Forim Iman Kristen
Diskusi Tanya Jawab => Diskusi Kristen => Topic started by: solideogloria on January 04, 2015, 07:44:37 AM
-
Mana ada katolik protestan?
Kalau ngga katolik ya prostestan .
Gimana sih.
Udah ketahuan protestant pembunuh masih berusaha ngelak.
Payah juga kalau gini.
Anglikan bukan Protestan,ritualnya juga tidak sama,makanya perdalam pengetahuan anda !
Pembunuhan dan penyiksaan terkejam oleh gereja hanya ada oleh Vatican sepanjang sejarah :
INKUISISI ROMA KATOLIK :
Penganiayaan oleh Paus & Inkuisisi (1208-1834)
Penganiayaan oleh Paus
Sampai sekitar abad ke-12, sebagian besar penganiayaan terhadap orang-orangyang percaya kepada Kristus yang sejati datang dari dunia kafir, tetapi sekarang gereja di Roma membuang kebenaran Alkitab, perintah untuk mengasihi, dan mengambil pedang untuk melawan semua orang yang menentang doktrin dan tradisi palsu yang makin menjadi bagian darinya sejak zaman Konstantinus. Selama masa itu Gereja Roma menyimpangjauh dari kepercayaan ortodoks yang menyebabkan banyak orang menjadi martir. Gereja mulai menyingkirkan kekudusan, kesalehan, kerendahhatian, kemurahan, dan belas kasihan; mengambil tradisi dan doktrin yang secara material, fisik, serta sosial menguntungkan bagi para imam dan memberi mereka dominasi total dalam semua masalah gereja. Orang yang tidak setuju dengan mereka atau doktrin mereka dicap bidat yang harus dibawa masuk pada kesepakatan dengan Gereja Roma dengan kekuatan apa pun yang dibutuhkan; dan jika bidat itu tidak bertobat serta bersumpah setia kepada paus dan wakil gereja, mereka harus dihukum mati. Mereka membenarkan tindakan horor yang mereka lakukan dengan mengutip secara paksa ayat-ayat Perjanjian Lama dan dengan mengacu pada Augustinus, yang telah menafsirkan Lukas 14:23 sebagai ayat pendukung penggunaan kekuatan terhadap bidat. "Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk karena rumahku harus penuh. "
Selama beberapa abad Gereja Roma mengamuk di seluruh dunia seperti binatang buas yang kelaparan dan membunuh ribuan orang yang percaya kepada Kristus yang sejati, menyiksa, dan memotong tangan atau kaki ribuan orang lagi. Ini merupakan "Zaman Kegelapan" gereja. Kelompok Waldenses di Prancis merupakan korban pertama amukan penganiayaan Paus.
Sekitar tahun 1000 M, ketika cahaya Injil yang sejati hampir padam oleh kegelapan dan takhayul, beberapa orang yang melihat dengan jelas bahaya besar yang sedang mengancam gereja, mengambil keputusan untuk menunjukkan cahaya Injil dalam kemurniannya yang nyata dan untuk menghalau awan-awan yang ditimbulkan oleh imam-imam yang penuh tipu daya untuk membutakan orang-orang dan menyembunyikan terangnya yang sejati. Usaha ini dimulai dengan seorang yang bernama Berengarius, yang dengan berani memberitakan Injil yang kudus, sejelas yang ditunjukkan dalam Alkitab. Sepanjang bertahun-tahun berikutnya orang-orang lain membawa obor kebenaran dan membawa terang kepada ribuan orang sampai pada tahun 1140 M, ada begitu banyak orang percaya yang mengalami reformasi sehingga Paus merasa khawatir dan menulis kepada banyak pangeran bahwa mereka harus menyingkirkan orang-orang itu dari kerajaan mereka. Ia juga menyuruh banyak pejabatnya yang berpendidikan paling tinggi untuk menulis surat menentang mereka.
Kelompok Waldenses
Sekitar tahun 1173, Peter Waldo, atau Valdes, seorang pedagang Lyon yang kaya, yang terkenal karena kesalehan dan pengetahuannya, memberikan hartanya kepada orang-orang miskin dan menjadi pengkhotbah keliling. Ia adalah penentang yang kuat terhadap kemakmuran dan penindasan paus. Tak berapa lama sejumlah besar orang yang telah mengalami pembaruan di Prancis bergabung dengannya - mereka kemudian dikenal sebagai kelompok Waldenses. Pertama -tama, Waldo berusaha menyadarkan paus karena ia berpikir bahwa paus bisa memengaruhi gereja di Roma, tetapi ia justru dikucilkan karena dianggap bidat pada 1184.
Waldo dan para pengikutnya kemudian mengembangkan gereja yang terpisah dengan imamnya sendiri. Mereka mengkhotbahkan disiplin keagamaan dan kemurnian moral, berbicara keras menentang imam yang tidak pantas dan penyelewengan di gereja, dan menolak pengambilan nyawa manusia dalam kondisi apa pun. Namun, Gereja Roma tidak mengizinkan bidat semacam itu untuk diajarkan maka pemisahan dari Roma tidak bisa dicegah lagi. Jadi pada 1208 M, Paus mengesahkan perang terhadap ke1ompok Waldenses dan kelompok reformed lainnya, terutama Albigenses.
Pada tahun 1211, delapan puluh pengikut Waldo ditangkap di kota Strasbourg, diperiksa oleh penyidik yang ditunjuk oleh Paus dan dibakar di tiang. Tidak lama sesudahnya, sebagian besar ke1ompok Waldenses menarik diri ke lembah Alpine di Italia utara dan tinggal di sana. Waldo meninggal tahun 1218; masih mengkhotbahkan Injil Kristus yang sejati.
Bersambung
-
Penganiayaan Kelompok Albigenses
Ke1ompok Albigenses adalah orang-orang yang menganut ajaran dualistis, yang tinggal di Prancis bagian se1atan pada abad ke-12 dan ke-13. Mereka mendapatkan nama itu dari kota Prancis, Albi, yang merupakan pusat gerakan mereka. Mereka tinggal dengan peraturan etika yang ketat dan banyak tokoh menonjol di an tara anggota mereka, seperti The Count of Toulouse, The Count of Foix, The Count of Beziers, dan yang lain yang memiliki pendidikan serta tingkat yang setara. Untuk menekan mereka, Roma pertama-tama mengirim biarawan Cistercian dan Dominikan ke wilayah mereka untuk meneguhkan kembali ajaran paus, tetapi tidak berguna karena ke1ompok Albigenses tetap setia dengan doktrin reformed.
Bahkan an cam an Konsili Lateran yang kedua, ketiga, dan keempat (1139,1179, 1215) - yang memutuskan pemenjaraan dan penyitaan harta benda sebagai hukuman atas bidat dan untuk mengucilkan para pangeran yang gagal menghukum penganut bidat - tidak menyebabkan ke1ompok Albigenses kembali ke pangkuan Roma. Dalam Konsili Lateran III, pada 1179, mereka dikutuk sebagai bidat oleh perintah Paus Alexander III. Ini adalah paus yang sama yang mengucilkan Frederick I, Kaisar Romawi yang Kudus, RajaJerman dan Italia, pada 1165. Kaisar se1anjutnya gagal menaklukkan otoritas paus di Italia dan dengan demikian mengakui supremasi paus pada tahun 1177.
Pada tahun 1209, Paus Innocentius III menggunakan pembunuhan biarawan di wilayah Pangeran Raymond dari Toulouse sebagai pembenaran untuk memulai pengobaran penganiayaan terhadap pangeran dan ke1ompok Albigenses. Pada Konsili Lateran IV, tahun 1215, kutukan terhadap ke1ompok ini disertai dengan tindakan keras. Untuk melaksanakannya, ia mengirim agen di seluruh Eropa untuk membangkitkan pasukan untuk bertindak bersama-sama melawan Albigenses dan menjanjikan surga kepada semua yang mau bergabung serta berperang se1ama 40 hari dalam hal yang ia sebut Perang Kudus.
Selama perang yang paling tidak kudus ini, yang berlangsung antara 1209 sampai 1229, Pangeran Raymond membela kota Toulouse serta tempat-tempat lainnya di wilayahnya dengan keberanian yang besar dan kesuksesan melawan tentara Simon de Montfort, Panger an Monfort dan bangsawan Gereja Roma yang fanatik. Ketika pasukan paus tidak mampu mengalahkan Pangeran Raymond seeara terbuka, raja dan ratu Praneis serta tiga Uskup Agung mengerahkan tentara yang lebih besar, dan dengan kekuatan militer mereka, mereka membujuk pangeran itu untuk datang ke konferensi perdamaian serta menjanjikan jaminan keamanan kepadanya. Namun ketika ia tiba, secara ia ditangkap, dan dipenjara, dan dipaksa untuk muncul dengan kepala telanjang dan kaki telanjang di depan musuh-musuhnya untuk menghinanya, dan dengan berbagai siksaan yang dilakukan untuk menangkal sikap oposisinya terhadap doktrin Paus.
Pada awal penganiayaan tahun 1209, Simon de Montfort membantai penduduk Beziers. Ini merupakan contoh kecil kekejaman yang ditimbulkan tentara paus terhadap Albigenses selama 20 tahun. Selama pembantaian itu, seorang prajurit bertanya bagaimana ia bisa membedakan antara orang Kristen dengan bidat. Pemimpinnya dikatakan menjawab, "Bunuh mereka semua. Allah tahu siapa milik-Nya."
Setelah penangkapan Pangeran Raymond, Paus menyatakan bahwa kaum awam tidak diperbolehkan untuk membaea Kitab Suci dan selama sisa abad ke-13 berikutnya, kelompok Albigenses bersama dengan Waldenses dan kelompok reformed lainnya, merupakan target utama Inkuisisi di seluruh Eropa.
Inkuisisi
Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad pertengahan yang ditunjuk untuk mengusut bidat, yang disebut demikian karena menentang kesalahan dan tradisi Gereja Roma. Nama yang tidak terkenal ini digunakan dalam arti lembaga itu sendiri, yang adalah episkopal (diperintah oleh Uskup atau uskup-uskup) atau Paus, secara regional atau lokal; anggota pengadilan; dan cara kerja pengadilan.
Dalam perang melawan Albigenses, Paus Innocentius III menunjuk penyidik khusus seperti biarawan Dominikan, yang selama perang mendirikan ordo Dominikan, pada tahun 1215. Namun, masih belum ada kantor khusus untuklnkuisisi itu. Pada tahun 1231, Paus Gregorius IX seeara resmi mendirikan Inkuisisi Roma. Meniru hukum yang diberlakukan Kaisar Romawi yang Kudus Frederick II terhadap Lombardy, Italia, pada tahun 1224, dan diperluas mencakup seluruh kerajaannya pada 1232, Gregorius memerintahkan agar bidat yang sudah diputuskan bersalah ditangkap oleh penguasa sekuler, dan dibakar. Ia juga memerintahkan agar para bidat dikejar-kejar dan diperiksa di depan sidang gereja.
Paus Gregorius IX memercayakan tugas yang keji itu kepada ordo biarawan Dominikan dan Fransiskan; memberi mereka hak eksklusif untuk memimpin berbagai sidang pengadilan Inkuisisi, yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas sebagai hakim di tempatnya dan kuasa untuk mengucilkan, menyiksa atau mengeksekusi banyak orang yang dituduh melakukan kebidatan atau oposisi terhadap pemerintahan paus yang terkecil sekalipun. Ia lebih jauh memberi mereka otoritas untuk menyatakan perang terhadap orang yang diputuskan sebagai bidat dan melakukan kesepakatan dengan pangeran yang berkuasa serta menggabung tentara mereka dengan pasukan pangeran. Mereka juga diberi kuasa untuk bertindak terlepas dari petugas gereja lokal apa pun dan untuk melibatkan mereka dalam pemeriksaan Inkuisisi mereka jika mereka terlibat dengan pekerjaan mereka dalam cara apa pun. Secara alamiah, kekuasaan Inkuisisi yang independen ini sering kali menjadi penyebab perpecahan dengan imam dan uskup lokal.
Proses interograsi, dan penderaan dalam lembaga Inquisisi Pelaksanaan dilakukan oleh para rahib yang "suci"
(http://i57.tinypic.com/1h43r9.jpg)
(http://i57.tinypic.com/20qmaoh.jpg)
Bersambung
-
Dikatakan bahwa semangat mereka untuk mengeksekusi musuh-musuh Gereja Roma diilhami oleh isu yang beredar di seluruh Eropa bahwa Gregorius bermaksud untuk menyangkal kekristenan. Untuk menangkal isu itu, Gregorius memulai perang yang kejam terhadap musuh-musuh Roma, yang mencakup orang-orang Protestan, Yahudi, dan Muslim.
Setiap Inkuisisi terdiri dari sekitar 20 petugas: penyidik agung; tiga penyidik atau hakim utama; pengawas keuangan; petugas sipil; petugas untuk menerima dan mempertanggungjawabkan uang denda; petugas yang serupa untuk harta benda yang disita; beberapa orang penilai untuk menilai harta benda; sipir penjara; konselor untuk mewawancarai dan menasihati tertuduh; pelaksana hukuman untuk melakukan penyiksaan, penahanan, dan pembakaran; dokter untuk mengawasi siksaan; ahli bedah untuk memperbaiki kerusakan tubuh yang disebabkan oleh penyiksaan; petugas untuk mencatat pelaksanaan dan pengakuan dalam bahasa Latin; penjaga pintu; dan kenalan yang menyelinap masuk untuk mendapatkan kepercayaan orang-orang yang dicurigai bidat kemudian memberi kesaksian untuk menentang mereka. Setiap pengadilan juga memiliki saksi atau pemberi informasi yang menentang tertuduh, dan pengunjung istimewa, yang disumpah untuk menjaga rahasia prosedur serta pelaksanaan hukuman yang mereka saksikan.
Pertama Inkuisisi itu hanya menangani tuduhan tentang bidat, tetapi kekuasaannya segera meluas hingga mencakup tuduhan seperti tenung, alkimia, penghujatan, penyimpangan seksual, pembunuhan anak, pembacaan Alkitab dalam bahasa umum, atau pembacaan Talmud oleh bangsa Yahudi atau Alquran oleh orang-orang Muslim. [Pada saat tuduhan ten tang bidat menjadi kurang popular pada akhir abad ke-15, jumlah penyihir dan ahli tenung yang dibakar makin meningkat; hal ini membenarkan dan memperpanjang keberadaan Inkuisisi. ]
Tidak peduli apa pun tuduhannya, pelaksana Inkuisisi melakukan pemeriksaan mereka dengan kekejaman yang luar biasa, tanpa memiliki belas kasihan kepada siapa pun tidak peduli berapa usia, apa jenis kelamin, suku bangsa, keturunan bangsawan, posisi atau tingkat sosial yang istimewa, atau bagaimana kondisi fisik atau mental mereka. Dan mereka terutama bersikap kejam terhadap orang-orang yang menentang doktrin dan otoritas paus, terutama orang-orang yang sebelumnya adalah penganut Gereja Roma dan sekarang menjadi Protestan.
Ada sebagian tokoh Gereja yang berusaha melakukan pembelaan (apologetic). Tentang upaya apologetik dalam soal Inquisisi itu, Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, mencatat, bahwa sikap itu hanya menambah kemunafikan menjadi kejahatan. (it merely added hypocricy to wickedness). Yang sangat mengherankan dalam soal ini adalah penggunaan cara siksaan dan pembakaran terhadap korban. Dan itu bukan dilakukan oleh musuh-musuh Gereja, tetapi dilakukan sendiri oleh orang-orang tersuci yang bertindak atas perintah "wakil Kristus" (Vicar of Christ).
Peter de Rosa mencatat: How ever, the Inquisition was not only evil compared with the twentieth century, it was evil compared with the tenth and elevent when torture was outlawed andmen and women were guaranteed a fair trial. It was evil compared with the age of Diocletian, for no one was thentortured and killed in the name of Jesus crucified. (Betapa pun, inquisisi tersebut bukan hanya jahat saat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-20, tetapi ini juga jahat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-10 dan ke-11,saat dimana penyiksaan tidak disahkan dan laki-laki serta wanita dijamin dengan pengadilan yang fair. Ini juga jahat dibandingkan dengan zaman Diocletian, dimana tidak seorang pun disiksa dan dibunuh atas nama Jesus yang tersalib). [1]
Pembelaan di depan Inkuisisi hampir tidak ada gunanya karena tuduhan yang dikenakan pada mereka sudah menjadi bukti yang cukup untuk menyatakan kesalahan, dan makin besar kekayaan tertuduh, makin besar bahaya yang ia tanggung. Sering kali seseorang dieksekusi bukan karena ia bidat, melainkan karena ia memiliki harta benda yang banyak. Sering kali tanah dan rumah yang luas atau bahkan provinsi atau wilayah kekuasaan dirampas oleh Gereja Roma atau oleh penguasa yang bekerja sarna dengan Inkuisisi dalam pekerjaan mereka.
Orang-orang yang dituduh oleh Inkuisisi tidak pernah diizinkan untuk mengetahui nama penuduh mereka dan dua orang pemberi informasi biasanya sudah cukup untuk memberikan tuduhan. Setiap metode pembujukan digunakan oleh pelaku Inkuisisi untuk membuat tertuduh mengakui tuduhan itu dan karena itu membuktikan tuduhan terhadap mereka, dan meyakinkan diri mereka sendiri. Untuk melakukannya, setiap cara penyiksaan fisik yang dikenal atau yang bisa dibayangkan digunakan - seperti merentangkan kaki tangan mereka pada alat perentang; membakar mereka dengan arang panas atau logam yang dipanaskan; mematahkan jari-jari tangan dan kaki; meremukkan kaki dan tangan; mencabut gigi; meremas daging dengan penjepit; menusukkan pengait ke bagian tubuh yang lunak dan menarik pengait itu menembus dagingnya; menyayat daging mereka menjadi potongan kecil-kecil; menancapkan jarum ke dalam daging; menancapkan jarum di bawah kuku jari tangan atau kaki; mengencangkan tali pengikat di sekeliling daging sampai menembus tulang; memukuli dengan tongkat dan pentung; memelintir kaki dan tangan serta melepaskan sendi mereka. Cara yang digunakan oleh para pelaksana Inkuisisi yang kejam terlalu banyak jumlahnya, dan terlalu mengerikan untuk dicatat.
Pada awal penyidikan, yang dicatat dalam bahasa Latin oleh petugas, orang yang dicurigai dan saksi harus bersumpah bahwa mereka akan menyingkapkan segala sesuatu. jika mereka tidak mau bersumpah, hal itu ditafsirkan sebagai tanda persetujuan dengan tuduhan. Jika mereka menyangkal tuduhan tanpa bukti bahwa mereka tidak bersalah, atau jika mereka dengan bandel menyangkal untuk mengakui, atau bertahan dalam kebidatan mereka; mereka akan diberi hukuman yang paling kejam, harta benda mereka disita dan, hampir tanpa perkecualian, mereka dihukum mati dengan cara dibakar. Sayang, beberapa oknum yang terlibat di dalamnya sangat licik. Oleh karena Gereja Roma berkata bahwa kita tidak diperbolehkan mencurahkan darah, jadi bidat yang bersalah diserahkan kepada penguasa sekuler yang menjalin kerja sama dengan mereka untuk dihukum dan dieksekusi.
Setelah Inkuisisi selesai menghakimi, upacara yang khidmat diadakan di tempat eksekusi; yang dikenal sebagai sermo generalis ("khotbah umum") atau, di Spanyol, sebagai auto-de-fe (tindakan iman), Acara itu dihadiri oleh pejabat lokal, para imam, dan semua, entah musuh atau ternan bidat itu, yang ingin melihat hukuman atau eksekusi. Jika bidat yang dikutuk mengakui tindakan.
bidat mereka, dan menyangkalnya, mereka akan diberi hukuman, yang berkisar dari hukuman cambuk yang berat atau dibuang ke kapal dagang. Dalam kasus mana pun, semua harta benda dan barang-barang mereka disita untuk digunakan oleh Gereja Roma atau oleh penguasa lokal.
Jika tertuduh terus-menerus berpaut pada kebidatan mereka, dengan sikap khidmat, mereka dikutuk dan diserahkan kepada pe1aksana hukuman untuk dibakar segera agar dilihat semua orang. Dengan pertunjukan kepada umum ini, para pejabat gereja berharap agar ketakutan terhadap Inkuisisi akan membara dalam pikiran dan hati orang-orang yang melihat nyala api membakar bidat yang menentang Gereja Roma. Namun, orang-orang yang memiliki iman yang sejati kepada Kristus sesungguhnya justru semakin teguh imannya ketika melihat keberanian para martir, dan kasih karunia Allah yang memelihara mereka melalui siksaan, dan nyala api.
Dari semua petugas Inkuisisi di seluruh dunia, Inkuisisi di Spanyol adalah yang paling aktif dan sadis; itu merupakan contoh dari bahaya yang luar biasa dari pemberian kekuasaan yang tak terbatas atas tubuh dan kehidupan orang-orang yang tidak kudus yang menyatakan diri kudus.
(http://i57.tinypic.com/1t6cdk.jpg)
(http://i59.tinypic.com/2u7nhgj.jpg)
Bersambung
-
Inkuisisi di Spanyol
Meskipun hampir tidak ada catatan tentang jumlah orang yang terbunuh atau disiksa di seluruh dunia oleh Inkuisisi, beberapa catatan tentang Inkuisisi di Spanyol telah sampai kepada kami.
Ada tujuh belas pengadilan di Spanyol dan masing-masing membakar rata-rata 10 bidat setahun serta menyiksa dan memotong kaki atau tangan ribuan orang lain yang hampir tidak bisa pulih dari luka-lukanya. Selama masa Inkuisisi di Spanyol diperkirakan ada sekitar 32.000 orang, yang kesalahannya tidak lebih dari tidak sepaham dengan doktrin paus, atau yang te1ah dituduh melakukan kejahatan takhayul, yang disiksa di luar imajinasi kemudian dibakar hidup-hidup.
Sebagai tambahan, jumlah orang yang gambarnya dibakar atau dihukum untuk menebus dosa, yang biasanya berarti pengasingan, penyitaan seluruh harta benda, hukuman fisik sampai pencucuran darah dan perusakan total segala sesuatu dalam hidup mereka, berjumlah total 339.000. Namun, tidak ada catatan tentang berapa banyak orang yang mati di tahanan bawah tanah karena disiksa; karena dikurung di lubang yang kotor, penuh penyakit, yang penuh tikus, dan kutu; karena tubuh yang hancur atau hati yang hancur; atau jutaan orang yang tergantung hidupnya pada mereka untuk kelangsungan hidup mereka atau yang tergesa-gesa ke liang kubur karena kematian korbannya. Itu adalah catatan yang hanya diketahui di surga pada Hari Penghakiman.
Pada tahun 1479 karena desakan penguasa Gereja Roma di Spanyol, Ferdinand II dari Aragon, dan Isabella I dari Castile, Paus Sixtus IV membentuk Inkuisisi Spanyol yang independen yang dipimpin oleh dewan tinggi dan pelaksana Inkuisisi Agung.
Pad a 1487 Paus Innocentius VIII menunjuk rahib Dominikan Spanyol, Tomas de Torquemada, sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Di bawah kekuasaannya, ribuan orang Kristen, Yahudi, Muslim, penyihir yang dicurigai, dan orang-orang lainnya terbunuh dan disiksa. Orang-orang yang berada dalam bahaya terbesar karena Inkuisisi adalah kaum Protestan dan Alumbrados (penganut mistik di Spanyol).
Nama Torquemada menjadi sinonim dengan kekejaman, kefanatikan, sikap tidak toleran, dan kebencian. Ia adalah orang yang paling ditakuti di Spanyol; dan selama pemerintahan terornya dari 1487 sampai 1498l ia secara pribadi memerintahkan lebih dari 2.000 orang untuk dibakar di tiang. Ini berarti 181 orang setahun, sementara pengadilan Spanyol rata -rata hanya membakar 10 orang setahun.
Dengan dukungan penguasa Gereja Roma, pelaksana awal Inkuisisi Spanyol begitu sadis dalam cara penyiksaan dan teror mereka sehingga Paus Sixtus IV merasa ngeri mendengar laporan mereka, tetapi tidak mampu mengurangi kengerian yang telah dilepaskan di Spanyol. Ketika Torquemada dijadikan pe1aksana Inkuisisi Agung, akibatnya lebih parah dan ia melakukan Inkuisisi seolah-olah ia adalah dewa di Spanyol. Apa pun yang bisa ia kelompokkan sebagai pe1anggaran rohani diberi perhatian oleh pe1aksana Inkuisisi. Inkuisisi yang kejam di Spanyol belum mengenal kekejaman yang sebenarnya sampai Torquemada menjadi pemimpinnya.
Pada 1492 Inkuisisi digunakan untuk mengusir semua orang Yahudi dan bangsa Moors dari Spanyol atau untuk memaksakan pertobatan mereka kepada kekristenan Roma. Dengan desakan Torquemada, Ferdinand dan Isabella mengusir lebih dari 160.000 orang Yahudi yang tidak mau bertobat pada Gereja Roma.
Dari tujuan politis, pelaksana Inkuisisi juga melakukan penyelidikan yang kejam di antara penduduk baru dan orang-orang Indian yang bertobat di koloni Spanyol di Amerika.
Meskipun akhirnya ada penurunan dalam kekejamannya, Inkuisisi masih tetap bekerja dalam satu bentuk atau bentuk lainnya sampai awal abad ke-19 - 1834 di Spanyol, dan 1821 di Portugal - yaitu saat kelompok ini diganti namanya, tetapi tidak dihapuskan. Pada 1908, Inkuisisi direorganisir di bawah nama Congregation if the Holy Office dan didefinisikan ulang selama Konsili Vatikan II oleh Paus Paulus VI sebagai Congregation of the Doctrine if the Faith. Pada saat ini dikatakan, kelompok ini memiliki tugas yang lebih positif, yaitu memajukan doktrin yang benar daripada sekadar "menyensor" bidat.
Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempatitu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila.
Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakkan biara tersebut. [2]
Henry Charles Lea,seorang sejarawan Amerika, menulis kejahatan Inquisisi di Spanyol dalam empat volume bukunya: A History of theInquisition of Spain, (New York: AMS Press Inc., 1988). Dalam bukunya ini, Lea membantah bahwa Gereja tidak dapat dipersalahkan dalam kasus Inquisisi, sebagaimana misalnya dikatakan oleh seorang tokoh Kristen, Father Gam, yang menyatakan: "The inquisition is an institution for which the Church has no responsibility." (Inquisisi adalahsatu institusi dimana Gereja tidak memiliki tanggung jawab untuk itu). Ini adalah salah satu bentuk apologi di kalangan pemimpin Kristen Katolik Roma.
Lea menunjuk bukti sebagai contoh bahwa dalam kasus bentuk hukuman terhadap korban inquisisi, otoritas gereja mengabaikan pendapat bahwa menghukum kaum "heretics" (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi gereja) dengan membakar hidup-hidup adalah bertentangan dengan semangat Kristus.Tapi, sikap gereja ketika itu menyatakan, bahwa membakar hidup-hidup kaum heretics adalah suatu tindakan yang mulia.
(http://i57.tinypic.com/2vkc7kj.jpg)
(http://i58.tinypic.com/ji2k5c.jpg)
Bersambung
-
Ada Film bagus yang mengkisahkan Inkuisisi di Spanyol, diambil dari catatan seorang pelukis Francisco Goya (March 30, 1746 – April 16, 1828) yang ingin menyelamatkan seorang gadis model lukisannya dari jeratan pengadilan/hukuman inkuisisi. Upaya ini tak berhasil karena wewenang mutlak yang diberikan Kerajaan Spanyol bagi 'Gereja'. Tuduhannya sepele saja karena didasarkan si gadis tidak memakan babi maka divonis gadis itu adalah pengikut Yudaisme, dalam penjara inkuisisi ia disiksa dengan kejam, mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang rohaniawan sampai melahirkan anak, suatu hal yang ironis dimana Gereja menghalau segala macam "dosa" bidat/heresy tetapi mereka juga melakukan perbuatan asusila kepada pesakitannya.
http://www.imdb.com/title/tt0455957/
Film ini disutradarai oleh Milos Forman dan diproduseri oleh Saul Zaentz, 2 nama ini jaminan film-film berbobot, mereka menyajikan kisah pilu ini dengan baik sekali. Mungkin saja film ini akan membuat marah beberapa pihak, namun harus diakui bahwa memang sejarah mencatat, pernah ada kekejaman di kalangan Gereja. Ini terjadi ketika Gereja mendapat wewenang mutlak dan hak membunuh dan menyiksa atas orang-orang yang dianggap bidat dan diduga melawan doktrin-doktrin Gereja, akhirnya Gereja itu sendiri yang melakukan "penganiayaan" dan justru menjadi miskin kasih, suatu hal yang bertolak belakang dengan ajaran Kristus yang penuh kasih.
Review Film ini, dapat Anda baca di http://portal.sarapanpagi.org/sosial-po ... agama.html
(http://i61.tinypic.com/2mee235.jpg)
(http://i59.tinypic.com/9h6fi9.jpg)
Shalom
-
Ada Film bagus yang mengkisahkan Inkuisisi di Spanyol, diambil dari catatan seorang pelukis Francisco Goya (March 30, 1746 – April 16, 1828) yang ingin menyelamatkan seorang gadis model lukisannya dari jeratan pengadilan/hukuman inkuisisi. Upaya ini tak berhasil karena wewenang mutlak yang diberikan Kerajaan Spanyol bagi 'Gereja'. Tuduhannya sepele saja karena didasarkan si gadis tidak memakan babi maka divonis gadis itu adalah pengikut Yudaisme, dalam penjara inkuisisi ia disiksa dengan kejam, mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang rohaniawan sampai melahirkan anak, suatu hal yang ironis dimana Gereja menghalau segala macam "dosa" bidat/heresy tetapi mereka juga melakukan perbuatan asusila kepada pesakitannya.
http://www.imdb.com/title/tt0455957/
Film ini disutradarai oleh Milos Forman dan diproduseri oleh Saul Zaentz, 2 nama ini jaminan film-film berbobot, mereka menyajikan kisah pilu ini dengan baik sekali. Mungkin saja film ini akan membuat marah beberapa pihak, namun harus diakui bahwa memang sejarah mencatat, pernah ada kekejaman di kalangan Gereja. Ini terjadi ketika Gereja mendapat wewenang mutlak dan hak membunuh dan menyiksa atas orang-orang yang dianggap bidat dan diduga melawan doktrin-doktrin Gereja, akhirnya Gereja itu sendiri yang melakukan "penganiayaan" dan justru menjadi miskin kasih, suatu hal yang bertolak belakang dengan ajaran Kristus yang penuh kasih.
Review Film ini, dapat Anda baca di http://portal.sarapanpagi.org/sosial-po ... agama.html
(http://i61.tinypic.com/2mee235.jpg)
(http://i59.tinypic.com/9h6fi9.jpg)
Shalom
blaaa blaaa blaaa.....
seperti biasa tong kosong nyaring bunyi nya....
Thread ini membahas patung dalam Gereja Protestan Bro.
Ayo jangan OOT.
btw, link nya ke Sarpag ga nyambung tuh.
-
Moderator FIK kerja atau cuti sih? Post ngawur dan OOT koq dibiarkan ya?
Sekedar mengingatkan, judul thread adalah 'Patung dalam Gereja protestan'
Apakah ada yang buta huruf (dan mungkin buta nurani) di FIK sini?
-
INKUISISI - ALA PROTESTAN :
Michael Servetus
CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD
20 Februari 1993
http://caping.wordpress.com/
Iman --atau bagaimana iman itu ditafsirkan-- terkadang bukan lagi sebuah cahaya lampu yang menemani kita dalam perjalanan mencari; ia menjadi lidah api, yang menyala, membakar, kuat, kuasa, gagah, tapi juga pongah.
Terutama ketika masa terasa gelap.
Seperti di sebuah hari musim gugur di tahun 1553. Michael Servetus, seorang ahli agama asal Spanyol, dihukum mati di bukit Champel, di selatan Kota Jenewa. Ia diikat ke sebuah tiang, dan dibakar pelan-pelan. Ia tewas kesakitan dengan jangat yang jadi hitam, hangus.
Apa salahnya? Ia menulis buku, ia menulis surat, ia berpendapat. Tetapi ia punya kesimpulannya sendiri tentang Tuhan, dan sebab itu mengusik para penjaga iman Protestan di Jenewa, kota yang telah jadi sebuah teokrasi yang lebih keras ketimbang Roma. Adalah Jean Calvin sendiri yang menyeret Servetus ke dalam api. Pelopor dahsyat dari Protestantisme itulah yang memimpin Jenewa ke suatu masa ketika iman sama artinya dengan ketidaksabaran.
Servetus sebenarnya hanya salah satu suara yang mengguncang, di zaman ketika doktrin retak-retak seperti katedral tua yang digocoh gempa. Ia lahir di Villanueva, Spanyol, mungkin di tahun 1511. Ia bermula belajar ilmu hukum di Toulouse, Prancis. Di sini ia menemukan injil, yang ia baca "seribu kali" dengan haru. Tapi kabarnya ia juga membaca Quran dan terpengaruh oleh Yudaisme, dan sebab itu sangat meragukan doktrin Trinitas. Marin Luther menjulukinya "Si Arab".
Di tahun 1531 ia menerbitkan bukunya, De Trinitatis erroribus libri vii. Konon ia mengemukakan bahwa inilah arti Yesus sebagai "Putra Allah": Tuhan Bapa mengembuskan Logos ke dalam dirinya, tapi Sang Putra tak setara dengan Sang Bapa. Seperti dikutip oleh Will Drant dalam jilid ke-6 The Story of Civilization, bagi Servetus, Yesus "dikirim oleh Sang Bapa dengan cara yang tak berbeda seperti salah seorang Nabi".
Ditulis dalam usia 20-an tahun, dengan bahasa Latin yang masih kaku, buku itu cukup membuat amarah para imam Katolik dan pemimpin Protestan sekaligus, di tengah suhu panas (dan berdarah) yang menguasai mereka. Di tahun 1532, Servetus pun buru-buru pindah ke Prancis.
Tapi di sana ia dihadang. Badan Inkuisisi Gereja Katolik -- yang bertugas mengusut lurus atau tidaknya iman seseorang, dengan cara menginterogasinya dan kalau perlu menyiksanya -- mengeluarkan surat perintah penangkapan. Servetus lari lagi sampai Wina, dengan nama samaran Michel de Villeneuve. Selama itu ia berhasil menguasai ilmu kedokteran, tetapi ia toh selalu ingin mengemukakan pendapatnya tentang agama. Di tahun 1546 ia menyelesaikan Christianismi Restitutio, dan mengirim naskahnya ke Calvin. Mungkin ia ingin menunjukkan oposisinya terhadap tafsir Calvin atas injil. Bagi Servetus, Tuhan tak menakdirkan sukma manusia ke neraka. Baginya, Tuhan tak menghukum orang yang tak menghukum dirinya sendiri. Iman itu baik, tetapi Cinta Kasih lebih baik.
Calvin, yang memandang Tuhan seperti yang tergambar dalam Perjanjian Lama -- angker dan penghukum -- tak melayani Servetus. Ia hanya mengirimkan karyanya, Christianae religionis institutio. Servetus pun mengembalikannya -- dengan disertai catatan yang penuh hinaan, disusul dengan serangkaian surat yang mencemooh. "Bagimu manusia adalah kopor yang tak bergerak, dan Tuhan hanya sebuah gagasan ganjil dari kemauan yang diperbudak". Calvin tak bisa memaafkan cercaan ini.
Calvin pula, lewat orang lain, yang memberitahu padri inkuisitor di Prancis tentang tempat bersembunyi Servetus. Kerja sama Protestan-Katolik yang tak lazim ini yang akhirnya membuat Servetus tertangkap di Wina. Ia memang berhasil melarikan diri. Tapi nasibnya sudah diputuskan: pengadilan sipil Wina, dengan napas Gereja Katolik, memvonisnya dengan hukuman bakar bila tertangkap.
Anehnya ia lari ke Jenewa, tempat Calvin berkuasa. Mungkin Servetus berpikir bahwa orang protestan, yang di Prancis dianiaya karena berbeda keyakinan, akan lebih toleran di kota itu. Tapi tidak. Mereka membakarnya.
Calvin kemudian membela kekejaman di bukit Champel itu dengan sebuah argumen yang kita kenal: Aku beriman kepada Kitab Suci, maka akulah yang tahu kebenaran itu. Yang tak sama dengan aku adalah musuh ajaran, musuh Tuhan, harus ditiadakan.
Argumen dengan api itu masih bisa kita dengar kini, dalam pelbagai versinya, dalam pelbagai agama, meskipun di tahun 1903, seperti sebuah sesal, sebuah monumen untuk Servetus dibangun di bukit Champel. Salah satu donaturnya: gereja Protestan yang dulu dipimpin Calvin. Tampaknya manusia sudah lebih sadar tentang kerumitannya sendiri, sedikit.
-END-
dikutip dari http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html
Inkusisi di mata gereja non katolik memang terlihat kejam.
Tapi harus disadari, di gereja non katolik pun, melakukan hal yang sama.
:D
Bangunnn.... bangunn.........
Kita bukan hidup di abad pertengahan.
Ini tahun 2015.
-
dikutip dari http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html
Inkusisi di mata gereja non katolik memang terlihat kejam.
Tapi harus disadari, di gereja non katolik pun, melakukan hal yang sama.
:D
Bangunnn.... bangunn.........
Kita bukan hidup di abad pertengahan.
Ini tahun 2015.
Aneh memang,.. protestant memprotest sekaligus mengikut.
-
Introduction to the Inquisition
The Inquisition is often considered the "slam dunk" in the argument that the Catholic Church is not of God and that Religion is stale. There is much criticism of Catholics over this. As obvious as this might seem:
There is not one Catholic alive today who participated in the Inquisition. They all died centuries ago. Every one of them had to face God. God knows the heart of every individual involved and justice has been served.
I had no part in the Inquisitions, nor has any Catholic alive today. These incidents happened during one of the most brutal times in human history, which any medieval movie will confirm. It has become a theme that some Evangelicals pastors have repeatedly preached to their congregations about Catholics.
Pope John Paul II admitted the wrong actions of the Catholic Church throughout history, including some tortures and deaths related to the medieval Inquisitions. The following is a letter he wrote recounting his sorrow:
The institution of the Inquisition has been abolished...the children of the Church cannot but return with a spirit of repentance to "the acquiescence given, especially in certain centuries, to intolerance and even the use of violence in the service of the truth".
This spirit of repentance, it is clear, entails a firm determination to seek in the future ways to bear witness to the truth that are in keeping with the Gospel."
The prayer I addressed to God on that occasion contains the reasons for a request for forgiveness that can also be applied to the tragedies associated with the Inquisition, as well as to the injuries to memory that result from it:
"Lord, God of all men and women, in certain periods of history, Christians have at times given in to [forms of] intolerance and have not been faithful to the great commandment of love, sullying in this way the face of the Church, your Spouse. Have mercy on your sinful children and accept our resolve to seek and promote truth in the gentleness of charity, in the firm knowledge that truth can prevail only in virtue of truth itself. We ask this through Christ Our Lord."
(Prayer for Forgiveness, Day of Pardon, 12 March, II; ORE, 22 March 2000)
JOHN PAUL II, From the Vatican, 15 June 2004 Footnote 1
The Inquisition tortures and deaths were wrong, dead wrong!
Shalom
-
Papal Inquisition (1233)
At the close of the 12th century, heresy was spreading rapidly in Southern France. Papal legates were sent by Pope Innocent III into the disaffected district to increase the severity of repressive measures against the Waldenses. In 1200, Peter of Castelnau was made associate inquisitor for Southern France. The powers of the papal legates were increased so as to bring non-compliant bishops within the net. Diego, bishops of Osma, and Dominec came onto the scene. In 1206, Peter and Raoul went as spies among the Albigenses.
Count Raymond of Toulouse abased himself in 1207, before Peter promised to extirpate the heretics he had defended. Dominec advised a crusade against the Albigenses. The pope's inquisitors tried, condemned, and punished offenders inflicting the death penalty itself with the concurrence of the civil powers.
The Inquisition was also destined to become a permanent institution. The vigor and success of the Papal Legatine Inquisition assured this. The Fourth Lateran Council took the initial steps with Pope Innocent III presiding. The synodal courts were given something of the character of inquisitorial tribunals. Synods were to be held in each province annually, and violations of the Lateran canons rigorously punished.
The condemned were to be left in the hands of the secular power, and their goods were to be confiscated. The secular powers were to be admonished and induced, and, should it prove necessary, were to be compelled to the utmost of their power to exterminate all who were pointed out as heretics by the church. Any prince declining not to purge his land of heresy was to be excommunicated. If he persisted, complaint was to be made to the pope, who was then to absolve his vassals from allegiance and allow the country to be seized by Catholics who should exterminate the heretics. Those who joined in the crusade for the extermination of heretics were to have the some indulgence as the crusaders who went to the Holy Land.
In the face of this inexpugnable record, how futile it is for modern church apologists to pretend that Rome did not shed blood, and was not responsible for the atrocities of the Inquisition. The Council of Toulouse in 1229 adopted a number of canons tending to give permanent character to the Inquisition as an institution.
It made or indicated the machinery for questioning, convicting, and punishing. Heretics were to be excluded from medical practice; the houses in which they were found to be razed to the ground; they were to be delivered to the archbishop, or local authorities; forfeiture or public rights could be removed only by a papal dispensation; any one who allowed a heretic to remain in his country, or who shielded him in the slightest degree, would lose his land, personal property, and official position; the local magistracy joined in the search for heretics; men from the ages of 14, and women from 12, were to make oath and renew it every two years, that they would inform on heretics.
This made every person above those ages a bloodhound to track to torture and kill. Local councils added to these regulations, always in the direction of severity and injustice. The organic development of the Papal Inquisition proceeded rapidly. It was found that bishops, for the various reasons, would not always enforce the cruel canons of the councils.
So Pope Gregory IX in August, 1231, put the Inquisition under the control of the Dominicans, and order especially created for the defense of the church against heresy. Dominican inquisitors were appointed for Aragon, Germany, Austria, Lombardy, and Southern France.
The chronicle of the inquisitor Guilhem Pelhisso shows the most tragic episodes of the reign of terror which wasted Languedoc in France for a century. Guillaume Arnaud, Peter Cella, Bernard of Caux, Jean de St Pierre, Nicholas of Abbeville, Foulques de St Georges, were all the chief inquisitors who played the part of absolute dictatorship, burning at the stake, attacking both the living and the dead.
One of the leading head Inquisitors of Germany was Conrad of Marburg. Stern in temper and narrow in mind, his bigotry was said to be ardent to the pitch of near insanity. Conrad was urged by Pope Gregory IX as to "not to punish the wicked, but as to hurt the innocence with fear." History shows us how far these Inquisitors answered to this ideal. Conrad murdered and terrified countless people in pursuit of his duties, regarding mental and physical torture as a rapid route to salvation. He was given full discretionary powers, and was not required to hear the cases, but to pronounce judgment, which was to be final and without appeal-justice to those suspect of heresy.
He was authorized to command the aid of the secular arm, to excommunicate protectors of heresy, and to lay interdict on whole districts. During his reign, he claimed to have uncovered nests of "Devil worshippers" and adopted the motto "I would gladly burn a hundred innocent if there was one guilty among them.” Stimulated by this shining example, many Dominicans and Franciscans merged with him, and became his eager assistants. He also sentenced the feline cat to be forever viewed as a tool of manifestation for witches and sorcerers.
During the persecution of heresy in the Rhineland's by Conrad, one obstinate culprit actually refused to burn in spite of all the efforts of his zealous executioners. A thoughtful priest brought to the roaring pile a consecrated host. This at once dissolved the spell by a mightier magic, and the luckless heretic was speedily reduced to ashes.
Other inquisitors included Peter of Verona in Italy, Robert the Bulgar in northeast France, and Bernardus Guidonis in Toulouse. Guidonis, was considered the most experienced inquisitor of his day, condemning roughly 900 heretics, with recorded sentences pronounced after death against 89 persons during a period of 15 years. Not only was their property confiscated and their heirs disinherited, but they were subject to still further penalties. In the north of France, the Inquisition was marked by a series of melancholy events. Robert le Bougre, spent six years going through the Nivernais, Burgundy, Flanders and Champagne, burning at the stake in every place unfortunates whom he condemned without judgment.
http://www.bibliotecapleyades.net/vatican/esp_vatican29.htm
Kesimpulan:
Inkwisisi adalah policy yang terpogram dan sistimatis selama bertahun tahun dilakukan bukan suatu kejadian yang bersifat insidentil melainkan memang sudah merupakan program gereja yang penuh kekejaman dan kebengisan selama bertahun tahun secara rutin dilakukan.
Ini adalah fakta sejarah.
Shalom
-
Spanish Inquisition (1478-1834)
In 1478, the Spanish Inquisition was established with the papal approval of Pope Sixtus IV. The reform and extension of the ancient tribunal which had existed from the thirteenth century was mainly to discover and eliminate Jews and Muslims secretly taking up their beliefs in private.
The conduct of this holy office greatly weakened the power and diminished the population of Spain. It was considered the most deadliest and notorious of all Inquisitions, as firstly being, it was the most highly organized and secondly, it was far more exposed and open with the death penalty than that of the papal Inquisition. This holy office became veiled by secrecy, unhesitatingly kept back, falsified, concealed, and forged the reports of thousands of trials.
The first two Inquisitors in the districts of Seville were appointed in 1480 by King Ferdinand and Queen Isabella to round up the most wealthiest heretics; the reason for this, was that the property of those accused, were shared equally between the Catholic throne and the Dominicans.
The Catholic Spanish government also directly paid the expenses, and received the net income of the Inquisition itself from the accused. According to civil law, people convicted of religious treason were sentenced to death and their goods confiscated while the Catholic Church feasted on their estate. Additional Inquisitors were named, including Tomas Torquemada, who the following year was appointed Inquisitor General for all of Spain.
Tomas, who's duty was to organize the rules of inquisitorial procedures in Seville, Castille and Aragon. He believed punishment of heretics, was the only way to achieve political and religious unity in Spain. Those refusing to accept Catholicism where lead to the stake and burnt alive in a procession and Catholic ceremony known as "auto-de-fe'" (act of faith).
http://www.bibliotecapleyades.net/vatican/esp_vatican29.htm
Komentar:
Tindakan inkwisisi memang sudah diorganisasikan secara sistimatis oleh gereja untuk menghabisi siapa saja yang tidak mau tunduk kepada ajaran dan wewenang gereja padahal banyak ajaran gereja Katolik yang sudah jauh menyimpang dari kebenaran Kitab Suci.
Shalom
-
Roman Inquisition (1542-1700)
In the early 1500's and 1600's, the Catholic Church went through a reformation. It consisted of two related movements:
(1) a defensive reaction against the Reformation, a movement begun by Martin Luther in 1517 that gave birth to Protestantism
(2) a Catholic reform which saw Protestants declare war on Catholics
The Roman Catholic Church called the Council of Trent partly as a defense against Protestantism. In 1542, Pope Paul III (1534-49) established the Holy Office as the final court of appeal in trials of heresy. The Church also published a list of books that were forbidden to read. Heretical books were outlawed, and searched out by domiciliary visits. Every book that came was scrutinized minutely with the express object of finding some passage which might be interpreted as being against the principles or interests of the Catholic faith.
The secular coadjutor were also not allowed to learn to read or write without permission. No man was able to aspire to any rank above that of which he already holded. The church insisted on this regulation as a means to obtaining a perfect knowledge of its subordinates.
The censorship of books took three forms:
(1) complete condemnation and suppression
(2) the expunging of certain objectionable passages or parts
(3) the correction of sentences or the deletion of specific words as mentioned
A list of the various books condemned upon any of these three heads was printed every year, after which anyone found to be in the possession of a volume coming under section (1) or an unexpurgated or uncorrected copy of a volume coming under section (2) or (3) was deemed guilty and liable to serve punishment. The author and the publisher of any such book often spent the remainder of their lives in the dungeons of the Inquisition. Its overall goal was to eradicate Protestant influences in Europe.
A number of wars resulting from religious conflicts broke out as well as the Catholic governments tried to stop the spread of Protestantism in the country. Such attempts led to the civil war in France from 1562 to 1598 and a rebellion in the Netherlands between 1565 and 1648. Religion was a major issue in the fighting between Spain and England from 1585 to 1604.
It was also a cause of the Thirty Years' War 1618 to 1648, which centered in Germany, that eventually involved all of the great nations of Europe halving its population. The estimate of the death toll during the Inquisitions ranged worldwide from 600,000 to as high in the millions covering a span of almost six centuries.
Victor Hugo estimated the number of the victims of the Inquisition at five million, it is said, and certainly the number was much greater than that if we take into account, as we should, the wives and husbands, the parents and children, the brothers and sisters, and other relatives of those tortured and slaughtered by the priestly institution. To these millions should properly be added the others killed in the wars precipitated in the attempt to fasten the Inquisition upon the people of various countries, as the Netherlands and Germany.
http://www.bibliotecapleyades.net/vatican/esp_vatican29.htm
Komentar:
Martin Luther hanya menolak ajaran Gereja katolik yang sudah dibuktikannya keliru berdasarkan Kitab Suci tetapi GRK memperlakukannya sebagai peperangan gereja dengan korban sampai jutaan menurut keterangan diatas.
Ini hanya tindakan yang penuh arogansi dan sewenang-wenang belaka sangat kontras dengan ajaran Tuhan Yesus mengenai kasih !
Lukas 6:27 Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
Shalom
-
Komentar:
Martin Luther hanya menolak ajaran Gereja katolik yang sudah dibuktikannya keliru berdasarkan Kitab Suci tetapi GRK memperlakukannya sebagai peperangan gereja dengan korban sampai jutaan menurut keterangan diatas.
Ini hanya tindakan yang penuh arogansi dan sewenang-wenang belaka sangat kontras dengan ajaran Tuhan Yesus mengenai kasih !
Lukas 6:27 Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
Shalom
Ya .. ya... ya...
Injil Lukas 6:27 diatas cocok ditempelkan di Calvin.
Pengikut Calvin menolak inqusisi tetapi lupa kalo Calvin sendiri melakukan inqusisi.
Perlu ditambahi buat pengikut "tong kosong nyaring bunyinya"
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Mat 7:3 ITB)
:whistle:
-
Ya .. ya... ya...
Injil Lukas 6:27 diatas cocok ditempelkan di Calvin.
Pengikut Calvin menolak inqusisi tetapi lupa kalo Calvin sendiri melakukan inqusisi.
Perlu ditambahi buat pengikut "tong kosong nyaring bunyinya"
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Mat 7:3 ITB)
:whistle:
Ohh ,.. kan calvin bukan protestant... gitu nanti si soli akan berkata.
-
Ya .. ya... ya...
Injil Lukas 6:27 diatas cocok ditempelkan di Calvin.
Pengikut Calvin menolak inqusisi tetapi lupa kalo Calvin sendiri melakukan inqusisi.
Perlu ditambahi buat pengikut "tong kosong nyaring bunyinya"
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Mat 7:3 ITB)
:whistle:
pendetong kan bukan protestan..
dia sebenernya ngebets bingits pengen jadi paus..
tapi untuk itu dia perlu menyingkirkan paus yg ada
tapi berhubung pendetong is nobody yg pengikutnya paling engga nyampe 10.000 orang..
maka cuma mampunya koar-koar engga jelas..
sambil tetap memendam keinginannya jadi paus..
toh selama ini sudah melakukan tindakan-tindakan primitif yang justru di tentang oleh Martin Luther sendiri.
cuma kemasannya aja..
wkwkw...
-
THE INQUISITION
(from: http://www.catholic.com/tracts/the-inquisition, 07/01/2015)
Sooner or later, any discussion of apologetics with Fundamentalists will address the Inquisition. To non-Catholics it is a scandal; to Catholics, an embarrassment; to both, a confusion. It is a handy stick for Catholic-bashing, simply because most Catholics seem at a loss for a sensible reply. This tract will set the record straight.
There have actually been several different inquisitions. The first was established in 1184 in southern France as a response to the Catharist heresy. This was known as the Medieval Inquisition, and it was phased out as Catharism disappeared.
Quite separate was the Roman Inquisition, begun in 1542. It was the least active and most benign of the three variations.
Separate again was the infamous Spanish Inquisition, started in 1478, a state institution used to identify conversos—Jews and Moors (Muslims) who pretended to convert to Christianity for purposes of political or social advantage and secretly practiced their former religion. More importantly, its job was also to clear the good names of many people who were falsely accused of being heretics. It was the Spanish Inquisition that, at least in the popular imagination, had the worst record of fulfilling these duties.
The various inquisitions stretched through the better part of a millennia, and can collectively be called "the Inquisition."
The Main Sources
Fundamentalists writing about the Inquisition rely on books by Henry C. Lea (1825–1909) and G. G. Coulton (1858–1947). Each man got most of the facts right, and each made progress in basic research, so proper credit should not be denied them. The problem is that they did not weigh facts well, because they harbored fierce animosity toward the Church—animosity that had little to do with the Inquisition itself.
The contrary problem has not been unknown. A few Catholic writers, particularly those less interested in digging for truth than in diffusing a criticism of the Church, have glossed over incontrovertible facts and tried to whitewash the Inquisition. This is as much a disservice to the truth as an exaggeration of the Inquisition’s bad points. These well-intentioned, but misguided, apologists are, in one respect, much like Lea, Coulton, and contemporary Fundamentalist writers. They fear, while the others hope, that the facts about the Inquisition might prove the illegitimacy of the Catholic Church.
Don’t Fear the Facts
But the facts fail to do that. The Church has nothing to fear from the truth. No account of foolishness, misguided zeal, or cruelty by Catholics can undo the divine foundation of the Church, though, admittedly, these things are stumbling blocks to Catholics and non-Catholics alike.
What must be g.asped is that the Church contains within itself all sorts of sinners and knaves, and some of them obtain positions of responsibility. Paul and Christ himself warned us that there would be a few ravenous wolves among Church leaders (Acts 20:29; Matt. 7:15).
Fundamentalists suffer from the mistaken notion that the Church includes only the elect. For them, sinners are outside the doors. Locate sinners, and you locate another place where the Church is not.
Thinking that Fundamentalists might have a point in their attacks on the Inquisition, Catholics tend to be defensive. This is the wrong attitude; rather, we should learn what really happened, understand events in light of the times, and then explain to anti-Catholics why the sorry tale does not prove what they think it proves.
Phony Statistics
Many Fundamentalists believe, for instance, that more people died under the Inquisition than in any war or plague; but in this they rely on phony "statistics" generated by one-upmanship among anti-Catholics, each of whom, it seems, tries to come up with the largest number of casualties.
But trying to straighten out such historical confusions can take one only so far. As Ronald Knox put it, we should be cautious, "lest we should wander interminably in a wilderness of comparative atrocity statistics." In fact, no one knows exactly how many people perished through the various Inquisitions. We can determine for certain, though, one thing about numbers given by Fundamentalists: They are far too large. One book popular with Fundamentalists claims that 95 million people died under the Inquisition.
The figure is so grotesquely off that one immediately doubts the writer’s sanity, or at least his g.asp of demographics. Not until modern times did the population of those countries where the Inquisitions existed approach 95 million.
Inquisitions did not exist in Northern Europe, Eastern Europe, Scandinavia, or England, being confined mainly to southern France, Italy, Spain, and a few parts of the Holy Roman Empire. The Inquisition could not have killed that many people because those parts of Europe did not have that many people to kill!
Furthermore, the plague, which killed a third of Europe’s population, is credited by historians with major changes in the social structure. The Inquisition is credited with few—precisely because the number of its victims was comparitively small. In fact, recent studies indicate that at most there were only a few thousand capital sentences carried out for heresy in Spain, and these were over the course of several centuries.
What’s the Point?
Ultimately, it may be a waste of time arguing about statistics. Instead, ask Fundamentalists just what they think the existence of the Inquisition demonstrates. They would not bring it up in the first place unless they thought it proves something about the Catholic Church. And what is that something? That Catholics are sinners? Guilty as charged. That at times people in positions of authority have used poor judgment? Ditto. That otherwise good Catholics, afire with zeal, sometimes lose their balance? All true, but such charges could be made even if the Inquisition had never existed and perhaps could be made of some Fundamentalists.
Fundamentalist writers claim the existence of the Inquisition proves the Catholic Church could not be the Church founded by our Lord. They use the Inquisition as a good—perhaps their best—bad example. They think this shows that the Catholic Church is illegitimate. At first blush it might seem so, but there is only so much mileage in a ploy like that; most people see at once that the argument is weak. One reason Fundamentalists talk about the Inquisition is that they take it as a personal attack, imagining it was established to eliminate (yes, you guessed it) the Fundamentalists themselves.
(to be continued)
-
Not "Bible Christians"
They identify themselves with the Catharists (also known as the Albigensians), or perhaps it is better to say they identify the Catharists with themselves. They think the Catharists were twelfth-century Fundamentalists and that Catholics did to them what they would do to Fundamentalists today if they had the political strength they once had.
This is a fantasy. Fundamentalist writers take one point—that Catharists used a vernacular version of the Bible—and conclude from it that these people were "Bible Christians." In fact, theirs was a curious religion that apparently (no one knows for certain) came to France from what is now Bulgaria. Catharism was a blend of Gnosticism, which claimed to have access to a secret source of religious knowledge, and of Manichaeism, which said matter is evil. The Catharists believed in two gods: the "good" God of the New Testament, who sent Jesus to save our souls from being trapped in matter; and the "evil" God of the Old Testament, who created the material world in the first place. The Catharists’ beliefs entailed serious—truly civilization-destroying—social consequences.
Marriage was scorned because it legitimized sexual relations, which Catharists identified as the Original Sin. But fornication was permitted because it was temporary, secret, and was not generally approved of; while marriage was permanent, open, and publicly sanctioned.
The ramifications of such theories are not hard to imagine. In addition, ritualistic suicide was encouraged (those who would not take their own lives were frequently "helped" along), and Catharists refused to take oaths, which, in a feudal society, meant they opposed all governmental authority. Thus, Catharism was both a moral and a political danger.
Even Lea, so strongly opposed to the Catholic Church, admitted: "The cause of orthodoxy was the cause of progress and civilization. Had Catharism become dominant, or even had it been allowed to exist on equal terms, its influence could not have failed to become disastrous." Whatever else might be said about Catharism, it was certainly not the same as modern Fundamentalism, and Fundamentalist sympathy for this destructive belief system is sadly misplaced.
The Real Point
Many discussions about the Inquisition get bogged down in numbers and many Catholics fail to understand what Fundamentalists are really driving at. As a result, Catholics restrict themselves to secondary matters. Instead, they should force the Fundamentalists to say explicitly what they are trying to prove.
However, there is a certain utility—though a decidedly limited one—in demonstrating that the kinds and degrees of punishments inflicted by the Spanish Inquisition were similar to (actually, even lighter than) those meted out by secular courts. It is equally true that, despite what we consider the Spanish Inquisition’s lamentable procedures, many people preferred to have their cases tried by ecclesiastical courts because the secular courts had even fewer safeguards. In fact, historians have found records of people b.aspheming in secular courts of the period so they could have their case transferred to an ecclesiastical court, where they would get a better hearing.
The crucial thing for Catholics, once they have obtained some appreciation of the history of the Inquisition, is to explain how such an institution could have been associated with a divinely established Church and why it is not proper to conclude, from the existence of the Inquisition, that the Catholic Church is not the Church of Christ. This is the real point at issue, and this is where any discussion should focus.
To that end, it is helpful to point out that it is easy to see how those who led the Inquisitions could think their actions were justified. The Bible itself records instances where God commanded that formal, legal inquiries—that is, inquisitions—be carried out to expose secret believers in false religions. In Deuteronomy 17:2–5 God said: "If there is found among you, within any of your towns which the Lord your God gives you, a man or woman who does what is evil in the sight of the Lord your God, in transgressing his covenant, and has gone and served other gods and worshiped them, or the sun or the moon or any of the host of heaven, which I have forbidden, and it is told you and you hear of it; then you shall inquire diligently [note that phrase: "inquire diligently"], and if it is true and certain that such an abominable thing has been done in Israel, then you shall bring forth to your gates that man or woman who has done this evil thing, and you shall stone that man or woman to death with stones."
It is clear that there were some Israelites who posed as believers in and keepers of the covenant with Yahweh, while inwardly they did not believe and secretly practiced false religions, and even tried to spread them (cf. Deut. 13:6–11). To protect the kingdom from such hidden heresy, these secret practitioners of false religions had to be rooted out and expelled from the community. This directive from the Lord applied even to whole cities that turned away from the true religion (Deut. 13:12–18). Like Israel, medieval Europe was a society of Christian kingdoms that were formally consecrated to the Lord Jesus Christ. It is therefore quite understandable that these Catholics would read their Bibles and conclude that for the good of their Christian society they, like the Israelites before them, "must purge the evil from the midst of you" (Deut. 13:5, 17:7, 12). Paul repeats this principle in 1 Corinthians 5:13.
These same texts were interpreted similarly by the first Protestants, who also tried to root out and punish those they regarded as heretics. Luther and Calvin both endorsed the right of the state to protect society by purging false religion. In fact, Calvin not only banished from Geneva those who did not share his views, he permitted and in some cases ordered others to be executed for "heresy" (e.g. Jacques Gouet, tortured and beheaded in 1547; and Michael Servetus, burned at the stake in 1553). In England and Ireland, Reformers engaged in their own ruthless inquisitions and executions. Conservative estimates indicate that thousands of English and Irish Catholics were put to death—many by being hanged, drawn, and quartered—for practicing the Catholic faith and refusing to become Protestant. An even greater number were forced to flee to the Continent for their safety. We point this out to show that the situation was a two-way street; and both sides easily understood the Bible to require the use of penal sanctions to root out false religion from Christian society.
The fact that the Protestant Reformers also created inquisitions to root out Catholics and others who did not fall into line with the doctrines of the local Protestant sect shows that the existence of an inquisition does not prove that a movement is not of God. Protestants cannot make this claim against Catholics without having it backfire on themselves. Neither can Catholics make such a charge against Protestants. The truth of a particular system of belief must be decided on other grounds.
NIHIL OBSTAT: I have concluded that the materials
presented in this work are free of doctrinal or moral errors.
Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, August 10, 2004
IMPRIMATUR: In accord with 1983 CIC 827
permission to publish this work is hereby granted.
+Robert H. Brom, Bishop of San Diego, August 10, 2004
(end of text)
-
Ya .. ya... ya...
Injil Lukas 6:27 diatas cocok ditempelkan di Calvin.
Pengikut Calvin menolak inqusisi tetapi lupa kalo Calvin sendiri melakukan inqusisi.
Perlu ditambahi buat pengikut "tong kosong nyaring bunyinya"
3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Mat 7:3 ITB)
:whistle:
Calvin manusia biasa tidak disembah berbeda dengan Pope yang mengaku diri sebagai Tuhan didunia ini dan menyatakan dirinya infallible seperti Tuhan,sehingga merasa berhak membunuhi manusia seenaknya saja.
* “The Pope and God are the same, so he has all power in Heaven and earth.” Pope Pius V, quoted in Barclay, Chapter XXVII, p. 218, “Cities Petrus Bertanous”.
* Pope Nicholas I declared: ” the appellation of God had been confirmed by Constantine on the Pope, who ,being God, cannot be judged by man.”(Labb IX Dist.: 96 Can 7 Satis Evidentur Decret Gratian Primer Para)
* The Pope is not only the representative of Jesus Christ, He is Jesus Christ himself, hidden under the veil of flesh.” Catholic National July 1895
* “We hold upon this earth the place of Almighty God” Pope Leo XIII Encyclical Letter of June 20,1894
Sungguh klaim yang penuh arogansi dan penghujatan kepada Tuhan !
Shalom
-
dikutip dari http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html
Inkusisi di mata gereja non katolik memang terlihat kejam.
Tapi harus disadari, di gereja non katolik pun, melakukan hal yang sama.
:D
Bangunnn.... bangunn.........
Kita bukan hidup di abad pertengahan.
Ini tahun 2015.
Kematian satu orang Servetus mana mungkin dibandingkan dengan jutaan manusia korban pembunuhan dan penyiksaan hanya atas perintah Paus ???
Keputusan Paus mengikat semua umat Katolik berbeda dengan didalam Protestan dimana semua orang percaya adalah penyandang imamat yang rajani.
Shalom
-
Calvin manusia biasa tidak disembah berbeda dengan Pope yang mengaku diri sebagai Tuhan didunia ini dan menyatakan dirinya infallible seperti Tuhan,sehingga merasa berhak membunuhi manusia seenaknya saja.
* “The Pope and God are the same, so he has all power in Heaven and earth.” Pope Pius V, quoted in Barclay, Chapter XXVII, p. 218, “Cities Petrus Bertanous”.
* Pope Nicholas I declared: ” the appellation of God had been confirmed by Constantine on the Pope, who ,being God, cannot be judged by man.”(Labb IX Dist.: 96 Can 7 Satis Evidentur Decret Gratian Primer Para)
* The Pope is not only the representative of Jesus Christ, He is Jesus Christ himself, hidden under the veil of flesh.” Catholic National July 1895
* “We hold upon this earth the place of Almighty God” Pope Leo XIII Encyclical Letter of June 20,1894
Sungguh klaim yang penuh arogansi dan penghujatan kepada Tuhan !
Shalom
Kematian satu orang Servetus mana mungkin dibandingkan dengan jutaan manusia korban pembunuhan dan penyiksaan hanya atas perintah Paus ???
Keputusan Paus mengikat semua umat Katolik berbeda dengan didalam Protestan dimana semua orang percaya adalah penyandang imamat yang rajani.
Shalom
Bro Soli,
Peringatan resmi untuk OOT Anda!!
Thread ini dibuka utk membahas "inkusisi di mata Gereja Katolik", bukan membahas tentang paus atau pernyataan2 yg dikeluarkan oleh paus.
All,
Friendly reminder, mohon utk tidak membalas OOT dengan OOT, flamming, atau ad hominem.
OOT akan berhenti dengan sendirinya jika tidak ditanggapi dengan OOT.
-
Bro Soli,
Peringatan resmi untuk OOT Anda!!
Thread ini dibuka utk membahas "inkusisi di mata Gereja Katolik", bukan membahas tentang paus atau pernyataan2 yg dikeluarkan oleh paus.
All,
Friendly reminder, mohon utk tidak membalas OOT dengan OOT, flamming, atau ad hominem.
OOT akan berhenti dengan sendirinya jika tidak ditanggapi dengan OOT.
Apakah komentar dibawah ini bukan OOT dan ad-hominem ?
Perlu ditambahi buat pengikut "tong kosong nyaring bunyinya"
Silahkan direnungkan secara fair !
Shalom