Forim Iman Kristen
Diskusi Tanya Jawab => Diskusi Kristen => Topic started by: odading on November 30, 2012, 12:16:12 PM
-
Baik kehidupan jasmani di alam materi maupun kehidupan di alam sono (saya gak tau mesti pake istilah apa, mungkin alam spiritual? alam keKekalan ? alam roh?) --- apakah "sebenernya" hanyalah sederetan even ke even ? Dimana yg ungu terbatas karena materi sedangkan yg ijo tidak terbatas ?
Bagaimana dgn sebutan : Allah yang Hidup ?
Apakah boleh dikatakan aksiNYA infinite sequence ?
Untuk sementara saya sengaja utk tidak menggunakan kata "waktu".
Mohon maap saya post di board Kristen, karena saya lagi mau fokus dapet masukan khusus dari temen2 Kristen disini (apabila Mod merasa perlu dipindahkan ke board nonK saya mohon maaf sekali lagi atas kesalahan naroh post disini) :).
salam.
-
Mohon maap saya post di board Kristen, karena saya lagi mau fokus dapet masukan khusus dari temen2 Kristen disini (apabila Mod merasa perlu dipindahkan ke board nonK saya mohon maaf sekali lagi atas kesalahan naroh post disini) :).
salam.
Kenapa gak jadi 'K' aja sih... spy bebas posting dan sering nongol di board Kristen? :grining:
Sorry blm bisa kasih pendapat.... nunggu teman-teman lain kasih masukan dulu..
===
Salam,
-
Kenapa gak jadi 'K' aja sih... spy bebas posting dan sering nongol di board Kristen? :grining:
takut nanti saya tambah bingung, medice ... hehehe :).
Sorry blm bisa kasih pendapat.... nunggu teman-teman lain kasih masukan dulu..
hua..hua..hua... hiks!... masih belon ada yg sempet kasih masukan. Warung saya gak laku.... hehehe :).
Ayo ayo donk... disini ada kopi, energen, milo, loh.
Bengbeng tak kasih gratis dah! :D
salam.
-
hua..hua..hua... hiks!... masih belon ada yg sempet kasih masukan. Warung saya gak laku.... hehehe :).
Ayo ayo donk... disini ada kopi, energen, milo, loh.
Bengbeng tak kasih gratis dah! :D
salam.
pertanyaannya berat sih, perlu waktu buat mikir dulu, hehe........ :idiot: [nunggu siapa tahu Swordpen mampir ke sini :swt: ]
-
ngeri pertanyaannya serasa sidang desertasi aja nih.. ehehe...
Terus terang saya tidak mampu menjawab yang model ginian bro..
Yang baru bisa saya pahami adalah DERIVAT-nya, dimana Setiap Aksi kita pasti ada Reaksi, dan Setiap Tindakan kita akan Dipertanggungjawabkan.. atau.. Mendapat ganjaran pos/neg yang setimpal..
Apakah itu berarti sequence?
Apakah yang lebih betul itu berarti Re-Inkarnasi?
apakah terus-menerus di alam baka terus??
wah.. gak ngerti bro.. gak nyandak...
Yang jelas, makin hari saya makin yakin bahwa SUBJEK SEMUA AGAMA adalah MANUSIA.. dan BUKAN Tuhan !!!
Oleh karenanya... walaupun kedengarannya egois...
tapi saya selalu mendapati bahwa semua yang dibahas itu ujung-ujung-nya adalah demi NEVER ENDING IMPROVEMENT of QUALITY of (HUMAN) LIFE..
baru segitu bro kemampuan saya.. ehehe..
kontributif gak sih terhadap topik ini??? gak tau deh.. ehehe..
-
Sorry blm bisa kasih pendapat.... nunggu teman-teman lain kasih masukan dulu..
===
Salam,
Hallaahhh... Filsuf kita ini koq malah nunggu teman-teman lain... :dance: Ayolah, Bro... dimulai... jangan nunggu-nunggu... ntar keburu Jokowi lengser, lho.... :drool:
Salam
-
Kehidupan di dunia ini terikat dalam konteks 'waktu' shg sifatnya sekuensial.
Kl mnurut saya pribadi,
Khidupan di alam roh itu tidak terikat waktu, makanya ada konsep nubuatan mlihat ke masa depan.
Mnrt saya, di alam roh itu masa lalu dan masa depan dapat dijelajahi spt pintu terbuka.
Makanya, Tuhan telah mngetahui konsekuensi masa depan dari pbuatan kita saat ini krn bagiNya masa depan tidak tsembunyi.
-
pertanyaannya berat sih, perlu waktu buat mikir dulu, hehe........ :idiot:
oalah... pertanyaan-nya nggak berat kok. Sengaja saya tunda dulu penggunaan kata "waktu" biar saya sendiri juga jadi gak ribet/bingung ... hehehe... ayo donk shakes... :).
salam.
ngeri pertanyaannya serasa sidang desertasi aja nih.. ehehe...
weleh 3 kali... ini thread santai kok cadang :). Jadi ya santai aja, menurut pendapat sendiri juga boleh koook ... :).
Terus terang saya tidak mampu menjawab yang model ginian bro..
Ilmu padi nih yeee... :D
Yang baru bisa saya pahami adalah DERIVAT-nya, dimana Setiap Aksi kita pasti ada Reaksi, dan Setiap Tindakan kita akan Dipertanggungjawabkan.. atau.. Mendapat ganjaran pos/neg yang setimpal..
Apakah itu berarti sequence?
Maksud saya disini sebenernya bukan ttg sequence yang kayak : 1,2,3,4,5,dst ... atopun a,b,c,d,e,f,dst.... sii, melainkan event, event, event, event, dst ... :).
Apakah yang lebih betul itu berarti Re-Inkarnasi?
apakah terus-menerus di alam baka terus??
Bagi saya terserah... soalnya fokus saya mau nyamain persepsi dulu, berdasarkan pengertian saya : "Hidup"/"Kehidupan" itu adalah event (ato bisa juga kita sebut state) event event event event event ... dan tidak berhenti (infinite).
wah.. gak ngerti bro.. gak nyandak.
Saya curhat sedikit, asal usulnya TS ini yah - biar temen2 "nangkep" gambarannya kira kira.
Dasar awalnya saya mendapat pengertian (kayaknya keKristenan juga berpendapat sama) bhw katanya? Manusia itu mempunyai Roh .... Roh bersifat kekal, dimana di bumi Roh terbungkus daging dan hidup di alam materi sehingga terbatas dan katanya? nanti disaat manusia mati jasmani, maka Roh tsb tetap hidup di alam sono.
Berangkat dari situ, saya mencoba "nge-push" pada pengertian dasar dari kata "hidup" (or "kehidupan") ---> dan hasilnya adalah kesimpulan ungu diatas :) --- saya mengabaikan adanya pandangan ttg anihilasi.
Karena saya nonK dan tidak tau semua isi Alkitab, saya kepingin tau dgn "cross-check" apakah ayat2 Alkitab "silent" ? Alkitab "menentang" ? ataukah ada ayat Alkitab yg setidaknya memberi peluang (terbuka kemungkinan) utk bisa berpendapat seperti ungu ?
Simpelnya : mao dimanapun, dibumi yang serba terbatas kek, di keKekalan kek,... kata "Hidup" itu pengertian mendasarnya adalah : adanya event event event event dst (stream? dinamis?) --- dan "hidup" setiap being adalah infinite.
Yah begitulah kira kira cadang :).
Makasih atas masukan2nya ya.
:)
salam.
-
Nah... siiip....ada juga akhirnya masukan dari siip :).
Kl mnurut saya pribadi,
Khidupan di alam roh itu tidak terikat waktu, makanya ada konsep nubuatan mlihat ke masa depan.
karena untuk sementara saya berusaha menghindari penggunaan kata "waktu" se-minim mungkin, maka saya rangkai kalimatnya : Kehidupan Roh/Jiwa? itu "sebenernya" tidak terbatas ... state dari event event event event dst terus "mengalir" (selama tidak diterapkan istilah anihilasi)
Kehidupan di dunia ini terikat dalam konteks 'waktu' shg sifatnya sekuensial.
Ya, saya tidak "menampik" quote diatas :).
Dan untuk menghindari kata "waktu" : Kehidupan Roh menjadi terbatas karena Roh terbungkus daging dan hidup di alam materi ini. Istilah kasarnya : bersifat "mekanikal".
Pada kalimat pernyataan ijo (yg sama sekali tidak memerlukan penggunaan pendefinisian "waktu" ataopun kata "waktu" itu sendiri) --- apakah menurut siip dan teman2, kalimat ijo tsb "masuk" / "keterima" ?
Kalo "keterima" --- maka bagi saya, menurut saya, setidaknya persepsi dasarnya sudah sama, dan saya bisa terus ke yang berikutnya. :).
Kalo "gak keterima" --- maka saya minta tolong kasih masukan2 dan penjelasan2nya tanpa menggunakan definisi "Waktu", misal : kemarin, besok, 2 bulan yg lalu, 10 tahun lagi, past, present, future
Makasih ya siip atas respond-nya.
@ eprafas, ayuh donk... sumbangin pendapatnya... :)
:)
salam.
-
Saya belum paham dg pmikiran Bro...
-
Saya belum paham dg pmikiran Bro...
Mungkin baiknya begini, saya mengaju-in pertanyaan ya ke siip : nanti enaknya tinggal jawab YA ato TIDAK aja yah ... dari situ saya bisa ambil kesimpulannya...hehehe.
Mohon jangan lupa :
Apabila siip/temen2 menemukan kata "mati" ataupun "hidup" ---> saya tidak sedang ngerujuk dalam pengertian sso yg bertobat roh-nya hidup kembali, sso yg tidak bertobat roh-nya mati.
menurut siip / temen2 :
- apakah Roh hidup didalam manusia (Roh terbungkus daging jasmani) ?
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya hidup di keKekalan ?
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya puff, gone, musnah total, nihil ?
- apakah kata "hidup" = "tidak diam (tidak statis)" ?
- "tidak diam (tidak statis)" = ada state, state, state, dst (event event event, dst) ?
Nah, segitu dulu pertanyaan saya - nanti berdasarkan jawaban siip/temen2 saya bisa lanjut lagi.
Mudah2an siip/temen2 ada kesempatan menjawabnya ... :).
salam.
-
Baik kehidupan jasmani di alam materi maupun kehidupan di alam sono (saya gak tau mesti pake istilah apa, mungkin alam spiritual? alam keKekalan ? alam roh?) --- apakah "sebenernya" hanyalah sederetan even ke even ? Dimana yg ungu terbatas karena materi sedangkan yg ijo tidak terbatas ?
Hi bro oda,
Saya tertarik urun pendapat di sini. Menurut pengamatan saya, kehidupan seseorang (yang ungu) memang berupa sederetan (satu deret) event ke event.
Hidup itu sendiri (masih yg ungu) berupa deretan (banyak deret) event ke event.
Hidup bagaikan sebuah kamus, dan kehidupan sso bagaikan sebuah kalimat. Kurang lebih begitu perumpamaannya.
Tapi, saya comment buat yang ungu saja. Yang hijau, saya nggak tahu.
Bagaimana dgn sebutan : Allah yang Hidup ?
Apakah boleh dikatakan aksiNYA infinite sequence ?
Yang ini juga saya nggak tahu pasti.
Salam
-
Mungkin baiknya begini, saya mengaju-in pertanyaan ya ke siip : nanti enaknya tinggal jawab YA ato TIDAK aja yah ... dari situ saya bisa ambil kesimpulannya...hehehe.
Mohon jangan lupa :
Apabila siip/temen2 menemukan kata "mati" ataupun "hidup" ---> saya tidak sedang ngerujuk dalam pengertian sso yg bertobat roh-nya hidup kembali, sso yg tidak bertobat roh-nya mati.
menurut siip / temen2 :
- apakah Roh hidup didalam manusia (Roh terbungkus daging jasmani) ?
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya hidup di keKekalan ?
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya puff, gone, musnah total, nihil ?
- apakah kata "hidup" = "tidak diam (tidak statis)" ?
- "tidak diam (tidak statis)" = ada state, state, state, dst (event event event, dst) ?
Nah, segitu dulu pertanyaan saya - nanti berdasarkan jawaban siip/temen2 saya bisa lanjut lagi.
Mudah2an siip/temen2 ada kesempatan menjawabnya ... :).
salam.
Nahhh...memberanikan diri ikut partisipasi menjawab....
Setelah sekian lama "hang" membaca pertanyaan di awal posting :giggle:
- apakah Roh hidup didalam manusia (Roh terbungkus daging jasmani) ? Tidak (menyatu dgn daging jasmani).
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya hidup di keKekalan ? Ya.
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya puff, gone, musnah total, nihil ? Tidak.
- apakah kata "hidup" = "tidak diam (tidak statis)" ? Ya.
- "tidak diam (tidak statis)" = ada state, state, state, dst (event event event, dst) ? Ya.
Silahkan Bro Oda menikmati jawaban saya :)
GBU
:)
-
Mohon jangan lupa :
Apabila siip/temen2 menemukan kata "mati" ataupun "hidup" ---> saya tidak sedang ngerujuk dalam pengertian sso yg bertobat roh-nya hidup kembali, sso yg tidak bertobat roh-nya mati.
menurut siip / temen2 :
- apakah Roh hidup didalam manusia (Roh terbungkus daging jasmani) ?
Ya.
Roh ada di dalam tubuh tetapi tidak menyatu dengan tubuh.
[/li][li]dikala jasmani manusia mati, Roh-nya hidup di keKekalan ?[/li][/list]
Ketika jasmani mati, roh akan keluar dari tubuh jasmani.
Roh diciptakan tidak dapat mati, tetapi roh itu tidak 'kekal' karena dia ada awalnya.
- dikala jasmani manusia mati, Roh-nya puff, gone, musnah total, nihil ?
Tidak
- apakah kata "hidup" = "tidak diam (tidak statis)" ?
Hidup (dalam konteks manusia) artinya dinamis, dapat berpikir, merasa, berkehendak, berkeputusan.
- "tidak diam (tidak statis)" = ada state, state, state, dst (event event event, dst) ?
Bisa dikatakan bgitu.
Mngalami kejadian demi kejadian (series of event).
-
@ eprafas, ayuh donk... sumbangin pendapatnya... :)
Nyumbang ide, juga, ya…. Tapi mudah2n tidak sumbang… :grining:
Kalau menurut saya… hidup atau kehidupan futuristik memang bersifat event dan kekal. :nod:
Karena bersifat event dan melibatkan roh manusia, maka pastilah roh itu memiliki intelektualitas, emosi, pikiran dan bahkan ‘tindakan’ (produktif). :dance:
Tentang ‘kekal’, menurut saya, tetap merupakan kepanjangan/kelanjutan ‘waktu’, tapi tidak terbatas (juga tidak ada ‘time-travel’). :doh:
Kalau keduanya digabungkan, karena kekekalan diisi dengan ‘event’, maka roh manusia mengalami perkembangan juga. :doh:
Jadi, di kekekalan nanti ga ngebosenin, gitu, walaupun disana hidup manusia (motif event-nya) tetap God-Oriented, bukan man-oriented... :think1:
Begitu, Bro Odading…
Salam
-
Menurut pengamatan saya, kehidupan seseorang (yang ungu) memang berupa sederetan (satu deret) event ke event.
Jadi utk dari pov bumi, kita sudah sama persepsinya ya ... :).
Tapi, saya comment buat yang ungu saja. Yang hijau, saya nggak tahu.
iyah... saya tentu mengerti, kita tidak akan bisa tau seperti apa di alam sono, secara kita sendiri kan emang belon mati jasmani ... hehehe :D.
Namun maksud saya disini, apabila kita sendiri sudah "berani" berpendapat bahwa ADA kehidupan di alam sono (di afterlife, di alam spiritual ? di keKekalan ? alam barkah? entahlah :)). - masakan kita "nggak brani" utk setidaknya mengambil pengertian kata "hidup/kehidupan" itu sendiri yg secara general - ya "begitulah" disegala tempat (alam sini dan alam sono) ?
Saya gak tau ayat mana yang pasti, namun saya rasa Alkitab ada juga menyatakan : ADA event event yang BUKAN terjadi di alam sini (alam materi) dan itu diketahui dari visi para Nabi.
Tentu disini saya juga tidak sedang meliteralkan visi Nabi tsb (karena kita tidak tau kayak gimana disono) blekplek begitulah yg terjadi di alam sono : (misal) ada being menerima gulungan kitab. --- namun secara "intisari" (imo) bisa kita simpulkan bhw di alam sono PUN ada event event ... karena ada yang "hidup"... ada "kehidupan".
Begitu maksud saya pinoq:).
Jadi, apakah tidak logik - kalo saya berpendapat ijo ? :)
Apakah pinoq (secara logik) membuka kemungkinan utk menerima pada ijo ? (dgn kata lain : sependapat).
Bagaimana dgn sebutan : Allah yang Hidup ?
Apakah boleh dikatakan aksiNYA infinite sequence ? (event event event)
Yang ini juga saya nggak tahu pasti.
Ya gpp pinoq :).
Pelan2 mungkin point pembicaraan bisa ke arah sana.
Makasih atas masukan pendapatnya yaaa..
salam.
- apakah Roh hidup didalam manusia (Roh terbungkus daging jasmani) ?
Tidak (menyatu dgn daging jasmani).[/list]
Makasih phooey atas masukannya :).
Untuk jawaban no.1 : "menyatu dgn daging jasmani", boleh ya saya anggap pada kesimpulan yg sama --- bahwa Roh yg menyatu dgn daging = menjadi "terbatas".
Bisa dikatakan bgitu.
Mngalami kejadian demi kejadian (series of event).
Kalau menurut saya… hidup atau kehidupan futuristik memang bersifat event dan kekal. :nod:
@phoeey & siip & eprafas
berdasarkan masukan phoeey, siip dan eprafas .. secara garis besar, menurut saya, kayaknya kita udah sama persepsi. :).
Makasih siip, phoeey dan eprafas
(bersambung)
-
Makasih phooey atas masukannya :).
Untuk jawaban no.1 : "menyatu dgn daging jasmani", boleh ya saya anggap pada kesimpulan yg sama --- bahwa Roh yg menyatu dgn daging = menjadi "terbatas".
Saya membayangkan kalo roh tidak menyatu dengan daging jasmani, maka semasa hidup.....roh manusia dapat diperintahkan untuk keluar dari daging jasmani....berpindah2 tempat.
Seperti film2 horor.
:think:
-
Saya membayangkan kalo roh tidak menyatu dengan daging jasmani, maka semasa hidup.....roh manusia dapat diperintahkan untuk keluar dari daging jasmani....berpindah2 tempat.
Seperti film2 horor.
:think:
Emang bisa lho...
Roh manusia bisa keluar dari jasmaninya...
Hanya ada 2 kuasa yg mfasilitasi hal ini, yaitu antara kuasa Allah atau kuasa Setan.
-
Buat temen2 semua yang disini,
dari masukan2, saya rasa --secara general-- kita sudah sama persepsi bahwa :
Kata "hidup" (atopun "kehidupan") bisa kita simpulkan mengandung arti minimal adanya state state state (event event event).
Selanjutnya ijinkan saya bertanya sbb : (please, ya atao tidak - yaaa :)).
Di alam sini : (terbatas, bermateri, dan "mekanikal"). Apakah :
- sederetan event ke event ke event "menciptakan" durasi ?
- sederetan event ke event ke event "mempunyai" durasi ?
- "Time" menyebabkan sederetan event event event ?
- sederetan event event event mempunyai "Time"nya sendiri sendiri ?
- durasi --misal: 1 menit, 2 bulan, 3 tahun-- adalah "hanyalah" suatu definisi ?
roh itu memiliki intelektualitas, emosi, pikiran dan bahkan ‘tindakan’ (produktif).
Saya sempet ngubek internet, katanya 3 atribut yg ada pada Roh : Mind, Will & Emotions :).
Di alam sono : (tidak-terbatas, non-materi, non-"mekanikal"). Apakah :
- Istilah Timeless = dikarenakan ijo dari pov ungu ?
- sederetan event ke event ke event tidak berdurasi ?
- "realisasi" Mind & Will menyebabkan sederetan event event event ?
Mohon maap atas pertanyaan "aneh2" saya yaaa...
(sekali sekali gpp kan kita berfantasi-ria..hehehe :D).
Terimakasih sekali lagi buat semuanya.
:)
salam.
-
Saya membayangkan kalo roh tidak menyatu dengan daging jasmani, maka semasa hidup.....roh manusia dapat diperintahkan untuk keluar dari daging jasmani....berpindah2 tempat.
Sependapat dgn siip, dikala sso mempercayai bahwa manusia = body, spirit & soul ---> maka seyogyanya "tidaklah aneh" apabila sso juga mempercayai bahwa "tubuh" Roh bisa "terlepas" dari tubuh jasmani --- tetapi tidak semudah seperti yg di bold pada quote phoeey ---> yakni "diperintah" :).
Hanya ada 2 kuasa yg mfasilitasi hal ini, yaitu antara kuasa Allah atau kuasa Setan.
Bisa juga begitu... namun untuk sementara ini saya cenderung utk berpendapat bahwa Mind & Will dari Soul masing2 pribadi inilah yg membedakan apakah itu hal positif (yg menurut siip : kuasa Allah) ataupun hal negatif (yg menurut siip kuasa setan).
Mimpi.
Di dunia Iptek (science), tidak berpedoman sama-sekali ttg Roh (spiritual) ---> Mimpi adalah suatu state dimana mereka mempunyai eksplanasi secara science.
Bagi orang2 yg percaya Body, Spirit and Soul ---> "tidaklah aneh" ada sebagian yg percaya bahwa Mimpi adalah suatu state dimana tubuh Roh terlepas dari jasmani - namun Mind&Will nya tidak bisa "memerintah" ---> maka jadilah mimpi yang sering loncat2 atopun campur aduk... hehehe :).
salam.
-
Di alam sini : (terbatas, bermateri, dan "mekanikal"). Apakah :
- sederetan event ke event ke event "menciptakan" durasi ?
- sederetan event ke event ke event "mempunyai" durasi ?
- "Time" menyebabkan sederetan event event event ?
- sederetan event event event mempunyai "Time"nya sendiri sendiri ?
- durasi --misal: 1 menit, 2 bulan, 3 tahun-- adalah "hanyalah" suatu definisi ?
Saya sempet ngubek internet, katanya 3 atribut yg ada pada Roh : Mind, Will & Emotions :).
Di alam sono : (tidak-terbatas, non-materi, non-"mekanikal"). Apakah :
- Istilah Timeless = dikarenakan ijo dari pov ungu ?
- sederetan event ke event ke event tidak berdurasi ?
- "realisasi" Mind & Will menyebabkan sederetan event event event ?
Mohon maap atas pertanyaan "aneh2" saya yaaa...
(sekali sekali gpp kan kita berfantasi-ria..hehehe :D).
Terimakasih sekali lagi buat semuanya.
:)
salam.
Ga ngerti ptanyaannya Bro...
Hahahaha
-
Ga ngerti ptanyaannya Bro...
Hahahaha
hahaha .. :giggle: ... ya udah gpp siip ... abaikan aja pertanyaan2 saya ... hehehe.
Kalo pertanyaan ini gimana :
Apakah sebutan Allah Timeless, gak cocok ? Ya ato kagak ? :D
Saya sering mendapat jawaban "alasan utama" Allah MahaHadir dan MahaTahu adalah dikarenakan Allah Timeless --- sementara menurut saya dikarenakan Allah MahaKuasa.
salam.
PS (sebelumnya minta maap... sebenernya kayaknya saya semestinya buka thread baru, namun bingung juga - karena pertanyaan ini "dasar"nya adalah berkaitan dgn awal topik ... :)).
-
Jujur, sebenarnya saya agak susah nangkap pertanyaan Odading yang "berat", mungkin para filsuf yang bisa jawab :grining:
Tetapi saya coba berpendapat, entah ini menjawab keingintahuan Oda atau tidak. :)
Sebagaimana dijawab teman-teman yang lain, saya sependapat bahwa hidup adalah rangkaian event. Saya juga percaya bahwa setiap event mengandung durasi waktu, dan itu tidak hanya berlaku di bumi, melainkan juga di sorga (alam roh..??). Meskipun demikian tentu waktu bersifat relatif. Misalnya di bumi satu bulan berarti 30 hari, satu hari berarti 24 jam, satu jam berarti 60 menit, dst...dst... Sementara di planet lain, misalnya Yupiter yang memiliki ukuran dan diameter lebih besar, ukuran satu bulan, satu hari dan satu jam-nya mungkin akan berbeda.
Demikian juga di sorga atau di alam roh, saya percaya adanya rangkaian event, dimana tiap even mengandung durasi yang sifatnya relatif (berbeda dengan durasi waktu di bumi). Orang Kristen, tanpa disadari, sebenarnya juga memiliki anggapan demikian, meskipun saya juga tidak yakin apakah memang demikian yang dimaksudkan Alkitab.
Sebagai contoh, orang Katolik percaya bahwa ketika seseorang meninggal dia akan dimasukkan ke api penyucian untuk beberapa waktu, sampai dirasakan cukup untuk membayar dosa2nya. Durasi waktu ini akan dipersingkat jika ada "pertolongan" atau doa dari orang-orang kudus (cmiiw), sesudah itu berlanjut ke penghakiman untuk menempatkan seseorang tsb di sorga. Jelas di sini ada rangkaian event ke event yang mengandung durasi.
Bagi orang Kristen Injili juga demikian, orang Kristen yang meninggal tidak akan langsung masuk ke sorga, melainkan ada di tempat perhentian/penantian hingga hari penghakiman. Penghakiman pertama adalah untuk menghakimi pelayanan mereka di dunia (pembagian mahkota/pahala), kemudian bersama-sama mereka hadir dalam perjamuan bersama Kristus/mempelai (saya tidak tahu apakah perjamuan ini literally atau simbol), kemudian ada event pengadilan bagi orang2 tidak percaya, pengadilan iblis dan para malaikatnya, diciptakannya langit dan bumi baru...... Intinya, bahwa rangkaian event tersebut terjadi baik di bumi maupun di alam sana, meskipun dengan durasi atau ukuran waktu yang berbeda (bersifat relatif).
Salam
-
hahaha .. :giggle: ... ya udah gpp siip ... abaikan aja pertanyaan2 saya ... hehehe.
Kalo pertanyaan ini gimana :
Apakah sebutan Allah Timeless, gak cocok ? Ya ato kagak ? :D
Saya sering mendapat jawaban "alasan utama" Allah MahaHadir dan MahaTahu adalah dikarenakan Allah Timeless --- sementara menurut saya dikarenakan Allah MahaKuasa.
salam.
PS (sebelumnya minta maap... sebenernya kayaknya saya semestinya buka thread baru, namun bingung juga - karena pertanyaan ini "dasar"nya adalah berkaitan dgn awal topik ... :)).
Mnrt saya,
Kemahatahuan adl krn Ia tidak diikat dan dibatasi oleh waktu.
Allah tidak perlu mngalami suatu event sebelum maju ke event lainnya.
Dimensinya beda.
Ia seperti punya akses utk masuk ke semua rangkaian pristiwa dari awal pciptaan sampai akhir jaman.
Satu prubahan dlm rangkaian pristiwa itu, akan mnyebabkan prubahan pd ending, tetapi Ia pun punya akses utk lgs mngetahuinya.
-
Makasih shakes atas masukannya.
Jujur, sebenarnya saya agak susah nangkap pertanyaan Odading yang "berat", mungkin para filsuf yang bisa jawab :grining:
Sebenernya saya cuma mau nyamain persepsi dulu sebelum saya mengemukakan pendapat ttg "Waktu" yg katanya di bumi Time = physically exist (sementara saya berpendapat Time = sebuah definisi karena jasmani terbatas pada materi)... maka yg menjadi pertanyaan apakah diKekalan (alam sono, alam roh?) = Timeless ? :)
Jadi saya ambil awal pertanyaan awal dulu pada pengertian kata "hidup"/"kehidupan" --- karena kan di alam sini secara materi (mekanikal) memang jelas ada kehidupan, dan di alam sono dipercayai juga ada kehidupan :).
Saya juga percaya bahwa setiap event mengandung durasi waktu, dan itu tidak hanya berlaku di bumi, melainkan juga di sorga (alam roh..??).
Nah disinilah point-nya .... karena menurut saya : durasi waktu sudah tidak ada lagi (atau sudah tidak penting lagi) di alam sono, mengingat alam sono tidak bermateri dan para penghuninya adalah roh2 yg juga tidak bermateri.
IMO - Kekal/keKekalan adalah hanya ditinjau dari pov (point of view) roh roh itu sendiri. SekaliPUN alam "ternyata" bermateri, namun selama roh tidak bermateri maka "sifat/bawaan/substansi?" roh2 tsb tetap kekal ---> "hidup" para roh "tidak perduli" pada durasi, melainkan Mind & Will. (utk apalagi "mikirin" definisi waktu apabila hidup = selamanya ? :)).
Meskipun demikian tentu waktu bersifat relatif. Misalnya di bumi satu bulan berarti 30 hari, satu hari berarti 24 jam, satu jam berarti 60 menit, dst...dst... Sementara di planet lain, misalnya Yupiter yang memiliki ukuran dan diameter lebih besar, ukuran satu bulan, satu hari dan satu jam-nya mungkin akan berbeda.
Ya betul, dan terlihat disini : ukuran definisi waktu itu selalu terkait dgn materi yang "hidup lebih lama", dimana si pendefinisi-nya juga berjasad materi yang "hidup jasmaninya lebih pendek".
Demikian juga di sorga atau di alam roh, saya percaya adanya rangkaian event, dimana tiap even mengandung durasi yang sifatnya relatif (berbeda dengan durasi waktu di bumi).
Ya...saya sadar bhw saya tidak mungkin tau pasti seperti apa "kehidupan" di alam sono ... apakah berdurasi ato tidak. Disini saya cuma mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang sudah diketahui disini --- dan IMO kesimpulannya bagi para roh (pov roh), durasi atopun definisi waktu is not a big deal :).
kemudian bersama-sama mereka hadir dalam perjamuan bersama Kristus/mempelai (saya tidak tahu apakah perjamuan ini literally atau simbol), kemudian ada event pengadilan bagi orang2 tidak percaya, pengadilan iblis dan para malaikatnya
Betul, yg di bold saya-pun demikian :), sementara ...
Intinya, bahwa rangkaian event tersebut terjadi baik di bumi maupun di alam sana, meskipun dengan durasi atau ukuran waktu yang berbeda (bersifat relatif).
sementara, menurut kesimpulan saya "durasi waktu" tsb hanya ada di Mind.
btw, sekedar ilustrasi :
pernahkah shakes disaat menunggu dalam definisi waktu yg durasinya katakanlah 1 jam :
A. Terasa lama banget menunggu sso ?
B. Sama sekali tidak terasa lama saat menunggu sso ?
Saya pernah, dan kalau shakes juga pernah mengalaminya ... maka saya rasa (mudah2an) shakes "nangkep" apa yg saya maksudkan pada coklat :).
Masih ada "curhat2" laen saya, namun saya rasa pelan2 akan keluar seiring thread berjalan :D.
Makasih shakes atas respond-nya.
:)
salam.
-
Mnrt saya,
Kemahatahuan adl krn Ia tidak diikat dan dibatasi oleh waktu.
Allah tidak perlu mngalami suatu event sebelum maju ke event lainnya.
yang di bold, saya sependapat apabila kata "waktu" diganti materi jasmani :).
Dimensinya beda.
Dimensi alam sini bermateri dan penghuninya berjasmani, ya saya sependapat - dimensinya berbeda dgn alam sono :)
Ia seperti punya akses utk masuk ke semua rangkaian pristiwa dari awal pciptaan sampai akhir jaman.
Nah disini kita berbeda :).
Saya cenderung mengertikan, Allah itu berkuasa atas Hidup/Kehidupan ... baik kehidupan alam materi yg penghuninya berjasmani sehingga ada definisi ungu maupun kehidupan di alam keKekalan.
Sementara sering saya dapet penjelasan bhw MahaHadir + MahaTahu Allah adalah dikarenakan Dia Timeless (diluar dimensi ruang dan waktu) ... setelah mikir2 (maap, saya kebanyakan mikir nih.. :D) ---IMO--- Time ataopun Timeless state tidak ada hubungannya sama sekali dgn atribut MahaHadir dan MahaTahu.
Kesukaran disini adalah : saya belum tau jawaban siip ttg kata "Timeless" pada post saya #18 ---> saya tidak tau, apakah siip juga sependapat bhw : istilah "Timeless" itu hanyalah dikarenakan alam sini bermateri dgn penghuni manusianya berjasmani.
:)
salam.
-
hahaha .. :giggle: ... ya udah gpp siip ... abaikan aja pertanyaan2 saya ... hehehe.
Kalo pertanyaan ini gimana :
Apakah sebutan Allah Timeless, gak cocok ? Ya ato kagak ? :D
Saya sering mendapat jawaban "alasan utama" Allah MahaHadir dan MahaTahu adalah dikarenakan Allah Timeless --- sementara menurut saya dikarenakan Allah MahaKuasa.
salam.
PS (sebelumnya minta maap... sebenernya kayaknya saya semestinya buka thread baru, namun bingung juga - karena pertanyaan ini "dasar"nya adalah berkaitan dgn awal topik ... :)).
Kalau boleh saya sumbang saran, nih, Bro....
Sebaiknya dirunut dulu seperti ini:
1. Pada mulanya haruslah tentang "Allah": ini berarti include sifat-sifat-Nya yang kekal (Mahahadir, Mahatahu, Mahakuasa, dll), yang TIDAK dipengaruhi oleh keberadaan ciptaan.
2. Ciptaan, yang muncul kemudian, yang sedang kita hidupi ini: ada ruang, waktu ('time') dan event.
3. Kekekalan (alam 'nanti' di 'sono', sebagian orang mengatakan 'penciptaan baru' tapi beberapa aspek merupakan 'kelanjutan' dari #2 tadi): disini muncul istilah Anda 'timeless'.
Karena muncul istilah 'timeless' pada #3, lalu istilah itu Anda kenakan pada sifat Allah (sehingga 'Allah timeless'). Inilah yang keliru.
Seharusnya, mengkaitkan 'waktu' haruslah pada posisi #1, sebelum posisi#2 muncul, terlebih lagi bukan setelah muncul #3.
Mengapa? Karena kalau sifat "Allah yang timeless" itu dirujuk SETELAH #3, maka seolah Sifat Allah (yang 'timeless') itu sebagai 'akibat' (yaitu akibat dari #3).
Perhatikan juga kalimat Anda: "alasan utama" Allah MahaHadir dan MahaTahu adalah... dikarenakan Allah MahaKuasa".
Sifat Allah yang kekal (#1), yaitu Mahahadir, Mahakuasa, Mahatahu, dll., ADA secara kekal, DAN BUKAN karena 'dikarenakan', bukan sebagai 'akibat', bukan karena memiliki 'alasan'.
Gitu, Bro... Kalau menurut rekan lain ini adalah keliru, ya... abaikan saja... hehehe...
-
Kalau boleh saya sumbang saran, nih, Bro....
saya sambut dengan senang hati, eprafas :).
Sebaiknya dirunut dulu seperti ini:
1. Pada mulanya haruslah tentang "Allah": ini berarti include sifat-sifat-Nya yang kekal
Benak saya bertanya-tanya : apa maksud dari kata "kekal" ? Benak saya menjawab : ada dua pengertian : boundless infinite & bounded infinite (maap saya gak tau mesti gunakan istilah apa yg tepat, namun semoga eprafas "nangkep" maksud saya). Please CMIIW apabila eprafas ada pendapat laen.
(Mahahadir, Mahatahu, Mahakuasa, dll), yang TIDAK dipengaruhi oleh keberadaan ciptaan.
Allah = boundless infinite.
Ciptaan / being --dimanapun, di alam sono maupun sini-- bounded infinite.
3. Kekekalan (alam 'nanti' di 'sono', sebagian orang mengatakan 'penciptaan baru' tapi beberapa aspek merupakan 'kelanjutan' dari #2 tadi): disini muncul istilah Anda 'timeless'.
Yang bold, bukan istilah saya, eprafas. Masukan2 yang saya dapat itulah yang menggunakan istilah "Timeless" ... sementara pengertian saya sendiri adalah : Time itu tidak-ada, jadi tidak pernah mungkin ada istilah Timeless :).
2. Ciptaan, yang muncul kemudian, yang sedang kita hidupi ini: ada ruang, waktu ('time') dan event.
Bagi saya, saya tidak berpedoman : Manusia didalam waktu (Time) - otomatis sayapun tidak menimbulkan pendapat : Allah diluar waktu (Timeless), karena Time itu sendiri (menurut saya) : tidak ada, not physically real, tidak specially diciptakan. Time hanyalah tanda (marker) = sebuah term untuk mendefinisikan jeda event event event, musim2, dlsb dikarenakan alam sini bermateri dan penghuninyapun berjasad materi :).
Karena muncul istilah 'timeless' pada #3, lalu istilah itu Anda kenakan pada sifat Allah (sehingga 'Allah timeless'). Inilah yang keliru.
Itulah mengapa di awal topik, saya berusaha menimalkan utk jangan sampe "lari" ke istilah Time/Timeless dulu --- karena buat saya sendiri, takutnya orang salah "nangkep" dari apa yg saya maksud ... hehehe :).
Seperti pada post #18, saya tanyakan dulu : Istilah Timeless = dikarenakan ijo dari pov ungu ?
Tapi saya tidak mendapat jawaban :D. Dan sengaja saya gunakan kata "istilah" --- karena bagi saya sendiri : Time itu tidak ada, namun sebuah definisi yang disebut Time (pov bumi) sehingga timbul istilah Timeless (pov Allah).
Seharusnya, mengkaitkan 'waktu' haruslah pada posisi #1, sebelum posisi#2 muncul, terlebih lagi bukan setelah muncul #3.
Maksud saya disini justru tidak sedang yg bold itu, eprafas :).
Mengapa? Karena kalau sifat "Allah yang timeless" itu dirujuk SETELAH #3, maka seolah Sifat Allah (yang 'timeless') itu sebagai 'akibat' (yaitu akibat dari #3).
Saya kepingin ngulang pertanyaan saya (yg di post #18 dan belon saya dapet jawabannya) : bisa tolong eprafas/teman2 jabarkan istilah Timeless ? (atau terserah, kalo temen2 mau katakan itu bukan istilah melainkan real).
Saya jabarkan pengertian saya juga - pada istilah : "Timeless"-nya Allah - namun tanpa menggunakan definisi "Time" ... --->: Allah boundless infinite.
Mao ada Time kek, tidak ada Time kek (Timeless), gak ada sangkut pautnya dgn boundless infinite :).
Saya pernah denger istilah keKristenan bhw Allah adalah Allah yang hidup ---> maka "kehidupan"NYA Allah ada event event event event infinitely.
Di alam sono, (keKekalan? alam roh?) makhluk2 roh sebagai penghuninya juga hidup, ada event event event event infinitely.
Perbedaan antara Allah dgn para penghuni adalah ... ya itu dah, roh roh bounded infinite. "Hidup/Kehidupan" para roh sekaliPUN kekal (infinite) adanya, tetap bounded "didalam" yg boundless :).
Perhatikan juga kalimat Anda: "alasan utama" Allah MahaHadir dan MahaTahu adalah... dikarenakan Allah MahaKuasa".
oalaah... eprafas salah nangkep...hehehe :).
Munculnya "SebabAkibat" pada pertanyaan saya itu, dikarenakan duluan muncul jawaban : Karena Allah Timeless. ---> dimana jawaban ini kan menuntun saya utk bertanya : jadi ? kalo Allah NGGAK-Timeless ?? ---> ini kan jadi menuntun ke jawaban absurd :
A. yah... kalo Dia Nggak-Timeless, Dia Nggak MahaTahu/ Nggak MahaHadir
B. yah... kalo Dia Nggak-Timeless, Dia menjadi DobelMaha-Tahu/ DobelMaha-Hadir.
hehehe .. :D.
Jadi, saya ganti aja deh pernyataan saya yg eprafas salah ngerti-in, dari kata MahaKuasa ke MahaSegalanya.... "Karena Allah MahaSegalanya" ... nah, gimana ? "masuk" gak boss ? :giggle:
Sifat Allah yang kekal (#1), yaitu Mahahadir, Mahakuasa, Mahatahu, dll., ADA secara kekal, DAN BUKAN karena 'dikarenakan', bukan sebagai 'akibat', bukan karena memiliki 'alasan'.
Sebenernya saya juga tidak sedang berpendapat bahwa sebuah jawaban "Karena Allah Timeless" adalah sebuah alasan ataupun sebuah SebabAkibat kok, eprafas :).
Melainkan itu sebuah ulasan penjelasan manusia, begimana itu utk "melogika-kan" MahaHadir dan MahaTahu .... maka ya "mao gak mao" digunakan penjelasan dgn kata "karena" ---> karena Allah itu timeless, diluar dimensi waktu.
Gitu, Bro... Kalau menurut rekan lain ini adalah keliru, ya... abaikan saja... hehehe...
Santai aja bro... saya nggak sedang mencari mana yg keliru dan mana yg tidak keliru kok, eprafas :).
Thread ini sekedar mau nunjukin "perang" di benak saya pada kata : Kekal dan Timeless.
Bagi saya, penggunaan istilah Timeless membingungkan, karena saya berpedoman Time itu tidak ada. Sedangkan pada kata "Kekal", membingungkan karena utk mendefinisikan Kekal --- keKristenan menggunakan definisi Time, yakni : "selamanya" (or Abadi).
Allah yang kekal = Allah selamanya, abadi
Hidup yang kekal = Hidup selamanya, Hidup abadi.
Kekal = tidak ada waktu (dimana waktu = physically exist di bumi).
oleh karena itu, "alternatif" saya adalah :
Allah yang Hidup = Kekal (boundless)
Roh yang hidup = Kekal (bounded)
Roh dibungkus daging (manusia) yang hidup = Kekal (bounded), yang tidak kekal adalah materi (jasmaninya) karena materi yang "hidup" bersifat terbatas dan "mekanikal".
Coba deh, eprafas ngaju-in "teori" ttg physical Time exist, Timeless dan Kekal,
saya bisa bisa komedi puter utk terus "ngejar" bagaimana penjelasan sso yg berpedoman pada istilah Timeless dan kekal tsb .... wkwkwk :).
omong2 juga jadi timbul pertanyaan :
"mekanikal" bumi itu kekal gak yah ? :think:
hahaha... gak kelar kelar deh ... :D.
Makasih atas masukan2nya eprafas.
:)
salam.
-
hmm, lama gak liat forum ini ternyata ada juga pertanyaan yang menarik
Salam Bro Oda, long time no see
Baik kehidupan jasmani di alam materi maupun kehidupan di alam sono (saya gak tau mesti pake istilah apa, mungkin alam spiritual? alam keKekalan ? alam roh?) --- apakah "sebenernya" hanyalah sederetan even ke even ? Dimana yg ungu terbatas karena materi sedangkan yg ijo tidak terbatas ?
Bagaimana dgn sebutan : Allah yang Hidup ?
Apakah boleh dikatakan aksiNYA infinite sequence ?
Well, saya tidak benar benar menangkap apa yang anda tanyakan, tapi marilah kita merabanya dalam kegelepan
Menurut saya, terdapat tiga dimensi atau tiga level kehidupan
Satu
Level Divine, yang "menempati" kekekalan,
Seperti yang anda tahu, saya percaya bahwa Allah berada di luar ruang waktu, dengan demikian, kehidupan afterlife (manusia yang meninggal, assume ada kehidupan setelah kematian), tidak menempati kekekalan (please, bukan kekekalan populer yang dimaksud orang orang Kristen)
kekekalan, hanya ditempati oleh Allah
(jika ada obyek di luar ruang waktu, so, obyek tersebut akan bersifat "Allah" karena akan memiliki atribut OMNIPRESENCE-OMNISCIENCE-TRANSCEND)
Dua
Level kehidupan yang saat ini anda dan saya tempati
Kehidupan yang berawal dan berakhir
Diawali dengan Big bang dan diakhiri dengan kematian thermal
Tiga
yang mungkin disebut afterlife
Saya menyebutnya potentially infinite time
Dimensi ini memiliki ruang dan waktu, namun secara potensial unlimited
sebab itu orang Kristen menyebutnya "tak berakhir", "kekal"
waktu sendiri ada, berawal, namun berpotensi tidak berakhir
(coba anda mengawali hitungan dari nol, kapankah anda akan berada di angka terakhir? nah, setiap angka yang anda lewati sendiri bersifat finite, namun hitungan anda betawal, serta tak berakhir...)
Dalam dimensi 1
tentu saja tidak ada sequence to sequence
namun dalam dimensi dua ada
sequence to sequence yang finite dan accountable..
Ruang dan waktu memiliki besar yang finite, namun memiliki sebaran continu yang infinite
Sounds speculative..
take it or leave it
-
Mas oda,
emang berat nih pertanyaannya...
saya cuma pengen nambahin points berikut aja:
1. Waktu adalah berada di dalam mind kita saja
a. Mungkin banget mas... anyway belum bisa diketahui secara pasti
b. Einstein dkk mencoba membuat hipotesis bahwa waktu adalah dimensi ke-4, yang oleh karenanya dapat dikuantifikasi, dan dapat di-ukur, serta dapat dimodifikasi
c. cuman emang belum ketemu aja teknologi & hitungannya kali ya --> yang barangkali yield-nya adalah time travel
2. Waktu, Mimpi, Fenomena supranatural, dll.. menurut saya memang merupakan suatu science yang belum mampu ter-eksplor oleh manusia
a. Apakah suatu saat bisa ter-eksplor semua??
i doubt it... soalnya setiap kita ketemu 1 jawaban pertanyaan --> pasti langsung muncul 10 pertanyaan baru --> more un-explainable phenomenon ---> (disinilah titik letak keyakinan saya akan ke-maha-an Tuhan yang luar biasa: never ending mystery)
b. Science dan Religion BUKANLAH diametral dan dikotomis sifatnya..
jadi imho, tidak pas kalo mengkontradiksikan apakah ini Ilmu Pengetahuan ataukah Kemahaan Tuhan?
sebab menurut saya: itu adalah Keduannya... dan bukankah Ilmu Pengetahuan juga merupakan kemahaan Tuhan bagi manusia?
3. Roh itu apa?
itu juga part of the great mystery, kan ya?
- bahkan ketika dolly berhasil di clone dan tumbuh dewasa.. dia juga bisa hidup kan sperti kambing yang dilahirkan induknya..
- Kalo kita merasa physical body bisa disintesis / di reproduksi secara biotech.. tapi mungkin tidak ber-roh dsb....
- mungkinkah suatu hari bisa men-sintesis Roh saja TANPA physical body?? nggak tahu juga kan ya?
4. Well, jadi posisi saya hari ini:
a. Buanyaaakkkk banget misteri yang belum dan tidak akan terpecahkan oleh manusia sampai kapan pun
b. dari pov psikologis --> hal ini lah yang kita rumuskan sebagai HOPE & GOAL bahwa kita terus berusaha lebih baik & lebih maju lagi
c. Mungkin barangkali Tuhan memang menciptakan misteri demi misteri agar manusia terus berada dalam FASE IMPROVEMENT agar kegiatan PERBAIKAN itu NEVER ENDING..
d. Coba bayangkan, kalau semua misteri itu SUDAH TERJAWAB, atau kita bersikap apatis dgn bilang POKOKNYA SAYA PERCAYA Tuhan YA GITU ITU DEH.... --> manusia akan masuk ke fase COMPLACENCY --> wah... bahaya lho....
Gitu dulu mas...
-
Salam Bro Oda, long time no see
Halo sword... pa kabar :). Ya, lama gak liat sword disini nih ... :).
Well, saya tidak benar benar menangkap apa yang anda tanyakan
Kalu ada sempet waktu, mudah2an sword bisa nyempetin baca post demi post saya disini ... karena dari situ pelan2 saya nge-"reveal" maksud saya di thread ini :).
Satu
Level Divine, yang "menempati" kekekalan
Ya... untuk yang ini kira kira saya mirip dgn quote diatas.
Saya istilahin : Level Boundless infinite. Tidak terjangkau, dan tidak ada satu ciptaanpun yg bisa menjangkaunya (sekalipun roh2 / being2 divine).
Dua
Level kehidupan yang saat ini anda dan saya tempati
Kehidupan yang berawal dan berakhir
Disini saya istilahin : Bounded infinite ---> menjadi finite dikarenakan materi (manusia berjasmani, serta hidup di alam materi) --- dimana "sebenernya" Spirit & Soul manusia tsb infinite, body-nya saja yang finite. (dgn asumsi, setelah manusia mati - Spirit/Soulnya masih terus hidup).
Tiga
yang mungkin disebut afterlife
Saya menyebutnya potentially infinite time
Nah disinilah kita berbeda :).
Disini sword "mengutamakan" kalimat infinite time, sedangkan saya cenderung utk memilih pemikiran "Hidup" or "Kehidupan" Roh itu sendirilah yg infinite (bounded), karena dia tidak berjasad materi. (mohon dimaklumi, saya disini nggak/belum sedang "merambah" ke ttg kebangkitan-daging :)).
Dimensi ini memiliki ruang dan waktu, namun secara potensial unlimited
IMO - "Hidup" Roh yg infinite tidak memerlukan ruang dan waktu. Semisal sekalipun materi ada (misal : ada bangunan, ada planet, ada kota, dlsb), namun selama roh tsb tidak berjasad - maka dia "tidak perlu" ruang dan waktu tsb. "Hidup" mereka adalah event event event yg te"realisasi" dari Mind & Will mereka.
sebab itu orang Kristen menyebutnya "tak berakhir", "kekal"
Itulah karenanya saya cenderung mengertikan "Hidup" Roh itu-lah yang kekal (bounded infinite) --- "tidak ber-ketergantungan" dgn apapun, dan hanya "terpengaruh" oleh yg boundless infinite (Allah).
waktu sendiri ada, berawal, namun berpotensi tidak berakhir
Terus terang bagi saya konsep Time sulit saya cerna :).
IMO - Allah menciptakan being hidup, bukan Time hidup.
"yang" Hidup itu = event event event event.
Benak saya selalu bertanya : apa perlu-nya Time, kalo hidup itu sendiri infinite ?
Apakah kalo gak ada Time, roh2 jadi tidak bisa pada hidup ? :think1: (please CMIIW).
(coba anda mengawali hitungan dari nol, kapankah anda akan berada di angka terakhir? nah, setiap angka yang anda lewati sendiri bersifat finite, namun hitungan anda betawal, serta tak berakhir
Ya... begitulah yg saya mengertikan pada being "hidup", bukan pada kata Time ... hehehe :).
Dalam dimensi 1
tentu saja tidak ada sequence to sequence
Lalu bagaimana bisa di istilahkan dgn kalimat "Allah yang hidup" ? Kalau Dia sendiri tidak "mengalami" or "melakukan" state state state (event event event) ?
Sword mohon mengertikan, disini saya nggak sedang berpendpt state state state tsb = istilah past present future. Kalopun semisal saya "terpaksa" menggunakan salah satu istilah coklat tsb, maka (imo) bagi yg hidup kekal itu semuanya NOW :).
namun dalam dimensi dua ada sequence to sequence yang finite dan accountable..
Ya saya sependapat dgn quote sword diatas :).
Namun perbedaannya disini kayaknya :
saya berada pada pandangan : itu karena materi, baik alamnya alam materi, maupun yang hidup itu juga berjasad materi --- jadi terbatas. Sementara....
Ruang dan waktu memiliki besar yang finite
sementara sword kayaknya berpendapat : itu karena Time ? (please CMIIW).
Sounds speculative..
Yah... gpp donk... pengertian2 saya kan juga spekulatif koook :D.
take it or leave it
hehehe... atuh ya nggak mao saya begitu... justru kan "seru"nya adalah kita bahas sama sama pengertian masing2 ... :).
Makasih sword atas masukan2nya.
salam.
-
1. Waktu adalah berada di dalam mind kita saja
a. Mungkin banget mas... anyway belum bisa diketahui secara pasti
Saya bertanya tanya : apa yang menyebabkan "diperkirakan" bhw Time physically exist, ya ? :).
b. Einstein dkk mencoba membuat hipotesis bahwa waktu adalah dimensi ke-4, yang oleh karenanya dapat dikuantifikasi, dan dapat di-ukur, serta dapat dimodifikasi
Wah... kalo udah masuk ke "urusan" Iptek ... saya kabur deh ... wong matpel ukur ruang 3 dimensi aja saya NOL terus hahaha :D.
c. cuman emang belum ketemu aja teknologi & hitungannya kali ya --> yang barangkali yield-nya adalah time travel
Seperti yang saya post buat sword, IMO - "kehidupan" di alam sono tidak ada histori, gak ada past atopun future --- semua event event event ("now") :).
Ibarat malaikat anu mao ketemu malaikat una, dia tinggal gunakan Mind&Will aja --- gak "perlu" mekanikal seperti body saya mesti bergerak utk menemui cadang :) (maap... ini spekulasi fantasi saja...hehehe :)).
2. Waktu, Mimpi, Fenomena supranatural, dll.. menurut saya memang merupakan suatu science yang belum mampu ter-eksplor oleh manusia
pada yg di bold, entahlah...
Saya sebenernya bukan orang yang spiritualis, namun gak tau juga kenapa saya cenderung percaya bahwa Mimpi adalah disaat "tubuh roh" keluar dari jasmani namun tidak terkontrol oleh Mind & Will ybs :).
a. Apakah suatu saat bisa ter-eksplor semua??
i doubt it... soalnya setiap kita ketemu 1 jawaban pertanyaan --> pasti langsung muncul 10 pertanyaan baru --> more un-explainable phenomenon ---> (disinilah titik letak keyakinan saya akan ke-maha-an Tuhan yang luar biasa: never ending mystery)
Sependapat :)
b. Science dan Religion BUKANLAH diametral dan dikotomis sifatnya..
jadi imho, tidak pas kalo mengkontradiksikan apakah ini Ilmu Pengetahuan ataukah Kemahaan Tuhan?
sebab menurut saya: itu adalah Keduannya... dan bukankah Ilmu Pengetahuan juga merupakan kemahaan Tuhan bagi manusia?
Sependapat :)
3. Roh itu apa?
itu juga part of the great mystery, kan ya?
Iya yah... roh itu apa ya ? ... wkwkwk :D.
Kalo di Alkitab kalo gak salah : "napas" Allah yg diberikan ke tiap2 manusia, yah ?
d. Coba bayangkan, kalau semua misteri itu SUDAH TERJAWAB, atau kita bersikap apatis dgn bilang POKOKNYA SAYA PERCAYA Tuhan YA GITU ITU DEH.... --> manusia akan masuk ke fase COMPLACENCY --> wah... bahaya lho....
Tapi kok saya gak ngeliat "bahayanya" yah pada yg di bold ? :). btw, "fase complacency" itu apaan yah artinya ? saya baru denger nih ...
Gitu dulu mas...
oke... makasih cadang atas masukan2nya.
:)
salam.
-
Namun maksud saya disini, apabila kita sendiri sudah "berani" berpendapat bahwa ADA kehidupan di alam sono (di afterlife, di alam spiritual ? di keKekalan ? alam barkah? entahlah :)). - masakan kita "nggak brani" utk setidaknya mengambil pengertian kata "hidup/kehidupan" itu sendiri yg secara general - ya "begitulah" disegala tempat (alam sini dan alam sono) ?
Kalau bagi saya, mau 'berani' atau 'tidak berani' nggak masalah. Nggak ada bedanya. Saya berpendapat begitu karena saya tidak (atau belum) melihat urgensi/signifkansi dari pandangan2 tsb thd kehidupan sso.
Saya gak tau ayat mana yang pasti, namun saya rasa Alkitab ada juga menyatakan : ADA event event yang BUKAN terjadi di alam sini (alam materi) dan itu diketahui dari visi para Nabi.
Tentu disini saya juga tidak sedang meliteralkan visi Nabi tsb (karena kita tidak tau kayak gimana disono) blekplek begitulah yg terjadi di alam sono : (misal) ada being menerima gulungan kitab. --- namun secara "intisari" (imo) bisa kita simpulkan bhw di alam sono PUN ada event event ... karena ada yang "hidup"... ada "kehidupan".
Begitu maksud saya pinoq:).
Jadi, apakah tidak logik - kalo saya berpendapat ijo ? :)
Apakah pinoq (secara logik) membuka kemungkinan utk menerima pada ijo ? (dgn kata lain : sependapat
Yah logis juga sih, bro. Atau lebih tepatnya, bisa dibuat logis. Masalahnya, yang logis belum tentu yang riil, dan yg riil belum tentu yg baik, dan yg baik belum tentu yg benar. Padahal, kalau mau bicara soal Tuhan (thread ini bicara ttg Tuhan, kan?), berarti kita harus bicara soal Kebenaran. Ketika pikiran manusia berada dalam kondisi seperti yg merah itu, bagaimana manusia dapat memikirkan ttg Tuhan? Ada suatu discrepancy yg fatal, yg membuat manusia tidak bisa memikirkan Tuhan. Discrepancy ini perlu di-redeem dulu. Dan, bagaimanakah discrepancy itu dapat di-redeem ketika manusia sudah terjebak dalam kondisi yg merah itu??
Salam.
PS: (OOT) Saya sempat membaca post bro cadangdata di atas. Saya menemukan sesuatu yg menarik perhatian saya. Bro cadangdata bilang:
"Mungkin barangkali Tuhan memang menciptakan misteri demi misteri agar manusia terus berada dalam FASE IMPROVEMENT agar kegiatan PERBAIKAN itu NEVER ENDING.. Coba bayangkan, kalau semua misteri itu SUDAH TERJAWAB, atau kita bersikap apatis dgn bilang POKOKNYA SAYA PERCAYA Tuhan YA GITU ITU DEH.... --> manusia akan masuk ke fase COMPLACENCY --> wah... bahaya lho...."
Saya pikir "bahaya" itu sudah terjadi ketika manusia (diam-diam) telah hidup nyaman dengan polapikir "jika misteri terjawab, maka manusia akan masuk ke fase complacency" Misteri, dengan demikian, menjadi suatu kebutuhan. Supaya manusa bisa berkembang, misteri tidak boleh tidak ada. Ini, menurut saya, gila.
-
Saya berpendapat begitu karena saya tidak (atau belum) melihat urgensi/signifkansi dari pandangan2 tsb thd kehidupan sso.
hehehe...iyah kok... saya akui yg bold itu bener. Cuma gimana donk ? Soalnya benak saya sendiri ya emang bertanya-tanya :) (dan tentu disini bukan sedang mencari kesalahan, melainkan keingin-tahuan --yg sekali lagi, saya akui emang nggak penting-- :)).
Masalahnya, yang logis belum tentu yang riil, dan yg riil belum tentu yg baik, dan yg baik belum tentu yg benar.
Bagaimana kalo kalimatnya : "yang tidak-logis belum tentu yang tidak-riil, dan yg tidak-riil belum tentu yg tidak-baik, dan yg tidak-baik belum tentu yg tidak-benar" ? hehehe... becanda :P
Padahal, kalau mau bicara soal Tuhan (thread ini bicara ttg Tuhan, kan?), berarti kita harus bicara soal Kebenaran.
Kalo secara awal thread, sebenernya saya belum fokus ke Tuhan --- melainkan mencoba meyimpulkan dari pengertian kata "Hidup/Kehidupan" itu dulu :).
Secara pov manusia, yg hidup itu kan ada "animasi"nya, misal : melakukan pekerjaan, berpindah, jantung berdetak, muter, diam berpikir, dlsb. Oleh karena itu ... "simpel"nya saya pendapati : "Hidup/Kehidupan" ada sederet event event event event :)
setelahnya itu, barulah saya ingin tau --> bagaimana dengan Allah yang Hidup ? Apa maksud kalimat tsb ?
Kata "hidup" yg digunakan pada kalimat "Allah yang Hidup" itu kan memang digunakan hanya sampai sebatas kemampuan manusia meng-artikan kata "hidup" ?
Orang kan tidak menggunakan kalimat, misal : "Allah yang Hdipu".... lalu dikatakan bhw kata "hdipu" adalah kata yg divine --- tidak bisa (atopun tidak boleh) di-logiskan, karena sudah bukan dalam jangkauan ranah pengertian manusia yg terbatas ini. :).
Yah logis juga sih, bro. Atau lebih tepatnya, bisa dibuat logis. Masalahnya, yang logis belum tentu yang riil, dan yg riil belum tentu yg baik, dan yg baik belum tentu yg benar
Ketika pikiran manusia berada dalam kondisi seperti yg merah itu, bagaimana manusia dapat memikirkan ttg Tuhan?
Saya gak "nangkep" maksud pinoq nih ... :).
Pada yg saya bold - apakah maksudnya : pengertian kata "hidup" dari kalimat "Allah yang hidup" BISA dibuat logis tetapi sebenernya belon tentu logis ? dengan kata lain karena merah ? (please CMIIW).
bagaimanakah discrepancy itu dapat di-redeem ketika manusia sudah terjebak dalam kondisi yg merah itu??
Saya masih juga gak "nangkep" :) ---> jadi maksudnya kalimat "Allah yang hidup" itu jangan sampai manusia terjebak utk kepingin ngambil pengertian-nya pada kata "hidup" ?
Jadi kalo sso meng-interpretasikan kalimat "Allah yang Hidup" adalah --logisnya menurut orang ini-- (misal) Allah yang memberi kehidupan, Allah yang baik, Allah yang melakukan pekerjaan2 Kuasa, dlsb maka : ungu BISA dibuat logis, tetapi yang logis belum tentu yang riil, dan yg riil belum tentu yg baik, dan yg baik belum tentu yg benar ?
Maap... sungguh saya belon "nangkep" maksud pinoq loh ... :).
salam.
-
Bro Oda, sesuai saran anda, saya juga telah membaca beberapa post anda pada rekan2 yang lain, hmm, dalam beberapa hal, kurang lebih kita memiliki pandangan yang sama, well, namun kembali ke perbincangan kita, kita bedah pelan pelan dari awal.
Perbedaan kita dimulai kemungkinan bahwa:
menurut anda:
roh (apapun sebutannya, jiwa atau apalah itu), yang "berada" dalam jasmani manusia, bersifat infinite, sementara raganya sendiri bersifat finite, sebab itu, anda menamakannya bounded infinite.
(CMIIW)
menurut saya:
Manusia bukanlah makhluk hibrid sebagaimana yang anda katakan, bagi saya, manusia adalah makhluk psikosomatis, artinya, jiwa ini tidak dapat aktif jika terlepas dari raga.
(Masalah finite infinite-boundless bounded kita bereskan setelah isu utama di atas rampung, pelan pelan, kita pasti akan kesana)
Salam,
Btw, saya sudah lama gak lihat Mr Bruce
-
(Masalah finite infinite-boundless bounded kita bereskan setelah isu utama di atas rampung, pelan pelan, kita pasti akan kesana)
Ya, setuju, thread ini memang unik, harus PELAN-PELAN...
Saya menyimak, ahh...
-
Bro Oda, sesuai saran anda, saya juga telah membaca beberapa post anda pada rekan2 yang lain
Makasih sword atas menyempatkan membaca post2 saya disini :).
Perbedaan kita dimulai kemungkinan bahwa:
menurut anda:
roh (apapun sebutannya, jiwa atau apalah itu), yang "berada" dalam jasmani manusia, bersifat infinite sementara raganya sendiri bersifat finite,
Iya... betul kira kira begitu yg ada di benak saya, sword.
sebab itu, anda menamakannya bounded infinite.
Yang bounded infinite itu BUKAN raganya, melainkan Roh/Jiwa sso tsb - sedangkan materi raga = finite. Roh, Jiwa & Raga secara keseluruhan = manusia ---> limited. Se"canggih2nya" Roh/Jiwa sso - namun selama masih didalam raga = limited - walo "sebenernya" Roh/Jiwa tsb "sifat bawaan aslinya" bounded infinite.
Dalam benak saya, (misal) sso yg sakit keras dimana raga sudah tidak bisa apa apa lagi, gak bergerak diranjang, tapi belum mati ---> maka itu karena Roh/Jiwa ybs belum meninggalkan raga dan alam materi ini. Ya... saya sadar, mungkin saya berspekulasi "besar2an" pada ilustrasi ungu ini --- dan kemungkinan besar keKristenan bisa "ngomel2" membaca ilustrasi ungu ... karena mungkin ilustrasi ini melenceng jauh dari pengertian keKristenan :).
Dalam asumsi ada afterlife, maka Roh/Jiwa yg "pergi" dari raga tsb masih "hidup" --- dan sekalipun kekal, namun bounded karena biar bagaimanapun juga - Roh/Jiwa yang "hidup" ini adalah juga ciptaanNYA.
Begitu sword maksud saya :).
menurut saya:
Manusia bukanlah makhluk hibrid sebagaimana yang anda katakan, bagi saya, manusia adalah makhluk psikosomatis, artinya, jiwa ini tidak dapat aktif jika terlepas dari raga.
Barusan saya sempet ngecek AO (Alkitab Online) dgn kata kunci "soul" ---> hasilnya terdapat ayat yg secara eksplisit ---memberi kesan--- bahwa Allah memiliki Jiwa :). (maap, walo kalimat ayatnya eksplisit saya tetep taroh "memberi kesan" agar mbah pinoq gak "ngomel2" lagi....hehehehe :D).
anyway, saya terus terang nggak "nangkep" maksud sword pada kalimat yg di bold pada quote atas. Apakah maksud sword ---"tidak dapat aktif"--- ini Roh/Jiwa mati ?
Btw, saya sudah lama gak lihat Mr Bruce
Bruce sekarang ada di Forum laen, sword :).
salam.
-
Ya, setuju, thread ini memang unik, harus PELAN-PELAN...
Saya menyimak, ahh...
Nggak aci ah eprafas. Ikutan juga dooonnnkkk.... :D.
"the more the merrier" :dance:
hehehe....
:)
salam
-
Baik kehidupan jasmani di alam materi maupun kehidupan di alam sono (saya gak tau mesti pake istilah apa, mungkin alam spiritual? alam keKekalan ? alam roh?) --- apakah "sebenernya" hanyalah sederetan even ke even ? Dimana yg ungu terbatas karena materi sedangkan yg ijo tidak terbatas ?
Bagaimana dgn sebutan : Allah yang Hidup ?
Apakah boleh dikatakan aksiNYA infinite sequence ?
Untuk sementara saya sengaja utk tidak menggunakan kata "waktu".
Mohon maap saya post di board Kristen, karena saya lagi mau fokus dapet masukan khusus dari temen2 Kristen disini (apabila Mod merasa perlu dipindahkan ke board nonK saya mohon maaf sekali lagi atas kesalahan naroh post disini) :).
salam.
Suatu sore saya memandang ke langit dan melihat ke awan. Sinar mentari sore itu membentuk silver lining yang indah di tepian bentuk awan-awan tersebut. Angin berdesir pelahan, menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon. Burung emprit beterbangan diatas sawah yang terhampar didepan.
Hei, saya jadi teringat sesuatu. Bukankah ini saat dimana saya melihat pemandangan ini puluhan tahun yang lalu? Tempatnya sama, jamnya sama, harinya sama, bulannya sama, sinar mataharinya sama, sudut sinarnya sama, langit birunya sama. Bahkan angin sepoi-sepoinya juga sama.
Lantas, apakah yang berbeda? Tahunnyakah yang berbeda? Sayakah yang berbeda?
Tapi ingatan saya masih sama...
:think1:
-
Lantas, apakah yang berbeda? Tahunnyakah yang berbeda? Sayakah yang berbeda?
Tapi ingatan saya masih sama...
:think1:
Dejavu mengkali ?
:)
salam.
-
Dejavu mengkali ?
:)
salam.
Apa yang bisa dibuktikan dari dejavu?
-
Apa yang bisa dibuktikan dari dejavu?
dulu saya sempet pernah baca di internet, "misteri" dejavu udah reveal liwat science --- tapi entah juga, itu teori ataukan memang sudah pasti :).
Anyway, saya kurang "nangkep" dari post roderick.
Apakah maksudnya event sama percis blekplek yg roderick alamin ditempat tsb terjadi dua kali dalam kurun sekian tahun ? ataukah "terasa" kembali ke masa lalu ? (terasa pernah mengalaminya, tapi tidak tau kapan)
btw, ada juga ketemu di internet - dejavu itu dikatakan : kesadaran yg sama pada saat tubuh-roh "loncat" dari raga dalam waktu sekejap - kembali lagi ke raga dan raga "menerima" informasi tsb "lagi" :).
Seru yah ? hehehe :)
:)
salam.
-
Thanks responnya Bro Oda,
Yang bounded infinite itu BUKAN raganya, melainkan Roh/Jiwa sso tsb - sedangkan materi raga = finite. Roh, Jiwa & Raga secara keseluruhan = manusia ---> limited. Se"canggih2nya" Roh/Jiwa sso - namun selama masih didalam raga = limited - walo "sebenernya" Roh/Jiwa tsb "sifat bawaan aslinya" bounded infinite.
Ehem, begitulah maksud saya, jadi karena terikat dengan raga, jiwa seseorang itu menjadi bersifat bounded infinite.
(Ini yang saya pahami dari anda)
Dalam benak saya, (misal) sso yg sakit keras dimana raga sudah tidak bisa apa apa lagi, gak bergerak diranjang, tapi belum mati ---> maka itu karena Roh/Jiwa ybs belum meninggalkan raga dan alam materi ini. Ya... saya sadar, mungkin saya berspekulasi "besar2an" pada ilustrasi ungu ini --- dan kemungkinan besar keKristenan bisa "ngomel2" membaca ilustrasi ungu ... karena mungkin ilustrasi ini melenceng jauh dari pengertian keKristenan :).
Hmm, kalo itu saya masih belum berani berspekulasi seperti anda, menurut saya, itu disebabkan karena masih ada bagian bagian dari raga yang masih aktif, kematian sesungguhnya adalah kematian otak, nah, pada saat itulah saya sebut mati, mengapa? karena jiwa tidak lagi memiliki medium untuk beraktivitas, seperti air mengalir di sebuah saluran yang kemudian ditutup ujungnya.
Saya masih pada pandangan bahwa manusia itu bersifat PSIKOSOMATIS.
Menurut saya, level kehidupan kita berbeda dengan malaikat,
spekulasi spekulasi anda yang saya baca lebih cocok disematkan pada malaikat, yang adalah makhluk spiritual, bukan makhluk temporal material seperti manusia
Dalam asumsi ada afterlife, maka Roh/Jiwa yg "pergi" dari raga tsb masih "hidup" --- dan sekalipun kekal, namun bounded karena biar bagaimanapun juga - Roh/Jiwa yang "hidup" ini adalah juga ciptaanNYA.
Barusan saya sempet ngecek AO (Alkitab Online) dgn kata kunci "soul" ---> hasilnya terdapat ayat yg secara eksplisit ---memberi kesan--- bahwa Allah memiliki Jiwa :). (maap, walo kalimat ayatnya eksplisit saya tetep taroh "memberi kesan" agar mbah pinoq gak "ngomel2" lagi....hehehehe :D).
Hmm, Allah memiliki jiwa? menurut saya malah Allah superspiritual, tidak memiliki sifat materi.
kata kata Allah memiliki jiwa seperti berkata:
"Seorang suami memiliki istri"
"Lautan memiliki cairan"
anyway, saya terus terang nggak "nangkep" maksud sword pada kalimat yg di bold pada quote atas. Apakah maksud sword ---"tidak dapat aktif"--- ini Roh/Jiwa mati ?
Bruce sekarang ada di Forum laen, sword :).
maksud saya, raga manusia bagaikan hardware suatu komputer
jiwanya berupa software
kedua duanya harus ada secara bersamaan agar menciptakan suatu kehidupan
buat saya inilah syarat kehidupan manusia, sebagai makhluk kuasispiritual.
oleh sebab itu, ketika manusia mati, saya percaya ada semacam SHEOL dimana jiwa jiwa tidak akan aktif atau mengalami semacam hibernasi sambil menanti hari penghakiman.
Salam Bro ODa
Terima kasih responnya,
:walkman:
-
Hmm, kalo itu saya masih belum berani berspekulasi seperti anda, menurut saya, itu disebabkan karena masih ada bagian bagian dari raga yang masih aktif
Ya... saya sependapat dgn yg di bold.
Anyway, maksud saya disini --- manusia bisa membunuh raga - namun jiwa/roh manusia tidak bisa bunuh :).
Sebaliknya, raga mungkin masih berfungsi dalam keadaan sekarat (spt contoh ilustrasi sebelum) --- namun selama Roh/Jiwa masih disitu, ya jadi gak mati mati orangnya ... hehehe :).
btw, saya pernah baca di internet - yang berdasarkan sains medis sso dgn suatu kondisi yg seharusnya mati, namun ternyata tidak.
kematian sesungguhnya adalah kematian otak, nah, pada saat itulah saya sebut mati
Saya juga pernah baca, kematian otak (brain death) ---> secara sains medis = mati jasmani (flatline).
mengapa? karena jiwa tidak lagi memiliki medium untuk beraktivitas, seperti air mengalir di sebuah saluran yang kemudian ditutup ujungnya
Entahlah, mungkin karena saya "terpengaruh" baca baca internet ttg : Otak dan Kesadaran (jiwa), pada kenyataannya sains masih "garuk kepala" di bbrp kasus yang terjadi pada NDE (Near Death Experiences).
Pada "misteri" NDE situasinya sbb :
sso "sempet" dinyatakan clinically dead (flatline), namun kembali hidup setelah beberapa menit.
Logiknya spt pada quote sword diatas yang ungu.
Dikala flatline : logiknya semua fungsi otak berhenti, gak ada memori, gak ada kesadaran, gak ada "berpikir", gak ada mimpi/halusinasi, dlsb.
Namun, sso yg mengalami NDE bisa menceritakan secara tepat apa yang terjadi tatkala dia flatline..... nah, wajar kan para ahli "garuk kepala" ? ... :D.
Banyak oponen2 mengajukan segudang teori. Namun tetep aja kasus tsb "tidak ter-elakan" buat para ahli sains "garuk kepala". Sementara keKristenan juga sangat menentang NDE / OBEE ... dgn "teori" itu semua kerjaan iblis :).
Padahal kalo menurut saya sendiri, NDE adalah justru salah satu "hal yang mendukung" buat keKristenan yg percaya adanya life after death dimana komposisi manusia adalah Roh Jiwa dan Tubuh :). Nggak ngerti saya kenapa ... (maap OOT, kayaknya mesti dibuat topik baru ttg hal ini ... :)).
Saya masih pada pandangan bahwa manusia itu bersifat PSIKOSOMATIS.
Ya ... saya rasa saya juga berpendapat demikian.
Dalam kehidupan alam materi, Roh/Jiwa dan Raga saling menunjang :).
Menurut saya, level kehidupan kita berbeda dengan malaikat
IMO, perbedaannya hanya pada materi jasmani dan "pengetahuan" :).
Pada manusia, materi jasmani tumbuh dan "pengetahuan" juga tumbuh.
spekulasi spekulasi anda yang saya baca lebih cocok disematkan pada malaikat, yang adalah makhluk spiritual, bukan makhluk temporal material seperti manusia
Tapi kan malaikat tidak mempunyai raga yg bisa mati ? :).
Hmm, Allah memiliki jiwa? menurut saya malah Allah superspiritual, tidak memiliki sifat materi.
Ini sulit buat saya :).
Kerancuan bahasa, antromorfis, personifikasi --- mungkin nanti bikin thread baru ajah ya sword :).
maksud saya, raga manusia bagaikan hardware suatu komputer
jiwanya berupa software
Saya berbeda pendapat :).
--Komputer-- bisa/boleh dikatakan "sama" seperti manusia - hanya apabila punya unsur yg "berpikir" (thinking thing) yang mungkin berlawanan, mungkin juga tidak. Dan kenyataanya (imo), komputer adalah "sekedar" manusia yang cuma mempunyai otak, dimana CPU adalah otak komputer :
Otak manusia "memutuskan" logik yang terkait pada "urusan" dunia ... digital logik (Yes/No) cenderung di execute tanpa "pikir ulang" sesuai "kebutuhan" daging atopun environment lainnya. Kalopun "memikir ulang" maka kalkulasi2 yg dikerjakan adalah selalu terkait dgn hidup di alam materi ini. (demikian juga CPU, input mudah - kalkulasi cepat langsung execute ... input sukar - kalkulasi memerlukan waktu, baru execute).
Nah perbedaannya adalah Jiwa (mind, will & emotion).
Apa yang di otak : "oke" ... namun belon tentu apa yg ada di Mind "oke" :). Jadi sekalipun otak sempet "berpikir ulang" mengkalkulasi dan siap execute "YES" --- namun sekali lagi, belon tentu Mind sependapat.
Yang menarik, pada situasi coklat --- peng-execute-an "YES/NO" disini diputuskan oleh Mind yg memerintah otak, bukan otak :).
Itu fantasi saya ... hehehe :D.
oleh sebab itu, ketika manusia mati, saya percaya ada semacam SHEOL dimana jiwa jiwa tidak akan aktif atau mengalami semacam hibernasi sambil menanti hari penghakiman.
Kalo menurut sword, bagaimana kita "pantesnya" menginterpretasikan kisah Lazarus di pangkuan Abraham yg "ngobrol" dgn orang kaya di Sheol ? (dan bbrp ayat lain) ?
Ya...tentu saya mengerti event-nya mungkin tidaklah literal seperti itu :) ....namun dari keKristenan itu sendiri ---> kesimpulan apa yg "layak dan tidak melenceng" bisa diambil ? : Ada "kehidupan" ataukah Roh/Jiwa "tidur" hibernasi sebelum penghakiman/kebangkitan daging ?
Makasih ya atas masukan2 dan pendapat2 sword :).
:)
salam.
-
makasih replynya Bro oda.....
Saya juga pernah baca, kematian otak (brain death) ---> secara sains medis = mati jasmani (flatline).
Entahlah, mungkin karena saya "terpengaruh" baca baca internet ttg : Otak dan Kesadaran (jiwa), pada kenyataannya sains masih "garuk kepala" di bbrp kasus yang terjadi pada NDE (Near Death Experiences).
Pada "misteri" NDE situasinya sbb :
sso "sempet" dinyatakan clinically dead (flatline), namun kembali hidup setelah beberapa menit.
Logiknya spt pada quote sword diatas yang ungu.
Dikala flatline : logiknya semua fungsi otak berhenti, gak ada memori, gak ada kesadaran, gak ada "berpikir", gak ada mimpi/halusinasi, dlsb.
Namun, sso yg mengalami NDE bisa menceritakan secara tepat apa yang terjadi tatkala dia flatline..... nah, wajar kan para ahli "garuk kepala" ? ... :D.
Banyak oponen2 mengajukan segudang teori. Namun tetep aja kasus tsb "tidak ter-elakan" buat para ahli sains "garuk kepala". Sementara keKristenan juga sangat menentang NDE / OBEE ... dgn "teori" itu semua kerjaan iblis :).
well well well.......
nampaknya anda menggunakan NDE dan ABP sebagai pijakan untuk membangun argumen anda bahwa raga bersifat bounded namun jiwa bersifat bounded infinite..
CMIIW
interesting...
namun saya tidak berspekulasi seperti anda, bagi saya jiwa menempati ruang waktu yang sama dengan raga, namun dengan orientasi dan proyeksi yang berbeda
sebagai ilustrasi
raga menempati sebidang kertas dengan ukuran 1 km x 1 km
dan pada saat yang bersamaan, jiwa yang bersatu dengan raga juga menempati dimensi yang sama
dan
ketika NDE, atau AP, dimesi tersebut dirasakan sebagai sebuah dimensi baru
namun saya rasa hanya merupakan proyeksi dimensi yang sama
dalam hal ini, kertas persegi tersebut dilengkungkan dan dibentuk seperti bola yang tidak pejal, sehingga bagi sebuah jiwa, dimensinya terlihat tak terbatas
namun dalam sudut pandang psikosomatis, still, sebuah persegi.
dalam hal ini, kematian belum terjadi, namun kejadian tersebut bersifat intermediate
raganya berada dalam persegi
jiwanya berada dalam persegi yang dilengkungkan...
keduanya hidup
May be you say..
Hell NOOOOOO
:o
hahaha
Btw saya tidak termasuk yang:
Banyak oponen2 mengajukan segudang teori. Namun tetep aja kasus tsb "tidak ter-elakan" buat para ahli sains "garuk kepala". Sementara keKristenan juga sangat menentang NDE / OBEE ... dgn "teori" itu semua kerjaan iblis :).
Saya lebih senang mempropose sebuah teori untuk menjelaskan
Kalo menurut sword, bagaimana kita "pantesnya" menginterpretasikan kisah Lazarus di pangkuan Abraham yg "ngobrol" dgn orang kaya di Sheol ? (dan bbrp ayat lain) ?
Secara hermeneutis, saya tidak melihat bahwa terdapat pesan "orang yang mati dapat berbincang bincang" dalam ilustrasi Kristus
yang saya tangkap dari cerita itu hanyalah:
1. terdapat jurang antara si kaya dan Lazarus, jurang tak terseberangi antara surga dan neraka.
2. terdapat keadilan di dunia ini.
Salam bro oda
Btw, Om Bruce di forum mana yah, :think:
-
Sekedar menambah,
Ada beberapa kejadian OBE dimana otak masih aktif bekerja, alias orangnya masih dalam keadaan hidup.
-
makasih replynya Bro oda.....
well well well.......
nampaknya anda menggunakan NDE dan ABP sebagai pijakan untuk membangun argumen anda bahwa raga bersifat bounded namun jiwa bersifat bounded infinite..
CMIIW
interesting...
iyah sword, itulah salah satu "kerugian" membaca ataupun menjadi tahu ... hehehe :).
namun saya tidak berspekulasi seperti anda, bagi saya jiwa menempati ruang waktu yang sama dengan raga, namun dengan orientasi dan proyeksi yang berbeda
Ya ... mungkin disinilah perbedaan kita ---> saya tidak mempunyai pedoman ruang&waktu, tidak ada ruang&waktu, melainkan definisi dari jarak dan durasi hal materi.
Untuk memadani pada yg dibold dgn perbedaan menurut saya :
Bagi saya jiwa adalah unsur? atribut? manusia. (manusia = raga, jiwa, roh).
Raga manusia hidup, Jiwa manusia hidup.
Raga manusia berhenti, Jiwa masih "lanjut" hidup.
dalam hal ini, kematian belum terjadi, namun kejadian tersebut bersifat intermediate
untuk kasus NDE memang terjadi di dua sikon.
Ada sikon dimana ybs memang belum mati --- namun sekarat ---> tidak terlalu menimbulkan "garuk kepala" pada sains, karena memang masih ada logika klinisnya.
Ada sikon dimana ybs secara sains mati total secara klinis ... dimana semuanya pada ybs shut down. Nah yang bikin "garuk kepala" itu BUKAN si pasien kembali hidup dan tidak ada cerita apa2 dari si pasien disaat dia flatline tsb ... karena ya emang begitulah logiknya, si pasien emang mati total... tidak mungkin dia masih ada memory atopun memory recall, berhalusinasi, mendengar, melihat dlsb.
Namun pada bbrp kasus, pada sikon yang sama spt ungu, si pasien menceritakan pengalaman "gak mungkin" dimana itu terjadi disaat flatline (ijo) :) ---> ini dah yg bikin "garuk kepala" ... hehehe :D.
Ya tentu, adalah tidak salah kalo sword berpendapat : "oh itu mungkin si pasien sebenernya emang belon mati total" --- namun acuan yg diuji bagi para ahli kan logik sains mereka : flatline, brain death, dlsb = clinically dead.
May be you say..
Hell NOOOOOO
:o
wkwkwk... nggak juga lah sword.
Toh semua ini memang enak utk di diskusi-in, bukan utk didebatin :).
Secara hermeneutis, saya tidak melihat bahwa terdapat pesan "orang yang mati dapat berbincang bincang" dalam ilustrasi Kristus
yang saya tangkap dari cerita itu hanyalah:
1. terdapat jurang antara si kaya dan Lazarus, jurang tak terseberangi antara surga dan neraka.
2. terdapat keadilan di dunia ini.
Bukan... bukan yg di bold itu maksud saya sword (kan udah saya kasih tau, saya tidak sedang mengasumsikan "percakapan" tsb literally terjadi :)). Jadi kalo saya boleh tambahin dgn no.3 :
3. Terbuka kemungkinan ada kehidupan soon after death.
Btw, Om Bruce di forum mana yah, :think:
oalaah sword pasti "keloncatan" post saya sebelumnya yg udah kasih tau bhw Mr. Bruce gak lagi disini lagi :).
Makasih atas masukan2 sword ya.
:)
salam.
-
Sekedar menambah,
Ada beberapa kejadian OBE dimana otak masih aktif bekerja, alias orangnya masih dalam keadaan hidup.
Ya.. salah satu dugaan-nya adalah pada "misteri" Dejavu :).
Dari baca internet, spiritualist kebanyakan percaya bhw Mimpi adalah tahap paling dasar pada OBE, meningkat ke Lucid Dreams, meningkat ke NDE / ADE, dan akhirnya OBE "terkontrol" (Astral Projection).
:)
salam.
-
dulu saya sempet pernah baca di internet, "misteri" dejavu udah reveal liwat science --- tapi entah juga, itu teori ataukan memang sudah pasti :).
Anyway, saya kurang "nangkep" dari post roderick.
Apakah maksudnya event sama percis blekplek yg roderick alamin ditempat tsb terjadi dua kali dalam kurun sekian tahun ? ataukah "terasa" kembali ke masa lalu ? (terasa pernah mengalaminya, tapi tidak tau kapan)
btw, ada juga ketemu di internet - dejavu itu dikatakan : kesadaran yg sama pada saat tubuh-roh "loncat" dari raga dalam waktu sekejap - kembali lagi ke raga dan raga "menerima" informasi tsb "lagi" :).
Seru yah ? hehehe :)
:)
salam.
Saya memahaminya seperti sebuah roda yang bergerak melingkar sekaligus linear. Bukankah bisa dikatakan keabadian waktu itu seperti perputaran roda yang dari atas kebawah balik lagi keatas dst?
Namun lingkaran ini tidak berada pada satu axis namun karena bertumbukan dengan benda/hal lain (dalam hal ini jalan atau permukaan lain) maka jadilah garis linear yang bisa ditarik dari posisi poros pertama sampai ke posisi poros terakhir.
Apakah demikian?
CMIIW.
-
Saya memahaminya seperti sebuah roda yang bergerak melingkar sekaligus linear. Bukankah bisa dikatakan keabadian waktu itu seperti perputaran roda yang dari atas kebawah balik lagi keatas dst?
Namun lingkaran ini tidak berada pada satu axis namun karena bertumbukan dengan benda/hal lain (dalam hal ini jalan atau permukaan lain) maka jadilah garis linear yang bisa ditarik dari posisi poros pertama sampai ke posisi poros terakhir.
oalaah mak... saya ampe mesti baca 2 kali, yang kedua kalinya pelang2 - baru "nangkep" maksudnya :D.
Pandangan yang baru bagi saya dan menarik :)
Apakah demikian?
Sayang saya gak tau karena saya gak mampu dalam "bayangan ilustrasi"-nya :P :D... (semacem film "another earth" itu kali yah ?).
anyway. saya ini orang rada aneh karena saya gak percaya bhw Waktu itu physically exist, melainkan event event event (alias "hidup") itulah yang exist ... :)
salam.
-
oalaah mak... saya ampe mesti baca 2 kali, yang kedua kalinya pelang2 - baru "nangkep" maksudnya :D.
Pandangan yang baru bagi saya dan menarik :)
Sayang saya gak tau karena saya gak mampu dalam "bayangan ilustrasi"-nya :P :D... (semacem film "another earth" itu kali yah ?).
anyway. saya ini orang rada aneh karena saya gak percaya bhw Waktu itu physically exist, melainkan event event event (alias "hidup") itulah yang exist ... :)
salam.
Jadi apakah itu artinya keabadian dalam perubahan?
Jadi apakah kehidupan itu ada karena gerak (statis,beraturan) dalam kehidupan?
Infinite sequence yang akhirnya tidak membawa kemana-mana?
:whistle:
-
Just wanna share, Guys …
Titik berangkat menentukan pendirian akhir. Ada 3 acuan:
A. Agama samawi. Ada penciptaan, termasuk penciptaan ruang & waktu. Muara: theistis.
B. Filsafat: waktu tidak eksis dan tidak riil. Muaranya? Agnostik? Atheis?
C. Fenomenologi (analisis thd pengalaman NDE, OBE, dll): ujungnya ke ‘agama’ saintologi? atau spiritisme?
Saya bergumul ckp lama sblm memilih yg pertama. Penjelasan:
1. Pencipta = bersifat pribadi, bukan non-pribadi. Filsafat hanya mengkonsepkan DIA sebagai non-pribadi.
2. ‘Waktu tidak eksis dan tidak riil”?
a. Dalam Alkitab dinyatakan: “Itulah hari pertama” (Kej 1:5). Kata ‘hari’ menunjuk adanya ‘waktu’ (time) yang eksis. Kata ‘pertama’, ‘kedua’, dan ‘ketiga’, dst, yang menyusul kata ‘hari', menunjuk pd phisycal time yang riil (jadi ‘waktu’ = riil).
b. Tetapi kmd manusia merekonseptualisasikan sang ‘waktu’ sdmkn rupa shg keberadaan ‘simbol’ (satuan) utk ‘waktu’ dianggap bukti ttg non-eksis dan tdk riil-nya ‘waktu’ (seolah TANPA simbol maka ‘waktu’ tdk eksis dan tdk riil, alias hanya dlm ‘mind’-nya manusia saja).
c. Pdhl, sebelum Allah berkata “Jadilah…”, DIA sudah ‘beripikir’ lebih dulu didalam ‘Mind’-NYA bhw DIA akan mbuat ‘waktu’ menjadi eksis kedalam dunia melalui proses 'berfirman'. Stlh 'waktu' eksis di alam ciptaan, ia benar2 eksis di dunia, shg bukan hanya 'ada' dalam ‘mind’-nya manusia saja. Artinya, ketika ‘waktu’ masih ada dalam ‘Mind’-nya Allah, ia belum eksis. Tetapi setelah IA berkata “ITULAH hari pertama…”, maka ‘waktu’ (time) itu menjadi eksis dan riil (bukan hanya dalam mind-nya manusia), dengan atau tanpa simbol/satuan waktu buatan manusia.
d. Fakta lain bahwa ‘waktu’ adalah riil dan eksis yaitu: (i) Allah beristirahat pada HARI KETUJUH; dan (ii) TIDAK ADA HARI KEDELAPAN!. DIA menggunakan frasa itu krn 'waktu' SUDAH EKSIS DAN RIIL (sudah diluncurkan dari ‘Mind’-nya Allah, menjadi ‘ciptaan’).
e. Jadi, dari sudut pandang Allah, ‘waktu’ eksis dan riil, tp manusia (dg menggunakan ukuran-ukurannya sendiri) menganggap time hanyalah keberadaan yang tdk disengaja, yg hrs ‘ada’ krn harus menopang ‘hal’ lainnya (materi/pergerakan); dianggap hanya sbg tanda (marker) = sebuah term utk mendefinisikan jeda event event event, musim2, dlsb dikarenakan alam sini bermateri dan penghuninyapun berjasad materi.
f. Manusia yg tdk menggunakan titik berangkat #1 diatas memang akan menavikan perbedaan antara apa yang ada di dalam ‘pikiran’ Allah (belum eksis) dan yang kemudian DIA luncurkan keluar melalui ‘perkataan’/firman-NYA (menjadi eksis).
3. Dari pov theistic-presumption: manusia adalah ciptaan. Karena itu tdk mungkin membahas ‘waktu’ dan hal metafisika (termasuk asal mula agama & life-issues) dg titik berangkat dr produk ‘ciptaan’ (filsafat buatan manusia & ‘pengalaman’nya). Hasilnya: spekulasi yang ujung & pangkalnya adlh (memuaskan?) mind manusia.
4. ‘Kekal’ sudah ada (karena inheren dengan sifat Allah), sebelum ‘waktu’ (time) diciptakan. Karenanya, penggantian kata ‘kekal’ dengan ‘timeless’ dianggap kurang tepat karena sudah menempelkan nuansa ‘waktu’ (time) kepada ‘kekal’.
5. Tentang roh, jiwa, tubuh (1Tes 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita). Ketiganya saling mempengaruhi. Setelah mati, maka raga dan jiwa lenyap. Kemudian roh memperoleh tubuh baru (‘tubuh kemuliaan’), tanpa hasrat/nafsu negatif (kedagingan); wlp ada gender tetapi tidak menikah, dan tidak mengalami hukum kemerosotan.
6. Raga: punya rangkaian sistem (sistem syaraf, hormon dll), tetapi fungsinya juga terekspresi melalui jiwa (keinginan, pikiran & perasaan). Kondisi raga pengaruhi jiwa secara dominan. Jiwa spt jadi ‘perantara/media’ antara roh-raga. Keadaan ‘koma’ hanya dialami raga & jiwa, tidak oleh roh.
7. Astral projection mrpk TINDAKAN/upaya manusia mengelaborasi ‘batin’/roh manusia dan bereksperimen ke dalam dunia roh. Sampai saat ini saya berpendirian bahwa KS hanya membenarkan TINDAKAN Sang Pencipta atas roh manusia dan dunia roh (PL: Yehezkiel, Yesaya, Daniel; PB: Yohanes, dan Paulus yg diangkat ke sorga). Elaborasi manusia atas potensi roh mereka (misalnya OBE, spiritisme, dll) adalah tidak dibenarkan (alias sinkretis, mengadopsi pendirian Reformed-Injili).
-
Lanjut…
8. Prinsip: pengalaman ekstra-biblikal memang ada. Semua ciptaan memiliki potensi (kekuatan) di dalam dirinya sendiri. Dalam upaya elaborasinya oleh MANUSIA, ada yang sesuai KS, ada pula yang tidak (misalnya Gnostisisme). Etika: Pendirian orang Kristen ada yang murni dari/sesuai KS (bersikap menolak penerapan astral projection dalam kekristenan), tapi ada juga yg dlm melagalisasi penerapannya sengaja kompromistis ( jadi sinkretis dg ‘perdukunan. “anthropological or ethnographic literature on witchcraft and shamanism, in classical philosophy and in various myths and religious scriptures”, http://en.wikipedia.org/wiki/Astral_projection).
Tapi, penggunaan perangkat ‘bahasa’ (istilah & konsep filsafat or saintologi & spiritisme) mnrt saya boleh2 saja dlm rangka dialog, krn memang ‘netral’ (sepanjang tidak mereduksi kandungan KS). Yang tdk boleh adlh penerapannya oleh seorang Kristen.
9. Kiamat & nubuat: Allah melakukan penciptaan ulang (langit dan bumi baru, juga Jerusalem Baru, bukan Mekah Baru). Teori rinci ttg kiamat tdk tdpt dlm filsafat maupun fenomenologi, kec agama2 asli/primitif, itupun secara partial. Kalau ada orang bertanya kpd saya, mengapa saya memilih Kristen, maka salah satu jawabannya adalah: "Karena KS-nya memiliki kandungan ‘terbanyak’ ttg nubuat akhir jaman dbandingkan KS & literatur lain!"
10. Kesimpulan: spekulasi mungkin tidak terhindarkan. Tapi sekalipun saya melakukannya, setidaknya saya ‘menganggap’ bahwa spekulasi saya ditarik dari pernyataan-pernyataan Sang Pengarah peradaban dan sejarah melalui KS-NYA, bukan dari filsuf, pakar sain atau praktisi astral projection.
Begitu, Bro's...
Salam,
Jesus cares
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tambahan:
Alasan saya memilih titik berangkat-#1 di atas:
a. Tiap orang harus punya sistem nilai yaitu titik berangkat, tdk dpt dlm modus ‘pencarian’ terus-menerus.
b. Alasan pribadi: Otak saya tidak cukup mampu menampung sekian banyak teori filsafat. Di lain pihak, sy tdk ckp punya bakat utk mnerapkan ‘kebatinan’. Akibatnya, sy hanya mampu jd komentator (tp saya tidak suka).
c. Fakta: tdk ada seorangpun yang sdg mengalami NDE mampu mcegah kematian, atau kembali hidup stlh mati dgn kekuatannya sendiri. Ada ‘Penguasa’ lain disampin ‘human being’ thd roh & dunia roh. Sang Penguasa ini bahkan menguasai akhir & kelanjutan jaman. Jadi sy pilih utk berpihak kpd DIA.
Di ranah ‘pengalaman’ kristiani, DIA menyediakan (setidaknya):
Fil 4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Ef 3:18,19a Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
2Kor 517 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Yoh 1:12,13 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
I Yoh 4:4 Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
-
Jadi apakah itu artinya keabadian dalam perubahan?
imo, bukan perubahan misal dari baik menjadi jahat, jahat menjadi baik, muda jadi tua, dlsb maksud saya :).
Jadi apakah kehidupan itu ada karena gerak (statis,beraturan) dalam kehidupan?
bukan juga karena gerak perpindahan :).
Terus terang saya mengalami kesulitan utk menjabarkannya dgn kalimat2 :blush: ... namun secara garis besar maksud saya adalah state state state state. Jiwa "merasakan" state (berkesadaran) bhw dia "hidup" --- mengenai abadi infinite saya tidak tau pasti - hanya spekulasi, karena mungkin aja Allah menghancurkan Roh/Jiwa tsb sampe lenyap (anihilasi).
contoh misal Roh/Jiwa yang di neraka, pada kata "selamanya" ---> saya masih gak tau apakah "selamanya" = abadi/kekal/infinite, ataukah state state state yang dimana di suatu titik state, mungkin Allah menghancurkan Roh/Jiwa tsb (sehingga Roh/Jiwa memang bener2 lenyap) atau yah mungkin juga dikeluarkan dari neraka tsb.
Infinite sequence yang akhirnya tidak membawa kemana-mana?
Pertanyaan sulit buat saya, ibarat diajukan pertanyaan : Kenapa Allah menciptakan "hidup/kehidupan" ?
Infinite sequence yang akhirnya tidak membawa kemana-mana?
anyway, dari pov bumi ... dari manusia2 di alam sini --- sepertinya...pada umumnya ada manusia yg berpendapat : hidup/kehidupan di bumi ditujukan Allah membawa manusia ke "hidup/kehidupan" yang nyaman di afterlife. (pada hal keagamaan, nyaman = surga --- tidak nyaman = neraka).
"problem"nya adalah, sepertinya tidak diketahui : "hidup/kehidupan" yang nyaman/tidak nyaman tsb akhirnya apakah memang tidak membawa kemana mana lagi (karena sudah "nyampe").
Jadi spt ilustrasi roderick pada roda yg berputar - apakah terbuka kemungkinan terjadi cycle misal event kebangkitan daging yang infinite pada garis tumbukan yg terjadi dimana ini dikarenakan roda tsb "hidup" (berputar) infinitely ? mungkin ya, mungkin tidak --- saya tidak tahu :).
salam.
-
Just wanna share, Guys …
wow...menarik dan terimakasih atas share-nya eprafas :).
Walo saya bukan filosofer, namun memang pengertian saya ada di nomor 2 ---> Time tidak exist :).
1. Pencipta = bersifat pribadi, bukan non-pribadi. Filsafat hanya mengkonsepkan DIA sebagai non-pribadi.
Jadi karena saya bukan filsafat, --konsep YME-- "buru buru" saya nyatakan sejak awal TS ---> adalah pribadi yang HIDUP.
2. ‘Waktu tidak eksis dan tidak riil”?
a. Dalam Alkitab dinyatakan: “Itulah hari pertama” (Kej 1:5). Kata ‘hari’ menunjuk adanya ‘waktu’ (time) yang eksis. Kata ‘pertama’, ‘kedua’, dan ‘ketiga’, dst, yang menyusul kata ‘hari', menunjuk pd phisycal time yang riil (jadi ‘waktu’ = riil)
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
IMO, Hari tidak diciptakan.
Yang diciptakan adalah "hidup"nya benda benda langit.
Allah menciptakan benda2 langit "hidup".
Dengan demikian dari pov bumi : jadilah petang dan jadilah pagi.
Apabila Allah menciptakan benda2 langit tsb "mati" (misal tidak berotasi, mengorbit, matahari tdk bersinar) ---> maka tidak akan pernah ada : jadilah petang dan jadilah pagi.
Jadi Allah tidak menciptakan Time (Hari), Allah menciptakan "hidup".
b.utk ‘waktu’ dianggap bukti ttg non-eksis dan tdk riil-nya ‘waktu’ (seolah TANPA simbol maka ‘waktu’ tdk eksis dan tdk riil, alias hanya dlm ‘mind’-nya manusia saja).
Yang didalam Mind manusia adalah kesadaran "Hidup" --- hidup = state state state state.
Selama Roh/Jiwa manusia berdaging materi dan hidup di alam materi, manusia menjadi terbatas dan memerlukan konsep.
c. Pdhl, sebelum Allah berkata “Jadilah…”, DIA sudah ‘beripikir’ lebih dulu didalam ‘Mind’-NYA bhw DIA akan mbuat ‘waktu’ menjadi eksis kedalam dunia melalui proses 'berfirman'.
Nah... pada yang merah ... (bagi saya) keseluruhan kalimat tsb menimbulkan hal2 komedi puter ria dikarenakan manusia sudah terbiasa/kebiasaan menggunakan definisi Time ... sehingga untuk "escape" dari kalimat yg saya garis bawahi ---> dibuatlah konsep Timeless :).
Tetapi setelah IA berkata “ITULAH hari pertama…”, maka ‘waktu’ (time) itu menjadi eksis dan riil
Saya gak mengerti disini. Apakah maksud eprafas Time diciptakan SETELAH penciptaan terang ? (tentu ini dalam asumsi saya berada di point no.1 Time exist)
d. Fakta lain bahwa ‘waktu’ adalah riil dan eksis yaitu: (i) Allah beristirahat pada HARI KETUJUH; dan (ii) TIDAK ADA HARI KEDELAPAN!.
Hari ketujuh adalah definisi bahwa "jadilah petang jadilah pagi" telah terjadi enam kali :)
e. Jadi, dari sudut pandang Allah, ‘waktu’ eksis dan riil
--Allah yang Hidup-- (saya bukan sedang menempatkan diri dari sudut pandang Allah loh... hehehe) ... --Allah yang Hidup-- sudut pandangNYA fokus pada ciptaan2NYA yang hidup ataupun "hidup".
Bumi berotasi, orbit, bulan berputar orbit, matahari bersinar ---> imo, inilah "fokus" sudut pandang Allah.
e. manusia (dg menggunakan ukuran-ukurannya sendiri) menganggap time hanyalah keberadaan yang tdk disengaja
Time bukan suatu keberadaan. Yang ada adalah yg ungu lalu dibuat definisi Time.
dianggap hanya sbg TANDA (marker) = sebuah term utk mendefinisikan jeda event event event, musim2, dlsb dikarenakan alam sini bermateri dan penghuninyapun berjasad materi.
Bukan dianggap --- melainkan definisi Time = TANDA.
Biarlah benda-benda penerang itu menjadi TANDA yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun
3. Dari pov theistic-presumption: manusia adalah ciptaan. Karena itu tdk mungkin membahas ‘waktu’ dan hal metafisika
Komedi puter yang terjadi adalah : membahas hal yang tidak ada ---> ini adalah dasar terjadinya "problem" yang gak kelar kelar .. hehehe :).
4. ‘Kekal’ sudah ada (karena inheren dengan sifat Allah), sebelum ‘waktu’ (time) diciptakan.
saya nggak sedang menyatakan eprafas salah, namun kata2 merah yang digunakan dalam kalimat tsb = komedi puter. :)
Sso yg berpedoman pada no.1 (Time exist) akan amat sangat kesulitan utk menjabarkan dalam kalimat (ya salah satunya contoh quote diatas) --- karena akan selalu "kebentur" utk menggunakan kata2 seperti merah diatas.
Karenanya, penggantian kata ‘kekal’ dengan ‘timeless’ dianggap kurang tepat karena sudah menempelkan nuansa ‘waktu’ (time) kepada ‘kekal’.
Mengertikan kata Kekal = Waktu yang selamanya, (imo) lebih sulit ketimbang mengertikan Kekal = Hidup yang infinite.
Allah adalah pribadi yang Hidup.
Time atopun Timeless tidak ada, lagian gak ada hubungannya pada yang Hidup.
MATERI - lah yang membedakan-nya ---> barulah dibuat definisi Time.
5. Setelah mati, maka raga dan jiwa lenyap
Karena saya nonK --- saya nggak tau yang semestinya. Jadi apakah keKristenan berpendapat Jiwa lenyap setelah manusia mati jasmani ? Tinggal Roh saja ?
Apakah Roh tidak mungkin mempunyai Jiwa ?
Apakah Allah adalah Roh ?
Apakah Allah yg Roh tidak mungkin mempunyai Jiwa ? ---> disini saya tidak sedang membandingkan "Jiwa" Allah yg ibarat percis blekplek Jiwa manusia .. melainkan substansi, seperti demikian juga Roh.
IMO - Jiwa = Mind, Will dan Emotions.
Raga jasmani materi yang mati, Roh Jiwa masih lanjut lagi "kehidupan"nya :).
6. Raga: punya rangkaian sistem (sistem syaraf, hormon dll), tetapi fungsinya juga terekspresi melalui jiwa (keinginan, pikiran & perasaan).
Sependapat, namun dengan tambahan : Jiwa juga mempunyai "kuasa" pada Raga. Jadi, Roh Jiwa Raga semua bekerja saling terkait.
Raga (materi) pada umumnya lebih dominan, karena kehidupan bumi juga materi.
Kondisi raga pengaruhi jiwa secara dominan.
Ya karena coklat diatas ... namun tidak sertamerta artinya Roh/Jiwa selalu "kalah" oleh Raga yg bersifat materi/duniawi.
Keadaan ‘koma’ hanya dialami raga & jiwa, tidak oleh roh.
Mungkin perlu kita samakan dulu persepsi dasar : Roh itu apa ? Jiwa itu apa ? :). Apakah Roh mempunyai kesadaran (Mind) dan Kehendak (Will) ?
Elaborasi manusia atas potensi roh mereka (misalnya OBE, spiritisme, dll) adalah tidak dibenarkan
Ya, dari baca baca internet adalah yang bold. Namun pada kasus NDE atopun ADE ... pihak agamawan "memilah-milah" jenis NDE yg terjadi.
Apabila NDE positif (ybs mengalami hal2 nyaman) ---> agamawan tereak : "itu kerjaan iblis !" ...... dan apabila NDE negatif (ybs mengalami hal2 tidaknyaman / neraka) ---> agamawan tereak : "Allah memperingati - karena itu, bertobatlah ! " .... :) :D.
salam.
-
8. Prinsip: pengalaman ekstra-biblikal memang ada. Semua ciptaan memiliki potensi (kekuatan) di dalam dirinya sendiri. Dalam upaya elaborasinya oleh MANUSIA, ada yang sesuai KS, ada pula yang tidak (misalnya Gnostisisme)
Bisakah eprafas tolong bantu saya, misal contohnya yg sesuai KS pada kalimat bold ?
Apakah kira2 "tebakan" saya : Visi/Wahyu sbg contoh sesuai KS bisa dikatakan benar ? Please CMIIW.
Etika: Pendirian orang Kristen ada yang murni dari/sesuai KS (bersikap menolak penerapan astral projection dalam kekristenan), tapi ada juga yg dlm melagalisasi penerapannya sengaja kompromistis
Tahap AP (AstralProjection) adalah "tahap lanjutan" dari Mimpi yang umum dialami sso, eprafas ---> begitu kata internet :).
Mengenai "kompromistis" sendiri tergantung ybs melakukan AP. Anyway, menurut saya sendiri - melakukan praktek (practice) secara tidak terkendali bisa menuntun ke hal kecanduan. "menghambakan" diri sendiri pada praktek2 tsb, menuntun terbuka kemungkinan "mempertuan" keAKU-an.
jadi sinkretis dg ‘perdukunan. “anthropological or ethnographic literature on witchcraft and shamanism, in classical philosophy and in various myths and religious scriptures
Hal2 berbau spiritual maupun hal2 yg mungkin utk sementara dianggap supranatural / mistikal karena belon ketemu logiknya --tidak mungkin tidak--, nggak bisa dihindari oleh manusia.
Dan saya rasa, (menurut pengertian saya secara nonK) - di Alkitab terdapat bbrp ayat yg bisa menuntun pada kesimpulan peristiwa OBE, misal :
whether in the body OR out of the body I do not know, God knows--was caught up to the third heaven.
Tapi, penggunaan perangkat ‘bahasa’ (istilah & konsep filsafat or saintologi & spiritisme) mnrt saya boleh2 saja dlm rangka dialog, krn memang ‘netral’ (sepanjang tidak mereduksi kandungan KS). Yang tdk boleh adlh penerapannya oleh seorang Kristen.
Karena yang ungu diatas adalah pendapat saya sbg nonK, bisa eprafas tolong jelaskan --- yg merah ..., mengapa ?
Begitu, Bro's...
Makasih atas masukan2 eprafas :).
Jangan lupa, saya disini bukan sedang bermaksud menunjuk --- melainkan sekedar menjelaskan "mengapa" saya di pont B (Time does not exist) dan ingin mengetahui "mengapa" sso berada di point. A (Time exist). :)
Tambahan:
b. Alasan pribadi: Otak saya tidak cukup mampu menampung sekian banyak teori filsafat. Di lain pihak, sy tdk ckp punya bakat utk mnerapkan ‘kebatinan’
Penerapan "kebatinan" --dalam asumsi-- itu = Mind, menurut saya semua orang bisa melakukannya dalam kapasitasnya masing2. "Masalahnya" adalah sso tidak mau mencoba utk menyadarinya atau mungkin malah menghindari pelaksanaannya.
Posisi tingkatan Mind sepertinya selalu "dibawah" raga/duniawi ... padahal tidak juga selalu begitu, ada kalanya tanpa disadari Mind bisa "ngalahin" raga/duniawi.
Tembok sekian meter, tanpa ada sikon apa apa (faktor2 external/internal) ---> "Mind/Will" mengikuti logik ---> tembok tidak mungkin bisa dipanjat/dilompati.
Giliran ada guggug gelo ngejar ... tanpa disadari ybs lari terbirit2 dan bisa melompati tembok tsb :D.
Dari contoh ilustrasi diatas, jarang ada sso yang mau belajar/menyadari : bhw cukup dgn Mind, tembok sekian meter "ternyata" juga bisa dilompati --- tanpa perlu sikon duniawi dikejar guggug gelo :).
c. Fakta: tdk ada seorangpun yang sdg mengalami NDE mampu mcegah kematian, atau kembali hidup stlh mati dgn kekuatannya sendiri.
Justru itulah.... pada bbrp kasus NDE, ada diantaranya yg dialami oleh atheis. Dan menyebabkan atheis ini menjadi percaya adanya YME.
Yang saya belon mengerti, mengapa di keKristenan - NDE/ADE positif dikatakan dari iblis, NDE negatif dikatakan Allah memperingati (dari Allah) ?? ---> bukankah ini menuntun saya utk berpendapat bhw di keKristenan juga "terkandung" kompromistis ? :).
makasih eprafas atas penjelasan2nya :).
salam.
-
Walo saya bukan filosofer, namun memang pengertian saya ada di nomor 2 ---> Time tidak exist :).
2. ‘Waktu tidak eksis dan tidak riil”?
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
IMO, Hari tidak diciptakan.
Yang diciptakan adalah "hidup"nya benda benda langit.
Allah menciptakan benda2 langit "hidup".
Dengan demikian dari pov bumi : jadilah petang dan jadilah pagi.
Apabila Allah menciptakan benda2 langit tsb "mati" (misal tidak berotasi, mengorbit, matahari tdk bersinar) ---> maka tidak akan pernah ada : jadilah petang dan jadilah pagi.
Jadi Allah tidak menciptakan Time (Hari), Allah menciptakan "hidup".
Anda bertanya ke orang Kristen. Lalu orang Kristen menyatakan pendiriannya berdasarkan KS mereka. Tapi Anda menyanggah mereka menurut ‘filsafat’. Ini sama saja dengan membaca Alquran dengan pov Alkitab, atau sebaliknya. Ga akan nyambung, Bro… karena masing2‘bahasa’ dan ‘definisi’-nya sendiri2.
Kristen mengakui bahwa tidak ada dari yang sudah ada ini yang tidak diciptakan, atau yang eksis dengan sendirinya, bahwa dari segala yang sudah ada ini ditopang oleh Firman-Nya.
Bukan hanya waktu, tapi hukum alam pun tidak ber-‘ada’ dengan sendirinya. Pendekatan yang mengatakan ‘waktu’ dan ‘hukum alam’ ada dengan sendirinya untuk menopang agar bisa ‘hidup’, berarti Allah ‘membutuhkan’ sesuatu di luar dirinya agar ciptaannya itu bisa ‘hidup’. Disinilah kelemahan filsafat: membuat kategorisasi partial yang memenggal-menggal berbagai konsep yang sebenarnya ‘manunggal’ dalam penciptaan. Filsafat menginginkan agar Allah tunduk pada kategorisasi, konseptualisasi dan redefinisi yang dibuat manusia.
Ini contohnya:
Saya membandingkan konsep ‘eksis/riil’ yang dimiliki Allah (dari pov KS saya) ttg waktu melalui perbandingan antara Mind-nya Allah dengan mind-nya manusia. Anehnya, Anda malah ‘lari’ dari topik tentang pov Allah dan manusia tentang ‘eksis/riil’ ke masalah ‘hidup = state’ dan tentang mind yang membutuhkan konsep ini:
Yang didalam Mind manusia adalah kesadaran "Hidup" --- hidup = state state state state.
Selama Roh/Jiwa manusia berdaging materi dan hidup di alam materi, manusia menjadi terbatas dan memerlukan konsep.
Anda nampaknya berupaya sengaja membuka ‘ruang’ bagi masuknya (eisegesis) ‘konsep’ yang non-KS.
Kalau satu masalah tidak diselesaikan dulu, tapi Anda bawa ‘lari’ kemana-mana, maka akhirnya Anda tidak memiliki masukan yang bernilai fundamental. Anda hanya sekedar mengutarakan informasi yang Anda miliki… Capek, deh..
Nah... pada yang merah ... (bagi saya) keseluruhan kalimat tsb menimbulkan hal2 komedi puter ria dikarenakan manusia sudah terbiasa/kebiasaan menggunakan definisi Time ... sehingga untuk "escape" dari kalimat yg saya garis bawahi ---> dibuatlah konsep Timeless :).
‘Kan Anda sdh mengerti pendirian saya tentang ‘timeless’, bahkan dikaitkan dg sifat Allah. Kalau sdh ngerti, knp tdk memaklumi saja, alih-alih memberikan stigma yg negatif "escape"… spy Anda tdk kelelahan...
Saya gak mengerti disini. Apakah maksud eprafas Time diciptakan SETELAH penciptaan terang ? (tentu ini dalam asumsi saya berada di point no.1 Time exist)
Coba Anda pertimbangkan sendiri, JIKA Allah tidak menciptakan terang, dll., apakah ‘waktu’ eksis?
Hari ketujuh adalah definisi bahwa "jadilah petang jadilah pagi" telah terjadi enam kali :)
Nah, ‘kan, Anda menggunakan ‘definisi’ Anda sendiri…
Coba pertimbangkan: apakah ‘tujuh’ dan ‘enam’ (dan seluruh simbol matematika) akan eksis jika Allah tidak mencipta alam dan ‘isi’-nya dan KS Kristen tidak mengatakan ‘Itulah hari keenam…”?
--Allah yang Hidup-- (saya bukan sedang menempatkan diri dari sudut pandang Allah loh... hehehe) ... --Allah yang Hidup-- sudut pandangNYA fokus pada ciptaan2NYA yang hidup ataupun "hidup".
Tuh, ‘kan… Saya masih berbicara tentang pembeda antara eksis/riil dari pov Allah dan mns tentang ‘waktu’, sekarang Anda manambah ‘(lari’) topik baru ‘orbit’…. Benar-benar capek, deh…
Time bukan suatu keberadaan. Yang ada adalah yg ungu lalu dibuat definisi Time.
Bukan dianggap --- melainkan definisi Time = TANDA.
Biarlah benda-benda penerang itu menjadi TANDA yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun
Komedi puter yang terjadi adalah : membahas hal yang tidak ada ---> ini adalah dasar terjadinya "problem" yang gak kelar kelar .. hehehe :).
saya nggak sedang menyatakan eprafas salah, namun kata2 merah yang digunakan dalam kalimat tsb = komedi puter. :)
Sudah ‘jogging' kesana-kemari, lalu ‘zig-zag’, lalu memenggal-menggal kalimat saya… Walahh... walahhh...
Bro, ‘waktu’ bagi saya adalah ‘ada’. Bagi Anda adalah ‘tidak ada’. Lalu Anda katakan sebagai ‘problem’ yang tidak kelar-kelar? Tentu saja, itu karena Anda menganggap ‘waktu’ tidak ada, dan karena Anda mengambil titik berangkat #2. Sistem nilai Anda yang mengatakan bahwa filsafat lebih bernilai (bisa diandalkan) dibandingkan KS. Tapi koq justru menimbulkan komedi puter yang ga kelaar-kelaar, ya... Apa pilihan sistem nilai Anda tidak salah?
Saya tidak merasa ‘ga kelar-kelar’, koq… Ga ada komedi puter untuk saya. Anda sendiri yang merasa seperti itu. Saya sudah kelar…. sudah final.
Tentu saja Anda tidak bisa mengatakan saya salah, karena Anda sendiri tidak memiliki fundamental yang pasti yang Anda anggap benar. Beberapa kali Anda mengatakan bahwa Anda bingung...
Coba saya tanya: Anda sendiri sebenarnya memegang aliran filsafat yang mana, dan siapa tokoh yang paling berpengaruh atas Anda? Saya prihatin (lebih tepatnya ‘kasihan’) melihat keadaan Anda, Bro… (sorry…)
Oya, saya juga tidak pernah kesulitan menggunakan ‘bahasa’ manusia (sebelum, sesudah, dll) dengan ‘bahasa rohani’ (pada ranah paparan ttg sifat Allah ‘sebelum’ ada waktu). Tapi jadi masalah bagi Anda karena Anda yang terlalu complicated... Seharusnya, masalah 'bahasa manusia' (sebelum dan sesudah...) yang dikaitkan dengan ranah sifat Allah sudah selesai di beberapa postingan sebelumnya.
(masih ada lanjutan... )
-
Lanjut...
Sso yg berpedoman pada no.1 (Time exist) akan amat sangat kesulitan utk menjabarkan dalam kalimat (ya salah satunya contoh quote diatas) --- karena akan selalu "kebentur" utk menggunakan kata2 seperti merah diatas.
Mengertikan kata Kekal = Waktu yang selamanya, (imo) lebih sulit ketimbang mengertikan Kekal = Hidup yang infinite.
Belum tentu opini tiap orang sama dengan opini Anda…
Allah adalah pribadi yang Hidup.
Time atopun Timeless tidak ada, lagian gak ada hubungannya pada yang Hidup.
MATERI - lah yang membedakan-nya ---> barulah dibuat definisi Time.
Tugas saya hanya menjelaskan… Itu sudah saya lakukan.
Karena saya nonK --- saya nggak tau yang semestinya. Jadi apakah keKristenan berpendapat Jiwa lenyap setelah manusia mati jasmani ? Tinggal Roh saja ?
‘Kan sudah dijelaskan di atas.
Apakah Roh tidak mungkin mempunyai Jiwa ?
Apakah Allah adalah Roh ?
Apakah Allah yg Roh tidak mungkin mempunyai Jiwa ? ---> disini saya tidak sedang membandingkan "Jiwa" Allah yg ibarat percis blekplek Jiwa manusia .. melainkan substansi, seperti demikian juga Roh.
IMO - Jiwa = Mind, Will dan Emotions.
Benar, jiwa mengandung mind, will, emotions. Roh juga punya unsur2 itu. Tapi tidak berarti roh memiliki jiwa, karena ‘jiwa’ yang dimaksud terkait dengan kondisi ‘sistem’ dalam raga.
Allah punya aspek mind, will, emotions. Tapi tidak berarti Allah yang adalah roh itu punya jiwa hanya karena definisi Anda tentang jiwa = Mind, Will dan Emotions.
Raga jasmani materi yang mati, Roh Jiwa masih lanjut lagi "kehidupan"nya :).
Pendirian kita berbeda.
Ya, dari baca baca internet adalah yang bold. Namun pada kasus NDE atopun ADE ... pihak agamawan "memilah-milah" jenis NDE yg terjadi.
Apabila NDE positif (ybs mengalami hal2 nyaman) ---> agamawan tereak : "itu kerjaan iblis !" ...... dan apabila NDE negatif (ybs mengalami hal2 tidaknyaman / neraka) ---> agamawan tereak : "Allah memperingati - karena itu, bertobatlah ! " .... :) :D.
Ayolah… orang sekaliber Anda masa’, sih, ga bisa ambil kesimpulan yang bijaksana demi kepentingan Anda sendiri (supaya tidak ada komedi puter dan bisa kelaar)?
Bisakah eprafas tolong bantu saya, misal contohnya yg sesuai KS pada kalimat bold ?
Apakah kira2 "tebakan" saya : Visi/Wahyu sbg contoh sesuai KS bisa dikatakan benar ? Please CMIIW.
Tetaplah dulu ke topik AP (kecuali rekan lain ingin menanggapinya).
Sayangnya, dalam topik AP tidak ada yang dalam elaborasi kemampuan roh manusia yang sesuai dengan KS.
Tahap AP (AstralProjection) adalah "tahap lanjutan" dari Mimpi yang umum dialami sso, eprafas ---> begitu kata internet :).
Mengenai "kompromistis" sendiri tergantung ybs melakukan AP. Anyway, menurut saya sendiri - melakukan praktek (practice) secara tidak terkendali bisa menuntun ke hal kecanduan. "menghambakan" diri sendiri pada praktek2 tsb, menuntun terbuka kemungkinan "mempertuan" keAKU-an.
Trim's buat infonya, Bro...
Hal2 berbau spiritual maupun hal2 yg mungkin utk sementara dianggap supranatural / mistikal karena belon ketemu logiknya --tidak mungkin tidak--, nggak bisa dihindari oleh manusia.
Sekali lagi, pengalaman ekstra-biblikal memang ada, tapi tidak serta-merta demi pembenaran logis, maka KS dikorbankan.
Dan saya rasa, (menurut pengertian saya secara nonK) - di Alkitab terdapat bbrp ayat yg bisa menuntun pada kesimpulan peristiwa OBE, misal :
whether in the body OR out of the body I do not know, God knows--was caught up to the third heaven.
Karena yang ungu diatas adalah pendapat saya sbg nonK, bisa eprafas tolong jelaskan --- yg merah ..., mengapa ?
Sekali lagi , titik berat pada yang ungu adalah: ITU TIDAK DILAKUKAN SEKEHENDAK DAN OLEH KEMAUAN YBS (Paulus). Dia ‘cought up’ (tentu oleh Sang Pemilik the third heaven), sedangkan OBE yang dipopulerkan saat ini titik beratnya pada latihan diri agar individu bisa menerapkannya secara AT WILL.
Tentang ‘mengapa’-nya: itu sinkretis dengan witchcraft dan shammanism.
Makasih atas masukan2 eprafas :).
Jangan lupa, saya disini bukan sedang bermaksud menunjuk --- melainkan sekedar menjelaskan "mengapa" saya di pont B (Time does not exist) dan ingin mengetahui "mengapa" sso berada di point. A (Time exist). :)
Semoga bisa tetap konsisten begitu... Hanya Anda yang tahu...
Penerapan "kebatinan" --dalam asumsi-- itu = Mind, menurut saya semua orang bisa melakukannya dalam kapasitasnya masing2. "Masalahnya" adalah sso tidak mau mencoba utk menyadarinya atau mungkin malah menghindari pelaksanaannya.
Posisi tingkatan Mind sepertinya selalu "dibawah" raga/duniawi ... padahal tidak juga selalu begitu, ada kalanya tanpa disadari Mind bisa "ngalahin" raga/duniawi.
Tembok sekian meter, tanpa ada sikon apa apa (faktor2 external/internal) ---> "Mind/Will" mengikuti logik ---> tembok tidak mungkin bisa dipanjat/dilompati.
Giliran ada guggug gelo ngejar ... tanpa disadari ybs lari terbirit2 dan bisa melompati tembok tsb :D.
Dari contoh ilustrasi diatas, jarang ada sso yang mau belajar/menyadari : bhw cukup dgn Mind, tembok sekian meter "ternyata" juga bisa dilompati --- tanpa perlu sikon duniawi dikejar guggug gelo :).
Teori (mind over matters) dan contoh ilustrasi di atas bukan hal baru buat saya. Dan itu sudah termasuk pertimbangan saya saat memutuskan mengambil titik berangkat #1.
Justru itulah.... pada bbrp kasus NDE, ada diantaranya yg dialami oleh atheis. Dan menyebabkan atheis ini menjadi percaya adanya YME.
Yang saya belon mengerti, mengapa di keKristenan - NDE/ADE positif dikatakan dari iblis, NDE negatif dikatakan Allah memperingati (dari Allah) ?? ---> bukankah ini menuntun saya utk berpendapat bhw di keKristenan juga "terkandung" kompromistis ? :).
makasih eprafas atas penjelasan2nya :).
salam.
Yang saya beri warna biru itu baru saya dengar. Anda perlu membedakan antara KS, agama, dan para penganutnya. Anda pasti bisa bijaksana saat berurusan dengan ‘opini’.
Terima kasih kembali…
Salam.
-
damai damai damai ... :)
Anda bertanya ke orang Kristen. Lalu orang Kristen menyatakan pendiriannya berdasarkan KS mereka.
Kan TS saya bertanya apakah "Hidup/Kehidupan" = state state state ?
Dari dari beberapa respond, saya menerima jawaban yg bisa dikatakan demikian bhw ungu.
Lanjutnya saya bertanya : bagaimana dengan Allah yg di keKristenan dikatakan Allah yang Hidup ?
Kristen mengakui bahwa tidak ada dari yang sudah ada ini yang tidak diciptakan
Ya, saya kan emang nggak menyangkal hal ini kok :).
atau yang eksis dengan sendirinya
Saya juga nggak sedang berpendapat bhw sesuatu eksis dgn sendirinya. :).
Sebagai contoh : Air.
Di Alkitab tidak pernah ada dikatakan Allah menciptakan air ---> saya tidak pernah beranggapan bahwa karena coklat, air berada dengan sendirinya.
Bukan hanya waktu, tapi hukum alam pun tidak ber-‘ada’ dengan sendirinya.
Aduh... gimana yah ... saya kan berpendapat bahwa Waktu itu tidak-exist, adalah tidak mungkin saya berpendapat apalagi menyatakan bhw Waktu berada dgn sendirinya :)
Pendekatan yang mengatakan ‘waktu’ dan ‘hukum alam’ ada dengan sendirinya untuk menopang agar bisa ‘hidup’
Saya tidak pernah berpendapat bahwa Waktu ada dgn sendirinya DAN menopang agar bisa hidup, eprafas. Bagaimana bisa saya berpendapat seperti itu yg melibatkan kata Waktu, sementara saya sendiri tidak berpendapat bhw Time does exist ? Yang saya pendapati adalah Allah menciptakan Hidup/Kehidupan.
berarti Allah ‘membutuhkan’ sesuatu di luar dirinya agar ciptaannya itu bisa ‘hidup’.
Sekali lagi : Saya tidak pernah menyatakan bhw Allah membutuhkan Waktu agar ciptaanNYA bisa hidup.
Allah menciptakan Bumi.
Dari hasil ciptaanNYA ini ---> Bumi ciptaanNYA itu mengandung Metal, Tanah dan Air.
Dan saya tidak pernah berpendapat Metal/Tanah/Air berada dgn sendirinya (meng-eksis-kan diri sendiri) - melainkan hasil ciptaanNYA yg berupa Bumi itu mengandung Metal/Tanah/Air.
Rumus2 matematika, hukum SebabAkibat, definisi 'waktu', definisi hitungan/angka2, definisi jarak, dlsb adalah hasil dari ciptaan2NYA. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa Allah menciptakan yg biru, dan sayapun tidak berpendapat bhw yg biru itu BUKAN hasil dari ciptaan2NYA pada 6 hari penciptaan tsb.
Taruhlah saya berpendapat sama dengan eprafas .... Alkitab menyatakan eksplisit bhw Waktu diciptakan dari kalimat : "itulah hari pertama". Maka benak saya menuntun saya utk bertanya : "lalu dimana ayat Alkitab yg eksplisit menyatakan "kilometer" atopun "1+1 = 2" diciptakan ? :).
Anda nampaknya berupaya sengaja membuka ‘ruang’ bagi masuknya (eisegesis) ‘konsep’ yang non-KS.
Saya tidak tahu bahwa konsep Allah yang Hidup adalah konsep yang non-KS :).
Kan Anda sdh mengerti pendirian saya tentang ‘timeless’, bahkan dikaitkan dg sifat Allah.
Iyaaaa eprafas, saya sudah mengerti pada yg bold ... namun diri saya sendiri yang belon mengerti .... begitu loh... :).
Saya tidak/belon mengerti KENAPA Time physically exist begitu sangat penting bagi keKristenan ... dan Allah yang Timeless begitu sangat penting menurut keKristenan.
Coba Anda pertimbangkan sendiri, JIKA Allah tidak menciptakan terang, dll., apakah ‘waktu’ eksis?
gimana saya bisa menjawab donk ? saya sendiri kan tidak-berpendapat bhw Waktu physically exist ? :).
Yang saya pendapati adalah :
Definisi 'waktu' exist adalah hasil dari ciptaan2NYA.
Coba pertimbangkan: apakah ‘tujuh’ dan ‘enam’ (dan seluruh simbol matematika) akan eksis jika Allah tidak mencipta alam dan ‘isi’-nya
Seperti yang sudah saya jelaskan : rumus matematika, angka2, definisi 'waktu', definisi jarak, dlsb adalah HASIL dari ciptaan2NYA.
dan KS Kristen tidak mengatakan ‘Itulah hari keenam…”?
IMO - KS mengatakan "itulah hari pertama" bukan artinya sertamerta Allah explicitly menciptakan Waktu yg physical dan angka angka. Ada kata "air" di KS, tidak pernah KS nyatakan bhw Allah explicitly menciptakan air. Allah explicitly menciptakan Bumi --- dan Bumi HASIL ciptaanNYA tsb mengandung air.
Definisi durasi ('waktu'), definisi jarak, angka2, rumus2, air, metal, dlsb TIDAK berada dengan sendirinya (self existence) sekalipun KS tidak menyatakan explicitly itu semua Allah ciptakan, melainkan itu semua adalah HASIL dari ciptaan2NYA.
Tuh, ‘kan… Saya masih berbicara tentang pembeda antara eksis/riil dari pov Allah dan mns tentang ‘waktu’, sekarang Anda manambah ‘(lari’) topik baru ‘orbit’…. Benar-benar capek, deh…
Tapi thread awal saya kan emang ngomongin hal yg hidup atopun "hidup", eprafas :). Allah kan menciptakan Bumi yang berotasi dan mengorbit.
Bro, ‘waktu’ bagi saya adalah ‘ada’. Bagi Anda adalah ‘tidak ada’.
Sebelum kejauhan, saya mau tanya dulu yaaa ... kenapa ya eprafas menggunakan tanda petik pada kata waktu (menjadi 'waktu') dan pada kata ada (menjadi 'ada') ??
Dengan eprafas menggunakan tanda petik pada kata Waktu dan kata Ada ... saya kuatir jangan2 kita miskom :) .... karena disini yang saya maksudkan adalah : Waktu (tanpa tanda petik) yang ADA (tanpa tanda petik) = Time is real, Time physically exist.
Sementara bagi saya Time is not real, Time does not exist.
"Time" (dgn tanda petik) adalah definisi durasi = 'waktu'.
Lalu Anda katakan sebagai ‘problem’ yang tidak kelar-kelar? Tentu saja, itu karena Anda menganggap ‘waktu’ tidak ada
Saya tidak berpendapat bhw Waktu itu ADA, Real, physically exist independently karena menurut saya hari bulan tahun adalah sebuah definisi.
Tapi koq justru menimbulkan komedi puter yang ga kelaar-kelaar, ya...
Yang saya katakan menimbulkan komedi putar2 itu adalah bagi yang berpendapat bahwa Time does exist. Lalu dari mereka sendiri timbul komedi puter antara God in Time ataukah Timeless God.
Apa pilihan sistem nilai Anda tidak salah?
Tidak.
Dengan pendapat saya pada point B (Time does not exist) maka saya menggunakan pedoman : "Hidup/Kehidupan" --juga-- Allah yang Hidup.
Berangkat dari sini, saya ingin mengetahui --- apakah "berpegang" pada pedoman Allah yang Hidup itu sesuai dgn keKristenan ? Maka saya buat thread ini :).
[quote]Saya tidak merasa ‘ga kelar-kelar’, koq… Ga ada komedi puter untuk saya. [/quote] Saya juga nggal sedang ngerujuk pribadi eprafas kok, melainkan artikel2 yg saya baca :).
Anda sendiri yang merasa seperti itu. Saya sudah kelar…. sudah final.
YA, saya akui ... disaat saya memilih utk berpendapat bahwa Time physically exist, maka benak saya terus bertanya-tanya :).
Beberapa kali Anda mengatakan bahwa Anda bingung...
Kebingungan saya adalah apabila saya berpegang pada pendapat Time physically exist dan menyusul konsep Timeless pada Allah.
Coba saya tanya: Anda sendiri sebenarnya memegang aliran filsafat yang mana, dan siapa tokoh yang paling berpengaruh atas Anda?
Saya tidak membaca filsafat siapa siapa. Apa yang saya kemukakan memang berasal dari saya sendiri. Tidak ada satupun tokoh yang mempengaruhi saya. Logik saya sendiri yg berpendapat Time does NOT exist.
Tapi jadi masalah bagi Anda karena Anda yang terlalu complicated...
Apabila saya berpendapat Time does exist .....YA, saya akui terjadi "komplikasi"... karena menuntun saya bertanya-tanya terus .... hehehe :).
damai damai damai (ikut2an Husada ah... :D).
salam.
-
Belum tentu opini tiap orang sama dengan opini Anda…
Ya saya mengerti dan menyadarinya, eprafas :).
Seperti pada post sebelumnya, telah saya akui bahwa saya menjadi komplikasi disaat saya berpendapat Time does exist ... oleh karena itu, --KEKAL-- tidak saya mengertikan = Waktu yang selama-lamanya (karena kalimat itu sendiri telah mengandung kata Waktu, sementara saya sendiri berpendapat Waktu itu tidak ada). Bagi diri saya adalah lebih mudah utk mengertikan --KEKAL-- adalah Hidup yg infinite :).
Tugas saya hanya menjelaskan… Itu sudah saya lakukan.
Ya... terimakasih atas penjelasannya eprafas :).
Allah punya aspek mind, will, emotions. Tapi tidak berarti Allah yang adalah roh itu punya jiwa hanya karena definisi Anda tentang jiwa = Mind, Will dan Emotions.
Oleh karena itulah saya tanyakan dulu pada post sebelumnya... :).
Saya sempet search AO (Alkitab Online) dgn kata kunci "soul" :
I will set My dwelling in and among you, and My soul shall not despise or reject or separate itself from you.
Seperti yg saya nyatakan pada post sebelumnya, saya tentu tidak nge-blek-plek-in Allah mempunyai Soul itu = manusia mempunyai Soul ---- setara --- saya tidak nge-blek-plek-in Allah yg Roh itu = para malaikat yg juga roh.
Namun yang menjadi pertanyaan saya : boleh sampai sejauh manakah dari pov keKristenan (manusia di bumi) dalam mengertikan kata : "My soul" tsb ?
Pendirian kita berbeda.
Yah sedikit2 aja kok bedanya ... hehehe :).
Sebenernya sama, cuma saja saya menggunakan term Jiwa pada Mind Will Emotions, sedangkan eprafas tidak menggunakan term tsb, namun Mind Will Emotions -nya tetep ada :).
btw, saya bertanya tanya apa yang bisa ditarik kesimpulan dari ayat yg menyatakan manusia tidak bisa membunuh Jiwa ya ? Apakah disini maksudnya manusia bisa membunuh Raga dgn demikian Jiwa juga turut mati ?
Sekali lagi , titik berat pada yang ungu adalah: ITU TIDAK DILAKUKAN SEKEHENDAK DAN OLEH KEMAUAN YBS (Paulus). Dia ‘cought up’ (tentu oleh Sang Pemilik the third heaven), sedangkan OBE yang dipopulerkan saat ini titik beratnya pada latihan diri agar individu bisa menerapkannya secara AT WILL.
Ya...saya sependapat ama eprafas.
Sso yang menyadari dia bisa OBE AT WILL, apabila tidak terkendali - maka bisa menuntun ke hal kecanduan yang akhirnya ... ya itu dah, spt yg saya post sebelonnya ... :).
Semoga bisa tetap konsisten begitu... Hanya Anda yang tahu...
jangan kuatir, saya pasti konsisten ... kalo nggak konsisten Oom momod pasti segera akan mendepak saya keluar dari board Kristen ini ... :).
Teori (mind over matters) dan contoh ilustrasi di atas bukan hal baru buat saya. Dan itu sudah termasuk pertimbangan saya saat memutuskan mengambil titik berangkat #1.
Saya kurang nangkep maksudnya quote tsb. Apakah maksudnya : Mind over matters itu tidak/kurang disetujui dalam keKristenan karena tidak sesuai KS ? begitu bukan ? Please CMIIW.
Yang saya beri warna biru itu baru saya dengar. Anda perlu membedakan antara KS, agama, dan para penganutnya.
Ya... saya mengerti.
Misal dalam asumsi saya Kristen, maka menurut saya peristiwa NDE/ADE adalah ibarat peristiwa Paulus tsb, OBE yang BUKAN AT WILL (jadi bukan praktek AP) :). Bener gak yah ? hehehe :D.
Makasih atas masukan2 dan penjelasan2 eprafas.
:)
salam.
-
2. ‘Waktu tidak eksis dan tidak riil”?
a. Dalam Alkitab dinyatakan: “Itulah hari pertama” (Kej 1:5). Kata ‘hari’ menunjuk adanya ‘waktu’ (time) yang eksis. Kata ‘pertama’, ‘kedua’, dan ‘ketiga’, dst, yang menyusul kata ‘hari', menunjuk pd phisycal time yang riil (jadi ‘waktu’ = riil).
b. Tetapi kmd manusia merekonseptualisasikan sang ‘waktu’ sdmkn rupa shg keberadaan ‘simbol’ (satuan) utk ‘waktu’ dianggap bukti ttg non-eksis dan tdk riil-nya ‘waktu’ (seolah TANPA simbol maka ‘waktu’ tdk eksis dan tdk riil, alias hanya dlm ‘mind’-nya manusia saja).
c. Pdhl, sebelum Allah berkata “Jadilah…”, DIA sudah ‘beripikir’ lebih dulu didalam ‘Mind’-NYA bhw DIA akan mbuat ‘waktu’ menjadi eksis kedalam dunia melalui proses 'berfirman'. Stlh 'waktu' eksis di alam ciptaan, ia benar2 eksis di dunia, shg bukan hanya 'ada' dalam ‘mind’-nya manusia saja. Artinya, ketika ‘waktu’ masih ada dalam ‘Mind’-nya Allah, ia belum eksis. Tetapi setelah IA berkata “ITULAH hari pertama…”, maka ‘waktu’ (time) itu menjadi eksis dan riil (bukan hanya dalam mind-nya manusia), dengan atau tanpa simbol/satuan waktu buatan manusia.
d. Fakta lain bahwa ‘waktu’ adalah riil dan eksis yaitu: (i) Allah beristirahat pada HARI KETUJUH; dan (ii) TIDAK ADA HARI KEDELAPAN!. DIA menggunakan frasa itu krn 'waktu' SUDAH EKSIS DAN RIIL (sudah diluncurkan dari ‘Mind’-nya Allah, menjadi ‘ciptaan’).
e. Jadi, dari sudut pandang Allah, ‘waktu’ eksis dan riil, tp manusia (dg menggunakan ukuran-ukurannya sendiri) menganggap time hanyalah keberadaan yang tdk disengaja, yg hrs ‘ada’ krn harus menopang ‘hal’ lainnya (materi/pergerakan); dianggap hanya sbg tanda (marker) = sebuah term utk mendefinisikan jeda event event event, musim2, dlsb dikarenakan alam sini bermateri dan penghuninyapun berjasad materi.
f. Manusia yg tdk menggunakan titik berangkat #1 diatas memang akan menavikan perbedaan antara apa yang ada di dalam ‘pikiran’ Allah (belum eksis) dan yang kemudian DIA luncurkan keluar melalui ‘perkataan’/firman-NYA (menjadi eksis).
3. Dari pov theistic-presumption: manusia adalah ciptaan. Karena itu tdk mungkin membahas ‘waktu’ dan hal metafisika (termasuk asal mula agama & life-issues) dg titik berangkat dr produk ‘ciptaan’ (filsafat buatan manusia & ‘pengalaman’nya). Hasilnya: spekulasi yang ujung & pangkalnya adlh (memuaskan?) mind manusia.
Penjelasan lanjutan ...
1. Dinamika: Dipilah antara ‘Mind’ dan ‘Word’ of God
2. EKSISTENSI ‘Objek’: ‘Mind’ berarti objek menjadi eksis dalam Diri Allah. Word berarti objek menjadi eksis dalam dunia (ciptaan).
3. SIFAT ciptaan (setelah diucapkan dari Word):
a. Ranah Fisik:
(i) Bersifat alamiah/jasmaniah (observable);
(ii) Bersifat imateriil (objek untuk mind): waktu, hukum alam (orbit, matematika, dll),
(iii) Bersifat spiritual (roh manusia dan contoh ‘iman’ dalam Ibrani 11:1).
b. Ranah Non-Material:
(i) makhluk: bisa berpikir; ada objek untuk mind; (ii) alam/dunia roh; (iii) ada hukum (termasuk hirarki kekuasaan). Misal: makhluk sorgawi, kerajaan terang dan gelap, alam ghoib, dst.
4. Implikasi diskursus:
a. Filsafat dan ‘fenomenologi’: mengklaim ‘penemuan’ dan ‘artikulasi’ itu sebagai ‘diluar ciptaan’ (padahal ‘semangat’-nya adalah spekulatif). Yang lainnya lagi membuat kategorisasi bahwa semua yang bersifat immateriil (poin #3.a.(ii) di atas) adalah ‘tidak eksis’.
b. Kekeliruan logika: RANCU antara SIFAT dengan EKSISTENSI. Sifat immateriil ciptaan (poin #3.a.(ii) di atas) juga dinyatakan ‘ada’ (eksis karena diciptakan), manusia hanya perlu ‘menemukan’ dan meng-'artikulasi'-kannya.
‘Waktu’ (dan matematika serta hukum alam), sejatinya bersifat immateriil, sehingga membutuhkan simbol (satuan), sama seperti matematika dan hukum alam. Namun, sekalipun ia bersifat immateriil, ia tetap eksis karena diciptakan (bagaimana mungkin sesuatu yang diciptakan ternyata tidak eksis?). Pasti ada kekeliruan logika disini.
Lanjut… Keberadaan ‘waktu’ yang bersifat non-fisik ini, yang oleh KS dinyatakan ‘eksis’ karena diciptakan (bukan lagi berada dalam Mind-nya Allah), kemudian dianggap tidak eksis hanya karena sifatnya yang immateriil. Jadi, sesuatu yang bersifat immateriil (non-fisik), diukur berdasarkan kriteria untuk objek yang bersifat fisik, lalu diputuskanlah: yang tadinya eksis itu, menjadi tidak eksis (ini dagelan logika darimana, ya?).
Pencampur-adukkan antara SIFAT dengan EKSISTENSI ini terus dikumandangkan untuk mendiskreditkan KS Kristen dan kekristenan, padahal kekeliruan terletak pada logical fallacy dimana terjadi ‘perancuan’ antara “SIFAT” (fisik-dan-non-fisik) dengan EKSISTENSI (‘eksis-dan-non-eksis’). KS Kristen menyatakan bahwa baik yang bersifat fisik (physically) maupun yang bersifat immateriil (non-fisik) adalah ciptaan dan eksis (‘ada’), tapi yang eksis itu dinyatakan KELIRU (yaitu tidak eksis), oleh pertimbangan yang didasarkan logical fallacy. .... Cig atuh lamun bodor teh ulah garing pisan… :grining:
c. Bertanya kepada orang Kristen tentang pendapat KS (perihal ‘waktu), tapi setelah dijawab, malah disangkal berdasarkan ‘kekeliruan ala pencampur-adukkan’ (kekeliruan logika) dan sumber-sumber yang tidak jelas (bukan dari KS Islam, bukan juga dari “KS Filsafat”). Nantinya, kalau pertanyaan tentang “Apa artinya bahwa ‘Allah itu hidup’?”, juga akan disangkal (jika enggan disebut ‘menyatakan KS Kristen keliru’), karena sudah ada keputusan teologis ala “KS Filsafat” bahwa: “hidup/kehidupan = state state state”.
-
Oke deh... makasih atas masukan2 eprafas ... :)
salam.
-
Bro Oda, maaf lama mereply komentar anda,
Hmm, saran saya, masalah NDE dan AB kita letakkan saja dulu, nanti melebar kemana mana,
ya kita kembali ke akar, dimana permasalahnnay adalah anda berpikir bahwa jiwa manusia bersifat bounded infinite...
well, saya berada dalam posisi bias disini,
karena saya penganut PSIKOSOMATIS...
tetapi jika seorang bertanya pada saya, apakah jiwa terikat ruang waktu kita sekarang
jawabannya bisa ya bia tidak
bahkan sekalipun saya menjawab ya
tidak serta merta membuat jiwa bersifat "infinite"
karena setidak tidaknya, terdapat batasan waktu disini
Saya mengutip ilustrasi Bro Roderick
Ubah cara pandang kita
Sebuah bola diproyeksikan menjadi lingkaran
Jika kita berada dalam lingkaran, maka terlihat kita terbatas
namun sebenarnya fase hidup kita yang lebih dominan namun tak tersadar terdapat di dunia bola tersebut
seolah tak terbatas, namun besarnya tetap
Well, itu saja dari saya, hanya mencoba membatasi masalah
Salam
Terima kasih untuk komentarnya
-
karena saya penganut PSIKOSOMATIS...
karena saya sendiri baru denger istilah ini, barusan saya gugel "psikosomatik".
wikipedia indonesia :
Psiko berasal dari Psyche yang artinya Jiwa, sedang soma artinya badan, jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan semua penyakit.
Dari yang saya bold, itu apakah bisa saya simpulkan :
dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, JUGA
dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat ? :).
Maap... itu tebak2an saya doank siii ...:D.
Soalnya saya sendiri nggak tau, psikologis itu penjabarannya begimana ... apakah terkait dgn mental ? ngomong "mental" juga saya masih gak tau ... apakah itu maksudnya Jiwa sso ? :)
tetapi jika seorang bertanya pada saya, apakah jiwa terikat ruang waktu kita sekarang
jawabannya bisa ya bisa tidak
Seperti yang sword sudah ketahui dan mengerti saya ... saya kan orang yang beranggapan Waktu adalah ilusi :) --- maka pada pandangan saya : YA, Jiwa itu "terikat", tapi bukan terikat ruang waktu - melainkan terikat materi :).
Apapun itu ... jiwa sso (menurut saya loh) cenderung utk pro pada hal2 yang "berbau" logika materi (dunia) karena jiwa itu sendiri "terikat" materi (raga).
Jika kita berada dalam lingkaran, maka terlihat kita terbatas
namun sebenarnya fase hidup kita yang lebih dominan namun tak tersadar terdapat di dunia bola tersebut seolah tak terbatas, namun besarnya tetap
Yah... seperti yg saya pernah curhat ama sword, mungkin saya terpengaruh dari baca2 - sehingga saya makin "kuat" utk cenderung berpendapat : Jiwa "besar"nya memang tetap dan itu "sebenernya/aslinya" tidak terbatas (bounded infinite), namun karena terikat materi maka terbatas (limited).
Sumber yang saya baca, ya artikel2 internet dan juga interpretasi saya sendiri (yang kemungkinan melenceng dari keKristenan) pada bbrp ayat Alkitab, misal :
1. Jiwa tidak bisa dibunuh.
Sesuatu yg imaterial tentu tidak bisa dibunuh, namun pertanyaannya kenapa dikatakan "tidak bisa dibunuh" ?? ---> maka interpretasi saya : Jiwa itu "hidup".
2. Lazarus di pangkuan Abrahan dgn orang kaya.
Saya tidak nge-blek-plek-in kisah tsb sikon-nya literal, namun "kesimpulan" yg saya ambil : setelah manusia mati jasmani, maka Roh/Jiwa nggak hibernasi melainkan terus "hidup" s/d menunggu pengadilan akhir jaman.
3. "penampakan" Musa dan Elia.
Apakah ini visi para Rasul ? ataukah literal ?
Apapun itu, menurut "kesimpulan" saya : Roh/Jiwa Musa dan Elia masih "hidup".
Well, itu saja dari saya, hanya mencoba membatasi masalah
Kalo saya boleh minta nasehat dari sword atopun temen2 Kristen laen .... bagaimana caranya saya "menutup mata" dari kesimpulan saya tsb pada contoh 3 ayat tsb diatas ?
Apa alternatif lain pada interpretasi 3 ayat tsb ?
Dongeng ? tentu tidak mungkin.
Sekedar cerita/ungkapan metafora yg tdk bermakna ? Masak iya begitu ?
Mungkin sword bisa membantu ? (kok jadi kayak konsultasi psikiater sih ya ? jiwa saya terganggu nih .... hahaha :D).
Makasih sword atas masukan2nya.
salam.
-
mas oda,
ngeri nih mas oda... dalam sekali.....
mohon maap ilmu kungfu saya masih sabuk putih, tapi mau mencoba berbagi jurus dikit:
IMHO
1. Saya percaya adanya bentuk non-jasmaniah dari manusia (bahkan mungkin dari hewan?? gak tau juga),
yang ternyata, setelah raga jasmaniah nya berhenti berfungsi secara fisiologis, bahkan setelah secara anatomis terdekomposisi,
materi (substance) non-jasmaniah tersebut masih ada...
2. Barangkali materi itu juga merupakan kumpulan dari sejenis atom / materi dasar (yang mgkn belum ter-eksplor),
yang barangkali massa jenis-nya amat kecilnya,
yang barangkali tidak terpantulkan oleh foton dalam rentang panjang gelombang visible
sehingga mata & organ pengindera kita (atau sebagian besar dari kita) tidak dapat men-sense nya.
3. Gak tahu juga apakah suatu saat science tersebut akan sampai kesitu atau nggak.
4. Nah, kalo ditanya ASAL USUL dari materi itu --> waduh tambah garuk-garuk kepala lagi..
sperti biasanya dalam tahap penelitian:
a. Identifikasi barangnya dulu
b. Memahami properties-nya
c. mempelajari Proses yang terjadi
d. barulah mencari tahu etiologi-nya.
nah ini.. proses nomer 1: identifikasi-nya aja masih belum tahu --> jadi untuk sampai ke proses no 4 masih tambah jauh lagi..
ehehe...
baru sampe situ mas jurus saya...
salam,
-
mohon maap ilmu kungfu saya masih sabuk putih, tapi mau mencoba berbagi jurus dikit:
kok jadi cadang sih yg minta maap ? saya malah yg merasa gak enak ati karena udah "ngerepotin" temen2 dgn topik ini :).
1. Saya percaya adanya bentuk non-jasmaniah dari manusia (bahkan mungkin dari hewan?? gak tau juga),
Nah, setidaknya utk tahap awal, kita sudah sama persepsi :). Selanjutnya ...
yang ternyata, setelah raga jasmaniah nya berhenti berfungsi secara fisiologis, bahkan setelah secara anatomis terdekomposisi, materi (substance) non-jasmaniah tersebut masih ada...
selanjutnya, pertanyaannya : benarkah/percayakah kita bhw ungu tsb masih "hidup" ?
2. Barangkali materi itu juga merupakan kumpulan dari sejenis atom / materi dasar (yang mgkn belum ter-eksplor),
yang barangkali massa jenis-nya amat kecilnya,
yang barangkali tidak terpantulkan oleh foton dalam rentang panjang gelombang visible
sehingga mata & organ pengindera kita (atau sebagian besar dari kita) tidak dapat men-sense nya.
3. Gak tahu juga apakah suatu saat science tersebut akan sampai kesitu atau nggak.
Ya... untuk ke-arah science, semua memang terbuka kemungkinan-nya :).
4. Nah, kalo ditanya ASAL USUL dari materi itu --> waduh tambah garuk-garuk kepala lagi..
Tentu kalo secara Alkitab, semua yg ada di dunia ini asal-usulnya dari Tuhan :).
Namun, apakah biblical kalo yang ungu tsb saya pendapati = Roh/Jiwa ?
Apakah biblical, 3 point pada post saya buat sword (#63) ?
Apakah biblical, ungu tsb masih "hidup" ? Roh/Jiwa "hidup" kekal ?
makasih atas masukan2 cadang :).
salam.
-
Setidaknya saya yakin kita telah sepakat pada isu utama pembentukan thread ini
saya sepakat bahwa pada dasarnya jiwa tidak terikat ruang waktu, at least ruang waktu dunia ini, bukandimensi yang lebih tinggi atau apapun yang lebih kompleks
tetapi terbatas karena di attach pada raganya
ketika raga hilang atau korup secara fatal, maka jiwa akan cenderung berdormansi
dan akan mendapatkan kesadarannya kembali ketika menempati wadah yang memungkinkan
1. Jiwa tidak bisa dibunuh.
Sesuatu yg imaterial tentu tidak bisa dibunuh, namun pertanyaannya kenapa dikatakan "tidak bisa dibunuh" ?? ---> maka interpretasi saya : Jiwa itu "hidup".
Saya yakin hal ini, jiwa tak dapat dibunuh, tetapi bisa inactive secara sementara
2. Lazarus di pangkuan Abrahan dgn orang kaya.
Saya tidak nge-blek-plek-in kisah tsb sikon-nya literal, namun "kesimpulan" yg saya ambil : setelah manusia mati jasmani, maka Roh/Jiwa nggak hibernasi melainkan terus "hidup" s/d menunggu pengadilan akhir jaman.
Benar, karena ketika mati, misal, di neraka, maka kehidupannya akan didowngrade ke dimensi yang lebih rendah, dimana jiwanya yang jahat mendapatkan raga yang memungkinkan keadaan neraka terwujud*
3. "penampakan" Musa dan Elia.
Apakah ini visi para Rasul ? ataukah literal ?
Apapun itu, menurut "kesimpulan" saya : Roh/Jiwa Musa dan Elia masih "hidup".
Kalo saya boleh minta nasehat dari sword atopun temen2 Kristen laen .... bagaimana caranya saya "menutup mata" dari kesimpulan saya tsb pada contoh 3 ayat tsb diatas ?
Literal donk, tetapi visi tersebut ketika anda perhatikan bahwa sang penonton tidak melakukan kontak fisikal
so, anda tahu arah pembicaraan saya