Tradisi / Bapa-bapa Gereja
- Gereja perdana mempercayai Api Penyucian
“Dan di dalam mimpi, Tryphaena melihat anak perempuannya Falconilla yang sudah meninggal, dan mengatakan kepadanya : Ibu, biarlah Thecla kau anggap sebagai anakmu seperti saya, dan mintalah dia berdoa untuk saya, sehingga saya dipindahkan ke tempat kebahagiaan. Tryphaena kemudian menceritakan hal ini kepada Thecla, dan Thecla berdoa : O Tuhan Allah langit dan bumi, Yesus Kristus, Putra Allah yang Maha Tinggi, berikanlah putrinya, Falconilla hidup yang kekal.” Kisah Paulus dan Thecla 8:5-7 (160 M)“
Di baris 19 pada inkripsi yang tertulis di makam Abercius terdapat tulisan “Biarlah siapapun menjalankan doa ini untuk saya (Abercius)”. Abercius adalah seorang uskup Hieropolis di Phrygia, meninggal di abad kedua.” Inkripsi Abercius (190 M )
“Dengan segera, di malam yang larut, ada sebuah penampakan kepada saya dalam sebuah mimpi. “Saya melihat Dinocrates keluar dari tempat yang suram, di mana juga ada beberapa orang lain, dan dia dipanggang dan sangat haus, dengan air muka kotor dan pucat, dengan luka di wajahnya yang dia punyai ketika dia meninggal. Dinocrates adalah saudara laki-laki saya yang terluka, pada saat berusia tujuh tahun. Yang meninggal karena penyakit. Tetapi saya percaya bahwa doa saya akan menjadi pertolongan bagi penderitaannya, dan saya berdoa baginya setiap hari. Lalu pada hari kelahiran Gets Caesar, dan saya berdoa bagi saudara laki-laki saya siang malam, merintih dan menangis bahwa penderitaannya agar diwariskan kepada saya. Lalu pada hari kami tinggal di penjara, diperlihatkan kepada saya. Saya melihat tempat yang dulu saya lihat suram, sekarang terang, dan Dinocrates, dengan badan bersih dan pakaian yang baik, menemukan penyegaran. Dan di mana tadinya ada luka, saya melihat bekas luka, dan ada kolam yang sudah saya lihat sebelumnya, sekarang garis tepinya diturunkan sampai ke pusar anak laki-laki itu. Dan sesuatu mengambil air dari kolam itu dengan tak berhenti-hentinya, dan di atasnya adalah gelas piala yang diisi dengan air, dan Dinocrates mendekat dan mulai untuk minum darinya, dan gelas piala tidak habis. Dan ketika dia puas, dia pergi dari air, bermain dengan gembira, sama seperti anak-anak, dan saya terbangun. Lalu saya tahu bahwa dia dipindahkan dari tempat hukuman.” Penderitaan Perpetua dan Felicitias, 2:3-4 (202 M)
“Semua jiwa, oleh karena itu dikurung dalam Hades, apakah Anda menerima ini?” Baiklah, entah Anda berkata ya atau tidak, lebih dari itu, sudah ada pengalaman adanya hukuman dan penghiburan, dan di sana ada orang miskin dan kaya. Selain itu, jiwa menjalaninya tidak dengan badan. Siapapun yang melihat seorang wanita dan timbul nafsu birahi terhadapnya, sudah melakukan perzinahan di dalam hatinya. Oleh karena itu, untuk alasan ini yang paling sesuai adalah jiwa tanpa menunggu badan, sebaiknya dihukum untuk apa yang sudah dilakukannya, tanpa badan. Oleh sebab itu, atas prinsip yang sama, pikiran yang saleh dan baik tanpa keikutsertaan badan, tanpa badan akan mendapat penghiburan. Singkatnya, yang kita mengerti sebagai “penjara” di dalam Injil adalah Hades. Dan sewaktu kami juga interpretasikan, maksudnya, untuk kesalahan yang sangat kecil yang harus dibayar di sana sebelum kebangkitan, tak seorang pun akan ragu-ragu untuk percaya bahwa jiwa di dalam Hades, akan menjalani disiplin-displin pembalasan, sampai proses kebangkitan secara penuh.” Tertullian, Risalah pada Jiwa, 58 (210 M).
“Setiap perayaan tiba, kami membuat persembahan untuk yang mati sebagai penghormatan hari ulang tahun.” Tertullian, Chaplut , 3 (211 M).
“Wanita lebih terikat kalau suaminya meninggal. Tentu saja, dia berdoa bagi jiwa/arwah suaminya, dan meminta penyegaran baginya untuk sementara, dan persahabatan (dengannya) di kebangkitan pertama, dan memberikan persembahan di hari ulang tahun kematiannya.” Tertullian, On Monogami, 10 (216 M).
“Karena jika di atas pondasi Kristus kamu sudah membangun tidak hanya emas, perak dan, batu mulia (1 Kor 3), tetapi juga rumput kering, jerami, dan kayu, apa yang kamu harapkan ketika jiwa akan terpisah dari badan? Akankah kamu masuk ke surga dengan rumput kering dan jerami, dan kayu, dan dengan begitu mengotori kerajaan Tuhan? atau oleh karena rintangan-rintangan ini kamu akan tidak menerima penghargaan untuk emas, perak, dan batu muliamu, bukankah ini tidak adil?. Kamu terikat dengan api yang akan membakar material, untuk Tuhan kita, dan bagi mereka yang bisa mengerti hal-hal surgawi disebut Api Penyucian . Tetapi api ini tidak menghanguskan makhluk, tetapi apa yang dibangun oleh makhluk ini, kayu, jerami dan rumput kering. Ini adalah manifestasi bahwa api menghancurkan kayu, yaitu kesalahan kita dan kemudian kembali ke penghargaan dari pekerjaan agung kita” Origen, Homili pada Yeremia, PG 13:445, 448 (244 M).
bersambung...