"" (Konsili Trente: DS 1743)."


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:18:10 PM
1079
The celibacy of the priesthood was decreed by Pope Hildebrand, Boniface VII
Jesus imposed no such rule, nor did any of the apostles. On the contrary, St. Peter was a married man, and St. Paul says that bishops were to have wife and children. (Read 1st Timothy 3:2,5, and 12; Matthew 8:14-15).


"Benar, fakta sejarah bahkan menuliskan bahwa Petrus sendiri tidak hidup selibat. Paus, uskup, klergi juga tidak selibat di awal Gereja, dan Paulus pun hanya menganjurkan untuk memilih uskup dari pria yg memiliki satu istri (BUKAN harus memiliki istri). Lalu mengapa Gereja Katolik di kemudian hari menerapkan Disiplin selibat bagi para klergi? Tentunya hal ini bukan lah tanpa alasan.

Paulus mengajarkan agar seorang prajurit tidak memusingkan dirinya dengan hidupnya, agar dapat mengabdi dengan lebih baik kepada atasannya (2 Tim 2 : 5), dan Paulus bahkan menganjurkan utk meneladan dirinya dalam hidup selibat (1 Kor 7 : 8). Jadi praktek Disiplin hidup selibat sebetulnya adalah hal yg sangat baik, bahkan sangat alkitabiah. Gereja Katolik tidak pernah memaksa seseorang untuk menjadi klergi, ketika mereka memilih menjadi klergi, mereka sepenuhnya menyadari konsekuensi untuk hidup selibat demi pelayanan yg lebih baik.

Sekali lagi, praktek hidup selibat adalah sebuah praktek Disiplin, sama sekali TIDAK berkaitan dengan ajaran iman dan moral.
Perlu juga diketahui bahwa dalam Gereja Katolik Timur, praktek Disiplin hidup selibat bukanlah keharusan yg harus dijalankan oleh klergi.

Seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin maka TIDAK BENAR jika menyimpulkan Disiplin hidup selibat ini sebagai kesesatan pengajaran katolik, karena menjalankan / tidak menjalankan Disiplin ini, dengan alasan yg dapat dipertanggung-jawabkan, tidak akan menjadikan seseorang berdosa."


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 22, 2014, 10:19:35 PM
1090
The Rosary, or prayer beads was introduced by Peter the Hermit, in the year 1090. Copied from Hindus and Mohammedans
The counting of prayers is a pagan practice and is expressly condemned by Christ. (Matthew 6:5-13).


"Sabda Yesus dalam Mat 6 : 5 - 13 mengajarkan kita untuk tidak berdoa seperti orang munafik, yaitu berdoa untuk mendapat pujian dari orang lain dan berdoa dengan bertele2.
Mendaraskan doa berulang kali sama sekali berbeda dengan doa orang munafik yang bertele2. Yesus juga tidak mendefiniskan bahwa doa berulang2 = doa munafik. Alkitab sendiri juga menuliskan contoh doa berulang2, yaitu Mzm 136. Juga Yesus ketika berdoa di taman Getzemani mengulang doa2 yang sama (Mat 26 : 36 - 46, Mrk 14 : 32 - 42). Doa yang berulang2, selama didoakan dengan sepenuh hati tidak pernah menjadi doa yang sia2.
Tentunya kita tidak akan menyamakan Mzm 136 dan doa Yesus sebagai doa munafik yang bertele2 bukan? Jelaslah bahwa doa rosario pun tidak dapat dikatakan doa yg salah hanya karena mengulang2 doa.

Doa rosario sendiri sebenarnya adalah sebuah praktek Disiplin rohani sekaligus bentuk Devosi. Seperti yg sudah diuraikan di awal thread, Disiplin dan Devosi selalu berkembang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan di waktu tertentu.
Praktek mengulang2 doa adalah praktek Disiplin rohani yg sudah ada sejak jaman Gereja Purba, buktinya bisa dilihat sendiri dalam doa Mzm 136. Di abad ke12 pun telah berkembang praktek Disiplin mendaraskan 150 doa Mazmur dalam biara2 Gereja. Dan pada abad ke15 mulai berkembang praktek Disiplin doa rosario dan Devosi kepada Maria melalui doa rosario ini. Sejarah perkembangan doa rosario bisa dilihat di website: http://www.newadvent.org/cathen/13184b.htm.

Karena doa rosario adalah merupakan bentuk praktek Disiplin dan Devosi yang BUKAN merupakan ajaran iman dan moral, maka seperti penjelasan singkat di awal thread mengenai Disiplin dan Devosi, TIDAK BENAR jika menyimpulkan hal tersebut sebagai kesesatan pengajaran katolik."


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:02:47 PM
1184
The Inquisition of heretics was instituted by the Council of Verona in the year 1184. Jesus never taught the use of force to spread His religion


Satu fakta sejarah yang penting untuk diluruskan, bahwa Konsili Verona pada tahun 1184 TIDAK memerintahkan inquisition. Konsili Verona adalah sebuah sinode lokal yang dipimpin oleh Paus Lucius III, dan sinode ini mengutuk bidaat Cathars, Paterines, Waldensians, dan Arnoldist. Konsili ini juga meng-anathema semua penganut bidaat2 tersebut.
Papal Bull yang dikeluarkan oleh Paus Lucius III: ""Ad Abolendam"" juga TIDAK memerintahkan diberlakukannya inquisition. Dalam suratnya ini, Paus Lucius III menyatakan bahwa semua bangsawan (counts, barons, rectors) dan petinggi2 sipil yang tidak ikut serta dalam usaha pemberantasan bidaat2 di atas ikut di-eksomunikasi dan harta milik mereka disita. Papal bull ini juga menyatakan bahwa otoritas gereja bersama dengan otoritas negara bersama2 memutuskan dekrit di atas (Referensi: Bornstein, Daniel Ethan, Medieval Christianity , 2009 - Minneapolis: Fortress Press - 237)

Pada hakekatnya, ajaran Gereja Katolik tetaplah sama, yaitu mengajarkan kasih, bahkan kasih kepada para pelaku bidaah. Hal ini dapat dilihat pada keputusan mutlak dan infallible kanon 3 Konsili Lateran IV (1215 M), bahwa semua pelaku dan penganut bidaat di-anathema dan di-ekskomunikasi (para klergi dicopot jabatannya, para awam diserahkan pada pihak berwajib untuk dihukum secara adil). Anathema dan ekskomunikasi tidak pernah bermaksud untuk menghukum, melainkan justru memberi kesempatan bagi para pelanggar untuk introspeksi diri dan  kembali ke pangkuan Gereja.

Penting untuk diluruskan, bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan inkuisisi dengan menggunakan kekerasan. Namun sayangnya, tidak dapat dipungkiri bahwa Konsili Verona dalam masa kepemipinan Paus Lucius III, juga Papal Bull ""Ad Abolendam"" yang dikeluarkan oleh Paus Lucius III, dan juga dukungan untuk inquisition oleh penerus Lucius III, yaitu Paus Gregorius IX di abad 12, menyebabkan organisasi (manusia) dalam Gereja terjatuh pada praktek kejahatan. Gereja Katolik pun dengan rendah hati mengakui kesalahan ini dan berusaha memperbaikinya.

Tanpa bermaksud mengingkari kesalahan ini, tapi penting bagi kita semua untuk memahami bahwa inquisition pada  hakekatnya adalah praktek Disiplin yang dilakukan oleh oknum2 tertentu dalam organisasi gereja, dan BUKAN merupakan ajaran iman dan moral, yang bahkan tidak sesuai dengan ajaran iman dan moral infallible yang dirumuskan dalam kanon 3 Konsili Lateran IV. Oleh karenanya, tidak tepat jika mengatakan Inquisition adalah kesesatan (ajaran) dalam Gereja Katolik.

Satu lagi fakta sejarah yg layak untuk dipahami, seringkali legenda dan mitos inquisition membuat kesalah-pahaman dan kebencian pada Gereja Katolik semakin parah.
Thread berikut ini menyajikan fakta mengenai Gereja Katolik, yang untuk mematahkan mitos2 yang salah mengenai kekejaaman inkuisisi katolik.
http://forumimankristen.com/index.php/topic,1851.0.html
Selain thread di atas, referensi berikut ini juga sangat baik untuk dibaca, untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi dalam inquisition Gereja di abad pertengahan dibandingkan dengan mitos2 yg umum ditemui mengenai kejahatan Gereja Katolik dalam inkusisi.
http://www.catholicapologetics.info/apologetics/protestantism/holinquisit.htm#MYTH
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:03:41 PM
1190
The sale of Indulgences, commonly regarded as a purchase of forgiveness and a permit to indulge in sin.
Christianity, as taught in the Bible, condemns such a traffic and it was the protest against this traffic that brought on the Protestant Reformation in the 16th century.


"Indulgensi adalah pengampunan yang diberikan oleh Gereja untuk mengurangi hukuman dosa seseorang setelah dosanya diampuni.
Penebusan Kristus memang telah membebaskan kita dari kematian kekal akibat dosa, tetapi dosa tetap mendatangkan hukuman yang harus kita lunasi meskipun dosa telah diampuni. Alkitab juga mencatat hal ini, seperti Daud yang tetap dihukum meskipun telah diampuni (2 Sam 12 : 13 - 14); juga Ibr 12 : 7 menyatakan bahwa kita tetap harus menerima ganjaran atas dosa, sekalipun perikop yang sama telah menekankan pengampunan dan penebusan  yang dibawa oleh Kristus.
Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mengikat dan melepas hal2 di dunia dan di surga bagi para rasul (Mat 18 : 18), juga kuasa untuk mengampuni atau menyatakan dosa seseoarang tetap ada (Mat 18 : 15 -17). Alkitab juga mencatat rasul Paulus ketika menjalankan kuasa ini, bahwa dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus (1 Kor 5 : 1 - 5) menyatakan seseorang berdosa dan menjatuhkan hukuman ekskomunikasi. Lalu dalam surat keduanya kepada jemaat di Korintus (2 Kor 2 : 5 - 10) Paulus mengampuni dan mengakhiri ekskomunikasi bagi pendosa itu. Paulus dalam hal ini sedang menjalankan kuasa seorang uskup untuk mengikat dan melepas hal2 di dunia dan di surga, untuk menyatakan dosa seseorang tetap ada dan mengampuni dosa seseoarang, untuk menyatakan sanksi hukuman atas dosanya dan kemudian mengampuninya.

"Sekali lagi, indulgensi adalah pengampunan untuk mengurangi / melunasi hukuman yang harus dilunasi setelah dosa seseorang diampuni. Indulgensi tidak pernah bisa dijual-belikan, melainkan diberikan oleh pemegang jabatan rasul (uskup). Gereja selalu menentang penjual-belian indulgensi.
Benar bahwa di masa lalu terjadi pelanggaran oleh oknum2 dalam Gereja untuk menperjual-belikan indulgensi, dan sangat benar lah para kaum reformasi menentangnya. Gereja Katolik dengan rendah hati mengakui kesalahan putra-putriNya di masa lalu, dan memperbaiki kesalahan ini.

Pada intinya, indulgensi adalah ajaran iman dan moral yang terdapat dalam Deposit Iman yang berarti ajaran ini adalah ajaran yg infallible, TETAPI praktek jual beli indulgensi adalah suatu bentuk Disiplin, suatu Disiplin yang sesat bahkan, tetapi sekali lagi Disiplin BUKAN lah merupakan ajaran iman dan moral, sehingga praktek jual beli indulgensi tidak dapat dikatakan sebagai kesesatan Gereja Katolik."

Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:04:47 PM
1215
The dogma of Transubstantiation was decreed by Pope Innocent III, in the year
By this doctrine the priest pretends to perform a daily miracle by changing a wafer into the body of Christ, and then he pretends to eat Him alive in the presence of his people during Mass. The Bible condemns such absurdities; for the Lord's Supper is simply a memorial of the sacrifice of Christ. The spiritual presence of Christ is implied in the Lord's Supper. (Read Luke 22:19-20; John 6:35; 1st Corinthians 11:26).


Transubstansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah iman orthodox yang terkandung dalam Deposit Iman.

Ketika Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan para muridNya, Yesus memecah roti dan membagikannya kepada para murid sambil bersabda: “Inilah TubuhKu” (Mat 26 : 26, Mrk 14 : 22, Luk 22 : 19). Lalu Yesus mengambil piala berisi anggur, membagikannya kepada para murid sambil bersabda: “Inilah DarahKu” ( Mat 26 : 27, Mrk 14 : 24, Luk 22 : 20). Di sini Yesus secara literal berkata bahwa roti adalah DagingNya, dan anggur adalah DarahNya. Roti dan anggur bukan sekedar simbol, tapi benar2 merupakan Daging dan Darah Tuhan.
Dalam kesempatan lain, ketika mengajar di Kapernaum (Yoh 6 : 25 - 59), Yesus juga menyatakan hal yang sama bahwa DagingNya adalah benar2 makanan dan Darahnya adalah benar2 minuman, dan kita tidak akan memperoleh hidup yang kekal kecuali kita makan dan minum Daging dan Darah Tuhan.

Sabda Yesus ini ditujukan kepada semua umat beriman. Kita yang tidak berpartisipasi dalam perjamuan terakhir, ketika Yesus menyatakan roti adalah TubuhNya dan anggur adalah DarahNya, kita tetap dapat menerima dan menyantap Tubuh dan Darah Tuhan dalam Ekaristi, karena Yesus sendiri mengamanatkan untuk melakukan Ekaristi ini (Luk 22 : 19). Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus juga mengajarkan hal ini (1 Kor 10 : 16, 11 : 23 - 29).

Jika ajaran Alkitab ini masih dirawa tidak cukup untuk membuktikan iman Gereja Apostolik tentang transubstansi, mari kita lihat ajaran bapa2 Gereja tentang hal ini.
St. Ignatius dari Anthiokia (110 M), murid langsung dari rasul Yohanes dan hidup sejaman dengan rasul Yohanes, mengajarkan transubstansi dalam Ekaristi, dapat dilihat dalam tulisan2nya: ”Letter to the Romans”, ”Letter to the Philadelphians”, ”Letter to Smyrnians”.
St. Justin Martir (100 - 165 M) dalam tulisan2nya juga mengajarkan hal yang sama tentang transubstansi: “First Apology, 66”, Dialogue with Trypho, 41”.
St. Irenaeus (140 – 202 M) juga mengajarkan hal sama dalam tulisannya: “Against Heresies”.
Konsili Ekumenis Efesus (431 M) juga mengajarkan hal yang sama, dalam session 1, yang mengkonfirmasi surat Cyril kepada Nestorius.

Kesimpulannya, Paus Innocent III tidak menciptakan ajaran baru, malah sebaliknya mengukuhkan ajaran apostolik yang orthodox mengenai iman Gereja tentang transubstansi."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:05:30 PM
1215
Confession of sin to the priest at least once a year was instituted by Pope Innocent III., in the Lateran Council
The Bible commands us to confess our sins direct to God. (Read Psalm 51:1-10; Luke 7:48; 15:21; 1st John 1:8-9).


"Hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa. Alkitab mencatat bahwa Yesus, Sang Allah Putra yang berinkarnasi, berkuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9 : 6). Yesus pun memberikan kuasa ini kepada para rasul (Yoh 20 : 23); sama seperti Bapa memberikan segala kuasa kepada Yesus, Yesus pun memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada GerejaNya (Yoh 20 : 21 - 23). Yakobus juga mengajarkan kita untuk saling mengakukan dosa (Yak 5 : 16). Jadi praktek mengakukan dosa kepada sesama, dan meminta pengampunan (melalui) klergi adalah praktek rohani yang alkitabiah, apostolik, dan sudah ada sejak jaman Gereja Perdana.

Bukti2 sejarah dari jaman Gereja Purba juga banyak yang mengajarkan umat beriman untuk mengakukan dosa kepada para klergi, dan memperoleh pengampunan melalui perantaraan mereka, seperti yg dapat dilihat dalam tulisan2 bapa2 Gereja seperti: ”Apostolic Tradition. 3”(Hippolytus, 215 M), ”Homilies on Leviticus, 2 : 4” (Origen, 248 M), ”To the Clergy, 9 (16) : 2” (Cyprian, 250 M), ”To the Lapsed, 28 - 29” (Cyprian, 251 M), ”Concerning Repentance, I : 7 - 8” (Ambrose, 388 M), ”Christian Combat” (Augustine, 397 M). Konsili Lateran IV pada tahun 1215 semata2 menegaskan kembali ajaran yang sudah ada sejak awal mula berdirinya Gereja ini.

Kesimpulannya, praktek mengakukan dosa kepada pastor secara rutin, adalah praktek rohani yang alkitabiah, apostolik, dan merupakan ajaran yang sudah ada sejak Gereja Perdana."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:06:21 PM
1220
The adoration of the wafer (Host), was decreed by Pope Honorius
So the Roman Church worships a God made by human hands. This is plain idolatry and absolutely contrary to the spirit of the Gospel. (Read John 4:24)./color]


Adorasi kepada Hosti Kudus adalah praktek Devosi kuno yang sudah ada di Gereja, dan bukan merupakan penyembahan berhala, karena iman orthodox Gereja yang apostolik percaya bahwa Hosti Kudus adalah benar2 merupakan Tubuh Tuhan Yesus, yang hadir secara nyata baik fisik maupun spritual (lihat penjelasan sebelumnya mengenai ""transubstansi"").

Memang benar, sebagaimana bentuk2 Devosi yang lainnya, adorasi kepada Hosti Kudus dalam Gereja mengalami perkembangan. Dalam masa2 awal Gereja Perdana Hosti / Roti yang telah dikonsekrasi dalam perayaan Ekaristi (dalam pertemuan jemaat) di bawa ke rumah2 untuk dibagikan kepada mereka yang tidak dapat menghadiri perayaan karena sedang sakit. Sekitar abad keempat, biara2 mulai menyimpan Hosti yang telah dikonsekrasi terutama untuk dibagikan kepada orang sakit. Dan mulai abad ke11, menyimpan Hosti yang telah dikonsenkrasi mulai menjadi praktek umum dalam Gereja.

Pada abad ke11, biarawan dari Prancis: Berengar of Tours mulai mengajarkan bahwa roti dan anggur yang dikonsekrasi salam perayaan Ekaristi tidak mengalami perubahan fisik menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Paus Gregorius VII memerintahkan biarawan Berengar untuk menarik ajaran ini, dan Paus Gregorius VII meluruskan kembali iman katolik bahwa Tuhan Yesus benar2 hadir secara nyata baik fisik maupun spiritual dalam Sakramen Maha Kudus Hosti dan Anggur. Umat meresponse seruan Paus Gregorius VII dengan sangat baik, mereka mengunjungi Sakramen Maha Kudus dan melakukan adorasi kepada Hosti yang disimpan, dan Devosi ini menjadi praktek yang umum dilakukan dalam Gereja.

Sebagai kelanjutan dari Devosi yang sangat baik ini, setelah kemenangan Perancis dan Gereja Katolik dalam menghadapi bidaah Albigensians, raja Louis VII menghendaki agar Sakramen Maha Kudus ditahtakan di kapel Salib Suci (chapel of the Holy Cross), dan banyak umat yang berkunjung dan melakukan adorasi kemudian meminta uskup setempat, Pierre de Corbie, agar Sakramen Maha Kudus tetap ditakhtakan di sana secara permanent. Uskup Pierre de Corbie meneruskan permohonan ini ke Roma, dan paus Honorius III mengabulkan permohonan ini, dan devosi kepada Sakramen Maha Kudus menjadi praktek Devosi yang berkesinambungan di Perancis sampai terjadinya revolusi di negara tersebut.

Jadi bukan seperti yang disalah-pahami oleh non katolik, bahwa Paus Honorius memulai / menciptakan ajaran baru adorasi kepada Hosti Kudus di abad ke12. Penghormatan dan Adorasi kepada Hosti Kudus adalah iman dan praktek Devosi kuno yg sudah ada di dalam Gereja. Gereja Katolik mengembangkan Devosi ini dan menjadikan adorasi kepada Hosti Kudus sebagapi Devosi yang umum dalam Gereja Katolik setelah rangkaian peristiwa2 di atas.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:07:16 PM
1229
The Bible forbidden to laymen and placed in the Index of forbidden books by the Council of Valencia
Jesus commanded that the Scriptures should be read by all. (John 5:39; 1st Timothy 3:15-17).


"Ada dua kesalahan sejarah yang sangat fatal dalam kesalah-pahaman ini.

Pertama, ""Index of Forbidden Books"" pertama kali dikeluarkan pada tahun 1559 di bawah perintah Paus Paulus IV dan dipublikasikan oleh ""Sacred Congregation of the Roman Inquisition"". Index ini merinci tulisan2 yang tidak sesuai dengan iman katolik yang orthodox dan melarang umat membaca tulisan2 tersebut. Kitab Suci TIDAK PERNAH dimasukkan dalam daftar ini!!
Jadi sangat tidak mungkin konsili yang diadakan di tahun 1229 mendekritkan ""Index"" yg dikeluarkan pada tahun 1559, and Indek yg diacu oleh non-kristen ini juga TIDAK melarang umat untuk membaca Kitab Suci.

Kesalahan kedua, Gereja Katolik tidak pernah mengadakan konsili maupun sinode di Valencia. Pada tahun 1200an kota Valencia sedang dalam kekuasaan kaum Muslim Moors, jadi sangat tidak mungkin diadakan konsili gereja di Valencia pada tahun 1229.
Fakta sejarah yang paling mendekati kesalah-pahaman ini adalah mengacu pada konsili lokal yang diadakan di Tolouse pada tahun 1229. Benar pula bahwa konsili Tolouse mendekritkan keputusan pelarangan membaca Kitab Suci edisi bahasa sehari2 (vulgar tongue), karena terdapat potensi kesesatan dalam terjemahan Kitab Suci edisi bahasa sehari2. Dekrit ini dikeluarkan sebagai upaya perlawanan terhadap bidaah Albigensians. Tetapi konsili ini tidak pernah melarang umat untuk membaca Kitab Suci terjemahan yang benar seperti misalnya versi Vulgata.
Untuk lebih lengkapnya, silakan dibaca di sini:

Jadi tidak benar bahwa Gereja Katolik melarang umat membaca Kitab Suci, malah sebaliknya Gereja Katolik mendesak umat untuk rajin membaca Kitab Suci secara rutin, karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus (Katekismus Gereja Katolik #133)."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:08:11 PM
1287
The Scapular was invented by Simon Stock, and English monk
It is a piece of brown cloth, with the picture of the Virgin and supposed to contain supernatural virtue to protect from all dangers those who wear it on naked skin. This is fetishism.


Scapular adalah merupakan salah satu bentuk Devosi sekaligus praktek Disiplin rohani. Seperti penjelasan di awal thread, penggunaan scapular tentu saja merupakan perkembangan praktek Devosi dan Disiplin dalam Gereja. Perlu diketahui juga bahwa scapular sangat beragam, seperti ""The Scapular of the Most Blessed Trinity"", ""The Scapular of Our Lady of Mount Carmel"", ""The Red Scapular of the Passion"", ""The Scapular of St. Michael the Archangel"", ""The Scapular of St. Benedict"", dsb.

Scapular yang dipermasalahkan di sini adalah ""The Scapular of Our Lady of Mount Carmel"". Non-katolik yang mempermasalah penggunaan scapular dalam Gereja Katolik sekali lagi tidak memiliki pengetahuan sejarah yg benar. Scapular BUKAN diciptakan oleh St. Simon Stock, karena scapular sejatinya telah digunakan oleh biarawan2, diawali oleh biarawan2 ordo Benedictine yg telah ada sejak abad ke6.

Awal mulanya scapular menyerupai celemek yang dikenakan oleh biarawan Benedictine yg sedang bekerja, yang menurut peraturan biara Benedictine disebut sebagai ""scapulare propter opera"" (scapular bekerja). Setelah abad ke-9, seorang biarawan menerima scapular setelah mengucapkan sumpah pengabdian, dan scapular ini dikenal sebagai ""kuk Kristus"" (iugum Christi) dan ""perisai Kristus"" (scutum Christi). Biarawan2 ordo2 lain juga menerapkan Disiplin penggunaan scapular seperti ordo Benedictine, dan scapular menjadi Disiplin rohani biara yg umum pada waktu itu.

Lama kelamaan, umat awam yang yg akrab dengan praktek hidup membiara mengadopsi Disiplin scapular biara dan membuat scapular versi kecil untuk mereka pakai, yg terdiri dari dua potong kain kecil yang dihubungkan oleh seutas tali, dikenakan di leher dan ditaruh di bawah pakaian sehari2, sebagai tanda / pengingat bahwa mereka bergabung dalam komunitas yg mengadopsi Disiplin2 biara2 tertentu."

Scapular Bunda Karmel  digunakan oleh biarawan Carmelith, setelah penampakan Bunda Maria kepada St. Simon Stock. Dari sejarah di atas, bukan hal yang aneh jika umat awam  yg akrab dengan praktek Disiplin biara Carmelith mengadopsi scapular untuk mereka pakai dalam hidup sehari2.

Devosi dan Disiplin BUKAN lah merupakan ajaran iman dan moral, jadi Devosi dan Disiplin scapular apa pun tidak dapat dikatakan sebagai kesesatan dalam Gereja Katolik.

Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:08:56 PM
1414
The Roman Church forbade the cup to the laity, by instituting the communion of one kind in the Council of Constance
The Bible commands us to celebrate the Lord's Supper with unleavened bread and the fruit of the vine. (Read Matthew 26:27; 1st Corinthians 11:26-29).


"Satu fakta sejarah yang harus diluruskan, bahwa Konsili Constance sama sekali TIDAK melarang umat untuk menerima Sakramen Maha Kudus Dalam Rupa Anggur.

Sesi 13 dari konsili Constance mengajarkan bahwa Kristus hadir sepenuhnya dalam masing2 rupa Sakramen. Jasmani Kristus (baik daging maupun darah), jiwa Kristus, dan keilahian Kristus hadir sepenuhnya dalam Hosti Kudus. Begitu pula jasmani Kristus (baik daging maupun darah), jiwa Kristus, dan keilahian Kristus hadir sepenuhnya dalam Anggur Kudus. Menerima salah satu saja dari kedua rupa komuni ini berarti kita telah menerima Kristus secara utuh. Oleh karenanya, konsili Constance mengutuk ajaran bidaat Utraquist yg mengharuskan umat menerima komuni dalam dua rupa: roti dan anggur, karena ajaran sesat ini menyatakan bahwa Kristus tidak hadir secara sempurna dalam Hosti Kudus, dan Kristus tidak hadir secara sempurna dalam Anggur Kudus, sehingga mengharuskan umat menerima komuni dalam dua rupa.
Ajaran konsili Constance ini TIDAK SAMA dengan larangan menerima komuni dalam dua rupa atau larangan menerima Anggur Kudus, dan sama sekali TIDAK melarang umat untuk menerima Anggur Kudus dari piala perjamuan.

Benar, dalam sabdaNya (Yoh 6 : 54) Yesus mengamanatkan kita untuk makan Daging dan Darah Tuhan agar kita memperoleh hidup. Tetapi dalam ayat 52 dan 59 di perikop yang sama, Yesus menjanjikan hidup yang kekal bagi mereka yang memakan ""Roti"", tanpa mengharuskan meminum Anggur. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Kristus tidak mengharuskan komuni dalam dua rupa. Komuni dua rupa yang dinyatakan Kristus dalam ayat 54 adalah untuk menekankan janjiNya dan menyampaikan ajaranNya bahwa Tubuh dan DarahNya adalah benar2 santapan rohani bagi umat beriman.

Memang benar bahwa komuni dalam dua rupa adalah praktek umum di jaman Gereja Perdana, sebagaimana dicatat dalam 1 Kor 11 : 28 atau Kisah Para Rasul atau dokumen2 kuno Gereja. Tetapi, dalam Gereja Purba juga banyak dilakukan penerimaan komuni dalam satu rupa saja, misalnya ketika Hosti dibawa ke rumah2 untuk dibagikan kepada jemaat yang tidak dapat menghadiri pertemuan, komuni dalam rupa Hosti saja untuk orang sakit, dan komuni dalam rupa Anggur Kudus saja bagi anak kecil yg sudah dibaptis. Hal ini tercatat dalam dokumen2 seperti tulisan Tertullian (Ad Uxor. c. v, P.L. I, 1296), tulisan St. Cyprian (De Lapsis 26), surat St. Basil (Ep. xciii, P.G., XXXII, 485), surat St. Jerome (Ep. xlviii, 15, P.L. XXII, 506), tulisan Eusebius (Church History VI.44).

Kesimpulan dari uraian di atas, TIDAK benar bahwa Gereja Katolik melarang umat menerima Anggur Kudus dalam konsili Constance. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kristus hadir sepenuhnya dalam masing2 rupa Sakramen, baik Hosti maupun Anggur, dan umat diperkenankan menerima salah satu rupa atau kedua rupa Sakramen."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:09:49 PM
1439
The doctrine of Purgatory was proclaimed as a dogma of faith by Council of Florence
There is not one word in the Bible that would teach the purgatory of priests. The blood of Jesus Christ cleanseth us from all sins. (Read 1st John 1:7-9; 2:1-2; John 5:24; Romans 8:1).


Doktrin purgatory memang ditegaskan sebagai Dogma yang infallible di abad ke-5, tetapi iman mengenai pemurnian terakhir setelah kematian adalah iman orthodox yang apostolik yang sudah ada sejak awal mula Gereja.

Konsep pemurnian terakhir setelah kematian untuk membayar lunas hutang2 dosa juga tertulis dalam Kitab Suci (1 Kor 3 : 11 - 15; Mat 5 : 25 - 26, 12 : 31 - 32). Konsep pemurnian terakhir ini juga sudah menjadi bagian iman sebelum kedatangan Kristus, seperti yg tertulis dalam 2 Mak 12 : 41 - 45. HARAP DIINGAT, Kitab Makabe adalah bagian dari kanon Kitab Suci Gereja Katolik sejak kanon Kitab Suci mulai dibentuk, dapat dilihat dari sinode Hippo pada tahun 393 M dan kanon 24 konsili Kartage pada tahun 419 M. Bukti lain bahwa pemurnian terakhir adalah bagian dari iman sebelum kedatang Kristus dapat dilihat dalam tulisan2 umat Yahudi seperti ""The Life of Adam and Eve 46-7"".

Catatan bapa2 Gereja pun mengkonfirmasi iman Gereja Purba mengenai pemurnian terakhir setelah kematian, seperti: ""The Acts of Paul and Thecla"" (160 M), ""Epitath of Abercius"" (Abercius, 190 M), ""The Martyrdom of Perpetua and Felicity 2 : 3-4"" (202 M), ""The Crown 3 : 3"" (Tertullian, 211 M), ""Monogami 10 : 1-2"" (Tertullian, 206 M), ""Letters 51 [55] : 20"" (Cyprian of Chartage, 253 M), ""Catechetical Lectures 23 : 5 : 9"" (Cyril of Jerusalem, 350 M), ""Sermon of the Dead"" (Gregory of Nyssa, 382 M), ""Homilies on First Corinthians 41 : 5"" (John Chrysostom, 392 M), ""Homilies on Philippians 3 : 9 - 10"" (John Chrysostom, 402 M), ""Sermons 159 : 1"" (Augustine, 411 M), ""The City of God 21 : 13"" (Augustine, 419 M), ""Handbook on Faith, Hope, and Charity 18 : 69"" (Augustine, 421 M), dsb.

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa iman tentang pemurnian terakhir setelah kematian, yang dikenal sebagai "purgatory" dalam Gereja Katolik, adalah iman orthodox yang sudah ada sejak awal mula dan tidak dipertanyakan orthodoxy-nya sampai bidaah reformasi menyerangnya. Dan sebagai perlawanan dari heresy ini, Gereja Katolik menegaskan iman Gereja yang sejati dalam Dogma Purgatory.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:12:00 PM
1439
The doctrine of 7 Sacraments affirmed
The Bible says that Christ instituted only two ordinances, Baptism and the Lord's Supper. (Read Matthew 28:19-20; 26:26-28).


Fakta yang harus diluruskan di sini adalah bahwa istilah ""sakramen"" memang merupakan istilah ""baru"" dan tidak dijumpai dalam Gereja Purba. Definisi sakramen dalam Gereja Katolik juga TIDAK SAMA dengan definisi sakramen yang dikira oleh non-katolik (misal: sakramen = ordinances). Dalam Gereja Katolik, istilah ""sakramen"" baru digunakan dan didefinisikan dengan lebih baik setelah abad ke 12, dimulai dari Konsili Lyon pada tahun 1274, dilanjutkan dalam Konsili Florence pada tahun 1338 - 1445. Jadi bukan yang aneh kalo pada sekitar tahun 1338 mulai ditegaskan bahwa ada 7 Sakramen dalam Gereja.

Tapi hal ini bukan berarti bahwa Gereja baru mengenal Sakramen-Sakramen ini setelah abad ke13. Semua tanda yang ditetapkan Kristus dan berdaya guna menghasilkan rahmat dan memberikan kehidupan ilahi kepada kita, yang oleh Konsili Lyon dan Konsili Florence didefinisikan sebagai ""Sakramen"" dan jumlah keseluruhannya ada 7, adalah benar2 sakramen yang sudah ada sejak awal mula Gereja didirikan.
1. Yesus memerintahkan para murid untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus --> Sakramen Baptis
2. Yesus memberikan rahmat Ekaristi pada malam perjamuan terakhir ketika berkata ""Inilah TubuhKu"" dan ""Inilah piala DarahKu"" (Mat 26 : 27 - 29, Mrk 14 : 22 - 25, Luk 22 : 14 - 23) --> Sakramen Ekaristi
3. Dengan memerintahkan para rasul: ""Lakukanlan ini untuk mengenangkan Daku"", Yesus menjadikan mereka imam yang dapat mengkonsekrasikan Ekaristi, dan dengan ini Yesus mendirikan Sakramen Imamat.
4. Yesus memberi kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa (Yoh 20 : 23) --> Sakramen Pengampunan Dosa
5. Yesus berjanji untuk mengutus Roh Kudus, dan memenuhi janjiNya dalam peristiwa Pentakosta --> Sakramen Krisma / Penguatan
6. Yesus menyembuhkan banyak orang sakit melalui doa dan memberikan kuasa ini kepada para rasul --> Sakramen pengurapan orang sakit
7. Yesus mengajarkan tentang kekudusan pernikahan yang tidak terceraikan --> Sakramen Perkawinan

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Dogma 7 Sakramen adalah ajaran iman yang infallible yang sudah ada dalam Deposit Iman sejak jaman Gereja Perdana.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:12:29 PM
1508
The Ave Maria, part of the last
It was completed 50 years afterward and finally approved by Pope Sixtus V, at the end of the 16th century.


"Ave Maria adalah bentuk Devosi doa, yang sesuai dengan penjelasan di awal thread, merupakan perkembangan Devosi dalam Gereja.
Jadi bukan hal yang aneh jika Ave Maria baru diselesaikan di abad ke15, dan hal ini sama sekali BUKAN merupakan kesesatan dalam Gereja Katolik."


Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:14:01 PM
1545
The Council of Trent, held in the year 1545, declared that Tradition is of equal authority with the Bible
By tradition is meant human teachings. The Pharisees believed the same way, and Jesus bitterly condemned them, for by teaching human tradition, they nullified the commandments of God. (Read Mark 7:7-13; Colossians 2:8; Revelation 22:18).


Tradisi Suci adalah semua ajaran iman dan moral selain Kitab Suci yang diteruskan oleh para rasul, yang mengarahkan kepada kekudusan hidup dan menumbuhkan iman umat (silakan baca penjelasan lebih lengkapnya dalam: http://forumimankristen.com/index.php/topic,12.0.html).
Tradisi Suci BUKAN merupakan ajaran manusia, dan BERBEDA dengan ajaran manusia. Ajaran manusia yang TIDAK infallible dalam Gereja Katolik adalah Doktrin, Disiplin, dan Devosi. Non-katolik biasanya salah memahami Doktrin, Disiplin, dan Devosi yang TIDAK infallible sebagai Tradisi Suci, dan ini lah yg biasanya menjadi akar permasalahannya.

Kitab Suci sendiri menekankan bahwa kita harus berpegang teguh pada ajaran lisan dan ajaran tulisan (2 Tes 2 : 15). Ajaran lisan adalah Tradisi Suci, ajaran tulisan pun bukan terbatas pada kitab2 yg dikumpulkan dalam kanon Kitab Suci saja. Tidak ada indikasi sedikitpun bahwa ajaran Paulus dalam ayat ini yg mengatakan ajaran lisan tidak berlaku lagi setelah kanon Kitab Suci ditetapkan.

Fakta sejarah dan ajaran2 bapa2 Gereja pun sama sekali tidak mengindikasikan ajaran meninggalkan ajaran lisan setelah kanon Kitab Suci ditetapkan. Mari kita lihat pada kanon Kitab Suci tertua yg pernah ditemukan, yaitu ""Muratorian Fragment"", yang diperkirakan ditulis pada tahun 155 M. Perlu dicatat bahwa ""Muratorian Fragment"" hanya merinci daftar kanon Perjanjian Baru, yang mirip dengan kanon PB kita sekarang ini, tetapi tidak menyertakan ""Injil Matius"", ""Surat Yakobus"", dan hanya merinci 2 surat Yohanes (1 surat Yohanes hilang dari kanon Muratorian). Selain itu kanon Muratorian juga mengikut-sertakan tulisan2 non-kanonikal lain seperti: ""Surat Paulus kepada jemaat Laodiceans"", ""Surat Paulus kepada jemaat Alexandrians"", ""the Wisdom Written by the Friends of Solomon in His Honor"", ""the Apocalypse of Peter"", dan ""the Shepherd"" (ditulis oleh Hermas). Juga penting untuk dicatat bahwa kanon Muratorian ini adalah satu dari beberapa kanon yang dipakai di Gereja-Gereja Purba, yang tidak seragam antara satu Gereja dengan Gereja lainnya.

Demi mempermudahkan ilustrasi bahwa sola-scriptura itu TIDAK PERNAH menjadi iman Gereja Purba, melainkan selalu Tradisi Suci sejajar dengan Kitab Suci, mari kita ANDAIKAN bahwa kanon Muratorian di tahun 155 M itu sudah diterima sebagai kanon Kitab Suci Gereja pada saat itu. Tetapi tidak satu pun bapa2 Gereja yg mengajarkan utk bersola-scriptura, melainkan tetap mengajarkan umat agar teguh berpegang pada Tradisi Suci DAN Kitab Suci, seperti yg dapat dilihat dalam dokumen2 berikut ini: ""Against Heresies 2:9"" (Irenaeus, 189 M), ""The Prescription Against Heretics 19"" (Tertullian, 200 M), ""On First Principles Bk. 1 Preface 2"" (Origen, 225 M), ""Ecclesiastical History, 3:36"" (Eusebius, 352 M), ""Letter on the Councils of Ariminum and Seleucia"" (Athanasius, 359 M), ""On the Holy Spirit 27"" (Basil, 375 M), ""The Dialogue Against the Luciferians 8"" (Jerome, 382 M), ""Homilies on Second Thessalonians"" (John Chrysostom, 400 M), ""Commonitory 2"" (Vincent of Lerins, 432 M), ""Letters no. 89"" (Theodoret, 443 M), dsb.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa sejak semula Gereja Perdana selalu menerima ajaran2 lisan dalam Tradisi Suci sebagai sumber iman dan moral yang sejajar dengan ajaran2 tertulis. Setelah ajaran2 tertulis yang infallible dikanonkan dalam sinode Hippo di abad ke3 dan dalam konsili Kartage di abad ke-4, Gereja Katolik tetap melestarikan iman Gereja Perdana dan menerima baik Tradisi Suci maupun Kitab Suci sebagai sumber iman dan moral yang sejajar, sama2 mutlak dan infallible. Konsili Trente di abad ke15 menegaskan dan mengukuhkan iman ini sebagai upaya melawan bidaat yg hendak membuang otoritas dan wibawa Tradisi Suci dari hidup Gereja.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:14:42 PM
1546
The apocryphal books were added to the Bible also by the Council of Trent
These books were not recognized as canonical by the Jewish Church. (See Revelation 22:8-9).


"Distorsi sejarah terbesar yang harus diluruskan bagi non-katolik!
Gereja Katolik menggunakan kanon Kitab Suci yang sama yang ditetapkan dalam sinode Hippo pada tahun 393 M dan kanon 24 konsili Kartage pada tahun 419 M. Justru sebaliknya para bidaat lah yang hendak membuang ketujuh kitab yang mereka sebut apokripa / deutrokanonika itu, sehingga konsili Trent pada abad ke-15 menegaskan kembali kanon Kitab Suci yang telah dipakai dalam Gereja selama lebih dari 1 milenia.

Juga distorsi sejarah mengenai konsili rabi Yahudi (konsili Jamnia) yang dijadikan acuan penetapan kanon PL oleh non-katolik. Fakta sejarah mencatat bahwa TIDAK PERNAH ADA konsili Jamnia. Referensi2 yg mengklarifikasi fakta ini: ""Lee Martin McDonald, James A. Sanders, Editors: The Canon Debate; Jack P. Lewis, Jainnia Revisited, p 161, 2002"", ""The Council Of Jamnia And The Old Testament Canon, Robert C. Newman, 1983"".

Kiranya fakta yang sangat jelas ini dapat meluruskan kesalah-pahaman non-katolik, bahwa justru di luar Gereja Katolik lah terdapat perubahan kanon Alkitab dari yang telah ditetapkan oleh bapa2 Gereja di awal abad ke-3."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:15:19 PM
1560
The Creed of Pope Pius IV was imposed as the official creed 1560 years after Christ and the apostles
True Christians retain the Holy Scriptures as their creed. Hence their creed is 1500 years older than the creed of Roman Catholics. (Read Galatians 1:8).


"Kredo Pius IV ""Professio fidei Tridentina"" dirumuskan dalam konsili Trente sebagai perlawanan terhadap bidaat protestantism dalam Gereja Katolik.
Sama seperti Kredo Nisea dan Kredo Konstantinopel yang dirumuskan pada abad ke2 dan abad ke 3 untuk melawan bidaat yg berkembang pada waktu itu, maka sangat wajar jika di abad-5 Paus Pius IV merumuskan kredo ini dalam konsili Trente.

Kredo Pius IV adalah menegaskan kembali iman Gereja Katolik yang infallible sesuai dengan ajaran apostolik yg terdapat dalam Deposit Iman."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:15:59 PM
1834
The Immaculate Conception of the Virgin Mary was proclaimed by Pope Pius IX
The Bible states that all men, with the sole exception of Christ, are sinners. Mary herself had need of a Savior. (Read Romans 3:23; 5:12; Psalm 51:5; Luke 1:30,46,47).


"Maria bebas dari noda dosa adalah iman Gereja yang terkandung dalam Deposit Iman.
Yesus adalah sepenuhnya Allah, bahkan dalam rupa janin ketika tinggal selama 9 bulan dalam rahim Maria, Yesus adalah sepenuhnya Allah. Sama seperti tabut perjanjian yang bersih tanpa noda sehingga Allah berkenan bersemayam di dalamnya, maka tentu saja Maria adalah bersih dari noda dosa sehingga Allah Putra berkenan bersemayam di dalamnya.

Pembebasan dari dosa asal diberikan kepada Maria melalui satu hukum universal yang sama: yaitu dikarenakan oleh jasa2 KRISTUS Sang Penebus, yang kepada manusia2 lainnya dianugerahkan melalui pembaptisan. Maria tetap membutuhkan penebusan KRISTUS agar dirinya dapat dijauhkan dari dosa asal, sehingga sebagai Hawa yg baru, Maria dapat menjadi ibu dari Adam yg baru. Penebusan Maria adalah karya agung dari penebusan KRISTUS.

Bapa2 Gereja pun meneruskan ajaran para rasul mengenai Maria tanpa noda dosa. Silakan dilihat di thread berikut untuk uraian lebih rinci dan juga kutipan2 tulisan bapa2 Gereja mengenai ajaran ini:
http://forumimankristen.com/index.php?topic=292.0

Sebagai kesimpulan, iman akan ""Maria tanpa noda dosa"" adalah Deposit Iman yang apostolik dan sudah ada sejak awal mula Gereja, dan penegasan iman ini dalam Dogma ""Maria Dikandund Tanpa Noda Dosa""  ditujukan untuk melawan bidaat yg menyerang iman ini Gereja Katolik pada abad ke-18."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:16:46 PM
1870
In the year 1870 after Christ, Pope Pius IX proclaimed the dogma of Papal Infallibility
This is a blasphemy and the sign of the apostasy and of the antichrist predicted by St. Paul. (Read 2nd Thessalonians 2:2-12; Revelation 17:1-9; 13:5-8,18).
Many Bible students see the number of the beast (Rev. 13:18), 666 in the Roman letters of the Pope's title: "VICARIVS FILII DEI." -- V-5, I-1; C-100, I-1; V-S, I-1; L-50, I-1; I-1; D-500, I-l — Total, 666.


Sering kali, non-katolik menyamakan ""infalliblility"" (tidak dapat sesat) dengan ""impecability"" (tidak bercela). Selama non-katolik tidak dapat membedakan kedua hal ini, maka selamanya non-katolik akan salah memahami doktrin papal infalliblility.

Infalibilitas paus adalah iman Gereja yang orthodox dan sudah ada sejak awal mula Gereja. Bahkan Alkitab juga mengajarkan akan hal ini.

Petrus menikmati karunia ""infalibility"" (tidak dapat sesat). Hal ini tertulis jelas dalam Kitab Suci ketika Yesus menjadikan Petrus sebagai batu karang Gereja dan memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus (Mat 16 : 17 - 19). Rasul2 yg lain juga memiliki rahmat infalibility ini secara bersama2 dalam persekutuan dengan Petrus Sang Batu Karang (Mat 18 :18), ketika Petrus memanggil mereka dalam konsili untuk memutuskan ajaran iman dan moral seperti yang dicontohkan dalam perikop Kisah Para Rasul 15.

Sekalipun Petrus menikmati karunia ""infallibility"" (tidak dapat sesat), tetapi Petrus tetaplah tidak ""impeccable"" (tidak bercela). Ya, Petrus memiliki banyak kelemahan seperti mengingkari Yesus sampai 3x (Mat 26 : 69 - 75, Mrk 14 : 66 - 72, Luk 22 : 54 -62, Yoh 18 : 12 - 27), atau ditegur Paulus karena munafik (Gal 2 : 11 - 14). Tetapi sekalipun Petrus tidak sempurna (not impeccable), tetapi rahmat infallibilitas itu tetap melekat pada diri Petrus karena dianugerahkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Infallible tidak sama dengan bebas dari dosa, bebas dari kesalahan2 hidup, bebas dari kesalahan2  logis, politis, sains, bahkan kesalahan teologi. Petrus, dan juga penerus2 jabatan Petrus, memiliki kuasa infallibilitas hanya ketika berbicara secara ex-cathedra, yaitu ketika berbicara:
1. dalam posisinya sebagai pastor dan doctor semua umat kristen
2. dengan kewibawaan otoritas rasuliah tertinggi 
3. mendefinisikan sebuah doktrin mengenai iman dan moral untuk diimani oleh Gereja universal."

"Infallibilitas Petrus dan penerus2nya juga dicatat oleh kesaksian2 bapa2 Gereja seperti: ""Letter to the Corinthians 1:1, 58:2-59:1,63:2"" (Clement I, 80 M), ""Letter to the Romans 1:1"" (Ignatius of Antioch, 110 M), ""The Unity of the Catholic Church 4; 1st edition"" (Cyprian of Carthage, 251 M), dsb.

Dari sini kita lihat bahwa doktrin infalibilitas paus adalah merupakan ajaran kuno dan apostolik yang sudah ada sejak awal mula Gereja, dan paus Pius IX menegaskan kembali ajaran ini sebagai dogma yang mutlak dan infalible."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:17:34 PM
1907
Pope Plus X, in the year 1907, condemned together with "Modernism", all the discoveries of modern science which are not approved by the Church
Pius IX had done the same thing in the Syllabus of 1864.


Kesalahan fatal dari kesalah-pahaman ini, bahwa non-katolik mendefinisikan ""modernism"" secara berbeda dari ""modernism"" yang dikutuk oleh Paus Pius X secara ex-cathedra.
Gereja Katolik tidak pernah mengutuk ilmu sains modern, melainkan mengutuk bidaah ""modernism"".

Modernism mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran positif dalam keyakinan2 yang ada, bahwa pengakuan2 iman dalam semua keyakinan itu semuanya sama. Modernism tidak mengakui keyakinan2 tertentu sebagai kebenaran. Modernisme mengajarkan bahwa semua keyakinan harus ditolerir karena semuanya adalah merupakan opini belaka. Agama yang diwahyukan bukanlah kebenaran sejati, tetapi hanya sekedar sentimentil dan menurut selera pemeluknya, bukan fakta yang objektif, bukan pula merupakan mujizat, dan oleh karenaya merupakan hak dari setiap orang untuk mengemukakan apa saja yang dikehendakinya. Ajaran ini juga mengatakan bahwa devosi tidak perlu didirikan diatas iman, bahwa semua orang dapat datang ke gereja protestant dan Gereja Katolik, dan memperoleh kebaikan darinya tanpa menjadi jemaat dari Gereja manapun. Mereka dapat bersekutu dalam pemikiran2 dan pengalaman2 spiritual, tanpa perlu melihat doktrin2  yang diyakini oleh orang2 dalam persekutuan itu, atau mempertimbangkan perlunya doktrin2. Menurut modernism, karena keyakinan merupakan hak yang sangat personal dan pribadi, maka ditekankan pentingnya untuk mengabaikan keyakinan yang dipeluk oleh individu2 ketika seseorang menjalin hubungan dengan orang lain. (definisi ini diambil dari ""Biglietto Speech"", Cardinal John Henry Newman 1879)

Tentu saja Gereja Katolik tidak akan tinggal diam ketika bidaah Modernism ini menyerang iman Gereja dan membawa umat dalam kebingungan dan kesesatan. Untuk lebih jelasnya, mengenai ajaran modernism apa saja yg dikutuk oleh Gereja Katolik melalui Papal Bull SYLLABUS CONDEMNING THE ERRORS OF THE MODERNISTS - LAMENTABILI SANE  (Pius X, 1907), silakan dilihat di sini:
http://www.papalencyclicals.net/Pius10/p10lamen.htm
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:18:01 PM
1930
In the year 1930 Pius XI, condemned the Public Schools


"Salah satu kesalah-pahaman non-katolik yang berdasar pada rumor dan sentimentil negative terhadap Gereja Katolik.

Aku tidak dapat menemukan satu pun dokumen / pernyataan resmi paus Pius XI yang dikeluarkan pada tahun 1930 yang mengutuk ""public schools"", jadi aku simpulkan bahwa kesalah-pahaman ini tidak bersumber pada fakta kebenaran mengenai paus Pius XI:"
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:18:48 PM
1931
In the year 1931 the same pope Pius XI, reaffirmed the doctrine that Mary is "the Mother of God"
This doctrine was first invented by the Council of Ephesus in the year 431. This is a heresy contrary by Mary's own words. (Read Luke 1:46-49; John 2: l-5).


"Sekali lagi, iman katolik bahwa Maria adalah benar2 bunda Allah yg berinkarnasi adalah iman yang orthodox, apostolik, dan sudah ada sejak awal mula Gereja.
Sama seperti Dogma yang ditetapkan dalam konsili Efesus di abad ke-4, Paus Pius XI sekali lagi menegaskan Dogma kuno ini ketika Gereja Katolik menghadapi serangan bidaat yang menolak iman ini."
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Jenova on July 23, 2014, 07:19:45 PM
1950
In the year 1950 the last dogma was proclaimed by Pope Pius XII, the Assumption of the Virgin Mary


Kitab Suci memang tidak menuliskan tentang akhir kisah hidup Maria, tidak juga kisah Maria diangkat ke surga, karena memang kisah ini terjadi setelah (hampir) semua kitab2 dalam Kitab Suci ditulis. Tetapi bagaimana pun juga, kitab Wahyu 12 mengkisahkan tentang seorang wanita yang diangkat ke surga. Banyak yang menafsirkan wanita ini sebagai umat kudus Allah. Karena Maria merupakan perwujudan umat Perjanjian Lama sekaligus Perjanjian Baru, maka kisah diangkatnya Maria ke surga dapat dilihat sebagai wujud kemenangan wanita dalam kitab Wahyu tersebut.

Lebih jauh lagi, dalam 1 Kor 15 : 20 Paulus mengajarkan bahwa Kristus bangkit sebagai yang sulung dari antara semua orang2 yg meninggal. Karena Maria sangat dekat dengan semua misteri hidup Yesus, sangat tidak mengherankan jika Roh Kudus menuntun Gereja untuk mengimani bahwa Maria juga ikut menikmati kemuliaan Putra-nya. Karena Maria sangat dekat dengan Yesus selama hidupNya di bumi, maka dia juga pasti bersama dengan Putranya, baik jiwa maupun raganya, di surga.

Sebagai tabernakel perjanjian baru, dimana Allah Putra berkenan bersemayam di dalam rahimnya selama 9 bulan, iman katolik tidak dapat memungkiri bahwa Maria adalah penuh rahmat dan dijadikan tak bercela (immaculate), sebagaimana tabut perjanjian dalam kisah Perjanjian Lama adalah kudus sehingga Allah berkenan bersemayam di dalamnya (juga silakan dilihat lagi penjelasan tentang Maria tidak bernoda). Oleh karena kematian adalah upah dari dosa (Kej 2 : 17), maka logika dari seseorang yang tidak berdosa adalah terbebas dari kematian. Sama seperti Henokh (Ibr 11 : 5) dan Elia (2 Raj 2 : 11) yang berkenan di hadapan Allah sehingga diangkat ke surga tanpa mengalami kematian badan, demikian pula halnya dengan Maria yang olehnya Allah sangat berkenan untuk dilahirkan dari rahimnya. Oleh karena ini, logika iman katolik tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa Maria diangkat ke surga setelah kehidupannya di dunia ini berakhir.

Benar bahwa doktrin Maria diangkat ke surga adalah doktrin yang berkembang seiring berjalannya waktu. Tapi doktrin ini sama sekali BUKAN merupakan ajaran baru, tetapi merupakan rangkaian logika dari apa yang dialami oleh Maria seperti uraian di atas. Ajaran2 bapa2 Gereja Purba pun memberikan kesaksian tentang iman ini, seperti: ""The Passing of the Virgin 16:2-17"" (Pseudo - Melito, 300 M), ""Homily on Simeon and Anna"" (Timothy of Jerusalem, 400 M), ""The Dormition of Mary "" (John the Theologian, 400 M), ""Eight Books of Miracles 1:4"" (Gregory of Tours, 575 M), ""Homily on the Assumption"" (Theoteknos of Livias, 600 M), ""Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae"" (Modestus of Jerusalem, 634 M), ""Sermon I"" (Germanus of Constantinople, 683 M), ""Gregorian Sacramentary, Veneranda"" (Gregorian Sacramentary, 795 M), dsb.

Sebagai kesimpulan, iman tentang Maria diangkat di surga adalah iman Gereja yang telah ada sejak mula2. Paus Pius XII sama sekali TIDAK menciptakan ajaran baru atau ajaran sesat, tetapi justru menegaskan kembali iman sejati Gereja ketika iman ini menghadapi serangan bidaah di waktu itu.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: aditio.setiawan on September 06, 2014, 01:12:29 AM
Bukankah kita harus mengimani perjanjian lama sebagai ajaran langsung dari Isa Almasih.
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: salt on September 06, 2014, 11:23:14 AM
Bukankah kita harus mengimani perjanjian lama sebagai ajaran langsung dari Isa Almasih.

Kalau kamu baru belajar, mending belajar dulu yang benar baru nulis, supaya tahu apa yang kamu tulis, dan yang penting tidak asal tulis di sembarang topik.

OOT, ngerti OOT ?
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: aditio.setiawan on September 06, 2014, 11:30:40 PM
Ah anda saja kali yang terlalu sensitif terhadap hal yang belum benar benar anda fahami
Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: salt on September 07, 2014, 09:45:23 AM
Judul topik nya apa? Yang mau kamu sampaikan apa?
Nyambung gak?
OOT dipelihara bikin otakmu tak center tuh..

Title: Re: Menanggapi Tuduhan2 Kesesatan Dalam Gereja Katolik
Post by: Leonardo on September 08, 2014, 10:01:59 AM
Ah anda saja kali yang terlalu sensitif terhadap hal yang belum benar benar anda fahami

salam aditio...

Di forum ini kami sudah membagi topik dan diskusi sesuai pokok2nya
ada diskusi non kristen bagi saudara2 muslim yang menanyakan atau mau diskusi tentang ayat atau diskusi mengenai pandangan kristen bisa di thread diskusi non kristen http://forumimankristen.com/index.php/board,11.0.html (http://forumimankristen.com/index.php/board,11.0.html) bukan di sini.